Episode yang tak usai


11 mei ini, cah ayu Noorma berulang tahun ke 25. Aiiih... masih muda belia jika dibandingkan usiaku....

Selamat ulang tahun ya, nduk. Semoga sehat, sukses, dan selamat menanti kedatangan calon putra/putri yang insyaAllah sholeh/sholehah. Semoga kesehatanmu semakin membaik setelah kehadiran buah hatimu, sukses kuliahmu, sukses rumah tanggamu, dan cita-cita yang tengah kau perjuangkan tercapai.

Noorma.... giveaway kamu itu loh, bikin aku maju mundur menulisnya. Rasanya sulit menulis sesuatu yang telah lama berlalu dan memang beberapa ingin kulupakan meski tak pernah kusesalkan. MASA LALU, MASA KINI, dan MASA MENDATANG. Perjalanan hidup yang terlalu panjang untuk diurai di sebuah posting. 

Kita sekarang adalah pilihan kita di masa lalu, dan masa depan adalah pilihan kita di masa sekarang. Betapa banyak episode yang kutinggalkan. Betapa banyak seandainya yang kadang kupertanyakan. Namun satu yang pasti, pilihan apapun tak pernah kusesali, karena aku yang sekarang ini adalah hasil pilihanku sendiri dengan bantuan semua orang terdekat maupun jauh yang terlibat kala itu.

Noorma, ketika aku di usiamu sekarang, aku telah menolak banyak kesempatan bagus. Tawaran bekerja di Perancis kala masih kuliah semester 5, menjadi istri orang Perancis (hoho..), dan bekerja di perusahaan besar dari Kanada. Semua karena kemampuan conversation fran├žais-ku yang cukup bagus. Aku memilih membantu kakak mendirikan perusahaan kecil dan menikah dengan pria sederhana seperti cerminan diriku yang sederhana. Karena hiruk pikuk dunia kaya instan cukup mengecilkan nyaliku. Karena aku memilih jalur yang disiapkan ibuku.  Dan aku tak pernah menyesali semuanya. Aku bahagia dan mencukupkan apa yang kupunya. Meski terkadang ada rasa iri melihat foto teman-teman kuliah yang telah mengunjungi Perancis, tetapi aku tetap mensyukuri apa yang kumiliki. Gemerlap foto teman tak selalu seindah kelihatannya. Itu keyakinanku. Dan aku tahu itu benar adanya. “Urip iku sawang sinawang, Sus. Ojo dumeh tur ojo ngiri.” Itulah pesan seorang ibu yang rumahnya pernah kusewa. Dan itu sungguh benar. Setiap orang hanya memandang kesuksesan yang ingin diperlihatkan tanpa melihat bagaimana cara meraih kesuksesan itu.

Noorma, dari dulu aku menyadari bahwa pada dasarnya semua manusia sama. Setiap orang berkutat dengan apa yang paling penting bagi dirinya dan meninggalkan beberapa hal berharga (yang mungkin tak mereka sadari nilainya). Setiap keindahan rumah selalu ada bagian yang bercahaya maupun suram.  Itulah hidup. Jauh lebih berwarna daripada semua pendar cahaya yang menimpa air. Semua warna-warni hidup kita membentuk siapa kita. Pencitraan yang ingin kita ciptakan tak selalu mampu menutup aura yang telah terlanjur tercipta.  Karena itulah, berhati-hatilah setiap kali memilih. Mintalah yang terbaik dengan sholat istikharah. 

Noorma, aku adalah pribadi sederhana meski tinggal di keluarga yang kompleks. Cita-citaku dari dulu hanyalah ingin bekerja di rumah sambil menjaga anak-anakku. Mungkin karena masa kecilku yang tak ditunggui ibu bapak. Ibu yang bekerja dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore meninggalkan aku sendirian di rumah. Bapak jarang sekali pulang karena menghidupi beberapa istri dan anak. Semua kakak telah menikah. Setiap hari kuisi dengan membaca, menjahit, dan merajut selain pekerjaan rumah. Dan keinginan itu begitu kuat hingga mengalahkan semua kesempatan bagus yang kutinggalkan. Bekerja di rumah, meski penghasilan tidak sebesar yang kuinginkan, tetapi membuatku tetap puas. Inilah yang kuinginkan. Aku yakin, kelak, aku akan mencapai titik tertinggi yang bisa kuraih.  Aku akan bisa membeli rumah, mobil, berangkat haji, dan menyekolahkan anak setinggi mungkin agar cita-cita Destin menjadi ilmuwan dan cita-cita Binbin yang pastinya tak kalah tinggi akan tercapai. Itulah cita-cita dan pengharapanku saat ini. Itulah masa depan yang kusiapkan saat ini. Dan insyaAllah tercapai. Do’akan ya, nduk. 

Nduk Noorma, setiap hari adalah ujian multiple choise yang kadang menjebak kita. Yuk, kita lalui labirin kehidupan dengan pegangan pasti cahaya Ilahi. Kita pasang satu persatu puzzle kehidupan kita. Karena hidup adalah episode drama yang tak pernah selesai kecuali sekotak kecil peraduan terakhir kita menghentikannya.

Selamat ulang tahun, nduk Noorma. Semoga tulisan kecil ini berguna. Sukses selalu di setiap langkahmu.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Cah Kesesi AyuTea yang diselenggarakan oleh Noorma Fitriana M. Zain"
Share:

13 comments:

  1. Salam buat nduk Noorma mbak :)

    Alangkah indah puzzle kehidupan jika ada yang membantu. Bukan, bukan berharap bantuan orang lain seutuhnya. Hanya saja, menyusun puzzlenya itu tidak akan menjadi hal yang rumit.

    ReplyDelete
  2. mba...tulisannya indah sekali, maksutnya tata bahasanya. suka deh. semoga sukses ya, turut mengaminkan doa2nya juga :)

    ReplyDelete
  3. selalu merindukan tulisan mba Sus yg indah ini ^^

    Gudlak ngontesnya ya mba.

    ReplyDelete
  4. selalu merindukan tulisan mba Sus yg indah ini ^^

    Gudlak ngontesnya ya mba.

    ReplyDelete
  5. dan sekarang bagaimana? Mbak Sus kan sudah bisa memetik madu dari pilihan anda kan?

    Gak jadi bojone wong perancis ora masalah lah yaw.. Kan Mas Indra ora kalah guanteng sama wong bule hahaha. betul kan mbak? awas loh kalau bilang gak, tak laporne mas Indra sampean..

    salam buat dua jagoan disana ya mbak

    ReplyDelete
  6. Amin...semoga doa dan harapannya mbak Susi terwujud. selamat juga buat yang berulang tahun... Tulisan mbak Susi memang indah-saya setuju ama komen di atas :)

    ReplyDelete
  7. aamiin..semoga impian itu terwujud bun :) semangaattt

    ReplyDelete
  8. Membaca tulisan ini seperti bercermin mbak, jleb banget di aku, hehe, masukan yang sangat indah... thanks for sharing this wonderful thought..^_^

    ReplyDelete
  9. Apa khabar Mbak Susi? *rinduuu....

    Hmmm, turut mengamiinkan semua harap dan cita2mu Mbak...

    Sucses ya GAnya :)

    ReplyDelete
  10. Amin, terimakasih banyak doanya mba :D
    sudah terdaftar lho :D

    ReplyDelete
  11. memang bener apa yg ibu mba susi bilang : “Urip iku sawang sinawang, Sus. Ojo dumeh tur ojo ngiri.”

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra