Pagi ini Susi pergi ke Kudus untuk membeli kertas undangan. Seorang keponakan Susi akan sunat dan kami diminta membuat undangan. Setelah pilih-pilih, sebuah undangan dibeli dan kami langsung menuju toko kain untuk membuat seragam sekolah Destin. Jam 2 siang sampai di rumah dan langsung dolan ke desa sebelah menjemput anak-anak yang Susi titipkan di rumah saudara. 
Kebetulan sekali bertemu pemetik buah kelapa sedang memanjat kelapa sebagai salah satu persiapan membuat hidangan pesta sunatan. Cekrik, dapat deh fotonya. 
Pemetik kelapa

Tumpukan kelapa
Iseng-iseng tanya berapa kali memanjat kelapa perharinya, ternyata rata-rata 20-30 pohon dengan upah Rp 2.500,- perpohon. Aduh, kok tidak sepadan dengan resikonya, ya? Sebenarnya sih jika dihitung, gaji perharinya Rp 50.000,- sampai Rp 75.000,- jauh lebih tinggi dari umr Jepara. Tapi naik pohon setinggi itu. Jadi merinding sendiri.
Jam 3 sore pulang ke rumah membawa 3 buah kelapa hijau muda dan dari warung dekat rumah Susi membeli kembang Turi atau Bunga Turi untuk lauk malam ini. Rencana bikin pecel Turi plus goreng dendeng ikan buatan Susi (demi dendeng ini Susi rela naik turun untuk mengeringkan dendeng di atas atap lantai 2. :D). Enaknya...... langsung deh masak. Ternyata, Susi lupa ambil dendengnya padahal sudah naik dan menata ulang tumpukan dendeng yang kering dan belum. Karena males naik ke lantai atas trus naik ke atap, ya terpaksa deh goreng tempe aja sama ikan jambal asin. Tetep uenak bin gurih. Pokoknya Yumilah Yumiwati. Pinjam istilahmu ya, Gaphe!
Memetik putik kembang Turi sebanyak ini. Haha... 1 jam baru selesai
karena sambil menunggui mesin cuci

Menu sore ini, pecel kembang Turi plus ikan jambal asin.
Jika kenyang dan seneng gini, hati jadi lebih adem dan pikiran lebih panjang. Jadi ingat deh kejengkelan pagi ini. Agak ngeles dikit, ya, tapi rasanya pasti illfeel jika pagi hari mencium bau pipis kambing di depan rumah. Jadinya ya curhat ga penting seperti tadi pagi. Jika dipikir matang, itu sih hanya satu dilema bertetangga. Memang aneh bin jorok sih tetangga sebelah itu, tapi hobinya memang semua yang berbau binatang. 3 tahun lalu Susi terheran-heran melihat caranya memandikan kambing sambil membayangkan, "duh, duh, tuh kambing mau diajak tidur di kamara apa ya kok dimandiin sebersih dan sewangi itu?" Haha.. Susi dah gila bin ngeres.

Urusan perkambingan maupun perbebekan ini memang unik. Dalam satu tahun bisa 5 kali ada kambing dipelihara di depan rumah sebelah. Terparah sih tahun ini karena salah satunya berdurasi hampir 2 bulan. Bayangkan dong, dua bulan bergelut dengan bau kambing. Karena kambingnya tak pernah diikat, si kambing sering masuk ke dalam rumah kami pipis di sofa kami 2x dan koleksi tanaman Zamiya kami hampir habis dimakan kambing. (Sebenarnya kalo bukan karena kambingnya rakus, sakit dan setengah buta karena diracun orang, kambing normal ga bakalan doyan tanaman Zamia.), jadinya Susi super error dan trauma banget sama bau kambing. Uh! Yang jelas, dengan pikiran lebih terbuka, Susi akan menunggu masa kontrakan kami habis September ini sebelum mengambil tindakan. jadi pertanyaan jadi pindah atau belum tak terjawab sampai September ini. Semoga apapun pilihan kami itulah yang terbaik nanti.