Belajar Membatik di Kampung Wisata Batik Pekalongan

Siapa yang suka memakai batik? Yuk belajar membatik di Kampung Wisata Batik Pekalongan...

Hari batik tahun ini saya peringati lebih istimewa. Saya diajak melihat cara pembuatan batik di Pekalongan. Open akses karena menjadi perwakilan Genpi Jateng. Makasih Genpi! Komunitas Generasi Pesona Indonesia ini memang cepat banget naik daun. Dari Genpi, saya belajar batik lebih detail di Solo dan di Pekalongan. Istimewa! Maturnuwun.



Kalau mau belajar batik, bagaimana caranya? Berapa hari? Berapa biayanya? Di mana? 

Banyak juga ya, pertanyaan seperti itu. Sebenarnya kalau mau belajar, bisa dolan ke kampung wisata batik, kok. Meski tak semua membuka akses belajar yang free. Tapi kalau sekedar bertanya-tanya, melihat-lihat, tentu sangat diperbolehkan. Setidaknya saya pernah mengunjungi dan belajar proses batik di kampung batik Yogyakarta (Tembi), Bukittinggi (batik liek), Tuban, dan Pekalongan. Kalau di mengunjungi museum batik, Alhamdulillah sudah 2 kali juga, yaitu di danar Hadi Solo dan Jatayu Pekalongan. Betapa beruntungnya saya. 

Batik pekalongan memiliki ragam corak dan motif yang sangat kaya. Mungkin terkaya di Indonesia. Mungkin pula di dunia. Beberapa kebudayaan bercampur di sini, dibawa oleh para pedagang asing di abad XVII (perlu dikoreksi). Terjadi asimilasi budaya karena ciri khas masyarakat pesisiran yang open minded dan kreatif. Motif lokal yang diturunkan dari kerajaan Mataram seperti geometris dan simbolis masih dipakai sampai sekarang. Motif naturalis seperti bunga dan binatang yang berasal dari Cina dan Belanda pun berkembang. Motif geometris dari India yang berbeda juga berkembang di sini. Bahkan, ada pula motif dari Sumbawa yang terbawa di sini. Kaya sekali kan? Tak lupa, motif Hokokai dari Jepang juga ada. Sedulur tua di masa pendudukan yang singkat tampaknya menggunakan jalur budaya juga. Maka muncullah batik motif lokal dipadu ciri khas Jepang. Luar biasa! 

Agar posting ini tak menjadi artikel sejarah, marilah kita mulai belajar proses membatik. Saya tidak berani mengatakan belajar membatik karena saya belum pernah membuat batik sendiri. Perlu diketahui bahwa tiap kota memiliki teknik dan istilah proses batik sendiri, meski beberapa istilah mungkin sama. Berikut cara membatik ala Pekalongan:

1. Nyungging . Nyungging adalah proses membuat pola di kertas. Seniman batik membut pola-pola baru (atau lama) di kertas agar memudahkan proses njaplak. Ah... saya tidak bertemu dengan penyunggingnya langsung. Tetapi di perjalanan pulang saya melihat seorang laki-laki separuh baya sedang menyungging di rumahnya. Hanya selewatan saja, tetapi melihat beberapa kertas digelar di meja tamu ... saya tahu ia sedang menyungging


2. Njaplak. Njaplak adalah proses membuat pola atau motif dengan cara menjiplak pola menggunakan bantuan pulpen. Kertas pola diletakkan di bawah kain lalu penjaplak menggambar pola di kain. Saya tidak memperhatikan apakah di bawah meja ada lampu atau tidak, tetapi sekali kali menjaplak bisa 3 helai kain sekaligus dengan bantuan kertas karbon. 

3. Ngiseni. Ngiseni adalah proses memberikan malam pada pola yang sudah dibuat sebelumnya. Bisa juga menambahkan proses nitiki atau membuat pola titik-titik menggunakan canting berbeda. Canting nitiki adalah canting yang terkecil, dengan ukuran 0,5. Sedangkan canting untuk ngiseni adalah canting ukuran 1 dan 2. Ada perbedaan istilah di kota lain, ngiseni = Nglowong, sedangkan nitiki adalah ngiseni. 


4. Nyolet. Nyolet adalah proses pemberian warna di bidang pola menggunakan kuas dari bambu/rotan. 

5. Mopok. Mopok adalah proses menutup bidang yang telah dicolet/diwarnai menggunakan malam. Batik dengan lebih dari 2 warna membutuhkan proses ini. 

6. Ngelir.  Ngelir adalah proses mewarnai seluruh kain batik. Di kota Solo proses ini disebut Nyelup.

7. Nglorod. Nglorod adalah proses menghilangkan malam dengan cara mencelupkan ke air mendidih.

Proses ini sebenarnya sudah bisa dikatakan final. Namun ada juga proses ngrentesi (membuat cecek/titik pada klowong), nyumet (menutup bagian malam), dan nyoga (mencelupkan kain ke warna coklat/sogan), yang bisa jadi dilakukan. Ketika ke sana, saya juga menemukan pegawai yang memukul-mukul kain yang telah dipopok malam tebal. Entah apa nama teknik ini, tetapi hasil pukulannya membuat malam retak sehingga muncul pola seperti serat daun tak beraturan.  Tak salah kan kalau saya bilang asimilasi budaya di kota ini sangat mudah terjadi karena sifat ramah dan terbuka mereka. Meski tentu saja karena selera pasar juga berkembang.

Saya harus membuat tulisan khusus mengenai batik cap, cara membedakan batik tulis dengan cap, membedakan batik pewarna alami dan pewarna buatan. Aaah... banyak sekali PR yang saya skip karena kesibukan. Harap sabar ya teman. Orang sabar disayang Allah. Doakan saya selalu sehat dan punya waktu untuk berbagi. Sebagai bonus, saya bagikan video singkat proses batik cap dari chanel Youtube saya. Silakan dibuka, like dan subscribe. Komentar juga sangat diharapkan.


Sebelum saya tutup, izinkan saya membagi foto kopdar dengan Mbak Mechta, Mbak Ai dan Noorma; tiga blogger TOP dari Pekalongan.
Fotber dengan Mbak Mechta di malam Batik Fashion Show

Fotber dengan Noorma. Maaf kucel, baru turun dari kereta, lupa touch up.
Alasan banget ya. Wkwkwk.

Fotber dengan Mbak Ai di Larissa Batik

Sampai jumpa di tulisan berikutnya....
Share:

3 comments:

  1. Tulisan mba Susi mah selalu 'mentes' alias berisi... Etapi sy mo protes ah..saya mah blm terlalu Tua-Ompong-Peot kan mbaak..hiks...

    ReplyDelete
  2. Komplit plit plit... Malu ah disebut top krn msh sama2 belajar, saling mengisi. Maturnuwun malah diberi masukan2 dr penjenengan, smg bs bertemu di Jepara!

    ReplyDelete
  3. wah ada pakai belajarnya ya, waktu aku ke sana gak pakai belajar batik

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra