Betapa sulitnya menjadi orang tua, dan jauh lebih sulit lagi menjadi orang tua yang adil bagi anak-anak. Kata adil sangat subyektif. Sangat tergantung pada kebutuhan anak, dan lebih jauh pada pemahaman anak akan perlakuan adil kedua orang tuanya. Ini tema menarik yang diangkat pakde Cholik hari ini. Bersikap Adil Kepada Anak-Anak. Tema yang mau tidak mau membuat saya merenung sejenak sebelum menguntai kalimat sebanyak ini. Yah, saya putuskan ikut Jambore On The Blog: Sehari Bersama Blogcamp dengan tema Bersikap Adil Pada Anak-Anak

Salah Asuh Anak Rapuh



Saya orang tua dari 2 anak laki-laki yang berbeda usia hanya 3,5 tahun. Meski rentang usia ini tak terlalu jauh, namun kebutuhan mereka berbeda. Destin, si sulung sudah kelas 1 SD. Binbin masih berumur 4 tahun. Mendidik anak usia 7-8 tahun harus lebih disiplin karena banyak hal mulai mengikat seperti tuntunan agama, meninggalkan perilaku tantrum ala usia TK, dan mengenalkannya pada kewajiban-kewajiban yang harus mulai Destin lakukan. Berbeda dengan Binbin yang masih usia balita sehingga membutuhkan perlakuan sebagaimana balita. Tak jarang keduanya menanyakan mengapa dengan adik begini dan sebaliknya. 

Rasa iri sangat manusiawi. Pun bagi anak-anak. Merasa kurang diperhatikan bisa saja terbersit jika orang tua kurang peka. Saya pun mengalaminya. Destin yang protes porsi bermainnya berkurang karena lebih banyak belajar dari Binbin. Atau Binbin yang iri setiap kali si kakak diberi uang saku sekolah. Tiap hari harus berusaha menyelaraskan mereka agar tak terbentuk opini “Mama/papa lebih sayang saudaraku”. 

4 penyebab pilih kasih yang lazim terjadi

  1. Faktor kesamaan dengan orang tua. Misalnya, karena ayah anak tertua sehingga lebih simpati pada si sulung. Bisa juga anak memiliki kesamaan sifat dengan ibunya sehingga si ibu lebih saying pada si anak. Atau ada sifat anak yang mirip dengan sifat ayah yang dibenci sang ibu sehingga perhatian ibu berkurang.
  2. Riwayat kehamilan. Karena kehamilan yang ditunggu-tunggu/sangat diharapkan si anak menjadi kesayangan orang tua, berbeda dengan anak yang lain yang tidak diharapkan kehamilannya.
  3. Anak istimewa. Banyak contoh anak istimewa seperti anak yang sakit-sakitan atau memiliki penyakit tertentu. Kekhawatiran ortu menjadikan perhatian mereka lebih banyak tertuju padanya. Atau bisa jadi karena anak memiliki nilai tersendiri seperti “pembawa keberuntungan” sehingga diperlakukan istimewa oleh kedua orang tuanya. Contoh terbanyak di Jawa adalah anak yang lahir di hari Sabtu Pahing biasanya menjadi anak emas kedua orang tuanya karena dipercaya penarik kekayaan. 
  4. Faktor budaya. Banyak budaya yang lebih mementingkan jenis kelamin tertentu sehingga lebih memanjakan dan mengutamakan kebutuhan anak daripada anak yang berbed jenis kelaminnya.



Hidup adalah pilihan, dan tiap detik orang tua selalu diberi pilihan. Paling sederhana adalah baju mana untuk si kakak, mana untuk si adik. Reward apa untuk keberhasilan anak  dan atau hukuman mana untuk kesalahannya. Dan memiliki 2 anak laki-laki yang hampir sebaya sungguh merupakan ujian yang tak kecil. Ketika kakak masuk SD dan harus membelikan seragam, sepatu tas, dan perlengkapan sekolah lain yang mencapai angka 500 ribu, apakah harus menyisakan sedikit dana untuk baju adik yang belum sekolah? Si adik yang kadang tantrum sehingga perlu perhatian lebih bahkan gendong, apakah harus menggendong kakak juga? Atau memenangkan adek karena lelah mendengar tangisan ketika berebut mainan? Setiap pilihan membawa pengaruh subyektif  pada anak dan orang tua perlu mengenalinya. Menjelaskan pada anak dan memasukkan pemahaman-pemahaman asing tentang konsep perlakuan adil berdasarkan kebutuhan mereka mutlak dilakukan kala anak tenang seperti di sore/malam hari. Jika tidak, anak akan mencatat perasaan tidak adil ini selamanya.  Salah satu contoh perlakuan adil orang tua yang menjadi tidak adil dicetuskan pakde Cholik, yaitu apakah akan membagi rata uang angpao pada semua anak atau membaginya sesuai usia dan kebutuhan anak? Jawaban terlogis adalah membagi sesuai kebutuhan anak. Dan Alhamdulillah itu sering saya lakukan. Dan syukur alhamdulillah Destin cukup tahu diri sehingga tak pernah pelit membagi uang angpao-nya pada Binbin yang mendapat bagian lebih sedikit. Ketika lebaran angpao Destin bisa 2 kali lipat angpao Binbin yang baru mengenal uang 1000 -5000.
Destin & Binbin 
Perasaan diperlakukan berbeda dan tidak adil akan membekas di hati anak selamanya. Saya sering mendapat curhat dari sahabat atau kolega tentang perlakuan tidak adil kedua orang tua mereka. Berkali-kali saya menghimbau agar menanggalkan perasaan negative tersebut karena bisa menjadi penyakit hati. Saya pribadi tak pernah merasa tidak diperlakukan adil mengingat status saya sebagai anak angkat sehingga pencapaian saya sekarang ini adalah berkah luar biasa dari kedua orang tua angkat saya. Dan pada kedua orang tua kandung saya, saya pun tak terbersit mengapa saya dibuang. Karena semua manusia mempunyai jalannya sendiri. Saya mungkin hanya akan sampai lulusan SMP dan tidak akan sempat mengenal komputer – meski saya tahu jika Allah berkehendak, bisa jadi saya tetap di jalur ini - meski tetap bersama orang tua kandung.

Dampak perasaan tidak diperlakukan secara adil pada anak:

  1. Merasa diabaikan dan tidak dicintai orang tua
  2. Kesal dan cemburu pada anak emas orang tua.
  3. Melampiaskan rasa marah pada anak yang dianggap kesayangan orang tua.
  4. Sulit bersosialisasi dengan lingkungan sosial termasuk teman sebaya karena anak menjadi minderan.
  5. Meniru sikap tidak adil orang tuanya.
  6. Mengembangkan konsep diri negatif seperti minder karena merasa diri tak berharga.

Semua dampak ini akan membuat anak mencari perhatian seperti mengganggu anak emas orang tua. Bisa secara verbal atau nonverbal. Perhatian orang tua yang teralih meski berupa hardikan merupakan pemenuhan kebutuhan anak akan perhatian. Dan kesalahan persepsi ini bisa bertahan selamanya sehingga hubungan kakak adik atau hubungan orang tua-anak bisa terganggu. Dampak lain adalah anak lebih rapuh karena perasaan minder, kurang beruntung, ada yang salah dengan dirinya, dan lain-lain sehingga menghambat pengembangan dirinya.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

  1. Introspeksi diri. Mungkinkah Anda telah berlaku tidak adil pada anak? Cari tahu apa yang menyebabkan Anda harus pilih kasih pada anak. Benarkah perlakuan beda kita?
  2. Sediakan waktu lebih pada anak yang merasa “terbuang”
  3. Kenali kebutuhan anak sesuai tahap perkembangannya.
  4. Gunakan kata-kata bijak agar anak paham tentang perlunya perlakuan beda sesuai kebutuhan mereka.
  5. Perlakukan masing-masing anak secara unik dan tidak menyamakan mereka.

Semoga artikel ini bermanfaat. Saya tidak selalu adil pada anak karena itu subyektif. Tapi berusaha merenungkan makna dan tindakan yang terbaik bagi anak adalah salah satu tugas orang tua.
Salam hangat dari Susindra Jepara.

*******

-Artikel ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Bersikap Adil Kepada Anak-Anak pada tanggal 22 Juni 2012-