Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
engkau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu oh di dalam nadiku
indah bercanda denganmu ibu
di dalam hati ku kini slalu merindu
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu
tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah doa oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan doamu
mengalir di setiap nafasku
ibuuuuuuuuuu…….. 

(Lirik lagu ibu di ost Hafalan surat Delisa)


Saya sangat suka lirik lagu ini. Syairnya mampu memberikan kedamaian di hidupku yang tak selalu damai.

Ibu.. demikian aku memanggilnya. Wanita tua berusia 83 tahun yang tinggal bersamaku saat ini. Wanita yang kenangan akan cintanya mampu membuatku menjadi anak yang berbakti. Wanita yang pendengaran, fungsi otot kaki dan logikanya telah banyak terenggut oleh usia. Ibu yang semakin susah menangkap suara dan semakin mudah marah-merajuk seperti anak-anak. Wanita yang mengadopsi saya sejak berusia 1 bulan dan ingin menghabiskan sisa waktunya bersama saya dan kedua anak saya. Sejak  5 Juli 2012 lalu ketika saya memutuskan kembali ke rumah ibu dan mengabdi padanya.

Telah bertahun-tahun lamanya tulang betis ibu telah melunak. Kernyit sakit sering kutangkap kala kaki selonjornya saya elus atau pijat. Namun ibu tetap memaksakan diri bekerja demi rasa “aku masih mampu.” Kegiatan harian yang telah lama saya sebut sebagai pasaran (bermain masak-masakan ala anak perempuan kecil) agar saya tetap nyaman membantu ibu berjualan meski hanya dengan membantu memasak dan menanggung beberapa sebagian pengeluaran. Bagaimana saya tidak menyebutnya pasaran jika tiap hari ibu menyetor mendoan dengan pengeluaran 18 ribu (belum termasuk air  dan gas) demi pendapatan 12-15 ribu. Ibu membuat ketan dan nasi meniran tiap malam dengan pengeluaran  minimal 30 demi uang 20-25 ribu, dan kami anak-anaknya masih menanggung air, gas dan bumbu masak. Namun ibu tetap istiqomah berdagang meski pengeluaran tetap lebih tinggi dari pendapatan. Ibu masih setia memasak dari jam 12 malam sampai jam 4 pagi setiap hari sampai akhirnya saya memutuskan membantu memasakkan ibu tiap malam agar  tidurnya lebih lama sejak setahun lalu. Saya menanggung biaya memasak tiap malam untuk nasi meniran dan ketan, mbakyu saya menanggung biaya memasak untuk mendoan yang di masak di siang hari. Kegiatan sia-sia yang masih dipertahankan dan dibenarkan dengan alasan sodaqoh ibu. 

Saya mengenang ibu sebagai wanita tabah nan sabar menghadapi bapak yang flamboyan dan pemarah. Di tengah kemiskinan dan kekurangan ibu mengasuh saya. semua anak ibu telah mentas sejak saya kecil. Anak termuda ibu berselisih 14 tahun dengan saya dan telah menikah sejak saya belum sekolah TK. Ketika bapak meninggal pada usia 75 tahun, ibu merasa bebas dan menggantikan peran bapak sebagai pemarah. Mungkin karena ada amarah yang disimpan ibu selama puluhan tahun namun disembunyikan. Saya sempat syok ketika ibu menjadi pemarah dan penuntut pertama kali. Bidadari itu kini telah berubah. Meski begitu, saya harus tetap menghormati dan mengabdi pada ibu. Sejak 12 tahun lalu saya sudah terbiasa dengan “ibu yang baru.”

Ibu…. Rasa sayang ibu pada saya tak terbantahkan. Saya pernah  mengklaim di facebook sebagai anak kesayangan ibu, dan anak-anak saya adalah cucu kesayangan ibu. Klaim yang sempat menyiram bara api di hati anak cucu kandung ibu. Ah, saya salah bicara. Bukannya bicara tanpa fakta. Semua anak-cucu ibu mengakuinya dalam hati. Saya satu-satunya anak ibu yang ditunggui di ruang persalinan tiap melahirkan. Ibu yang selalu mengatakan Susi begini kenapa kalian tak bisa begitu. Jamu yang dibelikan Susi lebih mujarab. Kalo aku tertidur, Susi yang mengoleskan loton anti nyamuk. Kalo aku masak, Susi mengambil alih. Susi selalu membangunkanku kalau aku lupa makan malam. Susi begini, Susi begitu. Ibu yang selalu menangis jika tak bertemu Destin 2 hari saja dan memaksa anak-cucunya menelpon jika ibu menginap di rumah anak yang lain. Rasa cinta dan pembanding yang bisa jadi sumber marah dan iri. " Oh, ibu… anakmu juga mencintaimu. Tak perlu membandingkan dengan cinta yang lain karena cintaku berdasar keinginan balas jasa dan pengabdian. Tentu saja sangat berbeda. Siapa lah aku tanpamu? Jika berkaca pada saudari kembarku, aku sangsi, akankah aku jadi kutu buku dan pembelajar sejati jika tanpa campur tanganmu? Melihat saudara2 kandungku yang tak suka belajar dan membaca membuatku kecut. Lihatlah aku ibu, jauh lebih tabah, kreatif, dan pembelajar sejati bersamamu. Aku bangga karenanya. Aku merasa berbeda...."

Tinggal bersama ibu sekarang ini tidaklah mudah. Harus sering menutup telinga kala ibu sedang bersuasana hati buruk. Destin yang saya didik mandiri menjadi manja dan pembantah karena selalu diindungi ibu. Di bulan Ramadhan ini saya harus ekstra sabar karena Destin sulit diminta puasa. Jika ibu tahu Destin puasa sehari, ibu akan sangat marah pada saya dan segera membuatkan makanan pembatal puasa. Padahal Ramadhan tahun ini Destin sudah berusia hampir 9 tahun dan sudah sunat. Jika Destin saya hukum, ibu akan sangat murka dan berteriak-teriak hingga Destin selalu mendapat keringanan hukuman jika salah. Pun demikian dengan Binbin.

Sedih hati saya dan suami. Namun kami yakin, masih cukup waktu untuk meluruskan Destin kembali. Cinta nenek pada cucunya memang seperti itu. Apalagi jika sang cucu adalah tangan kanan neneknya. Tenaga tambahan usaha ibu yang siap diperintah belanja ke warung atau ke pasar setiap pulang sekolah, itulah Destin. Cucu yang senang memeluk-cium-pijat neneknya seperti Binbin layak dibalas dengan cinta neneknya. Kedua anakku ini memang cucu-cucu yang penuh perhatian dan selalu berebut tidur dengan nenek. Tak salah jika air mata ibu berlinang ketika tak bertemu dan diperebutkan dua cucunya ketika menginap di rumah anak-cucu yang lainnya. Ibu…. 

Seperti itulah kisah keseharian saya. Semoga bisa menjadi hikmah yang bisa di bagi bersama sahabat blogger. Bahwa orang tua kita lebih menghargai perhatian kecil kita daripada jumlah besar uang kita. Sikap welas asih dan sopanlah yang sangat dibutuhkan orang tua kita. Memperhatikan dan memastikan tubuh tuanya nyaman melawan sakit menahun. Senyum dan pijat kaki ringan kala mereka menyelonjorkan kaki, Mengoleskan lotion anti nyamuk kala mereka tertidur. Perhatian-perhatian kecil yang sering terlupakan oleh anak.


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Momtraveler’s First Giveaway “Blessing in Disguise” mbak Muna Sungkar