Blogger membuat cerita mini? Ayok! Siapa takut. Kali ini saya akan menulis sebuah fiksi berjudul Aku bukan PKI untuk sebuah kontes antarsahabat blogger bertajuk  Cermin Blogger Bhakti Pertiwi. Semoga sobat Susindra suka.
https://www.susindra.com/

Dinda mengurung diri di kamar. Tak enak makan, tak enak tidur. Semua energinya terbetot pada rasa malu yang akan menghantuinya selamanya.



3 hari yang lalu seluruh keluarga Danang Hadisutjipta datang ke rumah Dinda untuk acara nangsangi. Setelah 1 tahun berpacaran, Dinda dan Danang telah mantap berumahtangga tahun ini. Dua buah mobil mengantar bapak, ibu, kakek, serta paman dan Bibi Danang. Semua tersenyum sumringah, baik para tamu maupun para among tamu.

Aneka makanan dan minuman telah tersedia di meja. Percakapan maupun gurauan basa-basi terus saja mengalir antara kedua calon keluarga yang sebentar lagi akan bersatu. Tiba-tiba kakek Danang berbicara, “Aku tidak tahu kalau calon cucu-mantuku adalah cucu seorang PKI.”

Suasana seketika hening. Semua orang saling pandang. Ada yang bingung, ada yang tersinggung. Sebuah luka lama yang tak pernah sembuh tiba-tiba berdarah kembali. Setelah berbasa-basi, rombongan keluarga Danusutjipto pamit pulang tanpa menyentuh nasi serta lauk-pauk yang telah tersedia. Beberapa kerabat yang ikut menjadi among tamu juga turut berpamitan meninggalkan Dinda yang menangis tersedu-sedu mengetahui rencana masa depannya telah pergi.

Ibu Dinda memeluk putri tunggalnya sambil berlinang air mata. Bapak Danuardja menundukkan kepala. Semburat merah ungu terlihat jelas di wajahnya.

“Dinda, ibu tahu ini menyakitkanmu, tapi kamu harus menerimanya dengan lapang dada, nak.”

Dinda menggigit bibir sejenak “ Seumur hidup menanggung malu disebut keluarga PKI. Malu karena gagal menikah juga karena disebut PKI. Apa salahku, bu? Aku bukan PKI.” Dinda tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena dadanya sesak. “Mengapa kakek harus menjadi PKI dulu? Meninggalkan kita semua dengan dosanya. Dia sungguh beruntung tidak menerima penghinaan ini. Dia sudah mati. Kita yang hidup? Seumur hidup dicela. Dihina.”

“Jangan begitu, nak. Tidak semua orang sepicik itu. Buktinya keluarga ibu dulu menerima pinangan bapakmu.” Hibur ibu Dinda.

“Dan ibu juga tidak menyangka kan jika seluruh keturunan ibu akan dikutuk sebagai PKI?!” Seru Dinda kasar.

“Nak, ibu tidak malu menikah dengan bapakmu meski harus disebut keluarga PKI. Karena ibu tahu, bapakmu adalah pemuda sholeh, santun, menghormati wanita dan jelas-jelas bukan PKI.” Ibu mendesah sedih. “Jangan menimpakan kesalahan pada kami, orang tuamu. Apalagi pada kakekmu, nak. Istighfar-lah.”

“Sudah 45 tahun, dan mereka tetap tidak memaafkan kesalahan kakekmu.” Kata Bapak serak. “Paak.. beristirahatlah dengan tenang. Semua amalanmu diterima Allah. Dan kami yang kau tinggalkan dilapangkan dari segala ujian ini.” Airmata merebak disudut mata bapak.

“Bapak juga pernah menyesalinya.” Bapak menarik nafas panjang. “Tapi kita adalah WNI yang mencintai negeri kita, Indonesia. Kita tetap mengabdi dan membela bangsa." Bapak menghela nafas. "Bapak tetap cinta Indonesia meski bapak tetap dicap sebagai anak PKI. Bapak harap kamu pun begitu.”

“Hapus air matamu, nak.” Kata ibu. “Jika Danang benar jodohmu, dia tetap akan menikah denganmu. Jika bukan, akan ada lelaki baik yang menyuntingmu.” Ibu tersenyum diantara kilau air mata di pipi. “Tidak semua orang mencela kita sebagai PKI, nak. Tidak semua. Seluruh warga desa menerima kita. Jika keluarga Danang pulang, mungkin karena mereka terkejut dan malu. Sabar ya, nak. Jangan lupa berdoa.”

Sudah tiga hari, dan Dinda tetap sulit berdamai pada dirinya sendiri. Mungkin esok, mungkin lusa, Dinda akan dapat kembali berdiri tegak.

Fiksi kecil ini hanya sebagai pengingat bahwa di luar sana masih ada segelintir WNI yang dicap PKI karena kesalahan keluarganya serta  masyarakat yang belum lupa pun memaafkan kekejaman PKI tanpa ingin menghakimi kelompok mana yang benar. Terima kasih untuk para sahabat yang berkenan membacanya.
Oh iya, kemarin saya bertemu dengan seorang sahabat blogger yaitu Mbak Hilsya. Indahnya dunia penulisan kreatif ini adalah saat bertemu sahabat pertama kali tapi berasa sudah kenal lama.

*****


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Mba Nia, Teh Lidya, Pakde Abdul Cholik.
Yang disponsori oleh: 

http://www.kios108.com/
http://halobalita.fitrian.net/
http://topcardiotrainer.com/
http://littleostore.com/