Mau jadi Atlet Esport? Boleeeh... Asaaal...

Anak lanang saya yang sudah remaja pernah melontarkan keinginannya menjadi atlet esport agar tak sekadar bermain Mobile Legend dengan teman-temannya. Dia mau dan merasa mampu. Saya coba telisik seberapa dalam dia mengerti apa itu esport dan mengapa ia menginginkannya. Saya bukan ibu yang narrow minded dan memandang rendah suatu profesi. Saya ibu yang realistis melihat keadaan. Anak saya boleh jadi atlet esport, asal bisa memenuhi syaratnya.



Si mbarep memiliki karakter pejuang tangguh. Selalu naik level dengan sangat cepat. Menguasai teknik untuk memenangkan pertandingan. Instingnya kuat, dan ia memiliki kecerdasan logika matematika. Dari kami, dia mewarisi bakat bisa mengenali suatu rancangan. Tak heran jika dia sering menang. Tapi perangkat yang dia gunakan tidak mumpuni. Okelah, mungkin dia sering mengalahkan lawannya, tapi butuh lebih dari itu untuk menang dalam game yang levelnya lebih tinggi. Perangkat gawai mumpuni dengan spesifikasi lumayan tinggi dan koneksi internet yang super cepat adalah kebutuhannya. 

Saya bertanya padanya, apa beda atlet esport dengan atlet lainnya? Ia tak bisa menjawab, karena baginya tugas atlet esport ya hanya bermain saja. Hmm... ini stigma yang sangat salah. Esport atau electronic sport bukan hanya sekadar bermain terus menerus, akan tetapi harus menguasai sejumlah syarat wajib menjadi atlet. Salah satu yang paling dilupakan adalah berbadan sehat secara jasmani dan rohani. Itu artinya cukup makan, cukup tidur, cukup olahraga. Tidak bisa sembarangan. Dan yang paling krusial adalah kepiawaian mengatur manajemen waktu.

Dan dia pun terpana.

Asyiknya bermain game. Sumber foto: freepik.com
Dia adalah satu dari sekian juta orang yang salah mengartikan olahraga game ini sebagai bentuk rekreasi belaka, yang menghabiskan waktu dan uang. Masyarakat sering mencampuradukkan antara fungsi game sebagai hiburan dan game sebagai profesi. Daripada hanya buang uang, jadi atlet saja sekalian. Kemudian, muncullan gelombang keresahan dari para emak yang punya power di media sosial, dan mereka beramai-ramai mengecam Presiden Jokowi yang sangat mendukung esport Indonesia.


Keresahan para emak ini bukan tidak beralasan. Berdasarkan data yang dihimpun KompasTekno dari situs esport internasioal newzoo.com, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yang menghabiskan 880 juta dollar AS (sekitar Rp 11 miliar) untuk bermain game. Total ini membuat Indonesa menduduki peringkat ke-16 negara dengan pendapatan dari game terbesar di dunia. Sebesar 56 persen di antaranya merupakan gamer laki-laki yang menggunakan PC/laptop, dengan rentang usia 10-50 tahun. Sementara 44 persen sisanya adalah gamer perempuan dengan usia 10-50 tahun. Kenyataan ini cukup meresahkan sehingga perlu dicari solusi bersama.

Rekreasi atau profesi? Sumber foto: canva.com

Setelah berbincang dengan anak mbarep yang sudah kelas 9 itu, saya mulai mempelajari tentang esport. Sebagai seorang ibu, saya harus mencari tahu semua yang ingin diketahui anak agar ia selalu tahu pada siapa seharusnya bertanya. Penting bagi saya, untuk menjadi tempat bertanya anak, apapun itu, karena tugas saya adalah mendidiknya. Saya tak rela ia dididik sembarangan oleh orang jalanan yang tidak saya kenal karakternya, apalagi kebenarannya. Saya selalu teringat kata Bu Elly, “Jika bukan kita yang memberikan pendidikan (seksualitas), apa tukang becak di jalan?” dan itu seram sekali bagi saya. Itulah mengapa diam-diam saya selalu belajar lebih banyak dari mereka. Apa yang anak sukai, saya pelajari.


Dari hasil banyak membaca, saya mempunyai kesimpulan tentang syarat apa yang dibutuhkan seorang gamer sebelum menjadikan hobinya tersebut menjadi profesi sekelas atlet, yaitu:

1. Pilih satu game untuk ditekuni. 

Penting sekali untuk mengambil spesialisasi game. Pilih dengan cermat game mana yang paling tepat. Kalau bisa, game yang sedikit pemainnya. Biasanya game ini berbayar dan punya tingkat kesulitan tinggi. Jadi atlet esport tidak bisa mengandalkan kemampuan biasa. Jutaan pemain game memimpikan menjadi atlet. Ada yang sakadar mimpi, ada yang berusaha keras mewujudkannya. "Being unique di antara mereka akan membuatmu terlihat," pesan saya. Memilih 1 juga berarti bisa lebih memahami game yang dimainkan; bagaimana cara berlatihnya, apa yang harus dicapai, dan bagaimana agar menguasai game ini.


2. Masuk ke majalah Esport

Majalah Esport sudah seperti saringan bagi calon atlet olahraga ini. Majalah ini aktif mencari talent baru. Mereka akan diulas kemampuannya. Meskipun bukan syarat wajib, tapi setidaknya, keunggulanmu sudah terdeteksi. Bagaimana caranya masuk? Buat dirimu terlihat oleh para pencari talent dengan cara rajin ikut kompetisi-kompetisi dan memenangkannya. Setidaknya, buat karaktermu menonjol di antara semua peserta lomba.

3. Berkelakuan baik.

Kelakuan baik di sini artinya kesanggupan bermain secara tim, disiplin waktu, pandai berkomunikasi, tidak sombong apalagi tinggi hati. Juga kemampuan untuk beradaptasi, karena bisa jadi pasangan bermainmu memiliki karakter yang berbeda denganmu. Meski begitu, kalian harus bekerjasama secara solid memenangkan pertandingan, kan?

Semua bisa bercita-cita jadi atlet, Apakah kamu juga? Sumber foto: freepik.com

4. Jadikan timmu sebagai keluargamu. 

Bentuk tim yang solid agar bisa memenangkan kompetisi. Tim ini, meski belum pernah bertemu, akan tetapi dapat berinteraksi di aplikasi messenger yang disepakati. Bisa Dischord, WhatsApp, Telegram, atau Flock. Hangout secara virtual bisa dilakukan pada waktu-waktu yang disepakati. Selama berinteraksi itu, jadilah dirimu sendiri. Jangan meniru karakter orang lain. Penting sekali untuk belajar mempercayai tim seperti mempercayai dirinya sendiri.

5. Mengasah insting percaya pada rekan satu tim

Insting sangat dibutuhkan dalam permainan game, baik permainan biasa maupun dalam esport. Pemain harus mengasah instingnya agar tidak salah mempercayai orang. Ia harus menimbang kemampuan kawan dalam timnya bisa sampai mana. Adakalanya, di saat makin genting, ia harus percaya bahwa mematikan dirinya bisa membuat timnya menang, sehingga ia akan menyerang all out. Tentu saja perlu serangkaian latihan bersama untuk mendapatkan insting percaya yang tajam.

6. Berlatih dengan lebih keras. 

Ingin menjadi atlet esport atau malah sudah menjadi atlet, artinya harus latihan bersungguh-sungguh dan secara profesional. Bukan tentang jumlah waktu yang dihabiskan untuk latihan, akan tetapi berlatih secara terstruktur untuk menambah jam terbang. Buat target realistis tentang capaian yang kamu inginkan. Berlatihlah dengan target tersebut dan selalu evaluasi setelah selesai. 

