Sudah lama sekali tak menulis di blog dan melewatkan puluhan Giveaway para sahabat. Sang banci kontes bernama Susindra berhibernasi selama hampir satu tahun karena beragam alasan yang masuk akal maupun dibuat masuk akal. Dan ketika memutuskan come back, sang penulis telah kagok dan tak bisa memenuhi selera menulisnya. Rasa malu dan rendah diri menyurutkan semangat menulis dan terus berusaha dilawan. Dan akhirnya.... Ya... akhirnya... meski belum kembali ke awal, kutorehkan sebuah cinta pada pandangan pertama khusus untuk Idah, sahabat bloggerwati yang dengan ramah memintaku menulis sesuatu untuknya. Ini bukan projek balas budi, karena aku toh memang akan menuliskan ide yang sama. Meski mungkin dengan spirit yang berbeda. Dan mari kita berkelana pada salah satu kisah hidupku dengan tema pandangan pertama.


Siang yang panas di bulan Juni. 6 Juni 2008 akan selalu kukenang dengan segala rasa; bahagia, lega, haru, harap, cemas, dan TRAUMA. 



Gaduh suara sanak saudara bercengkerama tak membahagiakan hatiku. Justru terselip rasa malu dan resah di hati. Mengapa mereka berkumpul semua di sini? Tak adakah kegiatan lain? Itulah rasaku. YA! ITULAH RASAKU! Bukan karena aku antisosial. Bukan karena aku tak suka mereka. Bukan, dan jangan suudhzon padaku yang tengah kesakitan sendiri di kamar. 

Detik-detik menjelang puncak yang dinantikan siang itu, Destin balita memasuki kamar. Wajahnya…. Begitu bahagia dan kotor oleh debu serta bekas goresan tangan kotor kala menyeka peluh. “Mama, adekku sudah lahir?” Tanyanya penuh harap dan kusambut dengan senyum. “Belum, nang. Bermainlah lagi di luar.” Jawabku. “Kamu bermain bola dengan siapa saja?” Dan sakit itu datang lagi tanpa menunggu jawaban Destin. Seluruh konsentrasi kubetot ke satu titik dan istighfar kusuarakan lagi. Sakit yang luar biasa - yang konon merupakan cara agar kaum hawa mengenal kedekatannya dengan sakarotul maut. Ugh…. Sakit ini sudah bertahan sejak 3 hari lalu. Aku bahkan tak lagi mendengar jawaban Destin yang menyebut satu-satu nama teman bermain sepakbolanya.

Hari ini adaah hari puncaknya. Bidan dan dukun bayi yang datang ke rumah sudah menyatakan aku sudah mengalami bukaan ke sepuluh dan siap melahirkan pada jam 10 pagi tadi. Seluruh keluarga di sekitar rumah sudah berdatangan sejak jam 9 pagi. Aku yang kala itu mengontrak sebuah rumah di desa dekat rumah kakek-nenek serta budhe-bulek memutuskan melahirkan di rumah saja seperti adat di sana. Bidan dan dukun bayi pun siap kapan saja menemani proses kelahiran. Dan aku sudah siap melahirkan sejak kontraksi 3 hari lalu. Namun sang jabang bayi tak juga mau lahir meski bukaan 10 sudah terjadi sejak jam 10 pagi, meski adzan dhuhur sudah berkumandang 30 menit tadi. Seluruh tetamu sudah berbisik-bisik. Aku sudah diskusi dengan suami apa perlu ke rumah sakit saja karena meski sudah bukaan 10 namun jalan lahir masih kering. Apalagi sang bayi sudah turun di bawah sekali hingga aku tak lagi bisa duduk. Namun mengingat jumlah uang saat itu, rumah sakit sangat menakutkan.

Akhirnya…. Jam 1 kurang sedikit, perjuangan berat dimulai. Sang bayi mulai bosan menunggu dan mendorong keras dan susah payah karena jalannya yang benar-benar sepadas hutan jati di Blora yang terkenal berkualitas tersolid. Dan pada jam 13:06 lahirlah Bintang Akbar yang dikenal sebagai Binbin, masih terbungkus plasentanya yang keras dan tebal sehingga tak sedikitpun ketuban yang bisa merembes keluar. Dengan cekatan sang bidan membuka plasenta dan tangis keras Binbin mengagetkan seluruh tamu. Mereka berhamburan masuk ke kamar, melupakan privasiku. “Ini to anak yang nakal itu.” Kata beberapa dari mereka dan sontak aku marah. “Anakku bukan anak nakal!” Teriakku melalui sorot mata. Aku anti menyebut anak nakal pada semua anak, dan terlebih pada anakku sendiri. 


Setelah perawatan standar ibu melahirkan, aku segera meminta Binbin dari dekapan seseorang yang aku lupa wajahnya. Mataku fokus pada sang bayi yang kulahirkan dengan susah payah. Kulitnya merah cerah. Wajahnya bulat dan pipi cabi. Badannya gempal dan sehat. Kakinya, tangannya, dan pindah ke jari dan kukunya yang tak selentik kakaknya Destin. Binbin lahir dengan berat badan 33 KG dan panjang 58 cm. Mataku kembali beralih ke wajah Binbin yang terlihat ganteng sekali dan mataku takjub melihat mata besarnya yang bening. Jernih. Sejernih telaga. Kuselami matanya yang lebar dan melihat bayangan wajah lelahku di sana. Lalu aku tersenyum, dan kulihat kebahagiaan ibu menghapus wajah lelahku. Wajahku berseri bahagia setelah mengalami cinta pada pandangan pertama kembali pada sosok bayiku. Segala sakit menjelang, ketika dan pasca melahirkan sudah terganti oleh rasa bahagia melihat betapa sehat dan gantengnya bayiku. Dan ketika Destin menghambur masuk ke kamar untuk melihat adeknya untuk pertama kali, kurengkuh badan kotornya dengan tanganku yang bebas. Kucium kening berdebu Destin karena bahagia dan takjub  yang menguasaiku. Kuijinkan Destin melihat adiknya namun kusuruh mandi dulu sebelum menyentuh dan mencium adiknya. Destin bergegas mandi dengan bantuan seseorang dan kembali ke kamar dengan badan-baju bersih. Dan ia bahagia menyentuh adik mungilnya serta celotehnya membuatku semakin bahagia. 

Ah, Indahnya cinta pada pandangan pertama. Rasanya segala sakit dan perasaan negatif terhapus diguyur hujan cinta ketika kupandang bening mata bayi Binbin yang sejernih telaga. Dan inilah foto-foto dari salah satu cintaku, dimulai dari bayi sampai usianya yang ke 4 sekarang.
Binbin di usia 2 bulan
Binbin diusia 4 bulan

Binbin di usia 1 tahun
Binbin di usia 2 tahun
Binbin di usia 3 tahun
Binbin di usia 4 tahun, sudah sekolah TK A
Kuakhiri kisahku dengan perasaan indah. Trauma? Lupakan saja. Karena toh aku telah mencukupkan dengan 2 anak laki-laki gantengku. Tak terfikir ada yang ketiga meski takkan kutolak kehadirannya. Tetap kan kusambut dengan cinta pada pandangan pertama yang keempat setelah suami, Destin dan Binbin. Terima kasih sudah membaca kisah Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku.