Konsep Diri untuk Melejitkan Potensi Belajar Anak

Meski terlihat santai, aslinya, saya resah. Saya gelisah. Akan jadi apa anak-anak saya nanti. Terutama si tengah yang menjadi PR utama saya, sampai akhirnya memutuskan masuk ke Ibu Profesional. Saya ingin menaklukkan tantangan memberi bekal pada si kinestetik yang unik ini. Bagaimana cara meningkatkan konsep diri agar ia bisa melejitkan potensinya.



konsep diri untuk melejitkan potensi belajar anak ala Cakrawala Susindra
Sumber foto dari Canva

Tiap anak unik

Tiap anak unik. Kita tentu tahu hal itu. Bahkan sangat meyakini sehingga kadang kita sebagai orangtua bisa sangat permisif. Misalnya, karena anak biasa ‘on’ sampai jam 11 malam, sang bunda berpikir, “Ok, lah... toh ia mudah dibangunkan di pagi hari. 

Alhamdulillah, semua anak saya tidur jam 8 malam, sehingga saya selalu mengernyitkan mata jika ada ibu yang menjawab seperti itu.

Pukul 10 malam adalah saatnya hormon kecerdasan dilepaskan, sehingga pada jam itu, penting bagi anak agar sudah dalam kondisi terlelap.

Kita perlu memberi batasan jelas pada keunikan anak. Juga memperkenalkan pada waktu. Ini penting, Sobat Cakrawala Susindra. Ini sangat penting.

Keunikan si tengah saya agak beda. Dia sulit fokus dan mudah terluka. Kalau ada yang dia anggap tidak menyenangkan, dia akan melipir. Contoh paling mudah, saya sering menemukannya bermain sendiri di lapangan yang banyak teman gara-gara tak mau disuruh sesuatu. 


Contoh lain adalah keluhan guru kelas enamnya yang menyatakan ia tak mau belajar. Dia tidak melakukan apa-apa saat jam pelajaran, dan tak mau menulis. Dia sudah kelas enam. Jadi wajar jika ada ketegangan di antara kami: anak, orangtua dan sekolah. Hal semacam ini pernah terjadi pada saat ia kelas empat. 


Hmm... ada apa denganmu, Nak?



konsep diri untuk melejitkan potensi belajar anak ala cakrawala susindra
Sumber foto dari Canva


Studi kasus

Saya pernah tanpa sengaja tertawa saat gurunya menelpon dan mengatakan bahwa si tengah tak mau menulis. Beliau sudah membujuknya, memujinya ganteng dan pintar. Sekelas juga diminta melakukannya. Bahkan ada temannya yang membantu memegangkan pensil dan mengelus pundaknya. Perhatian seluruh kelas terfokus untuknya. Demikian yang diberitakan pada saya, suatu hari, saat si tengah mogok menulis lagi.

“Saya diberitahu bu guru sebelumnya bahwa Mas B senang dipuji. Jika dipuji dan dibaiki akan semangat belajar. Tapi ternyata tidak berhasil, Bu.”

Dan saya tanpa sadar tertawa.

Saya tak berani menyalahkan beliau, karena guru di sekolah dasar negeri desa memang beda pemahamannya tentang karakter anak jika dibandingkan yang di kota. Alasan saya memasukkannya di sekolah desa, di dekat rumah, selain agar ia lebih slow belajar, juga agar ia ada cukup waktu untuk bermain. Owner-nya 
Cakrawala Susindra memang tipe sederhana. Bagi saya, bermain adalah proses belajar tentang life skill. Saya dan suami memang tidak memasukkan pendidikan terbaik dan kompetisi dalam visi-misi keluarga. Suami seorang seniman dan saya penulis. Jadi enjoy live dan easy living adalah konsep keluarga kami.

Saat Bu Guru menjelaskan tentang keadaan si tengah, saya membayangkan ia dibujuk oleh seluruh teman sekelas... Hal ini entu bisa diartikan sebagai sesuatu yang memalukan bagi si tengah, sehingga ia semakin mundur ke belakang. Semakin pasif belajar. Beruntung, ia anak yang cepat melakukan self healing. Dia hanya butuh waktu menyendiri sampai akhirnya siap belajar kembali.

“Dia tidak belajar tapi juga tidak mau disuruh pulang, Bu,”kata gurunya. “Setelah jam istirahat dia belajar kembali,” imbuhnya.

Itulah yang saya katakan sebagai self healing.

SI tengah tahu ia harus belajar tapi butuh waktu untuk mengatasi dirinya sendiri. 


Saya ingat....
Keadaan ini berbanding terbalik dengan saat ia kelas lima. Si tengah berprestasi bagus. Nilainya bagus, masuk top tiga, dan ikut Olimpiade Matematika. 

Guru kelas lima memiliki anak spesial seperti si tengah. Bedanya, beliau memasukkan anak ke sekolah alam yang terbaik, sehingga bisa selalu berkonsultasi dengan sekolahnya. Dengan pengalaman demikian, tak heran jika si tengah mendapat bimbingan yang tepat.

Nilai positif yang bisa dikembangkan

Si tengah anak yang pandai menjadi teman dan menemani. Saat ada tamu datang ke rumah membawa anak - seusianya atau usia di bawahnya - dia yang telaten momong. Menemani anak tamu tersebut sampai pulang. Dia memiliki kecerdasan interpersonal yang baik. 

PR-nya adalah kecerdasan intrapersonal. Ia masih lekat dengan negatif self consept atau konsep diri negatif. Ia tidak percaya diri karena masih kesulitan mengutarakan ide, punya saudara yang menurutnya ideal sehingga dikagumi, dan ia masih mudah merasa marah. 

Waktu dan bimbingan saya sebagai orangtua sangat ia butuhkan. Ia perlu sering diberitahu; boleh sesekali salah, berbicara pelan dan jelas, jangan bandingkan diri dengan kakak, semua keluarga bangga dan mencintainya.

Konsep diri negatif

Mungkin saya perlu mengutip pembagian konsep diri negatif menurut Brooks dan Emmert (dalam Sukatma, 2004). Orang dengan konsep diri negatif ditandai dengan lima hal, yaitu:


  1. Peka terhadap kritik, dalam arti orang tersebut tidak tahan terhadap kritik yang diterimanya dan mudah marah.
  2. Responsif terhadap pujian. Semua embel-embel yang menunjang harga diri menjadi pusat perhatiannya.
  3. Bersikap hiperkritis, artinya selalu mengeluh, mencela, dan meremehkan apapun dan siapapun. Tidak mampu memberi penghargaan pada kelebihan orang lain.
  4. Merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan. Orang lain adalah musuh.
  5. Bersikap pesimis terhadap kompetisi. Enggan bersaing dan merasa tidak berdaya jika berkompetisi dengan orang lain.
definisi dan contoh konsep diri negatif

Beberapa dari kita masih punya kecenderungan beberapa di antara 5 konsep diri negatif di atas. Saya hampir selalu bersikap pesimis terhadap kompetisi. Misalnya. Cakrawala Susindra jarang ikut kompetisi blog.


Sedangkan si tengah masih responsif terhadap pujian.

Konsep diri positif

Jika ada konsep diri negatif, tentu ada positifnya. Masih menurut Brooks dan Emmert (dalam Sukatma, 2004), konsep diri positif ada lima, yaitu:
  1. yakin dengan kemampuannya dalam mengatasi masalah
  2. merasa setara dengan orang lain
  3. menerima pujian tanpa rasa malu
  4. menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat, 
  5. mampu memperbaiki dirinya sendiri karena ia sanggup mengungkapkan aspek kepribadian yang tidak ia senangi dan berusaha mengubahnya.
definisi dan contoh konsep diri positif


Konsep diri

“Gnothi Seauton”, kenali dirimu sendiri. Sebuah ungkapan seorang filsuf zaman baheula bernama Sokrates yang cukup terkenal di kalangan pecinta dunia psikologi. Ungkapan ini bermakna ajakan atau perintah untuk melihat ke dalam, ke diri kita sendiri, agar bisa melakukan sebuah perubahan diri menjadi lebih baik.

Konsep diri, dari tadi saya menuliskan hal itu tapi tidak menjelaskan maknanya.

Konsep diri adalah pandangan seseorang akan dirinya, meliputi gambaran tentang diri dan keperibadian yang diinginkan, yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang mencakup aspek fisik dan atau psikologis. Jadi, pada tahap awal, memang masih berpusat pada gambaran tentang diri dan keperibadian yang diinginkan. Sosok ideal (atau tidak ideal) yang dibentuk seseorang atas gambaran dirinya. Faktor eksternal masih berpengaruh kuat di awal. Sobat Cakrawala Susindra punya sosok ideal?

