Sore ini, pulang kerja Susi membeli ikan tongkol size besar dari pasar krempyeng sebelah kantor. Terbayang sudah menu favorit keluarga nan sederhana, ikan tongkol goreng sambel kecap yang super pedes. Meski repot karena darah ikan tongkol yang menetes-netes di knalpot plus beratnya ikan jika dijinjing dari kantor ke rumah yang jaraknya 10 km, Susi tetap bersuka hati membawakan pesanan papa & anak-anak.
Sampai di rumah Susi langsung mengolah ikan tongkol dengan dibantu papa Susindra. Darah merah ikan tongkol langsung memenuhi area cuci piring. Satu-persatu cacing ikan kami buang, darah dibersihkan hingga ikan bersih & siap digoreng. Sayang, gara-gara lupa beli tomat, menu ikan goreng sambel kecap gagal dibuat. Tak kurang akal, kubuat pindang dulu sebelum mengolahnya menjadi ikan bakar & ikan goreng tepung. Untuk sambelnya cukup membuat sambel trasi mentah ato ibu menyebutnya sambel plelek. Hmm... sedaaaap. Kami pun lahap makan malam ini.
Komentar papa sederhana saja, "Untung masak nasinya pas banget, ya ma? Kalo tidak, mana muat perutku." Yeah, hanya sesimpel itu tapi dalam maknanya. Xixi... kalo masak nasinya banyak, kami akan makan terus sampai ikan, nasi & sambelnya habis saking enaknya, tahu-tahu kami leyeh-leyeh di sofa kekenyangan. Memang ga enak sih kalo punya suami ga pinter muji ato ngrayu. tapi Susi tahu, kok, dia senang sekali dengan makan malam hari ini. Bukti lainnya, jam 10.30 ini papa beberapa kali ngajakin makan malam kedua karena pengen ngerasain masakanku lagi. Xixi... kalo gini, kapan kurusnya hayo...!