Destin, anak sulungku yang selalu membuatku terkejut dengan argumennya, yang lebih dewasa daripada usianya, yang dibalik sifat pemalunya ada anak yang cerdas dan selalu care. Tentu saja, orang tua mana yang tidak memuja anaknya.
Ada sebuah percakapan di sore hari yang selalu terngiang di kepalaku. Rasanya tak akan hilang sebelum aku share ke orang lain. Sebuah percakapan biasa yang menjadi luar biasa karena idenya. Tentang cita-cita Destin kelak.

Mama   : Cita-cita Destin apa sekarang. Masih ingin jadi Poporanger? (poporanger=power ranger)?
Destin   :  Cita-cita Destin menjadi papa.
Mama   : Cita-cita kok menjadi papa?
Destin   : Iya. Seperrti mama papa. Cita-cita Mama apa waktu kecil?
Mama   : Menjadi guru.
Destin   : Setelah besar?
Mama   : Ketika kecil, mama ingin menjadi guru bahasa Indonesia, kemudian mama ingin menjadi guru bahasa Inggris dan Perancis.
Destin   : Mengapa mama tidak menjadi guru sekarang?
Mama   : Karena Mama selalu kangen sama dua anak Mama tersayang.
Destin   : Oh gitu… destin ingin menjadi pemilik kolam ikan, Ma.
Mama   : Amin, semoga terkabul, Nak. Boleh tahu mengapa?
Destin   : Agar anakku bisa makan ikan tiap hari. Sisanya dijual untuk membeli rumah tingkat.

Hihi … jujur saja ada beragam rasa di dadaku. Tersindir, iya. Karena memang jarang memasakkan ikan. Bangga, iya. Dia memang suka sekali nonton acara cita-citaku di Trans TV. Sekarang, dibalik pernyataan ingin menjadi papa dan pemilik kolam ikan, ada makna yang lain, kan? Yang jelas percakapan ini masih terngiang-ngiang meski telah hampir 1 bulan berselang.