Burns mungkin lebih tepat saat menyatakan bahwa konsep diri sebagai pandangan, penilaian, dan perasaan individu mengenai dirinya yang timbul sebagai hasil dari suatu interaksi sosial. Konsep diri yang positif dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kepercayaan terhadap dirinya sehingga dapat memotivasi seseorang untuk dapat menjadi lebih baik lagi.



Konsep diri adalah pandangan seseorang akan dirinya
Sumber foto: Freepik


3 dimensi konsep diri

Calhoun dan Acocella (1990) menjelaskan bahwa konsep diri terdiri atas tiga dimensi yang meliputi:

1.    Pengetahuan terhadap diri sendiri (real-self).

Pengetahuan terhadap diri meliputi ssia, jenis kelamin, kebangsaan, suku pekerjaan dan lain-lain, yang kemudian menjadi daftar julukan yang menempatkan seseorang ke dalam kelompok sosial, kelompok umur, kelompok suku bangsa maupun kelompok-kelompok tertentu lainnya.

2.    Pengharapan mengenai diri sendiri (ideal-self).

Pengharapan mengenai diri sendiri berupa pandangan tentang kemungkinan yang diinginkan terjadi pada diri seseorang di masa depan. Pengharapan ini merupakan diri ideal.

3.    Penilaian tentang diri sendiri (social-self).

Penilaian tentang diri sendiri berupa penilaian dan evaluasi antara pengharapan mengenai diri seseorang dengan standar dirinya yang akan menghasilkan harga diri yang berarti seberapa besar orang menyukai dirinya sendiri.

Ternyata, konsep diri akan mempengaruhi  cara  individu  dalam  bertingkah laku di tengah masyarakat.


Pengukuran konsep diri

Elisabeth Hurlock merupakan salah satu ibu psikologi perkembangan yang bukunya selalu menjadi hand book mahasiswa psikologi dan pendidikan. Darinya, kita bisa membuat pengukuran konsep diri melalui 2 aspek, yaitu:

1.    Aspek fisik

Aspek fisik meliputi sejumlah konsep yang dimiliki individu mengenai penampilan, kesesuaian dengan jenis kelamin, arti penting tubuh, dan perasaan gengsi di hadapan orang lain yang disebabkan oleh keadaan fisiknya.

2.    Aspek psikologis

Aspek psikologis meliputi penilaian individu terhadap keadaan psikis dirinya, seperti rasa percaya diri, harga diri, serta kemampuan dan ketidakmampuannya.


Pembentukan konsep diri

Pembentukan konsep diri merupakan proses yang berkelanjutan dan terjadi seumur hidup manusia. Namun konsep diri dapat berubah-ubah sesuai dengan keinginan orang yang bersangkutan. Mungkin kita perlu tahu kapan awalnya konsep diri lahir dan bekembang dalam diri kita. Apakah sudah ada sejak lahir?
Ternyata tidak.

Konsep diri tidak muncul pada saat kita lahir. Konsep diri muncul seiring dengan kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu. Konsep diri sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain. Orangtua, teman sebaya, masyarakat, guru dan lainnya dapat mempengaruhi konsep diri. Pola asuh orangtua berperan sangat signifikan dalam pembentukan konsep diri. Informasi dai orangtua, misalnya, akan lebih tertanam di benak anak daripada lingkungannya. Beberapa mungkin terlupa, tapi akan ada saat dewasa kelak ia mengingatnya sehingga anak kembali ke jalur yang diharapkan oleh orangtua. Pola asuh otoriter atau pengabaian orangtua akan membuat anak miskin informasi tentang diri sehingga ia berkonsep diri negatif.



Pembentukan konsep diri juga dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan sekitar. Tanggapan akan menjadi cermin untuk menilai dan memandang dirinya. Tanggapan positif akan membentuk konsep diri positif.



Burns (1993) bahwa keberhasilan belajar, kenyataannya tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan tetapi juga oleh variabel non kognitif seperti kepribadian dan konsep diri. Konsep diri merupakan hal penting dalam membentuk tingkah laku,   sehingga terkait dengan dunia pendidikan.



Konsep diri dan kemandirian belajar

Konsep diri dan kemandirian belajar
Sumber foto: Freepik
Kita semua tentu sepakat bahwa kemandirian belajar adalah kunci para siswa berprestasi. Ternyata, kemandirian belajar berkorelasi dengan konsep diri positif. Jadi bukan hanya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi saja. Makanya, menumbuhkan kemandirian belajar adalah tugas penting orangtua dan sekolah. Begitu juga dengan pemerintah yang harus menyiapkan kurikulum belajar yang tepat.



