Memiliki 2 anak laki-laki yang rukun dan saling melengkapi, orang tua mana yang tak bangga? Tak terkecuali kami yang memiliki anak yang sangat kompak, saling menyayangi, dan saling melengkapi.

Apakah mereka tak pernah berkelahi? tanya seorang kenalan. Aduh, kok pertanyaan aneh, ya. Kalau kami orang jawa punya ujar-ujar kuno, "Gelas dibarengke wae bentikkan opo maneh menungso seng duwe ati?" Yah, sesederhana itu. Berebut maupun bersaing memang sudah biasa bagi duo D&B. Tangisan maupun teriakan juga terdengar dari rumah Susindra. Lalu kompaknya dimana? Saling melengkapinya dimana? Nah, itulah mengapa Susi mengutip ujar-ujar kuno di atas yang artinya gelas saja jika disandingkan bisa retak apalagi kita manusia yang memiliki hati.
Seorang kenalan bercerita tentang 2 anaknya yang setiap saat selalu berkelahi, jambakan, jiwitan, rebutan, tapi jika yang satu pergi akan dicari. Astaghfirullah, beruntung duo D&B tidak pernah seperti itu. Mereka selalu bermain berdua dan berbagi mainan bersama.  Yah, sehari-harinya mereka hanya bermain berdua karena Destin belum berani dolan ke rumah temannya sendirian. Dan alhamdulillah Destin bisa ngemong adiknya dan Binbin manut saja dipimpin kakaknya. Hanya cukup pelototan mata atau bentakan kecil, Destin sudah bisa menghentikan "kenakalan" Binbin. Biasanya sih Binbin langsung menangis. Padahal jika kami yang marah, sampai dicubit saja masih senyum-senyum sambil memancing senyum kami. Nah, masalah baru muncul jika berurusan dengan komputer. Di situlah tangisan dan jeritan akan terdengar karena untuk urusan komputer Destin jarang mau mengalah. Tapi sejauh yang bisa disimpulkan, masih sangat wajar.
Meski bangga dan bahagia, tak urung ada kekhawatiran kami berdua akan kebiasaan mereka berkompak ria. Baju request berwarna sama, sandal minta sama, bahkan mainan juga harus sama. Jika dulu Binbin selalu pulang dari Planet Toys membawa bola (anak ini kolektor bola) sekarang mulai meniru kakaknya. Apapun pilihan Destin, bola pilihannya akan kembali ke keranjang tempatnya. Nah, kekhawatiran kami sederhana saja, jangan sampai Binbin kelak menjadi bayang-bayang kakaknya atau selalu meniru kakaknya terus. Kami ingin Binbin memiliki jatidirinya sendiri. Aduh! Apakah kami kebablasan pola asuhnya, ya?
***
Untuk cerita Duo dan D&B saling melengkapi, diposting di lain waktu, ya