Bagaimana Menjadi Ibu yang Tepat Bagi Anak?

Bagaimana cara menjadi ibu yang tepat bagi anak? Pertanyaan ini sering saya tanyakan berulang-ulang pada diri sendiri. Saya sering melakukan adjustment demi menjadi ibu yang paling pas bagi anak. Apakah saya berhasil? Jawabannya BELUM. Saat ini saya hanya bisa berusaha menjadi ibu yang tepat bagi anak.


Menjadi ibu memberi saya banyak pengalaman indah dan buruk seusai pemahaman saya saat itu. Saya memiliki masa buruk menjadi ibu ketika Si Sulung masih batita. Saya ingat sekali, anak manis yang saya sayangi dan menjadi sinar matahari kami tiba-tiba menjadi anak yang sering tantrum di usia 2,5 tahun.  Saya sulit memahami permintaannya yang disampaikan sambil jejeritan memekakkan telinga. Usia 2 sampai 4 tahun memang masa anak sangat keakuan. Di saat yang sama, saya hamil kedua. Bisa dibayangkan beratnya mengatasi fase egosentris dan kecemburuan adik pada saat yang sama. Pesan “Pahami aku, Ma!” disampaikan anak dalam tuntutan yang sulit dipahami. Saya menangis ketika tanpa sadar telah mencubitnya. SAYA IBU YANG BURUK. Begitu klaim saya pada diri sendiri di saat itu. Beruntung, saya tidak mengalami gejolak emosi berlebihan meski sedang hamil. Saya tetap menjalani kehamilan dengan baik dan menjadi bumil bahagia.

Tahun 2006 saya mulai rajin membeli tabloid wanita. Pilihan saya ada 3, yaitu tabloid Nova, Aura atau Nakita. Saya membelinya bergantian di kios tepi jalan. Tahun 2008 saya lebih banyak membeli majalah Paras dan Muslimah dengan cara yang sama. Jika ke Semarang, saya usahakan membeli buku parenting anak. Saya selalu menyediakan budget khusus untuk membeli tabloid, majalah dan buku. Saya ingin mengupgrade diri. Syukur Alhamdulillah, saya bisa melampaui masa tantrum anak yang disebabkan oleh usia (2-4 tahun) dan masa hamil kedua.

Agar sahabat Susindra tidak mengalami hal serupa, atau minimal bisa belajar sedikit tentang cara menjadi ibu yang tepat, saya akan menuliskan 4 hal yang perlu diketahui agar bisa menjadi ibu yang tepat bahkan mungkin versi terbaik bagi anak.

1. Terima diri kita apa adanya dan berdamai dengan masa lalu. 

Dalam ilmu parenting modern, ada yang namanya clearing dan cleansing: membersihkan trauma didikan orang tua di masa lalu. Banyak orang yang tidak puas dengan cara mendidik orangtuanya, atau malah dididik dengan sangat keras sehingga pola tersebut terpatri. Meski sudah berusaha tidak mengikuti pola parenting orangtua, biasanya, kita berakhir menjadi seperti mereka. Bagaimana solusinya? Perbanyak silaturahmi dan sedekah pada orangtua. Hati kita akan ringan setelahnya. Apalagi melihat kebahagiaan orangtua ketika kita datang. Berapapun yang kita berikan, orangtua akan mengembalikan lebih banyak lagi, meski tak selalu berupa materi atau saat itu juga.

2. Kembangkan dirimu menjadi pribadi yang bahagia dan bersungguh-sungguh menjalani peran ibu.

Seperti saya katakan di atas, perubahan saya terjadi saat saya mulai rajin membaca dan BELAJAR. Belajarlah menjadi pribadi menyenangkan, maka semua akan berubah.

First thing to change, I must change first – Septi Peni Wulandani

3. Pahami 4 bekal utama setiap anak yang lahir, dalam kondisi apapun. 

Secara kodrati, anak lahir membawa 4 bekal utama, yaitu:

a. Anak memiliki intellectual curiosity – rasa ingin tahu yang luar biasa
b. Creative imagination – daya kreatif imaginasi sangat tinggi
c. Art of discovery – seni menemukan
d. Noble attitude – akhlak mulia

Keempat bekal seperti basic needs atau kebutuhan dasar.  Keempatnya dimiliki oleh anak yang terlahir normal maupun menyandang cacat tertentu. Maka, galilah keempat bekal utama tersebut agar anak menjalani hidupnya dengan bahagia dan terpenuhi keempat basic needs di atas.

4. Pahami Fitrah Anak:

Fitrah adalah pembawaan, kemampuan atau potensi  yang dibawa manusia sejak lahir. Meski ada, namun bisa hilang karena pengaruh lingkungan. Mungkin pernah membaca hadis “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Bukhari dan Muslim).

Dulu saya mengartikannya secara harfiah. Dan itu benar adanya. Namun semakin saya belajar, saya menemukan konklusi menarik bahwa ayah dan ibunya di hadis tersebut bisa berarti lebih luas yaitu lingkungan anak berkembang, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial.

Fitrah anak:
a. Fitrah Ilahiah. Setiap anak lahir membawa fitrah ilahiyah, yaitu kekuatan untuk mendekati Tuhannya. Setiap anak memilikinya. Makanya, di agama Islam, adzan yang dikumandangkan ayahnya menjadi suara intens pertama yang didengarkan bayi. Ibarat rumah, fitrah adalah pondasi. Bangunan yang berdiri di atasnya mestinya adalah bangunan kebaikan. Jika terjadi sebaliknya, pasti ada faktor penyebabnya.

Gambar diambil dari buku #parentlearn karya Munif Chatib

b. Fitrah belajar. Setiap anak yang lahir telah siap menjadi seorang pembelajar. Tugas ibu untuk membuatnya suka belajar sehingga mau belajar. Dimulai dari pilihan bahasa ibu, bermain bersama alam, membentuk kecintaan pada buku, membangun kerangka berpikir anak, sampai menunjukkan cara membuat ilmu tersebut bermanfaat di masyarakat.

c. Fitrah bakat. Setiap anak terlahir membawa bakat. Bakat tersebut bisa diturunkan dari kedua gen bapak ibunya, bisa juga dibentuk oleh lingkungan. Kenali bakat anak dan kembangkan potensinya. Cara termudah melihat bakat anak adalah dengan selalu memperhatikan apa yang disukainya. Pupuk bakat tersebut dengan membantunya lebih menguasai sehingga anak lebih menyukai.

d. Fitrah perkembangan. Setiap anak akan berkembang. Kita ingat bahwa anak berasal dari 1 sel yang membelah menjadi jutaan sel sehingga bagian-bagian tubuhnya terbentuk. Perkembangan anak mutlak terjadi. Terkadang ada sesuatu yang menghambatnya atau malah melejitkannya. Tugas kita adalah memastikan perkembangan anak sesuai indikator perkembangan anak.

e. Fitrah seksualitas. Sejak lahir, anak telah dibekali fitrah ini. Di mulai dari fase oral ketika bayi, yaitu semua sumber aktivitasnya berpusat di mulut, sampai ia matang secara fisik dan mental, Perlu diketahui bahwa fitrah seksual tidak hanya berkaitan dengan kematangan tubuh, tetapi juga jiwanya. Kebiasaan-kebiasaan dari rumah membentuk kematangan anak, sehingga takkan menyulitkannya saat tiba waktunya untuk mandiri.


5. Pahami 2 hal ini untuk membuat anak suka belajar:

a. Anak adalah Homo Luden atau makhluk yang senang bermain. Sehingga ketika kita mendidik mereka dengan melarang bermain, maka perkembangan anak tidak optimal. Ibu yang baik adalah ibu yang bisa bermain bersama anak. Ibu yang ketika mengajak anak bermain, sebenarnya ia sedang mengajarkan sesuatu.

b. Rentang konsentrasi anak. RKA adalah 1  menit x usianya. Jika anak usia 5 tahun bisa konsentrasi selama 5 menit, itu normal.  Rentang konsentrasi bisa naik seiring dengan stimulasi yang diberikan. Jika ingin anak konsentrasi belajar dalam waktu 30 menit, maka setiap jumlah rentang konsentrasi habis, beri ice breaking. Untuk anak usia 5 tahun, belajar 30 menit berarti 5 x ice breaking, kecuali anak enjoy belajarnya.

Anak adalah makhluk luar biasa yang diamanahkan kepada kita. Mereka lahir dari kita sudah membawa 4 bekal ini. Maka selayaknya, bersama kita, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dahsyat. Jika  ternyata bersama kita, bekal anak kita semakin menurun atau habis, pertanyaannya adalah, ADA APA DENGAN KITA? Apalagi jika anak-anak menjadi makhluk yang apatis. Ini fenomena yang buruk. Maka, sekali lagi, KENALI DIRI KITA sambil berusaha selalu ada untuk anak dengan perasaan bahagia. Dengan komitmen bersungguh-sungguh, insyaAllah berhasil. Hasil tak pernah mengingkari proses.

Artikel ini disarikan dari beberapa sumber, termasuk bahan matrikulasi Institut Ibu Profesional dan tips-tips parenting yang pernah saya baca dan saya praktekkan. Saya masih berproses menjadi ibu yang tepat bagi anak. Dan saya ingin mengajak teman-teman berproses juga, jadi kita bisa saling mensupport.

Semoga tips bagaimana menjadi ibu yang tepat bagi anak kita ini bermanfaat. Beritahu saya jika sobat merasakannya.



Share:

19 comments:

  1. Mba maun nanya yang ini Rentang konsentrasi anak. RKA adalah 1 x usianya. Jika anak usia 5 tahun bisa konsentrasi selama 5 tahun, itu normal. maksudnya gimana y mba?aku ga ngerti ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tipo Mbak... Hahahaha...
      RKA anak 1 menit x usianya. Anak 5 tahun ya RKAnya 5 menit.
      Duh jadi malu saya. 1 kata bisa bubarin semua teori. Wkwkwk...

      Delete
    2. baiklah mba makasi mba jadi mudeng sekarang ahhaha..

      Delete
    3. Hahaha... Iya Mbak. Terima kasih sudah diberitahu

      Delete
  2. Aga usianya 2,5 tahun. Dia juga lagi senang teriak, Mam. Sepertinya masalahnya karena dia ingin mengucap sesuatu tapi kami belum ngerti maksudnya.

    Ah iya..mungkin aku mesti lebih banyak main sama Aga yaa.. Dulu waktu anakku baru Amay, kami sering main bareng, jadi masa tantrum di usia 2-4 tahun itu ngga terasa.

    Terima kasih pencerahannya Mam..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Anak tantrum atau teriak2 saat meminta sesuatu biasanya karena tidak yakin keinginannya didengarkan

      Delete
  3. Komplit sekali bahasannya Mbak.. kemarin aku cari artikel tentang "jemarinen" eh ketemu artikelnya Mbak Susi yang bahas Destin pernah mengalami jemarinen juga.
    Eh ini yg dibahas apa yg dikomenin apa ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... Artikel lama sekali,.itu...
      Tapi krn khas banget jadi muncul di pencarian

      Delete
  4. First thing to change, I must change first.
    Suka banget sama quotesnya.

    Btw, thanks mbak postingan ini aku suka banget. Cocok dibaca sama yang mau memulai babak baru sebagai istri dan ibu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Putri. Iya... Saya juga suka quote itu

      Delete
  5. boleh tanya? kalau tips untuk menjadi bapak yang tepat ada bu susi?

    ReplyDelete
  6. Pengen nangiss!! Setelah baca sampai selesai.
    Waaooww... betapa menjadi mama yang cerdas itu modal sukses anak.

    ReplyDelete
  7. mbak ada Tips untuk bapak bapaknya ... ?

    ReplyDelete
  8. Betul Mbak. Jadi orang tua itu gak gampang. Jadi suka sedih sama orang2 yang nengabaikan anak2nya gt demi pekerjaan. Ya g bs disalahkan juga sih karena emg tuntutan, tapi jadi gt efeknya. Sama anak cuek.. Sikapnya sama anak jadi gmn gt. Kadang sedih liatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Saya juga merasa begitu. Tapi kita tetap harus berusaha tetap memberitahukan cara menjadi ibu yang tepat. Saya percaya, akan tiba masa getaran kuat jadi ibu akan tiba. Waktunya yang tak bisa diprediksikan

      Delete
  9. susah juga ya untuk menjadi ibu yang tepat untuk anaknya. Apalagi bagi wanita karir yang waktunya kebanyakan habis di kantor.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra