Pesantren Kilat di Tahun Baru: Pengalaman seru Anak-Anak

Menandai pergantian tahun lalu, saya dan anak-anak ikut pesantren kilat atau sanlat bersama Institut Ibu Profesional Jepara. Kegiatan ini diawali oleh keprihatinan kami, para ibu-ibu IPJ dengan tradisi tahun baru yang tak jauh dari kembang api dan pesta kecil di tahun baru. Saya sendiri tiap tahun baru lebih sering merayakan bersama keluarga saudara yang membuat pesta bebakaran ikan atau ayam. Saya memang lebih sering didaulat jadi koki dadakan sekaligus amatiran. Rasa-rasanya, malas juga ya, jika di malam pergantian tahun saya lebih sering berpeluh kepanasan membakar ikan atau ayam. Nah... usul yang satu ini langsung disambut dengan super kompak. Deal! Kurang dari 1 minggu, acara sudah siap dilaksanakan padahal selama penyusunan, tuan rumah masih di luar kota. Saya menitipkan 10 jempol untuk Mbak Fatheeyah yang tanggap dan hebat perencanaannya. Juga dengan ibu-ibu yang mau menikmati pergantian tahun dengan cara beda dan istimewa.


One Day in Pesantren.... itulah nama kegiatan tahun baru para ibu-ibu hebat yang bergabung di Institut Ibu Professional pimpinan Mbak Tahiyatur Ratih. Ibu hebat (banget) yang tinggal di Jepara ini sukses mengasuh 200 ibu-ibu secara online dan ofline. Figurnya sederhana, tapi jangan tanya daya upayanya. Kegiatan dipusatkan di Pesantren Darut Talim Al Farchah Bangsri Jepara pada tanggal 31 Desember 2015-1 Januari 2016. 

Kegiatan Sanlat IIPJ Jepara dibuat unik dan membumi. Anak-anak diajak ikut pesantren kilat bersama ibunya. Peserta anak-anak mulai dari 5 bulan, dan yang tertua berumur 12 tahun. Para bapak tidak ikut. Saya berangkat bersama kedua anak saya; Destin dan Binbin, dan Haris, teman Destin yang menjadi anak piatu sejak kecil. Sebenarnya saya agak ragu, bagaimana jika Haris nanti tiba-tiba rindu pada ibunya, tetapi ajakan spontan saya sebelumnya menjadi janji dan harapan baginya. Bismillah... in sya Allah dia kuat dan tetap bahagia di sana. Alhamdulillah doa dan keyakinan saya terkabul.

Transportasi menuju lokasi sanlat juga dibuat unik, yaitu naik bis umum, padahal sebenarnya beberapa peserta memiliki mobil pribadi. Alat transportasi umum ini sengaja dipilih untuk mengenalkan anak-anak, sensasi naik bis umum. Memang, beberapa anak mendapatkan pengalaman pertama naik bis, dan ternyata mereka ceria sekali. Bis tersebut tidak dicarter, ya, jadi memang kami menunggu di halte bis Saripan bersama-sama, dan beberapa peserta menunggu di terminal kota Jepara. Tapi... sebagai rasa sukacita pak sopir bus, akhirnya kami diantar sampai tujuan. Rencana mengajak anak berjalan sekitar 500 meter dari lokasi gagal karena bantuan pak sopir. Terima kasih, Pak!

Tiba di pesantren. Kami disambut tuan rumah dengan sangat ramah. Aneka camilan ternyata sudah disiapkan dan keceriaan peserta langsung meningkat. Dalam 2 jam, semua hidangan tandas! Tamunya menyenangkan tuan rumah atau lapar, tak perlu dipertanyakan detailnya lagi. Yang pasti, semua peserta super happy. Apalagi pembukaan pada jam 14:00 membuat kami tahu bahwa belajar di pesantren tidak melulu belajar agama. Buktinya para santriwati dengan sempurna bercasciscus dalam bahasa Jawa Kromo, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab secara bergantian. Hebaaaattt..... saya langsung menegdipkan mata ke si sulung Destin yang memang rencananya kami masukkan pondok pesantren setelah lulus SD.

Usai pembukaan adalah membersihkan badan, ibadah, bercengkrama, dan makan pada jam 5 sore. Anak-anak diajak antri dengan tertib ketika mengambil makan. Semi prasmanan karena nasi diambil sendiri oleh anak-anak. Setelah mereka mulai makan, barulah para ibu-ibu. Pada malam harinya, serangkaian acara difokuskan dan saya menikmati kehidupan malam di pesantren yang sangat menenangkan. Sholat berjamaah, ngaji, tausiyah, dzikir, dan sholat malam. Paginya? Mulai deh drama ala anak-anak.... penasaran ingin tahu?

Pada malam hari, anak-anak ternyata tidak bisa tidur. Terutama peserta putra. Mereka kepergok jalan-jalan sekitar lingkungan pesantren pada tengah malam. Usut punya usut... ternyata... mereka tak sabar ingin bermain di sungai dan memancing ikan! Whaaattt???? Dasar anak-anak, nih. Karena hari tak juga berganti pagi, mereka memutuskan jalan-jalan saja, siapa tahu tiba-tiba pagi. Saya tertawa lepas ketika mendengar cerita kedua anak saya yang bercerita bergantian. Nah... ada juga drama haru di kamar peserta putri kecil. Ada anak yang menangis sesenggukan karena kangen rumah. Teman di sebelahnya membujuknya sampai keduanya tertidur. Anak-anak yang manis... para ibu menyaksikan adegan demi adegan sambil tersenyum.


Pagi tiba... matahari tersenyum bersama binar mereka. Anak putri yang memang terbiasa mandi pagi, langsung mandi tanpa banyak disuruh. Mereka berganti baju yang cantik dan siap diajak keliling desa naik dokar atau delman. Peserta laki-laki? Mereka langsung berlari ke sungai di sebelah pondok dan menatap rindu ke arah air yang memanggil-manggil. “Kami mau bermain air!” teriak mereka melalui penolakan mandi dan bersiap jalan-jalan. Dengan sedikit bujukan, mereka akhirnya mau ikut senam lalu berjalan-jalan dengan dokar (tanpa mandi).

Keliling desa sekitar pondok naik dokar membawa sensasi tersendiri bagi semua peserta. Para ibu maupun anak, bahkan bagi panitia (Santriwati asli). Lokasi pondok yang tanahnya tidak landai membuat kuda bermanuver dan kami semua menikmatinya. Ketika acara selesai... kami bersiap ke acara selanjutnya yaitu mengaji. Namun keinginan anak-anak bermain air membuat acara diatur kembali. Mereka boleh bermain air setelah acara jalan-jalan. Duuhh.... acaranya jadi agak berantakan. Tapi karena prinsipnya adalah anak menikmati sanlat dan bagaimana mereka mencintai pondok pesantren, maka tak ada beban meski jadwal berubah. Dan teman-teman tahu? Mereka langsung menceburkan diri ke sungai tanpa menunggu para ladies eh peserta perempuan berganti baju! (saya baru sadar ternyata rata-rata anak-anak perempuan membawa 5 stel baju dan sering berganti baju jika berganti acara. Dududududuuh... saya yang dulu pernah jadi anak perempuan tak sampai segitunya. Hihihihihi....)

Acara bermain air di sungai jadi acara paling seru. Mereka bermain-main di sungai, belajar berenang, sekedar berendam, duduk di batu untuk menantang arus, dan bermain ikut arus alias hanyut-hanyutan di sungai. Bayangkan keceriaan mereka, pasti ikut ceria. Para ibu dan santriwati juga menikmati bermain air di sungai. Ketika wakt bermain habis, alhamdulillah mereka cukup puas dan mau berhenti bermain. Mereka gegas mandi dan ikut acara brain storming yang disiapkan kakak-kakak santriwati yang kompak sambil menunggu waktu sholat Jumat. Acara berjalan sesuai rencana meski ada penjadwalan kembali sampai waktunya pulang. Kami berencana membuat pesantren kilat kembali pada bulan lima, dan kali ini akan lebih well organized setelah pengalaman sanlat yang pertama.

Ingin tahu tanggapan anak-anak saya? Mereka sangat senang. Sanlat pertama mereka itu dikenang positif oleh mereka. Berkali-kali mereka bertanya, kenapa menunggu 5 bulan untuk sanlat kedua? Bisa lebih cepat? Dan terutama teriakan “horeee!” ketika tahu sanlat kedua direncanakan 3 hari 2 malam. Anak-anaaaaakkk..... tak hanya itu, si sulung setuju, SMP ini ia mau masuk pesantren sambil meneruskan pendidikannya di SMP. Alhamdulillah.... saya senang sekali.

Tambahan kecil, apa yang paling diingat ketika di pondok pesantren atau asrama? Yap.... antri..... Foto terakhir saya persembahkan untuk teman-teman yang rindu suasana pondok pesantren.

Terima kasih sudah menemani saya sampai akhir paragraft.

Share:

14 comments:

  1. diriku jg mau mbak susi kalau ngelwatin akhir thn baru sekece ini. bocah bocha jg kayaknya menikmati bgd ya mbak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget Mbak.
      Bisa diagendakan bareng komunitas mbak, jadi makin seru.

      Delete
  2. kalau memancing ikan memang seru mbak, pantesan mereka nggak bisa tidur...hehehe

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah aak2 senang ya mba :)

    ReplyDelete
  4. endingnya bikin yang baca bahagia banget,yey..dari sanlat jadinya ke pesantren....

    ReplyDelete
  5. Seru ya mbak sanlatnya. Pasti bakalan diinget terus sama anak2 :)

    ReplyDelete
  6. Tradisi pesantren kilat harus kembali digalakkan ya Mba.. utk menanamkan nilai2 dan norma2 pada anak2.. Aku setuju banget pas momen awal tahun dilaksanakan keg sanlat spt ini utk anak2..

    ReplyDelete
  7. Sanlat yang seruuu mak, luar biasa kegiatannya,, Semangat terus mak, demi generasi mendatang.. :)

    ReplyDelete
  8. seru pesantren kilatnya,apalagi ada acara nyemplung sungai gitu mbak

    ReplyDelete
  9. wah itu nyemplung sungai itu paling asyik

    ReplyDelete
  10. Itu emak2nya ikutan nyemplung juga? Hahahah seru

    ReplyDelete
  11. Acaranya luar biasa banget kalo ini, sekalian mengenal alam. :D

    ReplyDelete
  12. wah seru.naturall sekali acaranya.biasanya kan di dalam ruangan yaaa. hmmmm mantap deh petualangannya.

    ReplyDelete
  13. Ya, aku tidak kebagian cemilan. Intinya bermain dan dekat sama alam itu sungguh menyenangkan.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra