Jepara Di Abad Keenam Belas


Wong Jeporo kudu tresno sejarahe dewe - Orang Jepara harus mencintai sejarahnya sendiri. Yang bukan orang Jepara? Ayoo... mengenal kota kecil di ujung Utara pulau Jawa ini. Saya yang warga Jepara akan mengajak kalian melampaui batas waktu menuju abad ke 16 yang merupakan puncak kejayaan kota Jepara di masa lampau. Sebuah nama harus diingat selalu pada masa ini, yaitu Ratu Kalinyamat yang bernama asli Ratu Retno Kencono. Ratu ini membawa puncak kejayaan kerajaan kalinyamat di Jepara sehingga ada sebuah prosesi wajib disetiap peringatan hari jadi Jepara, yaitu prosesi Ratu Kalinyamat. Next time, menjelang prosesi ini akan saya share agar teman-teman blogger mengenalnya. Syukur-syukur bisa datang ke Jepara. :D


Jepara di tahun 1650 dengan latar belakang Gunung Muria
Pada abad keenambelas, Jepara sudah dikenal sebagai kota niaga yang dipimpin oleh Aryo Timur dari kerajaan Demak. Kala itu Jepara dikenal sebagai pulau yang terpisah dari pulau jawa dan disebut pulau Jepara atau pulau Muria. Berturut-turut kemudian Jepara dipimpin oleh tokoh-tokoh hebat yaitu; Pati Unus (1507-1521), Fatahilah (1521-1536), Pangeran Hadlirin (1536-1549), Ratu Retno kencono atau Ratu Kalinyamat (1549-1579). Dalam pimpinan ratu Kalinyamat ini lah sejarah kehebatan Ratu Shima dari negeri Ho Ling/Kalingga yang dipercaya sebagai kerajaan dari Jepara di abad ketujuh terulang.

Sedikit menengok ke sejarah di abad ke tujuh, Jepara sudah dikenal sebagai Bandar perdagangan diyakini jauh sebelum ada kerajaan-kerajaan di tanah Jawa. Menurut bukti yang ditemukan, penghuni utama kota Jepara yang dikenal dengan nama Ujung Para ini adalah bangsa Yunan Selatan yang bermigrasi ke selatan. Bukti dapat dibaca pada buku Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906) yang mencatat perjalanan seorang musafir bernama I Tsing ke negeri Ho Ling atau negeri Kalingga yang dipimpin wanita tegas bernama Shima.

Kembali ke abad ketujuh belas, menurut beberapa bukti, kerajaan Kalinyamat terdapat di Jepara, tembok bentengnya membentang di beberapa desa, meliputi Purwogondo, Margoyoso, Kriyan, Bakalan, Robayan dan pusat Kraton / Siti Inggil di Kriyan. Kekuasaan Kerajaan Kalinyamat meliputi Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Mataram. Kriyan yang disebut siti inggil ini sampai sekarang dikenal sebagai penghasil kerajinan monel. Menurut transkrip, kerajaan Kalinyamat berada di dekat laut, namun jika kita pergi ke area sekitar Kriyan yang disebut Siti Inggil kerajaan Kalinyamat, mengapa jauh dari laut? Penjelasan terlogisnya adalah pada masa itu, Jepara masih berupa pulau. Ya! Pulau Jepara. Di dekat Purwogondo, ada desa bernama desa Teluk Wetan dan desa Teluk kulon. Jika tak tahu sejarah masa lampau Jepara dan penjelasan logis akan adanya pulau Jepara, tentu akan sulit memahami mengapa desa yang berada di daratan jauh laut ini bernama Teluk. Ternyata... memang pada masa kerajaan Kalinyamat ini, desa ini berada di teluk Jepara. Terbukti sampai sekarang, jika warga sekitar menggali sumur, akan menemukan pasir laut dan karang-karang di dalam galian sumur. 

Di masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat ini, Jepara mencapai puncak peradaban dengan menjadi Bandar niaga yang ramai. Ratu yang membawa kondisi gemah ripah loh jinawi ini juga dikenal sangat patriotic dengan mengirin 40 buah kapal berisi 5 ribu prajurit ke Malaka guna melawan Portugis pada tahun 1551. Dua puluh tahun kemudian sang ratu mengirim 300 buah kapal. Salah satu buktinya adalah adanya kompleks makam tentara Jawa di Malaka.

Prosesi untuk mengenang ratu Kalinyamat dan hari jadi Jepara
Pada abad keenambelas ini pula seni ukir Jepara membudaya. Seni ukir khas Jepara yang berasal dari perpaduan seni ukir Cina dan seni ukir Majapahit ini dikenal luas sampai sekarang. Semua ini tak lepas dari jasa ayah angkat pengeran Kalinyamat (suami ratu Kalinyamat - yag menjadi ratu setelah suaminya ini meninggal) yang merupakan orang Champa/Cina. Salah satu peninggalan ratu peninggalan ratu Kalinyamat di abad keenambelas ini yang pastilah selalu diingat semua warga Jepara adalah penetapan hari jadi Jepara bersamaan dengan dilantiknya ratu Kalinyamat pada tanggal 10 April 1549. Kalimat TRUS KARYA TATANING BUMI sebagai candra sengkala Jepara bukan hanya menjadi semboyan terus menerus bekerja membangun daerah, namun jika mengingat pelajaran sejarah tentang Candra Sengkala, tentu bisa menerjemahkan kalimat Trus Karya Tataning Bumi dengan angka 1549.

Itulah sekilas sejarah Jepara di abad ketujuh dan keenambelas. Sedikit terselip sejarah seni ukir Jepara, sejarah seni monel kriyan, sejarah keajaan Kalinyamat, sejarah prosesi hari jadi Jepara, dan beberapa sejarah lain yang InsyaAllah akan saya share setiap Senin Love Jepara. Kelak akan saya posting tentang sejarah ukir, sejarah tokoh-tokoh hebat Jepara, serta sejarah hebat Jepara yang lainnya agar tema SENIN JEPARA bisa dihidupkan kembali. Saya warga Jepara yang tinggal di Jepara. Dimanapun kaki saya berpijak, diditulah budaya saya junjung. Semoga saya segera kembali menjadi bloggerwati yang baik dan rajin. Amin.


Share:

16 comments:

  1. Ternyata zaman dulu juga indonesia mempunyai wanita-wanita tangguh ya? kirain cuma RA. kartini, cut nyadien...^^

    ReplyDelete
  2. MAnggut2..
    jadi begitu ya Mbae sejarahnya..
    Makasih Infonya..

    Semoga yang mpunya blog menjadi wanita yang tangguh pula

    ReplyDelete
  3. Semoga benar menjadi wanita tangguh ya. Matur nuwun sudah mampir ke mari.

    ReplyDelete
  4. wah, sejarah jepara...niceinformation mba, moga rajin ngeblog ya

    ReplyDelete
  5. wah, sejarah jepara...niceinformation mba, moga rajin ngeblog ya

    ReplyDelete
  6. mba Susi, makasih sharingnya, jadi nambah deh pengetahuan sejarahku... dan bangga banget rasanya menjadi warga negara Indonesia, negara yang memiliki banyaaaaak sekali wanita2 tangguh nan gagah berani, kebetulan aku juga baru posting tentang seorang srikandi dari tanah rencong. Bukan.. bukan, bukan Cut Nyak Dhien, tapi Pocut lainnya yang juga tak kalah patriotis, yuk, sila berkunjung mba jika ada waktu. :)

    eh iya, aku ijin follow blog ini ya mba, trims.

    ReplyDelete
  7. Selama ini saya hanya mengenal Jepara karena ukirannya yang bagus. Setelah membaca sejarahya baru tahu ternyata Jepara begitu hebat pada abad ke 16 dan 17.

    Kini tugas pemerintah dan rakyat Jepara untuk menjadikan daerah itu moncer lagi jeng. Mungkin dengan wisata budaya,kuliner dan lain sebagainya.

    Terima kasih atas reportasenya yang lengkap

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  8. Jepara bukan hanya tempat wisata seni ukiran, namun lebih dari itu, Jepara juga memiliki suatu perjalanan menarik untuk ditelusuri dan dilirik dengan segala sudut pandang sebagai objek edukasi dalam seni, budaya, sejarah, kuliner, panorama alamnya.

    Sukses Selalu
    Salam Wisata

    ReplyDelete
  9. Kira2 di masa yg akan datang ada ga ya pemimpin wanita seperti Ratu Kalinyamat ya mbak?? hehe

    ReplyDelete
  10. jepara identik dengan kartini,tambahan lain bagi saya jepara juga mengingatkan saya pada buukunya pramoedya ananta toer, ada di beberapa bukunya disinggung kota jepara dan kartini.

    ReplyDelete
  11. Jepara di masa lalu telah mengalami jaman keemasan 'gemah ripah lohjinawi tata tenteram karta raharja' di bawah kepemimpinan Kanjeng Ratu Kalinyamat. Kita tentu berharap api semangat kepahlawanan beliau dapat 'ditangkap' oleh para pemimpin dan anggota masyarakat. Terima kasih sharingnya yang amat menarik. Sejarah tempo doeloe yang penuh kenangan. Salam cemerlang.

    ReplyDelete
  12. Jika kita menelusuri masa lampau, kita akan terkesan pada keajaiban yang dibuat leluhur kita.
    Terima kasih ya, untuk kedatangan dan apresiasinya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra