Kubuka pintu depan rumah pagi ini dan tercium sebuah bau yang membuatku trauma sampai hari ini. Bau kencing kambing. Bau itu sudah sedemikian akrab dan sangat memuakkan hingga Susi tidak doyan lagi daging yang mengeluarkan bau sesamar apapun. Bahkan kemarin pagi Susi memuntahkan mie goreng instan berawalan S karena bau prengus samar. Dan pagi ini, seekor kambing diikat (tumben!!) di depan rumah tetangga unikku. Rumah keramik putih itu kembali menjadi kandang kambing, tepat disebelah "dapur darurat"-nya.

Pusing, mual, dan ingin muntah. Itulah yang kurasakan sekarang. Tetangga yang bersebelahan dinding rumah denganku ini suka sekali memelihara binatang menjijikkan di depan rumah. Lebih sering tanpa kandang dan berbulan-bulan.  Kambing, bebek, kelinci, ayam. jenis-jenis binatang yang tak bisa diajarkan toilet training hingga kotoran mereka bertebaran di teras depan rumah. Ajaibnya, mereka punya seorang anak usia 2,8 tahun yang makan dan minum diantara tebaran eek-pipis binatang. Luarbiasa joroknya. Ingin tahu yang lebih jorok? Mereka menjual nasi tepat disebelah peternakan mini kambing dan bebek, dan ajaibnya tetap ada yang tega membeli nasi atau minum di sana.

Ah, cukup deh curhat ga pentingnya. Yang penting hati agak lega. Bentar lagi siap-siap packing tuk pindah rumah saja sambil lirak-lirik siapa tahu ada rumah kontrakan baru yang tetangga sebelahnya tidak aneh dan jorok seperti ini.