Ringtone Spirit Carries On dari Dream Theater di HP-ku memecah kesunyian dapur flanelku. Seperti biasa, saya menunggu ringtone habis dulu sebelum membuka sms yang masuk. Meski sering mendengar lagu ini, tapi saya tetap mempertahankan kebiasaan ini. Psst.. ketahuan ya, kalo saya suka berlama-lama menjawab sms. Xixixi...... 
Lagu habis, dan saya bergegas membuka sms. Subhanallah... isinya kabar gembira!

"Mbak Susi.... selamat ya... jadi pemenang ketiga di GA-nya Noorma. Minta alamatnya ya mbak."


Aih... senangnya hatiku... saya segera membalas sms. Tak lama kemudian, 5 sms saling bersahutan di antara kami. Kali ini tanpa delay 'tuk mendengar ringtone Spirit Carries On lagi. Lancar jaya. Alamat sudah saya kirim, tinggal menunggu paket sampai. heuheu... senangnya hatiku.

Asyiknya berkhayal di sore hari. Kala letih berganti segar setelah diguyur air dan segelas kopi tercium di sebelahku. Hmm.... relax.... dari sanalah munculnya khayalan bebas.

********


Mengkhayal... siapa sih yang tidak pernah? Duluuu... saya suka berkhayal. Gadis pemimpi - adalah salah satu goresan yang saya tinggalkan di buku-buku sekolahku. Karena saya sering berkhayal... andai.... andai... andai.... Karena kala itu saya tak puas dengan nasip yang saya jalani... Seandainya saya diasuh orang tua kandung saya sendiri... seandanya orang tua kandung atau orang tua angkat saya kaya atau minimal bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya... seandainya saya begini dan begitu.... SEANDAINYA. Ya! Hanya seandainya. Karena ketika saya mengingat banyaknya kesempatan yang saya tolak, saya tak pernah berkhayal seperti aneka seandainya ini :….. seandainya saya mau bekerja di Perancis kala kuliah semester 6 dulu. Seandainya saya menerima pinangan pria Perancis yang sampai  saat ini masih berharap. Seandainya saya mau menjadi dosen bahasa perancis dan bukannya pulang membantu perusahaan keluarga sebagai balas budi dan jasa. Seandainya saya mau menerima pinangan perusahaan multi nasional kala itu… Seandainya yang tak pernah terucap kecuali untuk bahan guyonan dengan suami yang diakhiri kata, “Lalu.. apakah kita akan bertemu dan memiliki Destin dan Binbin yang sekarang ini?” Dan kami pun bersyukur karena memilih kehidupan yang sekarang. Bukan kehidupan sempurna bagi orang lain. Kehidupan yang carut-marut digerus roda kehidupan. Tapi kami banyak belajar, dan kami pembelajar yang baik. Hanya bukan pemimpi yang baik. Karena kami sadar diri, bahwa belum banyak cara dan sarana yang bisa kami pegang untuk mewujudkan mimpi.

Dulu ketika remaja, saya senang berkhayal. Saya si Gadis pemimpi. Dulu, saya senang membayangkan dunia ideal. Dulu, saya senang berkhayal memiliki keluarga yang harmonis, sekolah setinggi gunung dan sedalam lautan, memiliki rumah bagus, memiliki keluarga kaya, memiliki orang tua yang mensupport saya, memiliki saudara-saudari yang saling membantu. Dulu.... itu dulu.... Sekarang sudah lebih realistis - kecuali ketika sedang gila. Sudah lama saya meninggalkan khayalan-khayalan itu. Sudah lama saya menyadari, Inilah saya. Inilah takdir yang saya jalani. Saya harus bersyukur, masih banyak yang berada di bawah saya. Saya harus belajar bersyukur dalam arti sebenarnya, bahwa Allah memberi yang terbaik bagi saya. Semua yang saya jalani membentuk siapa saya. Membangun kekuatan jiwa saya. Dengan memahami inilah, saya menjalani kehidupan saya. Berbahagia dengan cara saya sendiri. Meski sering onak menggoreskan luka, tetapi saya bersyukur tak sampai menancap di jantung. 

Meski bukan lagi gadis pemimpi, tetapi saya masih cukup normal dan mudah berkhayal. Baiklah, kadang khayalan saya cukup gila. Ada seorang lelaki tiba-tiba datang dan memberi saya uang sekian ratus juta. Hahahaha........ Lalu saya mengoreksi khayalan saya. Jika itu terjadi, bisa jadi lelaki itu adalah jin atau bahkan setan yang menggoda keimanan saya. GA MAU! Akhirnya istighfar saja. Namanya juga manusia yang sering khilaf. 
Dulu, pernah pula saya berkhayal dipanggil HAJI TOKEK. Kok bisa? Saya berkhayal menemukan tokek besar sekali dan dibeli 1 milyar. Woaaa.... 1 milyar.... bisa bikin rumah, buka usaha, pergi haji berdua, anak-anak punya tabungan pendidikan sampai S3 karena saya suka hidup sederhana..... Oke.. oke.. nampaknya cukup logis kecuali.... saya dan suami tidak akan berani menangkap tokek sebesar itu. Pasti saya lari duluan. Benar tidak sih? Aaaahhh.... namanya juga berkhayal. Akan saya jawab nanti kalau saya benar-benar menemukan tokek senilai 1 milyar. Kita lihat apakah benar saya dan suami akan jadi HAJI TOKEK. Hahahaha...

Stop tertawa dulu ah. Saya ingin membagi sedikit rahasia mengapa sih saya berkhayalnya kok matre sekali. Uang dan uang lagi khayalannya. Saya dan suami sudah lama pasrah dan tahu diri; bahwa kami berdua tak boleh mengandalkan orang tua untuk membantu finansial rumah tangga. Apa-apa kami kerjakan berdua. Kami sepakat bungkam dengan tragedi finansial kami agar mereka tidak sedih. Mereka tahunya kami masih ada dan biasa. Tak apalah. Kami berharap orang tua kami hanya mengenal kebahagiaan kami. "Tentang kegetiran hidup, apa sih yang mungkin kami ketahui? ZERO. Karena kami selalu tertawa.." Itulah harapan kami. Orang tua tak tahu keadaan kami saat ini. 

Tak banyak yang bisa saya lakukan pada hidup kami saat ini. Hanya menjalaninya setapak demi setapak. Mensyukuri setiap helaan nafas. Mencintai setiap laku-polah kedua buah hati saya. Mencintai dan menerima dengan tulus pria yang telah menemani hidup saya selama 10 tahun ini. Membagi sedikit ilmu saya yang dangkal di blog. Membuat kreasi yang saya sukai dan mendapat rupiah dari sana. Mencintai dan mengabdi pada keluarga yang membesarkan saya sambil berharap ridho orang tua-saudara kandung saya dan keluarga mertua saya karena kami memilih membantu ibu angkat saya. Selebihnya, mewujudkan mimpi-mimpi kecil saya; membuat buku, pindah kota, memiliki toko dan mencari penghidupan baru yang layak bagi keluarga kecil kami. Bukan mimpi yang besar, namun tak mudah mewujudkannya. Oh tidaaak... saya belum berhenti berharap. Bagaikan dian yang menyinari hari. Dian itu masih menyala dan terjaga meski cahayanya cukup redup. Tak pernah berhenti bermimpi meski bukan lagi si gadis pemimpi. Tentu saja! Saya sudah menikah! 

“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea