Pendidikan Berkarakter di Kurikulum 2013

Saya selalu prihatin dengan kondisi anak-anak di jaman sekarang. Kemerosotannya sudah terlalu jauh. Mulai dari batita sampai remaja, sering membuat saya mengurut dada. Akhirnya saya terpaksa meyakini, “mungkin karena saya termasuk old fashion person atau wong ndeso. Produk masa lalu.

Saya sering merasa prihatin ketika melihat ketidaksopanan anak-anak jaman sekarang. Bukan hanya karena mereka tidak sopan, tetapi karena mereka tidak tahu bahwa mereka bertindak tidak sopan. Ya! Itu salah satu asumsi saya. Mereka tidak tahu.

Saya sering teringat masa kecil saya ketika SD dulu. Saya beruntung memiliki guru SD yang mengajarkan prinsip dasar tata karma dan anggah ungguh. Guru SD saya selalu memberi contoh dan membuat semua anak mempraktekkan “sisipan ilegal” yang satu ini. (Atau mungkin kala itu ada penekanan seperti itu?). Terutama sekali pak Bambang. Ketika ada seorang teman yang memberikan pulpen dengan posisi yang runcing pada penerima, pak guru akan segera memberi contoh bagaimana cara memberikan yang benar. Dari satu kesalahan kecil, seluruh murid akan praktek. Pak Bambang adalah guru terfavorit saya dan terbaik dari semua guru mulai dari TK – SMA. Beliau sosok yang bersahaja, kreatif, dan cerdas. Entah sudah berapa kali pak Bambang menolak pinangan SD favorit, dan beliau tetap setia di SD tak berprestasi kami. SD para anak nelayan. Beliau adalah guru yang teguh menanamkan pendidikan berkarakter. Beliau sering menjadi panduan saya ketika menjadi guru. Ya! Saya lulusan keguruan. Mantan guru yang tak lagi menjadi guru.

Kembali ke keprihatinan saya pada anggah-ungguh dan tata krama anak-anak jaman sekarang yang telah jauh. Saya memiliki  anak usia SD yang semua bukunya tertulis “Pendidikan Berkarakter” Saya membaca habis semua buku anak saya. Saya menghargai usaha pembuat kurikulum maupun pembuat buku sekolah. Tentu saja. Sudah waktunya anak-anak Indonesia menjadi pribadi yang berkarakter kuat. Dan saya harapkan usaha ini berhasil. Lalu saya teringat banyak pengalaman sehari-hari dengan para ibu yang menjadi pengasuh utama anaknya. Dan lagi-lagi saya mengelus dada. Pemerintah, sekolah dan guru bisa membuat aneka kurikulum pendidikan berkarakter, namun kendali utama tetap berada di tangan pengasuh utama sang anak; bapak, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, dan (mungkin) baby sitter. Apakah mereka manusia berkarakter?
Saya sering menemui kejadian seorang ibu yang dipukul, dicakar, ditendang, bahkan diludahi anaknya. Saya sering menemui orang tua yang mengalah pada semua permintaan anak. Pemenuhan kebutuhan anak yang tak dipilah-pilih mana yang benar-benar perlu. Alhasil, banyak anak yang brutal, konsumtif, dan dekstrutif sejak kecil tanpa disadari orang tua mereka. Ya! Tanpa di sadari.
Banyak anak di lingkungan sekitar saya yang salah asuh. Para ibu dan bapak yang sedemikian mudah menghardik atau menghukum anak. Para orang tua yang demi tanpa sadar mengajarkan pola hidup konsumtif pada anaknya. Saya sulit membayangkan seorang anak kecil bisa menghabiskan uang jajan sejumlah gaji buruh sehari. Tetapi itu nyata ada.
Di tahun ini, meski masih percobaan, tetapi ada beberapa SD yang sudah menerapkan konsep pendidikan berkarakter secara nyata dengan nama kurrikulum 2013. Saya sudah membaca prinsip dasarnya di blog mbak Myra tentang Kurikulum 2013. Siap tak siap kita harus siap. Saya harap, pihak sekolah merangkul para orang tua murid agar bekerja sama membentuk anak yang berkarakter. Oh iya, untuk mengetahui tentang apa itu kurikulum 2013, saya sarankan membaca di posting mbak Myra yang ini. Ada pembahasan lengkap tentang kurikulum 2013 di sana.
Share:

14 comments:

  1. Agar kurikulum Pendidikan Berkarakter bisa berjalan dengan baik, maka kita sebagai orang tua, sebagai guru harus juga memiliki Pendidikan Berkarakter tersebut, sebagai contoh untuk anak2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. orang tua termasuk pemegang kunci.

      Delete
  2. Sebagus apapun kurikulum, anak ambil contoh dari orang-otrang terdekat dilingkungannya.

    ReplyDelete
  3. menurutku.. mau pake kurikulum apapun, kalo basic agama anak yg ditanamkan ortu udah bener, pasti si anak bakal jadi anak yg bener jg deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu benar. sayang kenyataannya hanya sedikit persen yang benet. gimana dong? malah tanya ya... hahaha

      Delete
  4. jujur,saya sudah males degan kurikulum yg berganti2 mbk...ganti mentri ganti kurikulum,maunya gmn sih???

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan sketis dulu mbak. ayu ah, kita ngikuti mereka yg sudah dilabeli kata AHLI KURIKULUM itu. siapa tahu ini yang terbaik dan bisa bikin negara kita maju.

      Delete
    2. bener bener.... aku juga bingung Mbak.... kok ganti ganti terus
      kakaknya Dija yangs ekolah SD juga kena kurikulum baru ini.

      Delete
  5. harus siap ya mbak kalau itu sudah diputuskan dan mudah2an itu yang terbaik untuk anak2. apa kabar mbak susi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kabarnya baik. mbak Lidya sibuk apa kok jarang posting?

      Delete
  6. Yang repot adalah manakala si guru tak tau karakternya sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar pak Mars. Dan sebagai lulusan pendidikan, saya tahu karakter teman2 saya yg sekarang menjadi guru. ;)

      Delete
  7. Pendidikan karakter itu bisa terbentuk dilingkungan keluarga terlebih dahulu, walaupun lingkungan serta sosial masyarakat juga ikut andil dalam pembentukan karaktrer anak..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra