Beberapa waktu ini saya membuat beberapa artikel parenting untuk blog saya yang baru di blogdetik. Sudah siapin nama yang saya anggap keren dan segudang planning untuk proyek membuat buku. Tak tanggung-tanggung nih ceritanya. Apa mau dikata. Sama sekali tak bisa posting atau sekedar meloloskan komentar yang masuk. Totally block out.  Ya sudah, kembali ke blog lama dan utama. Hahaha… maaf ya kalau kemarin-kemarin saya cuekin blog ini. Hiks…

Karena untuk proyek buku “Smart Mommy Wannabe”, gaya tulisannya dirubah ya. Untuk artikel lain akan menyesuaikan. Dan prolognya sekian saja ya. Tak perlu panjang lebar agar tak bosan membacanya.
 @_@


Apa kabar, Mom? Bagaimana harimu? Apa tingkah laku anak yang membuatmu bangga hari ini? Dan tingkah laku apa yang membuatmu sedih hari ini?

Mom, yang namanya mendidik anak itu takkan pernah mudah. Ada banyak variable yang harus kita perhitungkan dalam mendesign karakter anak yang kita dambakan. Ada jutaan mommy lain yang juga memperjuangkan hal yang sama. Fight… fight … fight…and never give up.
Mom tentu tahu bahwa secara garis besar pola asuh terbagi menjadi 3; pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh otoritatif/demokratis. Jika ditanya, tentu semua orang mengatakan ia menggunakan pola asuh demokratis. Benarkan? Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa demokratis kita dan seberapa besar tingkat keberhasilan pola asuh anak secara demokratis yang kita lakukan?
Sebelum saya menjawab pertanyaan di atas sesuai dengan hasil pengamatan saya, saya akan menjelaskan dulu tentang 3 jenis pola asuh yang saya tulis di atas.

Pola asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana anak dituntut untuk manut pada kehendak orang tua tanpa boleh banyak bertanya. Anak dituntut untuk disiplin dan berprestasi sesuai kehendak orang tua. Pada pola asuh ini, kebebasan berpendapat anak dikekang. Out put yang didapat biasanya adalah anak yang smart-displin namun kurang pede dan tak pandai bersosialisasi. Ada banyak sekali tipe anak seperti ini. Mungkinkah mommy salah satunya atau mengenal type seperti ini?

Pola asuh permisif
Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana anak dibebaskan melakukan keinginannya tanpa batasan sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang kreatif dan ekspresif. Output yang tentunya diharapkan semua orang tua, ya. Mungkin itulah sebabnya pola asuh permisif ini paling banyak dipakai para orang tua. Namun sayang sekali anak sering kebablasan karena anak tidak dikenalkan pada batasan yang nyata. Anak sulit membedakan mana yang baik dan buruk. Ia mengartikan kebebasannya dengan boleh melakukan semua hal yang disukainya tanpa memikirkan orang lain. Akibatnya anak menjadi pribadi yang egois dan mengedepankan pemuasan nafsu. Perilaku permisif ini juga membuat kreatif-ekspresif ini menjadi pribadi yang rendah dalam prestasi karena mudah menyerah.

Pola asuh otoritas-demokratis.
Pola asuh otoritas-demokratis sering disebut sebagai pola asuh terbaik. Dalam pola asuh ini ada tuntutan dan disiplin, dan ada kebebasan. Anak boleh melakukan apa saja asal positif dan dilarang jika merugikan. Tugas orang tua memonitor perilaku anak dan menjelaskan standar yang mereka inginkan. Diskusi dengan anak terbuka lebar. Tak heran jika anak berkembang secara optimal, baik dalam prestasi maupun kepribadian.

Tingkat keberhasilan pola asuh Otoritas-demokratis
Setelah menjelaskan 3 pola asuh di atas, saya harap mommy mulai menjawab pertanyaan saya di atas: Seberapa demokratis kita dan seberapa besar tingkat keberhasilan pola asuh anak secara demokratis yang kita lakukan? Agar tak terlalu panjang dan lelah membacanya, saya potong di sini dulu. Juga untuk memberi waktu bagi smart mommy untuk menjawab pertanyaan saya itu.

Smart Mommy Wannabe? Sure we can!

Ps: Yang bukan mommy, jangan sungkan kemari ya..... gaya bahasa yg ini khusus untuk proyek buku yang saya rintis. ;) Di posting yang lain tetap sama gaya penulisaannya.