Perangkat game harus mumpuni. Sumber foto: canva.com

7. Membuat manajemen waktu dan menepatinya.

Manajemen waktu adalah PR terberat para pemain game, baik gamer biasa maupun atlet game. Meski begitu, manajemen waktu adalah rambu-rambu yang wajib ditaati. Buat manajemen waktu dalam sehari mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Kenali jam paling tepat untuk berlatih tanpa terganggu jadwal lainnya. Harus ada manajemen waktu yang baik agar dapat jam terbang tinggi tanpa menghancurkan badan.

8. Perhatikan dan perbaiki statistik permainanmu.

Statistik dalam permainanmu adalah rapor penting untuk mengetahui seberapa jago dirimu dalam game tertentu. Fungsinya tak beda dengan rapor sekolah, hanya saja bentuknya beda. Jangan beri warna merah pada statistikmu dengan melakukan cheating

Contoh statistik. Sumber foto: gamebrott.com

9. Tetap latihan fisik

Latihan fisik berupa lari, senam, yoga, dan lainnya harus rutin dilakukan agar tubuh senantiasa dalam kondisi prima. Jangan sepelekan vitalitas tubuh, karena hal ini sangat diperlukan oleh atlet game. Game sport beda dengan olahraga fisik. Koordinasi mata, otak dan tangan sangat dominan, sementara bagian tubuh lainnya mungkin hanya jadi penopang. Akan tetapi penopang tersebut adalah dasar kekuatan yang diperlukan saat beradu dalam kompetisi game.

10. Rutin minum air.

Minum air minimal 8 gelas per hari adalah kebiasaan penting bagi semua orang, tak terkecuali para atlet dan pemain game. Jika lupa minum, tubuh bisa dehidrasi sehingga menjadi lemah, pusing, dan sering menguap. Konsentrasi juga mudah buyar. Sebagian besar berupa air putih, sisanya air minum kesukaanmu, kecuali soda.


11. Rajin senam mata dan konsumsi vitamin untuk mata

Olahraga mata di sini bukan cuci mata ke mall, ya. Olahraga mata dibutuhkan untuk mencegah kelelahan mata dan membuat mata tetap fokus meski sering beraktivitas di depan komputer. Kalau penasaran, langsung klik cara olahraga mata di situs Alodokter. Jangan lupa untuk mengkonsumsi vitamin mata sesuai resep dokter.

12. Upgrade perangkat game secara berkala

Meski penting, saya memasukkannya belakangan karena saya percaya pada pernyataan, “Man behind tools is most important.” Perangkat game seperti HP, console, maupun PC adalah perangkat tempur utama atlet esport. Makin baik kualitasnya, makin prima hasil ‘olahraganya’. Jadi, memperbaiki spesifikasi perangkat adalah salah satu cara untuk menambah kualitas dan profesionalisme. Tempat paling baik untuk membeli perangkat game sekelas profesional ya di Paola.id. Bisa di Instagram paola.id atau website paola.id

Hmm... banyak sekali, kan, syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang atlet esport. Sebagian adalah syarat yang saya ajukan bagi mbarep saya. Tapi saya yakin apa yang saya tulis di atas masuk logika dan bisa jadi pertimbangan para atlet esport. Apakah kamu sanggup? Pasti sanggup, dong. Harus.

Banyak rekomendari di IG paola.id

Lha, dari tadi menulis banyak, tapi saya belum memberitahu apa itu esport.
Menurut Wikipedia, esport adalah:
Olahraga elektronik (juga dikenal sebagai permainan kompetitif, permainan pro, Esports, e-sports, electronic sports, atau pro gaming di Korea Selatan) merupakan suatu istilah untuk kompetisi permainan video pemain jamak (multiplayer), umumnya antara para pemain profesional. Aliran permainan video yang biasanya dihubungkan dengan olahraga elektronik adalah aliran strategi waktu-nyata, perkelahian, tembak-menembak orang-pertama, dan arena pertarungan daring multipemain. Turnamen seperti The International Dota 2 Championships, League of Legends World Championship, Battle.net World Championship Series, Evolution Championship Series, Intel Extreme Masters, menampilkan siaran langsung serta hadiah tunai pada para pemainnya.

Jadi, esport atau electronic sports adalah olahraga yang menggunakan game sebagai bidang kompetitif utama yang dimainkan oleh profesional.  Esport bisa dimainkan siapa saja, tanpa standar fisik tertentu. Bahkan penyandang disabilitas pun bisa menjadi atlet profesional. Pada prinsipnya, esport termasuk dalam olahraga mental dan pikiran. Sudah disetarakan dengan permainan catur dan contact bridge. Semua sudah diperlombakan dalam olimpiade. Jadi di sini ada kompetisi yang menuntut penguasaan teknik dan strategi tertentu untuk memenangka pertandingan. Bedanya, epsort lebih sering berupa permainan tim. Nah, oleh karena masuk ranah olahraga, atlet esports juga harus mengenakan seragam layaknya para atlet cabang olahraga lain. Seperti atlet esport Indonesia di bawah ini.

Bahagianya jadi atlet esport. Sumber foto: gamebrott.com


Atlet esport Indonesia terhimpun dalam IeSPA (Indonesia eSport Association), yang saat ini masih menginduk pada organisasi FORMI (Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia). IeSPA bertekad mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berprestasi dan disegani dalam bidang esport di mata internasional. Cita-cita ini insyaAllah bisa tercapai, karena banyak atlet esport Indonesia yang berbakat. Mereka sedang aktif mencari talent di seluruh pelosok Indonesia dengan membuat kompetisi-kompetisi di setiap kota, yang disebut dengan Liga Esport. Apakah kotamu sudah ada kompetisi ini? Apakah kamu berminat masuk menjadi tim atlet? Persiapkan dirimu yang terbaik, ya. Siapa tahu kamu masuk ke tim atlet esport yang akan diajak ke Manila untuk pemusatan pelatihan esport Asia.

Di atas saya sudah menulis bahwa bisa bermain secara tim bahkan mempercayai tim seperti mempercayai dirinya sendiri. Jadi, ini bukan tentang bermain sebanyak waktu yang ada sampai melupakan sekolah, keluarga dan kebutuhan diri sendiri. Justru bermain secara cerdas, fisik bugar, mata segar; itulah yang harus diperhatikan. 

Jadi... bukan tentang bermain sebanyak, sesering, dan selama mungkin sampai melupakan waktu, kan? Kalau memang kamu merasa sanggup mematuhi syarat menjadi atlet esport yang saya perikan di atas, saatnya kamu mencari kelompok atlet esport dan mempunyai coach atau pelatih khusus. Apapun pilihanmu, lakukan sepenuh hati dan jadilah versimu yang terbaik. 


Sumber: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Olahraga_elektronik
https://gamebrott.com/guide-menjadi-pro-player-tips-agar-dilirik-tim-esports
https://tekno.kompas.com/read/2018/05/25/13150097/apa-beda-antara-gaming-dan-esports-?page=all
https://tekno.kompas.com/read/2017/10/25/08490027/menakar-potensi-esport-di-indonesia
https://esportsnesia.com/penting/apa-itu-esports/

41 Comments

  1. Sebelum esport ada atau banyak seperti sekarang aku sering mendengar gamer Indonesia yang emamg skillnya keren dan bisa dapet jutaan rupiah dari ngegame. Keren! Kalau gaming kan sebenernya pinter taktiknya yaa. Esport kudu tetep jaga kesehatan karena bener banget dijaga pola olahraga, istirahat, dan konsumsi air putih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah lama ada Mbak. Saat masih mahasiswa, 17-18 tahun lalu juga sudah ada kompetisi game Counter Strike, misalnya.
      Ini bukan hal baru. Juga bukan baru booming.

      Delete
  2. Semoga tercapai cita-citanya.
    Setuju banget mesti jaga kondisi tubuh dan mata, agar tak ambyar :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin....
      Apapun cita-cita anak, ibu hanya bisa bantu semampunya. Ia sendiri yang akan menjalani. Makanya aku ga banyak titip cita-cita ke anak.

      Delete
  3. Setuju banget Mbak, kita sebagai orang tua juga harus selalu mendukung keinginan yang diinginkan anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak.
      Iya, itu tugaa kita tuk memastikan keinginan anak masih di koridor yang benar

      Delete
  4. Semoga keinginanya segera terwujud dan semoga sukses selalu dalam bidang yang digeluti.

    ReplyDelete
  5. Terimakasih banyak sudah berbagi kisah dan informasi yang sangat bermanfaat ini Mbak.

    ReplyDelete
  6. Benar sekali Mbak, memang harus selalu menjaga kesehatan tubuh khususnya mata.

    ReplyDelete
  7. Minum air putih secara rutin memang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan membantu terhindar dari dehidrasi, sehingga tetap jitu dan menangan

      Delete
  8. saya masih berpikir, mengapa mereka disebut atlet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti halnya permainan catur dan bridge, mereka atlet juga

      Delete
  9. Suka nih, artinya dengan esport pun kita harus tetap berkelakuan baik dan bersosialisasi (dalam tim) harus juga berprestasi, hidup adalah perjuangan dari sisi mana pun, bukan sekedar leha2 dan main2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mbak. Imi point penting banget. Jangan karena bermain game lalu memjadi antisosial, empati berkarat, dan komunikasi dikesampingkan. Semuanya amat sangat penting

      Delete
  10. Ternyata jadi atlet esport tidak semudah yang dibayangkan ya, anakku juga pernah bilang pengen jadi atlet esport karena hadiahnya besar dan bisa maib games padahal tidak semudah itu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mudah, hadiahnya piring dan sendok, Mbak. Bukan uang jutaan.

      Delete
  11. E-sport sekarang emang udah nggak main-main lagi ya. Udah dianggap sebagai olahraga dan bisa jadi atletnya juga. Walaupun kesannya cuma main-main game, tapi tetep butuh kesiapan yang matang juga. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Stigma cuma main-main ini yang harus dihapus, Mbak.

      Delete
  12. Aku terharu sih akhirnya ada post blog yang ngebahas tentang ini. Soalnya ya, aku kan juga lagi meniti karir jadi esport game gitu dan sering dianggap remeh gitu. Padahal mah yaaah wahahahaha. Game tuh bukan sekedar mainan lagi lho. Tapi juga ladang berkreasi.

    ReplyDelete
  13. Banyak juga ya Mbak syaratnya kalau mau jadi atlet esport. Kirain enggak sekompleks itu, lho.. hehe.
    Btw penasaran dengan keahlian si mbarep yang mewarisi keahlian ayah ibunya :)

    ReplyDelete
  14. Nah,. Ini yang aku tunggu mba Susi. Untuk jadi atlet esport ini memang banyak sekali biayanya ya mba.. jadinya harus bener niat awal untuk jadi atlet. Bukan sekedar keenakan main game, tapi gak punya tujuan.

    ReplyDelete
  15. Saya baru tahu seputar atlet esport ini, Mbak Susi. Hanya saya pernah sekilas saja pas Asian Games baru-baru ini, ada cabang olahraga seperti ini, dan atlet Indonesia berhasil meraih emas.
    Tapi mau jadi atlet apa saja, memang semuanya butuh proses dan perjuangan ya, Mbak. termasuk menjadi atlet esport ini.
    Sukses untuk putranya, Mbak Susi.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah, anak-anak saya meski main game (dengan waktu yang dibatasi) lebih suka sport beneran, si Sulung ama anak kedua jadi atlet basket sekarang, meski masih tingkat Jawa Barat.

    ReplyDelete
  17. anak sulung saya masih 7,5 tahun.
    dan saya masih mencari minat bakatnya.
    dia suka bermain game, walaupun saya batas juga.
    saya tidak masalah seandainya dia serius pada esport ini.
    tapi sepertinya belom sejauh itu minat dia kepada game.

    tapi terimakasih atas ulasannya mba susindra. pikiran saya jadi terbuka dan nambah pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  18. Informasi yang bermanfaat nih, Mbak susi,, jd tau apa itu esport ya. Btw kl wahana olga yg separo esport separo digital yg di mal² itu termasuk esport jg gak ya Mbak. Kayak golf digit itu, bola basket digital dll

    ReplyDelete
  19. bener banget mbak, entah kenapa aku mungkinsalah satu orangtua yang takut anaknya jadi atlet esport. Padahal jika saran dari mbak bisa diterapkan. sebenarnya bisa dipertimbangkan ya.

    ReplyDelete
  20. Bukan hanya menjadi atlet, bermain game saat ini pun sudah bisa dijadikan penghasilan. Bahkan bisa dijadikan konten yang diunggah di youtube. Sehingga bisa memberikan pundi2 rupiah bagi pemilik konten.

    ReplyDelete
  21. Perkembangan zaman bener - bener warbiasa yak, gak kebayang deh dulu yang gini - gini bisa disebut sebagai olahraga.

    ReplyDelete
  22. Wah, aku termasuk orang yang nggak paham apa itu eSport. Ndeso banget ya, wkwkwkw ... Mungkin teman-teman yang biasa bermain game tahu. Tapi berhubung aku sebaliknya, jadi aja pas baca ini terbengong-bengong gitu.

    Fisik yang fit memang diperlukan banget ya meskipun kegiatannya hanya duduk aja. Kalau tubuh sehat, pasti konsentrasi juga bagus.

    ReplyDelete
  23. Tadinya kupikir asal bisa maen game siapa aja bisa ikutan esport hehe. Tapi kalau dipikir2 iya juga sih, ini tu kyk olahraga catur yang mungkin gak banyak keluarin tenaga tapi butuh memeras otak ya mbak supaya bisa mencapai poin tertinggi. Kita aja yang mikir kalau ujian rasanya abis itu laper, apalagi ini, butuh kecerdasan buat mainnya hehe

    ReplyDelete
  24. Pertama kali mendengar esport, aku juga sempat bertanya2, macam apa sih esport ini. Ternyata aku juga yg termasuk memandang remeh hehehe malah sempat membatin, main gane kok sport hahaha

    Keren nih mbak tipsnya. Sama anak hrs jadi tmpat bertanya ya, jd mereka yakin nanya sama org tua, bukan ke yg lain, lalu salah kaprah.

    ReplyDelete
  25. Alu baru tahu lho tentang esport ini. Kalau ngomongin games, entah kenapa aku gak suka games. Kalaupun ada paling bertahan aeminggu aplikasinya trus dicopot.

    Semoga cita2 anaknya terwujud ya mbak... Zaman mendatang, bakal banyak profesi profedi yang tidak terduga.

    ReplyDelete
  26. Aku baru paham esport setelah baca artikel ini. Sebelumnya sebel kalau lihat anakku ngegame ae

    ReplyDelete
  27. Si mbarep sejak usia berapa mba kenal gadget buat nge-game?
    Beneran daku kenal kata2 e-sport itu pas musim pemilu kemaren, tapi sama sekali ngana kagak ngarti ei.

    Ternyata sudah semakin keren ya

    ReplyDelete
  28. Aku termasuk happy lho kalau sekarang sudah ada pertandingna esport yg beneran.
    Aku sejak dulu gamers, dan pernah main professional juga. Tp sekarang pensiun, menikmati game buat me time aja :D

    ReplyDelete
  29. Di kantor ku juga sempat dibuat kompetisi game online nih saking happening nya game online

    ReplyDelete
  30. aku pernah dengar sih ada atlet dalam bidang gaming tapi tetep olahraga secara fisik juga ya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)