Patut Direnungkan Orang Tua

Kemarin Susi  dan Destin mengikuti piknik sekolah Destin ke Semarang. Jarak Jepara Semarang hanya 2 jam hingga kami orang Jepara terbiasa pergi ke sana. Lokasi yang dipilih adalah Penerbad, Sam Po Kok, Water Blaster di Candi, masjid Agung Semarang, serta Simpang Lima Semarang. 

Susi setuju dengan konsep baru yang ditawarkan sekolah, yaitu piknik ke tempat yang dekat-dekat saja agar mereka tidak lelah atau mabuk diperjalanan serta menikmati waktu yang lebih lama ditempat yang ditawarkan.  Namanya gawe besar, pasti ada saja kekurangan di sana-sini. Wajar saja jika banyak yang tak puas. Tak terkecuali Susi karena panitia merubah jadwal seenaknya dan terkesan tanpa persiapan. Bis yang datang terlambat, tak jadi ke Sam Ko kok karena sedang direnovasi, makan siang yang kacau di Super penyet karena kekurangan kursi dan banyak yang berdiri, membeli tiket water blaster di tempat hingga kami terbengkelai 1,30 jam di sana, mengubah jadwal ke Simpang Lima menjadi ke pusat oleh-oleh di Pandanaran hingga anak-anak kecewa dan memilih tidur. 

Susi memiliki beberapa catatan yang tidak indah tentang perilaku anak-anak TK jaman sekarang setelah mengamati mereka di sekitar orang tua selama 2 jam saja. Tiga anak sukses membuat Susi melotot karena mengatakan MAMANYA BODOH gara-gara tak bisa mencarikan apa yang mereka inginkan. Satu anak menghukum mamanya mencarikan minuman di Penerbad (ada indomaret di Penerbad, ya?) dengan alasan gupak ababmu (bekas bau nafasmu) karena sang mama ikut minum. Banyak ucapan anak-anak yang tidak elok didengar dan malu Susi tulis. Satu anak sedang pose nungging di atas sandaran kursi bis – tak senonoh- pantat menghadap ortu lain, sang ayah-ibu bukannya melarang malah meminta anak mempertahankan posenya agar bisa memotret dengan kamera digital dan kamera ponsel. Menganggap pose supermodel anak mereka layak diabadikan. Ck..ck.. ortu jaman sekarang perlu dibina, ya? Atau Susi yang terlalu mengedepankan moral anak? 

Ada 2 catatan untuk ortu dan panitia, yaitu anak-anak diperbolehkan berapresiasi mencemooh teman lain di luar geng tanpa dihukum meminta pengeras suara yang mereka pegang sejak pagi sampai waktunya pulang (ini harusnya untuk menghentikan kegiatan anak) serta sepanjang jalan distel lagu-lagu dewasa seperti wali band dkk agar anak-anak bisa berkaraoke (hebat!). Beruntung Destin tidak tertarik karena memang tak kenal lagu-lagu yang distel. Di rumah Susindra, D&B Susi larang mendengar/menyanyikan lagu remaja serta menonton sinetron karena takut mereka terlalu cepat dewasa. Hanya lagu anak-anak, lagu tanpa lirik atau lagu berinstrumen agak rumit yang boleh untuk mengasah seni bermusik mereka. 

Ah, sudahlah. Itu toh masalah pendidikan orang tua pada masing-masing anaknya. Susi enjoy sekali kok berlibur dengan Destin seharian. Lepas dari keluhan di atas, semuanya sangat menyenangkan. Dan Susi semakin bangga pada Destin karena dia telah paham mana yang boleh dan tidak serta banyak mengkonfirmasi pada Susi bukankah ucapan/perbuatan seperti itu dosa. I love you, boy! And I’m proud of you!

Share:

26 comments:

  1. anak jaman skrg mmg aneh dan
    mulai kurang ajar tpi itu krn orgtua mreka
    sndri yg kbablasan mndidik anak.
    moga anak2ku bs mbuat kami bangga
    sprti anak2 mba.
    salam hangat

    ReplyDelete
  2. Terima kasih juga. Salam hangat dari Jepara. Maaf jika kunjungan Susi banyak berkurang akhir-akhir ini.

    ReplyDelete
  3. waduh ... anak tk tuh Tante yang ngomong kayak gitu ? astagfirullah.
    wah deket ya, nanti saya boleh dong kapan2 main ke Jepara :D

    ReplyDelete
  4. hmmm selama orang tuanya juga kurang ajar pada kakek-neneknya, anak juga akan kurang ajar pada mereka. Atau kalau orang tuanya juga bersikap kurang ajar pada sekelilingnya. Anak-anak kan juga punya mata.

    Biarlah org lain yang penting Destin hebat! Semoga Destin bisa menjadi contoh bagi teman-teman Destin ya.

    EM

    ReplyDelete
  5. wah anak jaman sekarang emang sudah pada maju semua Mba sampai masih kecil begitu sudah gak punya akhlak dan etika,,miris sekali mendengar cerita dari Mba Susi,,terima kasih atas info dan tip's nya

    ReplyDelete
  6. Semua itu juga tergantung ortu mendidiknya bagaimana dan juga tiap anak kan ada bibit bobot bebet dari ke dua orang tuanya. TOP BGT deh dengan mbak Susi dan Destin !!

    ReplyDelete
  7. Duh, serem ya mba Sus kalo ga pintar2 mendidik anak, jadi agak2 khawatir aku :(

    Semoga aku bisa meniru mba Sus mendidik Destin dan Binbin kelak. Aamiin..

    ReplyDelete
  8. menjadi pembelajaran buatku yang sedang belajar jadi orang tua ^^
    salam kenal...

    ReplyDelete
  9. Tiara: Dekat sekali. Kapan-kapan maen, ya.

    Mbak Imelda: Destin tak bisa jadi contoh karena jadi pupuk bawang di sekolah. Zaman sekarang anak2 yg patut dicontoh adalah yang berprestasi dan multi bakat.

    Mas Sofyan: Anak tidak pernah salah, mas. Kita orang tua yang salah karena tidak menghentikan perilaku negatif anak. "Wajar" kata mereka. Atau karena malu jadi pura-pura tak dengar? Yang jelas beberapa mukanya seperti udang rebus.

    ReplyDelete
  10. Mbak Dian, Orin dan Ita: Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, namun semoga berguna bagi orang tua agar lebih berhati-hati mendidik anak. Jangan hanya memfokuskan pada prestasi dan kebutuhan anak, tapi juga perilaku sehari-hari.

    ReplyDelete
  11. Saya geleng-geleng kepala menyimak tingkah anak-anak itu ...
    ini sekaligus mengingatkan kepada kita semua ... untuk senantiasa mengedepankan ke santunan ... baik dalam perilaku ... maupun dalam ucapan ....

    sebab anak itu adalah peniru nomer satu di dunia.
    Peniru siapa ? ... salah satu yang berperan besar adalah ... peniru orang tuanya ...

    Salam saya Bu Susi

    ReplyDelete
  12. ah, iya mbak ..
    baru aja beberpa hari ini saya ngobrol dengan suami, karena fauzan mulai berkata2 yang ngga bagus (menurut saya), ngikutin temennya di sekolah :(. Dan ortu temennya itu ternyata kalo ngomong sama anaknya emang begitu. Duh ..

    ReplyDelete
  13. semoga anak-anak ku kelak tak seperti itu...
    hmm menyedihkan sekali kalau lihat anak yang tak tahu tata krama ke orang tua..
    salam kenal mbak.. :D

    ReplyDelete
  14. whuaaah.. stres bacanya.. kalo aku liat langsung pasti udh bertanduk tuh! hihi

    ReplyDelete
  15. saya setuju sama mbak susi, namun faktor lingkungan di luar rumah serta karakter pribadinya si anak juga mendukung. 3 anak, kami didik dengan hal yang sama namun outputnya berbeda karena faktor di atas. Si Kakak dengan tipe uniknya, tidak akan menjalankan apa yang kita minta sebelum kita menjelaskan secara panjang lebar. Si tengah memiliki sifat yang sama dengan destin. Sedangkan si Bungsu, sang moody luar biasa yang masih bisa dinasehatkan dengan 'trick' pengalihan. Pendidikan agama dengan akhlak memang yang paling utama ya mbak, salam buat destin

    ReplyDelete
  16. hebat yah Destin, nggak terpengaruh teman2nya...

    saya sendiri belum terlalu banyak tau ttg ortu2 lain apalagi kalau kumpul dan trip sekolah begini... hmm..

    tapi kalau lagu2 yg sering didengar anak, itu jg yg kulakukan dirumah... vania dengernya lagu2 jadul, yg penyanyi2nya skrg udah dewasa, hehe.. secara skrg nggak ada lagi lagu2 anak... :-(

    ReplyDelete
  17. sopan santun harus diajarkan sedini mungkin dari dalam rumah ya,kalau sudah diluar setidaknya tidak terbawa tapi semua juga tergantung lingkungan

    ReplyDelete
  18. aku blm jadi ortu, tapi mau baca ya bu..hehe..
    o iya, jepara-semarang 2 jam?
    saya pernah pekalongan - semarang kok juga 2 jam naik motor..

    ReplyDelete
  19. wah wah...
    geleng geleng kepala bacanya Mbak
    ternyata anak anak jaman sekarang gitu yaa
    secara aku belom berpengalaman
    jadi banyak belajar deh dari mbak susi

    ReplyDelete
  20. weah, prihatin... baru TK aja udah kenal kata2 buruk dan menghina ortu.... mungkin ortunya juga yang kelewat manjain...

    ReplyDelete
  21. follow back blog aku donk...

    ReplyDelete
  22. Hmm..bukan salah anaknya, potret itu menunjukkan bahwa tidak mudah jadi orangtua ya mbak. Semoga anak2 kita kelak bisa berperilaku yang baik thd ortu dan semua orang. Amin.

    ReplyDelete
  23. smg aku bisa membimbing anakku menjadi anak yg shaloeh..aamiin..
    mbak susi ada award buat mbak dari saya, silahkan cek di http://rangkaiannuun1.wordpress.com/2011/06/06/banjir-awards/#more-419

    ReplyDelete
  24. Ikut prihatin bacanya, mbak.. Secara umum, prinsip2 yang mbak punya mengenai anak hampir sama dengan kami, mbak, semoga kami juga bisa menjadi orang tua yang bisa menegakkan prinsip itu supaya anak juga tak gampang terpengaruh dengan lingkungan luar rumah...

    Destin anak yang hebat dan manis ya :)

    ReplyDelete
  25. Mungkin orangtuanya yg tdk segera memberitahu ke anak waktu dia ngomong kurang ajar, jadi si anak merasa tindakan itu adalah wajar.......

    Kemarin sy main ke taman sm anak2..pas duduk di taman, ada seorang ibu dan 2 anaknya...yg kecil baru bisa jalan sepertinya, yg gede udah 4 tahunan....waktu itu anaknya yg kecil lagi jalan mendekati ayunan, trus mamanya minta sang kakak utk ngambil adiknya krna tkt kena ayunan...tapi sang kakak cuek aja krna lagi makan bubur...trs si ibu tiba2 ngomong begini dgn suara kerasss : "hei anak setan...itu adenya diambil cepet, takut kena ayunan.....dasar anak setan kalo disuruh orangtua ngga pernah denger...." ngomong begitu sambil mencubit sang kakak.

    Coba bayangkan ditempat ramai aja si ibu bersikap seperti itu, bagimana kalo dirumah?

    benar2 sulit mendidik anak supaya menjadi anak yg baik dan soleha...smoga kita bisa mendidik anak2 kita dgn baik.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra