widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Intuisi Ibu untuk Memilih Teori Pengasuhan Anak

“Saya pernah mempunyai 4 teori tentang pengasuhan anak, dan waktu itu saya belum punya anak. Sekarang saya punya 4 anak dan saya tidak punya teori lagi.” Itu adalah quote spesial Dr James Dobson yang membuatku terpana. Bukan karena isinya, tapi lebih karena kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Dulu, sebelum menikah, Susi suka gregetan dengan keponakan yang sulit diatur, suka berteriak jika meminta sesuatu, atau bahkan suka berebut mainan dan berakhir dengan tangisan teriakan. Rasanya dunia damai Susi langsung sirna. Karena penasaran bin jengkel, Susi membeli tabloid Nakita dan beberapa buku pengasuhan anak khusus untuk saudari Susi. Semua saran nampak masuk akal dan wajib dicoba, tapi anehnya yang dibelikan menjawab, "ah,  hanya teori." Jengkel ga sih?
Kemudian, waktu berlalu, dan Destin hadir di kehidupanku. Tabloid Nakita jadi langganan utama selain buku-buku teori pengasuhan anak lain. Intinya, Susi harus belajar jadi ibu yang baik dari pengalaman-pengalaman orang lain yang berhasil maupun gagal. Alhamdulillah, bisa dikatakan Susi puas dengan pertumbuhan dan perkembangan Destin baik secara fisik maupun psikologi. Memang banyak teori yang bertentangan, sebanyak yang sejalan, namun Susi memakai intuisi ibu untuk memilah dan memilih mana yang Susi pakai
Di usia 3,5 tahun, Susi harus menyiapkan kedatatangan Binbin hingga lagi-lagi buku tori pengasuhan dan pengalaman lalu yang diandalkan. Ternyata.... anak kedua juga merupakan pengalaman pertama karena anak begitu unik dan tak bisa disamakan. Tak perduli berapa pun jumlah anak kita, kita tetap harus belajar karena selalu merupakan pengalaman baru. Dan kemudian kutemukan buku "Menjadi orang tua teladan bagi anak." Di situlah Susi menemukan quote istimewa di atas. Jangan terlalu teoritis dalam mengasuh anak. Baca buku sebanyak-banyaknya, kemudian lupakan. Berapapun jumlah buku yang kamu baca tidak akan berguna jika kamu tidak pandai memilih mana yang cocok digunakan saat ini karena beda kasus beda penanganan. Jika 1 tepri gagal, masih ada 99 teori lagi. Biarkan intuisi-mu yang telah terisi ingatan akan teori itu menentukan mana yang terbaik bagi anak. Tapi jangan lupakan 3 hal ini:
  1. Komitmen
  2. Pandang mata anak, dan sejajarkan badanmu dengannya, dan peluk bahunya meski meronta.
  3. Jaga bicara kita tetap berwibawa.
Ketiganya sangat manjur digunakan untuk menangani anak yang bandel -- Susi tak pernah setuju dengan kata ini - apa boleh buat, soal dari mas Bayu seperti itu. :( -- dan susah diatur. Intinya, tekankan pada anak bahwa kita bosnya. "Rumahku, aturanku" mungkin itu padanan kata yang tepat jika kita menghadapi orang dewasa. Jadi dengan berkomitmen pada aturan yang telah kami sepakati, tak ada rengekan atau tangisan apapun dari Destin dan Binbin yang bisa meluluhkan komitmen. Dengan demikian, Destin dan Binbin mengerti bahwa dalam hidup ada aturan yang harus ditaati. Dan untuk membuat mereka mengerti, kita tak harus keras, kan? Cukup 3 tips di atas. Ini adalah jawaban dari pertanyaan # Bagaimana jika menemui kendala anak yang bandel & susah diatur?.dan # Perlukah kita menggunakan kekerasan dalam mendidik anak?.
Ada dua lagi pertanyaan yaitu Bagaimana mendidik & mengarahkan anak sesuai potensi bakat & minat anak? Dan bagaimana cara kita menyikapi & mengarahkan anak di era global yang penuh kemudahan dalam akses internet, fitur handphone yang multi fungsi & terjangkau? Hmm.. 2 pertanyaan ini sebenarnya masih jauh karena toh jeng Uzlifahtul Fitriah istri dari mas Bayu masih hamil.
Kita sangat beruntung karena berada di generasi yang lebih baik dari masa kecil kita dulu. Di semua tempat saat ini, hampir semua sekolah TK menggunakan teori Multiple Intelligences yang terkenal itu. Jadi penilaian kesuksesan belajar anak tidak lagi ditentukan angka matematis dalam raport, tapi lebih jauh, apa bakat minat anak yang menonjol. Bahkan penerimaan murid di sekolah SD pun menggunakan questioner yang penilaiannya lagi-lagi disesuaikan bakat minat anak. Gayung pun bersambut, saat ini banyak sekali sekolah non formal dari bayi sampai dewasa yang mendukung pengembangan bakat minat anak. Kita orang tua hanya perlu mengarahkan dan mengembangkannya. bagaimana caranya? Kita mulai dari rumah, di usia sedini mungkin.
Kita mulai dari usia 4 bulan untuk memperkenalkan aneka permainan kreatif sambil melihat mana yang menarik hati anak. Dari bola, permainan dari kain flanel aneka bentuk - semua ada di toko mainan anak. Sambil bermain, bayi belajar sesuatu, dan kita orang tua memperhatikan kemana bakat minat anak. Ketika usianya cukup - masa balita terlewat, perkenalkan dengan aneka seni dan olah raga sambil melihat mana yang paling dia suka, dan kembangkanlah. 
Perkenalkan dengan komputer dan internet sejak dini agar anak melihat dunia luar. Bisa dimulai dari google image, google earth, youtube, dll. Biasakan anak bertanya dan cari jawaban di internet. Memperkenalkan internet tanpa menakutinya tidak akan membuat mereka penasaran. Malahan, akan membuat mereka tahu, "Bagaimana cara bertanya pada internet dengan sopan" hingga hanya jawaban sopan yang tersedia. Tentu saja, kita sebagai orang tua harus berdisiplin diri. Jika tak ingin anak membuka situs itu, jangan pernah membukanya. Jangan jadi orrtu yang jarkoni - iso ujar ga iso nglakoni (melarang tapi mengerjakan sendiri). Jika ingin anak yang baik, buat diri kita jadi manusia yang baik dulu. Jadi role model yang baik agar anak kita baik.
Ah, semua kembali ke kita orang tua. Kitalah yang mempersiapkan cetakannya, menyiapkan bahannya, kemudian mencetaknya. Pertanyaannya kemudian, pandaikah kita membentuk dan menghaluskan produk kita sesuai yang kita inginkan? Itu pertanyaan yang patut direnungkan. Jika anak diibaratkan seperti itu tentu saja.
Artikel dan renungan ini Susi ikutkan dalam Give away mas bayu. 
Create your own banner at 
mybannermaker.com!

Met ultah buat dek Uzlifahtul Fitriah (aduh, masih muda sekali, ya) yang sekaligus ultah pertama pernikahan Bayu Family. Semoga Allah selalu memberikan perlindungan dan rahmah di keluarga kecil kalian hingga nanti. Diberi momongan yang sehat, soleh/solehah, dan menjadi khalifah terbaik di bumi Allah. Semoga. Khusus buat dek Fitri (kusingkat namanya, ya?) yang ulang tahun, semoga kehamilan dan proses melahirkan serta menyusuinya dimudahkan dan dilancarkan. Semoga siap menjadi ibu yang terbaik bagi putra-putrinya, dan semoga semua do'a peserta Givaway Bayu terkabul. Amin.

26 komentar:

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan di sini. :)

  1. semoga menang ya, artikelnya bgs bgt

    BalasHapus
  2. betul tuh mbak aku masih mengandalkan mbah google

    BalasHapus
  3. Penghuni 60: Wah, penasaran siapa dia. Kucari2 tak ketemu, hanya foto masa lalu kala masih imut.
    Makasih ya do'anya. ;)

    Mbak Lidya: Kita hampir selalu sama di banyak hal ya mbak. berteman dengan mbak Lidya anugrah tersendiri buatku loh.

    BalasHapus
  4. Baca buku sebanyak-banyaknya, kemudian lupakan. wah kalau cuma sepenggal bisa salah arti ya ^^
    sukses Tante Susi

    BalasHapus
  5. Terima kasioh mbak partisipasinya saya save dulu ya filenya.......... ditunggu pengumumannya............:)

    BalasHapus
  6. mudah2an menang ya mbak ....
    setiap anak memang berbeda ya mbak, jadi cara mengasuhnya pun pasti beda. Dan yang paling tau caranya, biasanya memang ortunya sendiri ..

    BalasHapus
  7. Aaah artikel ini persis spt yg SETIAP IBU butuhkan Mba... karena memang nggak ada dua anak yg sama persis, masing2 unik... dan teori2 itu.. bahkan dgn satu anak pun, aku hrs melupakannya, krn begitu diterapkan kok nggak cocok yah...
    makasih bnyk sharing nya yah Mba... dan semoga menang :-)
    tadinya ini jd artikel favoritku... tapi kuobrak-abrik dulu ah lemari arsipnya :-D

    BalasHapus
  8. Anak adalah buah hati orang tua. Orang tua akan mengasuh dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Kasih Ibu 'sepanjang jalan'. Semoga kelak menjadi anak yang ceria, sehat, energik dan shalih/shalihah.

    BalasHapus
  9. whuaaa... mau kucontek ah tipsnya.. hihi

    BalasHapus
  10. Tiara: Hehe... memang harus dibaca komplit agar tak bermakna ganda.

    Mas Bayu: Terima kasih, ya..

    I-one: Amin.. amin...

    Mbak Dey: Benar sekali. Setiap anak unik, satu teori tak selalu bisa dipakai 2x bahkan untuk 1 anak. ;)

    BalasHapus
  11. Mbak Lyliana: Tetap semangat bertrial & error demi anak, ya.... Memang itulh tugas ortu. Belajar dari anak.

    Mas Herdoni: Amin ya Rabbal alamin. Terima kasih do'anya.

    Mbak Hilsya: Saling berbagi tips, yuk....

    BalasHapus
  12. informasi menarik sob,salam kenal..:)

    BalasHapus
  13. tidak ada panduan yang baku dan tepat untuk mendidik anak.. semua memang harus dijalani sendiri oleh orang tua.. sama metodenya, tetapi beda sentuhannya.. maka hasil akhirnya juga berbeda. dan yang penting adalah memang orang tua mendidik dengan memberikan contoh, melakukan bersama-sama, dan memotivasi anak..

    belom pernah punya anak siih.. jadi rada sotoy komentarnya. hahahaa

    BalasHapus
  14. good tips mbak... gudlak ya.... ohya, jeparanya Mbak Susindra mana??? kapan2 ya kalo saya ke jepara ato mbak Susi ke kudus kita kopdaran...
    :)

    BalasHapus
  15. wuih seru mbak pembahasannya.. Emang kita gak bisa teoritis dalam mengurus anak yak! *sok tahu padahal belom pernah* >.<

    Mudah2an menang deh kontesnya :D

    BalasHapus
  16. Dua jempol buat Ibu yang selalu ingin berkembang...

    Semuanya dilakukan untuk mendapatkan generasi mendatang yang lebih baik lagi....

    Mari kita jadikan anak-anak kita generasi yang lebih OK..

    BalasHapus
  17. Saya setuju banget dengan ini, mbak. Teori boleh banyak, tapi pada akhirnya kita harus berhikmat memilih dan mengaplikasikan mana yang terbaik untuk anak kita. Sering malah yang kita lakukan jauh dari segala teori, tapi berdasarkan pengalaman kita bersama anak...

    BalasHapus
  18. Wuihh...renungan yg sangat 'dalam' mba Sus. Sukses ngontesnya yaa... ;)

    BalasHapus
  19. Magazine: Salam kenal, sobat. Terima kasih sudah datang.

    Gaphe: Lebih mudah menilai kala belum punya anak. :) Sesuai dengan paragraf pertama poting ini. hehe...

    Aina: Jeparanya di kecapi, Say. Tapi jika ingin ke Pantai Kartini aku bisa nunggu di rumah ibu yang hanya 500 meter dari pantai kartini.

    BalasHapus
  20. Niee & mbak Orin: Makasih do'anya, ya.

    Mbak Dewi: Mari.. dan jangan pernah patah semangat. Anak adalah media dan sumber belajar yang tak pernah ada habisnya.

    Mbak Allisa: Raja berada di tangan yang tepat. :)

    BalasHapus
  21. wahhh artikelnya bagus sekali...emmangs etiap anak itu unik...jadi bair punya ank 10 tetap aja harus belajar hehehe...

    Mbak susi, maaf nech aku belum sempet ikutan giveawaynya...masih lama khan?

    BalasHapus
  22. Mbak Orin & mba Nia: Terima kasih. :)

    Giveaway-nya belum ditutup kok, mbak. take you time for best shoot, ya. ;)

    BalasHapus
  23. kalau baca sebanyak-banyaknya dan lupakan ya mending kayak aku yang ngga pernah baca buku panduan ya? Karena sejak pertama aku tahu setiap anak unik, bahkan setiap manusia. Asal kita mau mengamati setiap orang yang ada di sekitar kita saja, kita sudah bisa belajar banyaaaaak sekali. Dan aku memang tidak pernah baca majalah wanita sih ya :D uang untuk majalah dan buku panduan mending dibeli mainan lego atau picture book untuk anak-anak.

    Semoga menang ya tulisannya

    EM

    BalasHapus
  24. Mbak Imelda; Amin YRA. Makasih ya do'anya.

    Sejak akrab dengan google, sekarang tidak langganan lagi. Diganti langganan speedy, hehe

    BalasHapus
  25. Suka deh Mba Susi dengan tulisannya, bagus banget. Semoga sukses yah bisa bawa hadiah dari rumah Bayu Family :-)

    Btw gw sebagai banci kuiz gagal ikutan ni kuiz, coz kemaren ga bisa posting. Padahal draft udah siap dilaunching. Hiks!

    BalasHapus