Ketika sedang menemani Destin belajar, tiba-tiba sebuah SMS masuk mengabarkan rencana kedatangan mbak Hilsya ke Jepara. Kaget tentu. Langsung janjian bertemu di alun-alun Jepara atau di pantai Kartini. Ketika semua bergantian mandi, Binbin terlelap. Aduh... sempat bingung juga. 


Akhirnya bertemu juga di alun-alun kota Jepara. Tepatnya di depan museum Kartini Jepara. Di situlah pertama kali Susi bertemu dengan bundanya Hilwa dan Syafiq yang ingin tetap dirahasiakan namanya. Mbak Hilsya datang bersama teman-teman penelitiannya dengan mobil Strada merah (salah satu wishlist Susi!) karena akan melakukan penelitian lingkungan di Sayung Demak. Teknisnya biar diceritakan mbak Hilsya sendiri, ya.

Karena telah berada di depan museum, kami masuk ke dalam museum Kartini Jepara dengan tiket Rp 2000,- per orang untuk melihat-lihat koleksi mebel asli RA Kartini serta beberapa koleksi benda asli jepara. Area museum memang kecil. Destin paling tertarik dengan kerangka tulang ikan paus yang diberi nama Joko Tuo. Ikan ini telah ada sejak Susi kelas 3 SD sampai sekarang. Mungkin alasan mengapa tulang ikan Joko Tuo diletakkan ke dalam museum adalah ukurannya yang sangat besar (sekali). Sayang tidak ada keterangan berapa besarnya, kapan mulai di sana. Satu yang Susi ingat adalah, ikan Joko Tuo terdampar di Karimun Jawa dan dianggap warga sekitar sebagai salah satu dayang atau penunggu laut Karimun Jawa. 

Dari museum Kartini kami menuju sentra ukir dan patung di Mulyoharjo Tepus. Sekalian memperkenalkan ikon utama kota Jepara. Dari Sentra patung, dengan sedikit promosi kami bisa mengajak mbak Hilsya dan teman-temannya menuju pantai perawan yang Susi posting dua kali kemarin. Teteep... xixi... soalnya pantai favorit, sih. Sayang sekali tidak mendapat moment sunsetnya. Agak telambat dan kebetukan di ujung horizon tertutup awan. 

Satu catatan kecil Susi, kelihatannya kami sama-sama pendiam, jadi pembicaraan terbanyak adalah saat Susi menjelaskan sedikit teknis di sentra seni dan patung. Swear, bingung mau tanya-tanya apa atau membicarakan apa. Semua serba mendadak dan keinginan bertemu dengan mbak Hilsya akhirnya terkabul, jadi bingung sendiri. Hmm... Pokoknya senaaang sekali. Kami berpisah di pantai dan menuju tujuan masing-masing. Terima kasih ya mbak, kopdarnya. *fotonya minim sekali karena baterai habis tanpa sempat recharge.

Oh iya, ada catatan lucu dari Destin yang terpaksa ditulis karena gemes dan tetap saja terbahak-bahak sampai sekarang. Percakapan 2 laki-laki yang cukup pribadi dan akhirnya menjadi konsumsi umum, haha... Papa (P), Destin (D).
D : Pa, mama itu ada satu?
P : Iya. Kamu pengen mama 2?
D : Ga mau ah. nanti aku yang repot.
P : Lah kenapa?
D : Nanti aku dimarahin 3 orang tua.
P : (bengong, geli, dan menahan tawa karena pertanyaan aneh yang dijawab sendiri oleh Destin)
Ah, anak ini ada-ada saja cara berfikirnya.