Beberapa waktu lalu saya menonton film komedi satir dari Argentina yang berjudul Wild Tales. Film ini sangat menarik menurut saya, sehingga saya ingin menuliskan review dan sinopsisnya. Siapa tahu teman-teman berminat menontonnya. Yang jelas, film ini bergenre humor hitam (gelap) atau dark humor. 


Sekilas tentang definisi humor gelap, ya. Humor hitam atau dark humor adalah jenis humor atau komedi yang didasari oleh sisi gelap manusia di kehidupan sehari-hari. Topik yang diangkat biasanya seputar politik, hiburan, olahraga, rasisme, agama, terorisme, dan peperangan. Nah... uniknya film Wild Tales ini, tema yang diangkat komedi adalah keluarga. Penasaran? Ayo baca.
Film Wild Tales (2014)  adalah kumpulan 6 film komedi pendek yang mengejutkan karena plot twist-nya yang mengena sekali. Mengejutkan namun bisa membuat penontonnya tertawa. Lebih tepatnya menertawakan sisi gelap manusia akibat kemarahan yang di luar kendali. 

Saya dibuat kaget sekaligus mendapati beberapa oh moment. Realistik meskipun berlebihan. Kasar namun juga lembut. Dan yang mencengangkan sih... ada hubungannya dengan keluarga dan keluarga. Langsung saja, saya paparkan percerita ya.

1. Pasternak (Cerita di dalam pesawat)

Film dibuka dengan cerita tentang sekelompok orang yang berada di dalam pesawat. Seorang guru laki-laki mengajak berbicara penumpang wanita cantik di sebelahnya. Mereka berbicara ngalor-ngidul sampai akhirnya mereka menyebut 1 nama yang mereka kenal bersama; Pasternak. 

Mendengar nama itu disebut, penumpang di depan mereka ikut menyahut karena juga mengenalnya. Pun dengan penumpang lain di sekitar mereka, termasuk pramugari yang bertugas. Ternyata, semua yang ada di dalam pesawat mengenal Pasternak dan pernah memiliki momen tidak menyenangkan (bagi Pasternak). 

Kejutan utama muncul dari pramugari pesawat yang mengatakan Pasternak adalah pilot satu-satunya di pesawat ini dan psikiater Pasternak menyatakan kondisi mental Pasternak. Semua langsung sadar bahwa mereka berada dalam bahaya karena Pasternak adalah tipe pendendam. 




Dan benar saja, Pasternak membawa seluruh “kebenciannya” menuju awal dari kehadirannya di dunia untuk hancur bersama. Siapakah itu? Ya, pesawat diarahkan menuju ayah-ibunya yang tengah bersantai di teras rumah.

2. The Rats (Cerita di Kafe)

Seorang pelayan kafe mengenali pengunjung yang datang sebagai lintah darat yang membuat ayahnya bunuh diri. Dia melayani dengan enggan karena selain masa lalu, juga karena si rentenir ini sangat kasar. Rupanya ia juga menyalonkan diri menjadi walikota dan memiliki kans menang. 

Koki kafe menyarankan dia menyajikan makanan beracun agar orang itu mati. Tentu saja saran itu ditolak. Tak berapa lama setelah pesanan dihidangkan, seorang pemuda (anak si lintah darat) datang. Si koki mengaku bahwa dia memasukkan racun tikus ke dalam makanan yang disajikan tadi. 

Pelayan kafe langsung meminta kembali makanan yang dia berikan namun dibalas dengan caci maki. Tak lama kemudian, si koki datang membawa pisau dan membunuh pria kasar tersebut.

3. The Strongest (Cerita di jalan)

Seorang laki-laki setengah baya mengendarai mobil Audi terbaru dengan perasaan sangat bersyukur dengan hidupnya yang mapan. Di tengah jalan, sebuah mobil rongsok menghalangi jalan dan selalu memotong jalannya. Dia mulai marah dan ketika dia berhasil menyalip, dia mengejek pengendara mobil. 

Tak berapa lama, mobilnya mogok dan mobil rongsokan tadi melewatinya. Rupanya peristiwa sebelumnya membuat keduanya sangat marah dan dendam. Akhirnya mereka saling balas dendam dan berakhir terbakar berdua di dalam mobil dalam bentuk saling mengunci gerak. Para polisi yang datang menyimpulkan kematian mereka adalah kematian 2 pecinta yang mengalami kecelakaan ketika sedang ber.... (sensor)

4. Little Bomb (Pahlawan kota)

Seorang teknisi bom terlatih (untuk semacam dinas DPU di Indonesia) kecewa sekali karena terkena tilang parkir mobil. Dia merasa tidak melakukan kesalahan, namun mobilnya diderek juga. Ketika mengurusnya, antrian sangat lama dan petugas sangat cuek. 

Belum lama dia mendapatkan mobilnya kembali, lagi-lagi mobilnya diderek karena dianggap melanggar. Rupanya, perusahaan derek swasta tersebut memang sering mencari-cari kesalahan dan menderek mobil warga. Dalam kemarahannya, dia didakwa melakukan kekerasan dan tidak diijinkan menemui keluarga. 

Suatu hari, dia sengaja memarkirkan mobilnya sembarangan agar diderek. Dan seperti diduga, dia sengaja memasang bom di dalam mobilnya agar meledak di parkiran perusahaan derek yang ia benci. Tragis, meski dipenjara, si teknisi bom ini malah dianggap pahlawan kota dan dipuja-puja.





5. The Proposal (suap pasca kecelakaan)

Seorang pemuda manja menabrak seseorang dan melarikan diri. Dia segera mengatakan pada ayah-ibunya karena ketakutan. Keluarga kaya raya ini tidak ingin image mereka tercoreng karena kasus tabrak lari. Maka dengan dibantu para pengacara keluarga, mereka berhasil membujuk tukang kebun mereka agar mengakui sebagai pelaku tabrak lari dengan imbalan uang. 

Ketika semua sepakat, masalah muncul karena si tukang kebun tua tidak tahu cara mengendarai mobil otomatis. Tak ada waktu berpikir lagi karena sekelompok masyarakat dan wartawan telah berdemo di depan pintu pagar, mereka nekat membawa tukang tersebut ke kantor polisi. Ketika keluar gerbang pagar, seorang warga nekat membunuh tukang kebun tersebut dan masalah pun selesai.

6. Until Death Do Us Apart (pernikahan)

Di sebuah resepsi pernikahan yang mewah, pengantin perempuan mendapati wanita lain yang selama ini dicurigainya ternyata hadir di sana. Dia sangat marah apalagi keduanya tertangkap basah. Dengan perasaan kalut, si calon wanita berlari ke atap dan menangis sendirian. 

Di atap itu dia membalas dendam dengan seorang koki yang kebetulan sedang merokok. Dia puas karena perbuatannya dipergoki calon suaminya. Keduanya sama-sama marah dan menghancurkan dekorasi pesta sehingga semua tamu membubarkan diri. Setelah puas saling menghancurkan, mereka akhrinya menikah dengan disaksikan sedikit keluarga yang tersisa.

Lucu tidak? Tidak lucu? Iya sih, jika dipaparkan seperti di atas kok jadi tidak lucu, ya. Malah jadinya kejam, satir, penuh intrik, kemarahan dan dendam. Entahlah. Yang jelas sih jika ditonton nanti akan terlihat lucunya di bagian mana. Namanya saja komedi gelap atau humor gelap, maka tak heran jika terasa kelam. 

Coba deh, tonton filmnya dulu baru bantu saya dengan mengirimkan pendapatmu di kolom komentar di bawah ini. Karena saya penasaran sih, mengapa saya bisa tertawa ngakak di film ini meski awalnya kaget juga. Teman-teman yang belum ingin nonton juga boleh kok, mengomentari posting ini. Malahan, sangat disarankan.



Oh ya, apa sih keistimewaan film yang mendapat rating 8,2/10 dan rating metascore 77/100 ini? Menurut saya karena cerita original, kejutan peristiwa sehari-hari, kemarahan terpendam yang meledak, kejutan, masyarakat urban yang rawan stress oleh hal kecil yang sangat mengganggu, juga karena topik humornya yang tak biasa. 

Orang stress mudah ditemukan di mana-mana sekarang. Bahkan orang yang sedang berbahagia akan sesuatu lalu tiba-tiba terjadi peristiwa yang menyinggung harga dirinya. Ya, pelakunya bisa siapa saya. Bisa kita, kamu, atau dia, tergantung pada limit kewarasannya (bukan lagi kesabarannya). 

Yang jelas, film ini diganjar dengan piala Oscar untuk kategori Best Foreign Language of The Year (2015), juga 42 piala di penghargaan film lainnya dari 52 nominasi. Best film di BAFTA, memborong  21 piala di penghargaan Argentina, dan masih ada 21 piala lain dari penghargaan film di luar negeri. Yah... layak tonton juga sih menurut saya. 

Oh ya, baru ingat (dan seringnya terakhir, nih) karena kadang ada yang tanya parental guide untuk film. Pasti tahu ya, kalau film ini termasuk film dewasa? Ok, segitu saja. Saya tunggu reaksimu. 


Wild Tales (Relatos Savages)
Penulis dan Sutradara : Damiàn Szifrón
Asal negara: Argentina
Rilis 21 Agustus 2015
Durasi : 122 menit

Sumber keterangan dan gambar di IMDB Wild Tales (Relatis Savages)
Sumber poster dari O-Cinema