Konsep diri termasuk dalam faktor internal tinggi rendahnya mutu pendidikan suatu bangsa. Yang lainnya adalah motivasi, minat, kemandirian belajar, dan kecerdasan siwa. Faktor eksternalnya adalah sarana prasarana, guru, orangtua, dan lain-lain. Namun, faktanya, masih banyak siswa yang belum mandiri belajar, ditandai dengan perilaku sebagai berikut:



  1. kurang bertanggungjawab terhadap jadwal belajar yang dibuat sendiri,
  2. masih tergantung pada guru/orangtua saat belajar,
  3. bersikap pasif saat proses belajar mengajar.

Bukan rahasia jika proses belajar mengajar masih berpusat pada guru di depan kelas. Siswa pasif, hanya mau belajar jika disuruh, adalah contoh lainnya. Hal ini membuat potensi dan bakat anak sulit dinaikkan. Anak dengan konsep diri positif akan cenderung memiliki tingkat kemandirian belajar yang tinggi. Sebaliknya, siswa dengan konsep diri rendah akan cenderung memiliki tingkat kemandirian dalam belajar yang rendah pula. Bagaimana baiknya?

Kesimpulan

Kembali ke kasus si tengah yang mengalami lonjakan prestasi saat kelas 5 lalu turun drastis di kelas enam. Saya melihat salah satu unsur yang mempengaruhi adalah belum kuatnya konsep diri dalam diri anak. Tentu saja ada faktor lain, yaitu lemahnya sifat kompetitif, kekurangdisiplinan belajar di rumah, juga pengaruh jatah gawai sehari 2 jam yang kami tetapkan.

Saya tak pernah menyalahkan ketidaktahuan gurunya, tentang bagaimana pujian sekelas bisa berarti mempermalukan si tengah sehingga ia mogok belajar pada saat itu sampai jam pelajaran berganti. Pujian tulus akan lebih mudah diterima. Contoh termudah adalah dengan menyapa di pagi hari dan berkata, “Nanti di kelas belajar dengan baik, ya...” atau “Hari ini Mas B tampak semangat belajar,” tentu lebih masuk sebagai penyemangat agar terbentuk konsep diri positif. Hal ini dilakukan oleh guru kelas limanya, yang sesekali memanggil di kantor untuk diajak berbicara dari hati ke hati. Tak heran jika ia melesat prestasinya, dari anak pupuk bawang menjadi anak yang diharapkan.

Kelas 6 sebentar lagi usai. Saya masih “menggarap” konsep pribadi positif untuk si tengah yang bahasa cintanya pujian dan makanan enak ini. Ia harus belajar tentang konsep diri agar bisa melejitkan potensi diri dan prestasi belajarnya.

Sumber bacaan:

  1. Burns, R. B. 1993. Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan, dan Perilaku. Alih bahasa: Eddy. Jakarta: Arcan.
  2. Hurlock, Elisabeth. B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
  3. Novilita, Hairina. 2013. Konsep Diri Adversity Quotient dan Kemandirian Belajar Siswa. Jurnal Psikologi. Volume 8 No. 1, April 2013: 619 – 632.
  4. http://www.psikologikita.com/?q=psikologi/konsep-diri

Post a Comment

33 Comments

  1. Yang bikin ipeh penasaran justru kelas ibu profesionalnya. Jadi pengen kepoin lebih dalam.

    Masalah konsep diri ini apa masih bisa juga dipakai untuk orang dewasa ya mak? Jadi pengen baca buku materi konsep diri ini

    ReplyDelete
  2. Waw .. Lengkap. Konsentrasi parenting.

    ReplyDelete
  3. Mengajarkan anak mengenal dirinya sendiri itu PR banget ya Mba Sus. Saya kadang juga ada takut, kepikiran kalo anak saya nanti menjadi apa yang orang tuanya mau, bukan apa yang dia mau. Makanya mumpung masih baru mau 4 tahun, saya arahkan puteri saya menjadi general dulu, kenal semuanya dulu, baru nanti dia membuat pilihan untuk dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  4. Jadi inget si tengah saya mbak. Ia yang paling unik di antara abang dan adiknya. Memang butuh semedi untuk bisa mempelajari karakternya yang suka cari perhatiannya besar sekali. PR saya nih mengajarkan konsep diri yang baik untuknya.

    ReplyDelete
  5. Rasa2nya aku juga masih punya konsep diri negatif, seperti susah menerima kritik. Tapi menurut aku, susah menerima kritik ini relatif sih, bagaimana cara penyampaiannya.

    Apakah mungkin konsep diri ini sifatnya netral, jd tergantung situasi dan kondisi, endingnya bisa positif atau negatif?

    ReplyDelete
  6. Hmmm, saya tersentil nih jadinya. Anak-anak di rumah maunya belajar sambil ditemani mamanya. Nggak mesti ngajarin kasih tahu isinya. Pokoknya mamanya harus ada di dekat mereka. Mungkin soal kenyamanan. Tapi jadi nggak mandiri. Jarang banget mereka belajar sendiri tanpa ajak saya.

    ReplyDelete
  7. Ilmu lagi nih buat mendidik anak, sekaligus mendidik diri jadi lebih baik.
    Btw, saya juga kadang nggak suka di kritik, apalagi kritik pedas, kadang masih baper gitu hahaha

    ReplyDelete
  8. Makasih banyak mbak susi, daoat ilmu lagi tentang pengasuhan anak. Tapi sepakat mb keberhasilan seorang anak itu gak hanya tergantung pada kecerdasaan saja tapi juga konsep diri dan kepribadiannya (akhlak)nya juga. Makanya seringkalijadi iorang tua mesti sadar ya mbak, beda anak beda juga semuanya

    ReplyDelete
  9. Saya baru tau mengetahui soal konsep2 ini yg ternyata penting utk dipelajari lebih lanjut, apalagi anak2 perlu pendekatan khsus dalam segala hal agar dapat membentuk karakter mereka ke arah yg lebih baik

    ReplyDelete
  10. Setiap anak memang unik dna memiliki karakter berbeda ya, Mbak Susi. Bahkan anak kembar pun bisa beda. Jadi saat sesuatu diberikan kepada 10 anak, mungkin 2 yang segera mengerti, 6 butuh beberapa saat baru mengerti, 2 lagi butuh pengulangan untuk mengerti.
    Dan untuk si tengah, saya merasa, harusnya si guru mengajak si tengah ke suatu tempat, berdua saja, lalu dipuji dengan tulis atau diberi semangat untuk giat belajar. kalau dibilangin di depan teman sekelas, memang anak jadi malu, karena seakan ditunjukkan kekurangannya di depan teman-temannya. Bahkan kalau yang teman usil, bisa jadi bahan bullyan.

    ReplyDelete
  11. Hum, tiap anak mempunyai pola pikir dan butuh perhatian tertentu ya mba sesuai karakternya. Keren mba solusinya

    ReplyDelete
  12. Setuju banget, tiap anak unik jadi ya gak bisa disamakan kondisinya semua
    Tapi memang sih kadang bikin geregetan di saat-saat tertentu ya
    Apalagi kalau anaknya kinestetik banget kayak anak aku, duh itu gak ada cerita duduk manis sampai 10 menit. Bergerak teruuuus, meskipun sedang belajar haha

    ReplyDelete
  13. Aku setuju banget dengan konsep setiap anak unik. Tapi mbak kalau melihat keunikan anak sejak dini bisa gak ya? Soalnya anakku masih kecil banget.

    ReplyDelete
  14. Anak sulung saya waktu awal SD terus menurun semangat belajarnya. Saya kira awalnya karena dia mesti adaptasi karena sebelumnya SD di Amerika. Karena memng kemampuan adaptasi tiap individu berbeda mungkin ya. Dan, ternyata ini berlangsung lama. Hingga kelas 4 dia dapat wali kelas yang beneran ngemong. Saya selalu dikabari oleh guru ini. Saya lihat anak saya pun makin membaik kemampuan akademisnya. Hingga di kelas berikutnya ada perubahan lebih baik.
    Semoga Mas B segera melejit lagi potensinya ya, Mbak Susi. Memang perlu penanganan konsep parenting berbeda di tiap anak ya.

    ReplyDelete
  15. Bagus artikelnya. kata bu Dorothy "Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai". Menghargai diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  16. Jaman saya dulu, ortu saya mana kepikiran mau parenting, kl malam suruh ngaji, blajar n tidur. Trus patokannya raport huhu

    ReplyDelete
  17. Baru tahu ada istilah konsep diri negatif dan positif mb. Pantesan saya perhatikan mb susi ga pernah ikut lomba blog y mb.

    Memiliki anak memang membuat semua ibu belajar ya mb, belajar bahwa anak memiliki nilai uniknya sendiri. Tidak bisa dipaksakan seperti yang kita inginkan. Kita hanya bisa memberikan arahan yang baik.

    ReplyDelete
  18. Sebagian orang malah sampe dewasa gak punya self concept, Mbak. Jdnya gak paham potensi dirinya. Jd sulit melejitkan potensi diri kan, wong konsep dirinya gak jelas, hehe. Tfs Mbak, salam iper

    ReplyDelete
  19. Jadi tambah ilmu lagi nie mengenai konsep diri untuk melejitkan potensi belajar anak , ini merupakan PR juga buat ortu ya masih ada kan orangtua yang selalu memanjakan anak sehingga menjadi tak mandiri, tergantung sama ortu.

    ReplyDelete
  20. Saya dengan kakak saya sangattttt berbeda sekali. Bagaikan langit dan bumi. Begitu pula dengan anak-anak walaupun dia itu bersaudara sekalipun. Pastinya akan berbeda dengan keunikannya masing-masing.

    ReplyDelete
  21. Secara tidak langsung konsep diri positif dan negatif akan berpengaruh pada kehidupan anak ya mbak. Meski sebenarnya yang negatif bisa kita ubah kalau kita selalu membisikkan kalimat optimis/postif pada anak

    ReplyDelete
  22. Setuju dengan konsep diri . Ini harus dikembangkan sejak dini. Btw sy pernah belajar graphology ttg tulisan tangan yg bisa mengendalikan konsep diri. Bagus untuk anak2 mumpung mereka blm bnyk terpengaruh dengan konsep orang lain.

    ReplyDelete
  23. Beruntung bagi yang bisa menemukan konsep dirinya. Dia bisa memaksimalkan potensinya. Setiap anak punya keunikan ya. Makasih Bu artikelnya

    ReplyDelete
  24. Ah Nemu harta Karun lagi tentang pengasuhan anak di sini. Makasih, mbak tulisan mbak bisa buat tambah bekal saya membesarkan anak2

    ReplyDelete
  25. mbak aku juga pernah baca ttg konsep diri ini. sebelum tahu ini aku sering bertanya2 mengapa banyak karakter orang berbeda, jika dihadappi sebuah problematika ada yang maju terus, biasa aja atau malah ketakuatan. ternyata ya dari rumah sangat besar ya peranan membentuk konsep diri ini

    ReplyDelete
  26. Bener banget ini bahwa tiap anak itu unik. Saya sendiri selaku guru menghadapi ratusan anak dengan berbagai karakter tiap hari di sekolah. Dimensi konsep diri ini juga bagus dipelajari yah biar makin paham untuk melejitkan potensi.

    ReplyDelete
  27. Lengkap banget mbak artikelnya, bagus nih buat rekomendasi parenting buat orang tua

    ReplyDelete
  28. Mbak, artikelnya menarik sekali. Kadang saya berpikir, apakah saya juga punya konsep diri negatif. Saya tidak mudah mengeluarkan pujian, meskipun saya tahu orang memiliki kelebihan. Karena saya juga tidak suka pujian langsung. Saya merasakan itu palsu. Misalnya di dalam rombongan, semua memuji seseorang secara langsung, saya akan bilang, saya tidak bisa memuji, tapi saya yakin kamu tahu, bagaimana pendapatku terhadapmu. Saya memujinya tanpa perlu dia tahu saya memujinya, mendoakannya, yakin dia adalah orang baik. Sementata, bila ada yg melenceng, saya dikenal paling keras mengkritik, sementara yg lain menyatakan tidak apa2 atas perbuatannya. Membuat ia merasa nyaman dengan status melencengnya itu. Apakah di sini saya termasuk hiperkritik?

    ReplyDelete
  29. Mengenali anak secara personal, benar-benar diperlukan dan tidak bisa diambil sikap sama rata dengan anak lain. Apalagi saat anak masih usia SD, maka guru harus benar-benar masuk ke dalam diri si anak.

    ReplyDelete
  30. Setiap anak memang unik. Pasti punya potensi dibalik keunikannya tersebut

    ReplyDelete
  31. Memang setiap anak punya karakter yang unik ya Mbak, sehingga pendekatan yang cocok padanya juga mesti berbeda.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)