Review Film Black Swan Ala Susi

Menikmati film Black Swan tidak bisa hanya satu kali karena sepanjang film berdurasi 1:45 menit kita disuguhi dunia nyata dan khayalan Nina Sayers, gadis balerina berusia 28 tahun yang tidak percaya diri dengan kemampuannya. Dua dunia ini telah ditekankan sejak awal film ketika Nina berpapasan dengan seorang gadis yang sama persis seperti dirinya. Apalagi di sepanjang film selalu ada scene yang “aneh” sehingga komentar pertamaku adalah, sayang sekali film sebagus ini dihiasi dengan mitos yang terkesan dipaksakan dan tidak match. Mitos bahwa pemeran Swan Lake pasti akan sial atau terasuki. Pendapat inilah yang memaksaku untuk “terpaksa” sekali lagi menonton film dengan lebih seksama.
Film ini berkisah tentang usaha Nina Sayers (Natalie Portman) dalam memerankan pementasan Swan Lake yang diarahkan oleh Thomas Leroy. Thomas ingin menampilkan Swan Lake dengan gaya baru , yaitu pemeran utama harus mampu menarikan White swan dan Black Swan sekaligus dan pemain lamanya, Beth MacIntyre harus diganti dengan pemeran baru. Pilihan pertama jatuh pada Nina Sayers yang mampu menarikan White Swan dengan lembut, lugu dan penuh syukur sesuai peran yang dilakonkan. Namun Nina kesulitan menghayati tarian Black Swan yang sensual, nakal dan penuh muslihat.
Nina Sayers selalu diolok-olok temannya dengan julukan little princess karena dia gadis yang rapuh, kuper, mudah menyerah, dan jauh dari mandiri. Semua ini karena pola asuh ibunya, Erica Sayers yang selalu menjaga “little princess”-nya mulai dari urusan kecil seperti berpakaian, makan, bahkan memotong kuku. Nina tumbuh menjadi seperti apa yang diinginkan ibunya – yang juga mantan ballerina. Hal ini membuat Nina tidak siap menghadapi persaingan di klub ballerina dan menghayalkan dirinya sebagai gadis lain yang lebih baik. Padahal semua mengakuinya sebagai ballerina terbaik.
Diam-diam Nina kagum sekali pada rekan ballerinanya yang bernama Lily. Dia menganggap Lily adalah gadis yang sempurna dan semua orang suka padanya. Dia cantik, ramah, supel, dan bisa menghidupkan peran yang dimainkannya. Kedatangan Lily di klup ballerina membuat khayalan Nina tentang gadis “kembarnya” berubah menjadi Lily. Lily jauh lebih baik darinya. Dan Lily mampu melakonkan Black Swan dengan sempurna dan berkarakter. Tidak seperti Nina yang mampu menarikan  jauh lebih baik dan luwes namun terasa hambar karena tidak ada “nyawa” di tariannya. Sejak itulah khayalan Nina menjadi semakin tak terkendali. Dan Nina tidak mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan.
Perasaan Nina semakin kacau dan khayalannya semakin tidak terkendali karena Lily berhasil mendapatkan pemeran pengganti dirinya. Memang di setiap pagelaran selalu ada peran pengganti utama jika pemeran utama tidak mampu atau berhalangan. Jadi selain berlatih sebagai pemeran pendukung, Lily juga harus berlatih layaknya peran Nina. Di mata Nina yang tidak pernah percaya diri dengan kemampuannya, Lily jauh lebih baik. Begitu juga teman-temannya. Depresi Nina semakin parah hingga dia tidak lagi mampu menari sesuai tuntutan peran. Thomas sang sutradara juga tidak menutupi kekecewaannya dengan kemunduran yang dialami Nina.
Akhirnya pertunjukan perdana Nina tiba. Kebetulan sekali dia datang terlambat sehingga perannya akan digantikan Lily. Beruntung pihak panitia belum mengumumkan penggantian peran sehingga Nina mampu memaksakan dirinya melakonkan Black Swan meski membuat beberapa rekan termasuk sang sutradara kecewa. Dia bertekad jika perlu inilah penampilan terakhirnya. Apapun yang terjadi, panggung ini menjadi miliknya malam ini.
Di atas panggung, penampilan Nina sebagai White Swan sangat mengecewakan karena dia tak mampu berkonsentrasi. Bahkan rekannya tak segan menjatuhkan dan mencemooh Nina. Nina yang semakin tertekan bertekad menampilkan tarian terbaiknya. Dia berperang melawan dirinya sendiri dan menang dengan cara menikam perutnya sendiri. Akhirnya Nina mampu menarikan tarian Black Swan dengan sangat sempurna. Nina yang benar-benar membayangkan dirinya Black Swan – hingga bulu-bulu angsa hitam tumbuh di sekujur tubuhnya – mampu memukau semua penonton termasuk seluruh kru. Terlebih Thomas yang semula sangat kecewa menjadi bangga dengan penampilan terbaik Nina yang luar biasa.
Itulah review film Black Swan ala Susi. Memang lebih ke psikologis. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mendapat amanah mengasuh buah hati. Jangan sampai kita menjadi ibu yang overprotektif sehingga anak tidak siap menghadapi persaingan kelak. Persaingan anak di masa depan jauh lebih keras daripada masa kita. Bekali anak dengan ilmu, agama, moral dan rasa percaya diri.
Share:

5 comments:

  1. keren juga ya mbak filmnya. sebagai orang tua ilmu memang harus di update terus ya apalagi untuk anak

    ReplyDelete
  2. sepertinya film yang menarik, apalagi dibintangi oleh natalie portman

    ReplyDelete
  3. Mbak Lia & mas Joe: segera tonton filmnya.

    ReplyDelete
  4. jadi ini gara2 dapet peran Black Swan, jadi seperti punya kepribadian ganda ya? musti nonton lagi nih..

    ReplyDelete
  5. ngeriiiiii Mbak
    nonton film ini aku takut banget
    dan sedikit bingung gitu....

    pantes lah kalo dapet oscar
    si natalie maennya keren banget

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra