TERGODA LAGI

Sudah beberapa lama ini saya digoyang keinginan untuk bekerja kembali. Bahkan pilihan menjadi Wiyata Bakti pun sangat menggiurkan meski beragam kisah miris saya dengar. Guru wiyata bakti memang tak selalu dihargai layak untuk pengabdiannya. Ada yang bergaji dibawah 100 ribu sampai di bawah 500 ribu. Tapi saya tertarik juga. Kemana idealisme saya sebagai pengasuh utama anak? Terkikis kebutuhan hidup yang semakin sulit dipenuhi?

Sudah sejak 1 tahun lebih saya jarang sekali update blog apalagi blogwalking. Alasan utamanya karena ketidakmampuan membeli koneksi internet yang bahkan sudah semakin murah. Sebegitu pun saya tak bisa membeli karena ada keperluan lain yang pastilah lebih mendesak. Meski akhirnya saya menemukan cara berinternet gratis selama setahun dengan modal sekian puluh ribu saja, keinginan menulis sudah surut oleh sibuknya saya dengan tugas sebagai ibu rumah tangga sekaligus pemilik toko yang sebagian besar produknya handmade saya sendiri.

Setiap receh yang diterima di toko craft harus disimpan rapet untuk kebutuhan pangan dan kebutuhan kulakan bahan craft. Setiap receh hasil toko craft harus segera ditabung dan saya hanya mengambil jumlah yang saya tetapkan - seharga gaji pelayan toko kecil. Tentu saja. Saya bercita-cita mempunyai toko yang besar, jadi harus menetapkan manajemen yang harus saya patuhi.

Adakalanya saya diganggu rasa capek atau tidak mood ketika mendapat pesanan HP case khusus. Ketika mood tak kunjung datang sementara hasil jahitan tangan ikut terlihat, saya membuat aplikasi kecil-kecil yang benang jahitan tak terlihat. Nah, jika mood itu memburuk beberapa hari, kacaulah usaha saya. Banyak HP Case maupun dompet flanel pesanan khusus yang terbengkelai. Dan saya tergoda untuk bekerja kembali. Halah.... tua-tua galau. Hiks.. hiks...

Daaann... datanglah penawaran terbaru layaknya ujian. Tiba-tiba saya mendapat 2 tawaran bekerja di kantor. Dari jam 8 - jam 4 sore. Hasrat hati ingin menerima, tetapi setiap bertemu Duo DnB, niat saya langsung surut. Tugas saya untuk mengantarkan mereka berdua menjadi pribadi yang saya citakan. Budaya konsumerisme yang sangat mengerikan sekarang ini selalu menyurutkan langkah saya. Tak terbayang sedihnya saya ketika kedua buah hatiku menjajakan uang saku harian mereka tanpa pengawasan. Tak terbayang mereka sehari-hari bersama pengasuh yang pastinya tak berani mendisiplinkan anak. Saya dan suami dididik oleh keadaan masa lalu dan kami sedemikian takut dengan kondisi masa sekarang. Akhirnya, lagi-lagi saya menolak. Kembali ke kodrat dan tugas yang saya yakini. Setinggi-tingginya wanita terbang, ia harus kembali ke rumah untuk mengasuh dan membahagiakan keluarga. Saya akan menekuni apa yang saya yakini dan berusaha agar berhasil. Amin.


Share:

13 comments:

  1. Semoga tetap istiqomah mbak dalam menjaha anak-anak, Insya Allah ada jalan keluarnya. Oh ya mbak susi kalau tidak bisa menulis online mungkin bisa terus menulis offline mbak jadi tetap menulis apalagi tulisannya mbak susi enak dibaca loh

    ReplyDelete
  2. salut ih sama mbak susi
    bisa bertahan sejauh ini
    semoga seterusnya tak tergoyahkan ya mbak

    *sambil ngaca*

    ReplyDelete
  3. Hani juga kalo jadi ibu rumah tangga nggak mau kerja di luar :)

    ReplyDelete
  4. Mbak Nique, mbak Lidya & hani: Makasih ya.. sudah datang & kasih support. :)

    ReplyDelete
  5. Diantara keinginan, akhirnya jatuh pada pilihan yang keren :)

    ReplyDelete
  6. Kalau ingat kami belum punya rumah sendiri, ingin rasanya saya lari ke luar negeri lagi mbak. Tapi niat saya jadi surut karena ingin melihat si kecil tumbuh besar mbak. Sekarang saya bener2 menikmati jadi ibu rumah tangga sambil mikir usaha apa yang bisa menambah penghasilan tapi tidak meninggalkan si kecil :)

    ReplyDelete
  7. how do I enter the contest?

    ReplyDelete
  8. Mas Bro & mbak taryy: Semoga tetap istiqomah ya. Semakin mantap niat saya, makin dahsyat ujian dan tawarannya. Kadang ragu, apa ini keputusan salah atau benar.

    ReplyDelete
  9. wah miris ini saja aja jadi pengajari alqur'an dan Iqro hanya di bayar perjam ndak sampai sepuluh ribu itupun sejam dalam sekolahan sehari kalau dihitung uangnya sebulan ndak nyampai 100 ribu mbak, emank skrng guru hanya bisa mengusap wajah saja susah

    ReplyDelete
  10. saya lulusan bahasa prancis.. prnah ngajar d smk tp stelah saya hamil saya brhenti mengajar.. skarang jd ibu rumah tangga aja... besar rasa kangen untuk kembali mengajar.. tp paling g mau klo hrs ninggalin anak....

    ReplyDelete
  11. Pilihan yang 'cukup sulit'. Bila mengasuh anak terbengkalai karena bekerja di luar rumah, tentu kasihan sekali mereka. Perhatian dan kasih sayang dapat menjadi berkurang. Sedangkan kecakapan yang dimiliki rasanya eman bila tidak diaplikasikan. Berwirausaha di rumah menjadi salah satu pilihan yang tepat. Semoga dapat berkembang dengan baik ikut menopang ekonomi keluarga. Salam cemerlang.

    ReplyDelete
  12. setuju dgn pilihanmu mba..udah keren punya usaha sendiri, ngapain kerja sam orang lain?salam buat do DnB

    ReplyDelete
  13. you the best women i ever knew (except my mom of course)... :*

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra