Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia digelar di The Westin Nusa Dua Bali pada tanggal 28-29 November 2019 lalu. Rapat tersebut menghasilkan 18 rekomendasi yang akan diberikan kepada pemerintah. Salah satu rekomendasi yang menarik perhatian saya ada pada poin ke-7 yang berbunyi, “Kadin menjadi motor penggerak kegiatan vokasi dan dikoordinasikan antara kementerian/lembaga terkait.” Itu artinya, Kadin sebagai wadah para pengusaha telah mengambil langkah proaktif dalam persiapan tenaga kerja produktif di Indonesia yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan. Jadi, harapannya, kelak akan lebih banyak tenaga terampil Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan Industri 4.0 yang sedang bergulir. Itu juga artinya, pemerintah dan dunia usaha bersama-sama mempersiapkan bonus demografi 2030.
Ilustrasi pelajar. Sumber Canva


Saat sedang menulis untuk SDM Unggul Indonesia Produktif yang menjadi tema Kadin Blog Competition, anak lanang mbarep saya datang untuk mengajukan jurusan sekolah kejuruan yang menjadi minatnya.

Anak mbarep kami tahun ajaran sekolah depan akan memasuki jenjang sekolah menengah atas. Kami sering sounding pada semua anak, bahwa kami berharap mereka akan masuk ke sekolah kejuruan. Bukan tentang cepat dapat kerja, tapi cepat mengenali bakat minat lalu mempelajarinya di jurusan yang tepat. Kami tak ingin mereka seperti kami, ayah dan ibunya. Saya dan suami baru menyadari bakat kami saat kuliah sehingga mengalami salah jurusan. Suami kuliah di jurusan Pendidikan Kimia, bekerja sebagai tukang gambar. Saya jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, mengambil peran sebagai bloger, penulis, dan peneliti sejarah lokal. Saya sering berharap, andai saya dulu kuliah di jurusan bahasa Belanda, baik pendidikan atau sastra. Tentu saya tak seperti sekarang ini, mengandalkan Google Translate untuk mencari informasi yang hanya ada dalam bahasa ini.


Kami keluarga Susindra

Hal semacam ini tak boleh terjadi pada 3 anak lanang kami. Itulah sebabnya kami memilih 'menjuruskan' mereka pada sekolah dan pendidikan yang mereka sukai dan lakukan dengan bahagia. Kami menggali bakat minat mereka sejak kecil lalu menyemangatinya sebagai pilihan hidup yang mungkin bisa ia tempuh. Saat sudah waktunya, kami memberi pandangan tentang sekolah vokasi atau sekolah kejuruan yang mungkin mereka minati, perguruan tinggi apa yang bisa dipilih setelahnya, lapangan kerja apa yang tersedia untuknya. Dari situ, kami beri waktu mereka untuk memilih, menimbang, dan berdiskusi kapan pun. 

Seperti pagi ini. Si mbarep tahu jika ini saat saya menulis, dan tidak berharap diganggu. Tapi dia tetap datang dan meminta saran. Dia ingin masuk ke sekolah kejuruan, mengambil Teknologi Komputer Jaringan. Awalnya ia ingin masuk ke jurusan animasi di SMK yang lain. Dia berubah pikiran. Hmm....

Sejak kelas dua, dia menyatakan ingin masuk ke sekolah menengah kejuruan yang memiliki jurusan animasi. Saya sudah mengiyakan dan mencoba menyusun anggaran agar saat masuk nanti, uang pendaftaran cukup. Saya juga sudah meminta teman seniman gambar agar menerima si mbarep, untuk nyantrik di rumahnya. Nyantrik artinya belajar di rumah ahlinya selama beberapa waktu dengan konsep suwita. Ini cara belajar seni yang paling tepat. Suwita artinya mengabdi.


Si mbarep akan segera lulus SMP dan adik kecilnya.


Seminggu ini, dia beberapa kali duduk di samping saya, mencoba menjelaskan bahwa ia berubah pikiran. Ia ingin masuk jurusan komputer dan jaringan. Itu artinya akan masuk ke SMK lain lagi. Pagi ini, sekali lagi ia mencoba meyakinkan saya dengan pilihan barunya tersebut dan saya menggodanya dengan sekolah pertanian, agar dapat membantu saya yang suka berkebun di depan rumah. Si mbarep langsung mengatakan dia tidak tertarik bertani.

“Jurusan di SMK Pertanian tidak hanya bertani, Mas, ada juga jurusan pengolahan dan jurusan pemasaran” jawab saya mencoba meyakinkan. Tapi aura menggoda saya masih kental sehingga dia kukuh menyatakan tidak. “Desember-Juni. Masih ada 1 semester untuk membujukmu,” goda saya lagi.

Alasan saya, sounding ke anak tentang sekolah vokasi dan kelak kuliah vokasi juga, sejak dini, agar mereka bisa menjadi tenaga ahli di bidang apapun yang mereka minati. Agar kelak mereka menjadi SDM Unggul. Saya tak membatasi cita-cita anak. Saat dia bilang ingin sekolah sambil merintis karier di esport pun saya tidak menutup pintu. Saya jelaskan apa hak dan kewajiban sebagai seorang esport untuk membuka wacananya.


Mas Binbin akan masuk SMP tahun ini. Dia juga akan jadi bagian yang harus dipersiapkan dengan baik di bonus demografi 2030 agar menjadi SDM Unggul dan produktif.

Saat ini, Mas Destin berusia 15 tahun. Dia akan menjadi salah satu bonus demografi yang potensial pada tahun 2030. Ia akan berusia 25 tahun, sudah lulus kuliah dan sudah kerja. Begitu pun dengan adiknya, si tengah yang bernama Mas Binbin. Dia akan berusia 21 tahun pada saat itu. Dia juga harus menjadi tenaga ahli, dan bersama-sama mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045.

Boleh, dong, jika saya sebagai salah satu keluarga kecil, menyiapkan anak agar menjadi generasi unggulan bangsa. Merekalah penerus bangsa Indonesia. SDM unggul harus disiapkan dari 1000 hari pertamanya, lalu dilanjutkan sampai ia siap menapak dunia usaha. Saat sekolah pun, peran keluarga harus tetap besar. Keluarga, bersinergi dengan sekolah dan pemerintah, membentuk insan manusia yang berbudi, berjatidiri dan berdaya juang tinggi.


Peran Kadin dalam Menciptakan SDM Unggul



Kembali ke hasil keputusan Rapimnas Kadin di atas. Fokus bahasan di Rapimnas Kadin Indonesia bulan lalu adalah meningkatkan perekonomian yang maju, berdaya saing dan berkeadilan. Pada poin ke-7, Kadin mengambil peran sebagai penggerak kegiatan vokasi. Sebuah keputusan yang memang sangat pas, karena akan lebih cepat mendongkrak perekonomian negara kita. 


Hal ini mengindikasikan kesadaran bersama bahwa untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul, kadin harus bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah. Keterlibatan langsung Kadin yang berfungsi sebagai sebagai wadah utama para pengusaha yang menjadi penampung terbesar tenaga ahli dan SDM unggul bisa memastikan anggaran sekian triliun yang disiapkan oleh pemerintah akan sesuai dengan supply dan demand




Kadin sebagai pemilik dunia usaha di Indonesia, menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Ia harus memelihara rusuknya agar tetap sehat dan mendukung tulang utama. Jadi, cita-cita bersama, mewujudkan pemerataan, keadilan dan kesejahteraan rakyat, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam upaya meningkatkan ketahanan nasional dalam percaturan perekonomian regional dan internasional bukanlah mimpi bersama, tapi kerja bersama.


Rapimnas di Bali. Sumber: website kadin.id
Keterlibatan langsung Kadin yang berfungsi sebagai sebagai wadah utama para pengusaha yang menjadi penampung terbesar tenaga ahli dan SDM unggul bisa memastikan anggaran sekian triliun yang disiapkan oleh pemerintah akan sesuai dengan supply dan demand. Kadin sebagai pemilik dunia usaha di Indonesia, menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Ia harus memelihara rusuknya agar tetap sehat dan mendukung tulang utama.

Seperti kita tahu, pada periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi, pembangunan infrastruktur sangat massif sehingga selama periode 2015-2019 telah dibangun 3.194 km jalan perbatasan, 1.387 km jalan tol, 811,9 km rel kereta api, 136 pelabuhan, 15 unit bandara udara, 65 unit bendungan, serta 12,148 km jaringan serat optik Palapa Ring. Prioritas tinggi pembangunan infrastruktur bisa menjadi daya dorong pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi, sekarang pembangunan SDM unggul yang digarap dengan sangat serius. Pemerintah pusat melalui kebijakan fiskal tahun 2020, bertekad melakukan akselerasi daya saing melalui inonasi dan penguatan kualitas SDM. Hal ini sangat penting, karena kualitas SDM adalah penentu bagi masa depan bangsa. Bukan hanya ekonomi saja tapi semua lini. SDM adalah aset atau human capital yang mutlak diperlukan. Dua program yang berkesinambungan ini mengingatkan pada lagu Indonesia Raya, pada bait "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia raya."


Progja Presiden Jokowi mengingatkan pada lagu Indonesia Raya. Sumber: https://www.indonesia.go.id, diedit dengan Canva


Pemerintah berjanji melakukan beberapa kebijakan baru dengan persiapan anggaran yang sangat besar. Dua kebijakan yang saya ketahui dalam upaya membentuk SDM Unggul dan produktif adalah:

  1. Membuat program Kartu Prakerja. Dana yang dianggarkan sebesar Rp10 triliun, untuk 2 juta peserta.
  2. Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Jumlah yang disiapkan adalah sebesar Rp7,5 triliun, bagi 818.000 mahasiswa, diutamakan yang menempuh pendidikan vokasi, sains, dan teknologi.
Mengingat besarnya dana di atas, pemerintah perlu bersinergi dengan swasta agar anggaran yang dikeluarkan akan tepat sasaran. Di sinilah, menurut saya, Kadin memang harus ikut menjadi motor atau penggerak. Jangan hanya menerima hasil jadi saja. Apalagi kita sudah sampai di era Industri 4.0.

Industri 4.0

Industri 4.0 membuat perubahan yang sangat besar pada karakter bisnis. Juga membuat perubahan yang lebih besar lagi pada jenis kompetensi yang harus dikuasai agar dapat disebut sebagai SDM unggul. Reformasi pendidikan harus dilakukan secara mendasar. Keputusan menjadikan Mas Menteri Nadiem sebagai Menteri Pendidikan mungkin sangat tepat. Saya katakan mungkin karena baru dua bulan bekerja. Kita beri waktu satu tahun sebelum memutuskan hal itu sangat tepat atau sebaliknya. Yang jelas, saya tak sabar menanti gebrakan apa yang dibuat oleh Mas Menteri dalam pendidikan vokasi, riset dan teknologi. Saya harap sesuai ekspektasi saya, karena padanyalah, 2 dari 3 anak saya akan saya titipkan pada sekolahnya. Anak yang ketiga saat ini masih berusia 11 bulan. Ia bonus setelah mas termudanya berusia 10,5 tahun.


Industri 4.0 mengubah karakter bisnis. Sumber foto: canva.com


Reformasi besar yang terjadi karena adanya Industri 4.0 (kadang disebut Revolusi Industri 4.0 karena perubahannya bukan hanya massif tapi sangat mendasar di semua lini kehidupan). Kebutuhan pegawai menjadi sangat besar. Ada pekerjaan yang hilang, namun tergantikan pekerjaan lain dengan kompetensi terkini, yang tak jauh dari Internet of Things (IoT), Big Data (BD), dan Artificial Intelligent (AI). Di sinilah, dunia usaha melalui Kadin perlu digandeng dalam upaya peningkatan pelatihan vokasi tentang 3 sisi mata uang di atas; IoT, BD, dan AI.

Pelatihan yang dilakukan Kadin. Semoga akan ada semain banyak lagi

Dunia usaha jangan hanya memasrahkan urusan pendidikan vokasi untuk menciptakan SDM unggul kepada pemerintah saja. Sudah bukan jamannya, mempertahankan perilaku ingin disuapi seperti ini. Kadin sebagai penggerak dunia usaha serta pemegang utama advokasi, harus bisa mengarahkan perusahaan yang menjadi anggotanya untuk menjadikan dana CSR mereka sebagai salah satu dana penciptaan SDM unggul dan produktif Indonesia. Juga membuat agenda magang berkompetensi yang lebih tepat sasaran.

Dana CSR untuk Ciptakan SDM Unggul

CSR seyogyanya memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya, secara ekonomi maupun sosial budaya. Selama ini, beberapa CSR yang saya kenal lebih menekankan kegiatan tahunan seperti sunat massal, kurban, tes kesehatan, program sanitasi, pembangunan jalan/gang, beasiswa pelajar sekolah dasar, simpan pinjam, koperasi usaha, dan semacamnya, yang identik dengan kegiatan amal.  Tak jauh dari fasilitas kesehatan, lingkungan dan sarana transportasi. 

CSR harus diproyeksikan untuk menciptakan generasi maju dan SDM unggul. Sumber gambar canva.com yang dengan penyesuaian
Sudah saatnya CSR naik level dengan menyentuh ranah pendidikan secara menyeluruh demi terciptanya SDM unggul. Dari dana yang disisihkan dari profit perusahaan tersebut, dapat dibuat program strategis berbasis pendidikan secara berkelanjutan, sambil tetap memperhatikan dampaknya pada masyarakat. Untuk itulah, harus ada pula dana penelitian. Perusahaan di Indonesia harus menyalurkan dana CSR (corporate social responsibility) atau dana program tanggung jawab sosial untuk membantu pengembangan SDM Indonesia. Bentuknya bantuan sarana prasarana, beasiswa pelajar, dana penelitian, pelatihan kerja, beasiswa kursus keterampilan tertentu sampai pameran gelar karya. Tugas Kadin adalah memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Tugas besarnya adalah mendorong Indonesia lebih produktif, berdaya saing, dan fleksibel dalam menghadapi tantangan global yang dinamis dan penuh risiko. Ingat selalu, bahwa pada Industri 4.0 terjadi revolusi, dan setiap revolusi akan menciptakan pahlawan baru dan casualities sangat mungkin terjadi jika tidak siap menghadapi.

Sudah selayaknya jika Kadin di berbagai daerah melakukan serangkaian pendidikan vokasi bagi seluruh lapisan masyarakat sesuai usia dan peruntukannya. Pelatihan bagi siswa sekolah, mahasiswa, atau masyarakat umum yang bergerak di bidang UKM.


“Saya jadi ingat, di Jepara ada Rumah Kreatif BUMN Jepara yang memfasilitasi para pelaku UKM dalam pembinaan dan pemberdayaan.”

Magang berkompetensi

Selama ini, para pemagang diperlakukan sebagai pegawai kelas rendah yang tak dibimbing dengan benar. Padahal magang berarti menyerap energi positif perusahaan dan meniru laku pengawasnya. Energi peniruan yang terserap ini akan berkolaborasi dengan pendidikan terkini yang ia pelajari sebelumnya, sehingga melahirkan sebuah SDM yang dibutuhkan. Dengan tambahan pelatihan dan sertifikasi, ia akan lama-lama menjadi tenaga kerja unggulan di perusahaan. Hal ini sering diabaikan, sehingga pegawai magang hanya diberi tugas rendah sebagai petugas fotokopi dan pembuat kopi, sehingga lama-lama ia menjadi apatis seperti lingkungan kerja yang ditempatinya. Jika ini terjadi, maka kita hanya akan menciptakan pegawai gabut (gaji buta) yang berkelanjutan. SDM unggul bisa jadi mimpi di siang bolong, bagi pos-pos tertentu yang tidak melakukan perubahan besar.


Ilustrasi siswa magang dari Canva

Sebuah kabar besar saya baca pagi ini. Kadin Jawa Timur menggelar pelatihan Pelatih Tempat Kerja (PTK) di Kota Batu Malang. Kita tahu bahwa program magang yang belum efektif membutuhkan solusi dengan segera agar menjadi sangkil dan mangkus. Agar terjadi peningkatan kompetensi kerja yang komprehensif, sehingga memberikan nilai lebih bagi perusahaan, pemagang itu sendiri, dan kampus ia belajar. Tugas pelatih di sini adalah menyusun program yang sesuai dan mampu memberikan solusi permasalahan yang terjadi di lingkungan kerja. Ia akan berperan sebagai organisator, pembimbing pembelajaran, moderator, dan penyampai informasi, serta pendampingan dan dukungan kompetensi keahlian.

Wah, sudah banyak sekali, ternyata....


Harapan kami para orangtua

Banyak jalan menuju Roma. Lebih banyak lagi jalan menuju SDM unggul di Indonesia. Semua perlu berperan aktif. Bersinergi bersama, semua elemen yang ada. Keluarga, masyarakat, industri, dan pemerintah, semua harus sengkuyung bersama, menciptakan Indonesia Maju, Indonesia Jaya. Indonesia Emas 2045. Besar harapan kami, jika hasil Rapimnas Kadin 2019 di Bali bulan November lalu akan dihormati dan dilakukan dengan sepenuh hati. Kolaborasi  skala besar perdana semacam ini sangat perlu diapresiasi dan dipantau bersama agar bisa memberi manfaat besar. Saya sebagai orangtua dari Destin, Binbin dan Giandra juga bertekad akan ikut ambil peran sebagai peserta aktif.



Saya mengingat akan terus mengingat komitmen pemerintah dalam menciptakan SDM Indonesia Maju. Dalam pidato di Sentul Internasional Convention Center (SICC) tanggal 14 Juli 2019, Presiden Jokowi menyatakan bahwa jika terpilih kembali, pada masa pimpinan periode kedua, beliau memastikan akan membangun lembaga manajemen talenta pelatihan vokasional dan sekolah vokasioal. Langkah yang akan dilakukan adalah mengidentifikasi, memfasilitasi, serta memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi bagi talenta-talenta anak bangsa karena akan memberikan kontribusi besar bagi percepatan pembangunan Indonesia.

Nah... apa yang beliau harapkan telah tercapai, yaitu mendapatkan kesempatan kedua memimpin Indonesia kembali sampai lima tahun ke depan. Mari kita tagih bersama, dan beliau tetap berkomitmen mewujudkan Visi Indonesia Maju. Mari kita harapkan bersama, sinergi antara pemerintah dengan (CSR) perusahaan untuk berkolaborasi dalam menciptakan SDM unggul. Jangan ragu untuk menyertai pemerintah dalam bentuk kritik maupun saran yang membangun. Pastikan tetap cerdas dan berada di koridor yang benar saat melakukannya.



Kerja keras pemerintah membutuhkan dukungan kita. Setiap motor membutuhkan jeruji yang kokoh menopang atau mengambil peran dalam menggerakkan motor. Keluarga harus mempersiapkan diri. Pemerintah daerah terdekat harus proaktif menjadi sumber informasi atas perubahan dan kesempatan ini. Maka, semua program pemerintah dan dana fiskalnya akan tepat sasaran dan tepat guna. Kadin sebagai perwkilan dunia usaha harus juga ikut aktif mencari tahu dan menyediakan pelatihan yang saat ini sedang dan akan menjadi incaran dunia usaha. Jika semua bekerja, ibarat tulang belulang penopang badan, kita semua akan bekerja bersama, maju ke depan. 

Baiklah. Kopi saya sudah habis. Hak me time menulis blog saya selama 2 jam hampir usai. Bayi Gi juga mulai protes, bosan bermain dengan dua kakaknya. Ia ingin ASI. Agar Mas Destin dan Mas Binbin percaya dan terus bersedia membantu ibunya berperan sebagai penulis, saya harus segera mengakhiri posting blog berjudul Peran Kadin dalam Menciptakan SDM Unggul agar Indonesia Produktif ini. Sampai jumpa di lain opini/wacana/cerita saya di Cakrawala Susindra. Sun sayang untuk yang terkasih (dan halal) di sampingmu, Sobat Susindra.