Nasip Kapal Johnson yang Tenggelam di Pesta Lomban Jepara

Tenggelamnya KM Johnson di perta Lomban pada tanggal 16 Agustus 2013 lalu masih menyisakan trauma besar di Jepara dan sekitarnya. Trauma yang bukan hanya milik para korban dan keluarga korban, tetapi trauma pada para warga Jepara dan sekitarnya. Banyak warga yang cemas, kejadian yang baru pertama kali terjadi sejak puluhan tahun lalu ini akan menurunkan minat wisatawan Lomban tahun-tahun berikutnya. Wisata tahunan ini merupakan andalan kota Jepara. Lebih spesifik lagi, para nelayan sekitar jepara yang khawatir peristiwa tragis 8 hari lalu akan berdampak buruk pada aktivitas melaut selama setahun mendatang. Para nelayan sepakat akan melarung kepala kerbau kembali pada tanggal 26 Agustus ini melalui urunan. Saya tak  mau mengomentari secara subyektf kegiatan ini, hanya mengabarkan saja. Kebetulan pagi ini saya menunggui Binbin anak saya yang sekolah TK di dekat pantai Kartini. Para ibu dan wali murid membicarakan teknis larungan kepala kerbau di pesta lomban kemarin dan larungan hari senin depan.
Kapal Johnson atau perahu Karimun, nih?
Sebagai reportase lanjutan dari posting Tragedi Pesta Lomban di Jepara minggu lalu, saya menulis kembali tentang terbaliknya KM Johnson dan bagaimana dengan nasip kapal Johnson yang tenggelam di pesta Lomban kemarin. Akhirnya misteri kapal Johnson yang tenggelam di pesta Lomban kemarin terungkap setelah kapal berhasil dievakuasi. Mengapa saya mengatakan misteri kapal Johnson? Tak lain dan tak bukan karena para penyebar berita peristiwa tragis itu tak pernah melihat perahu yang asli. Saya pun demikian. Perahu tenggelam di dekat pulau Panjang dan akses di sana ditutup untuk proses pencarian korban. Jadi hanya mengandalkan katanya dan katanya. Saya sendiri sempat terjebak pada perahu cantrang, karena penjelasan tentang apa itu kapal Johnson mengacu pada perahu cantrang para nelayan. Ternyata perahu Johnson adalah perahu yang biasa dpakai nelayan sekitar pulau Karimun untuk melaut dan mengantar wisatawan di Karimun. Saya tidak tahu apakah warga salah menyebut perahu tersebut sebagai kapal Johnson atau penjelasan tentang jenis kapal yang salah. Yang jelas, posting ini juga sebagai klarifikasi dari kesalahan tulis saya kemarin.

Tanggal 17 agustus sore akhirnya “Kapal Johnson” yang menewaskan 16 korban berhasil dievakuasi para nelayan. Menurut informasi dari harian Suara Merdeka, perahu berhasil dievakuasi setelah 8 jam perjuangan oleh 8 nelayan dari kelurahan Jobokuto. Dengan ditarik oleh perahu Dinar Samudra, perahu Johnson kembali ke pelabuhan Jepara. Kondisi kapal berbobot 5 Gross ton ini cukup baik. Kerusakan hanya terjadi pada atap dan mesin. Secara umum masih bisa digunakan. Kapal yang menurut informasi masih baru beli ini berwarna putih dengan garis biru. Perahu ditemukan terbalik di kedalaman 5 meter. Dari kondisinya yang masih bagus, bisa dipastikan peristiwa terbaliknya kapal Johnson pada pesta Lomban ini bukan karena kapal pecah. 
Ini dia Kapal Johson yang terbalik di Pesta Lomban Jepara
Banyak informasi simpang siur dan mistis di sekitar terbaliknya kapal Johnson ini. Saya sengaja mengganti kata tenggelam dengan kata terbalik di akhir posting. Juga kata kapal saya ganti dengan perahu agar nyaman. Karena besaran kapal Johnson seperti perahu. Menurut kabar dari Polisi, ijin perahu sudah habis satu tahun lalu. Menurut warga sekitar, perahu ini masih baru. Mana yang benar? Dua-duanya bisa jadi benar karena informasi polisi tentu saja valid dan berdasar hukum.  Perahu ini berstatus baru beli. Ada yang mengatakan perahu ini belum diselameti (dilakukan selamatan), ada yang mengatakan ketika akan dilakukan selamatan, ayam ingkung yang untuk selamatan dicuri para pemabuk dan dijadikan surungan (teman minum). Nah…. Inilah jika menggali informasi di antara nelayan. Lebih banyak mistisnya, ya? Harapan saya sebagai warga Jepara, dan warga sekitar pantai Kartini, peristiwa terbaliknya perahu Johnson ini tak sampai mencederai wisata Jepara. Pesta Lomban tahun depan masih ramai dan lebih terorganisir. Bukan hanya lalu lintas di sekitar laut, tetapi lalulintas di darat juga. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Jika lalu lintas terorganisir dan rapi, semua akan nyaman dan bersukacita. Bukankah masyarakat yang teratur dan taat adalah masyarakat yang dewasa dan ciri negara maju?

Share:

7 comments:

  1. dari peristiwa tersebut saya berharap wisatawan tidak trauma untuk mendatangi jepara khususnya pantai kartini mbak...

    ReplyDelete
  2. Setuju dengan ending konten artikel ini, hanya masyarakat yang hidup dalam keteraturan, dapat berjalan dengan aman dan nyaman. Dan tidak menyepelekan hal yang kecil. Sedangkan untuk posisi terakhir kapal dalam keadaan tidak pecah dan masih bisa digunakan. Semoga semua ini akan menajdi pembelajaran bagi setiap pihak yang terkait dan juga masyarakat nelayan setempat.

    Salam wisata

    ReplyDelete
  3. Saya juga beberapa hri yang lalu mengikuti berita ini, sangat miris sekali mendangarnya, wong perahu yang kapasitas penumpangnya sedikit sampek sesek kayak gitu # sumber berita di tipi.

    Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajran bagi nelayan atau orang berkecimpung dalam perairan laut untuk selalu menjaga kapasitas penumpang dan muatan perahu

    ReplyDelete
  4. Aq tanya langsung sama suami, Mbak.
    Semoga saja ini pembelajaran untuk semua, baik nelayan mau pun penumpang :)

    ReplyDelete
  5. Tragedi yg bikin gempar semua orang, semoga tak ada lagi kejadian seperti pada saat pesta lomban kemarin

    ReplyDelete
  6. semoga para korban lainnya bisa segera di temukan..
    dan semoga kejadian ini tidak terjadi lagi taun depan ...

    ReplyDelete
  7. yang trauma biasanya wisatawnnya mbk,takutttt....eh itu yang diatas sendiri pantainya to mbk???cakep bener ternyata ya...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra