Tahun ajaran baru 2021-2022 akan segera tiba. Siap tidak siap harus siap. Bahkan ketika pihak sekolah mengabarkan bahwa mungkin PTM akan diberlakukan. Setelah setahun dag-dig-dug anak masuk sekolah (PTM) di antara PJJ, akhirnya saya hanya bisa menyerahkan pada keputusan sekolah dan mempercayai anak bisa mematuhi protokol kesehatan. PJJ Atau PTM, Kami Siap!



Benarkah? Bisa dikatakan begitu. Tidak ada lagi perasaan dag dig dug. Kami tahu kondisi kesehatan kami termasuk bagus. Tidak ada komorbit atau penyakit penyerta yang membahayakan nyawa jika terkena virus ini. Yang kami khawatirkan adalah jika menjadi OTG dan menularkan ke orang lain. Makanya saat tahu syarat sekolah boleh memberlakukan PTM, kami memasrahkannya pada para pemangku jabatan baik di pemerintahan, maupun instansi sekolah.


DnB Susindra dan jenjang pendidikan mereka

Lama saya tak menyebut DnB Susindra, yang berarti Destin dan Binbin Susindra. Nama dua anak saya yang sekarang sudah remaja. Destin berusia 16,5 tahun dan Binbin berusia 13 tahun. Mas D si mbarep tahun ajaran ini masuk kelas 2 SMK jurusan Animasi, sementara Mas B si tengah menjadi siswa MTs kelas dua. Keduanya secara umum tahu protokol kesehatan, terutama pakai masker dan membawa hand sanitizer, serta tidak berkerumun. 

Oh, maaf, sedikit revisi tentang berkerumun. Si tengah masih senang dolan ke rumah temannya dan duduk terlalu dekat karena ia anak ekstrovert dengan kecerdasan intrapersonal. Sulit membuatnya anteng di rumah. Berbanding terbalik dengan Mas D yang nyaris tidak pernah keluar kecuali ke sekolah, jumatan, dan tahlilan di rumah tetangga. Ini sudah jadi kebiasaannya sejak masuk SMP. 

Orang Jawa bilang, "Wayang sak kotak ora ana sing padha."


Kondisi sekolah si mbarep

Sekolah si mbarep nyaris tidak pernah melakukan kegiatan tatap muka. Seingat saya ia hanya ke sekolah 3 kali saja selama setahun. Semua pelajaran secara daring. Terkadang saya berpikir bagaimana mengajari menggambar tanpa bertemu sekalipun. Saya bicara tentang posisi tangan saat menggambar, bukan hasil akhir sesuai tugas. Saya simpan sendiri saja, karena pastilah – lagi-lagi – pihak sekolah lebih paham. Melihat nilai si mbarep A dan B+, saya cukup terkejut juga. Ia memang anak yang tekun.



Kondisi sekolah si tengah

Sekolah si tengah pada tahun ajaran kemarin memberlakukan PJJ dan PTM secara bergantian. Sekolah mempunyai standar kenaikan kelas sendiri, yaitu nilai minimal untuk pelajaran keislaman. Si tengah memang bersekolah di MTs. Tak banyak orangtua yang bisa menjadi guru pengganti untuk pelajaran bahasa Arab, Alquran, Fikih dan Akidah. Saya salah satu yang tidak mampu. Alasan lainnya adalah kemandirian anak dalam mengerjakan tugas. Saya lihat dari tugas di Google Classroom untuk mapel IPS adalah jawaban langsung dan tingkat mengerjakan tugas para siswa kelas tujuh kurang dari 50%.

Anak SMP rasa SD, ya. Mereka belum sempat merasakan bangganya berganti seragam merah putih menjadi biru putih. Dan, perubahan dari anak-anak ke remaja awal bukanlah hal yang mudah, selain jumlah kepemilikan gawai di desa memang tidak banyak. 



Ini foto Mas DnB terbaru, lebaran lalu. Mohon maaf, mereka sama sekali tidak suka difoto dan lebih-lebih tidak mengizinkan foto mereka beredar. Foto yang ini hasil bujuk rayu pada hari raya sehingga diizinkan.

Si kecil itu putra ketiga kami. Saat ini berusia 2,5 tahun dan "sekolah" di rumah. 


Paradigma Pembelajaran Jarak Jauh: Antara Harapan dan Kenyataan

Tanggal 5 Juni 2021 pukul 10.00-12.00 WIB lalu, saya ikut sebuah webinar yang diadakan oleh Faber Castell bertema “Refleksi Pendidikan Indonesia: Diantara PJJ dan PTM”. Webinar ini sangat menarik, terutama ketika narasumber memaparkan tentang “Paradigma Pembelajaran Jarak Jauh: Antara Harapan dan Kenyataan”. Saya jadi tahu apa yang terjadi dengan dunia pendidikan dengan lebih baik.

Sudah tahun kedua, pembelajaran jarak jauh atau PJJ berlangsung dan menjadi metode belajar anak. Ternyata pelaksanaannya masih carut-marut. Waktu yang dilalui belum cukup untuk membuat tujuan pendidikan tercapai secara global. Problematika PJJ terlalu luas sehingga antara harapan dan kenyataan cukup sulit untuk diselaraskan. Benarkah? Bukankah seharusnya belajar itu menyenangkan?


A. Pendidikan adalah usaha bersama

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, atau biasa disebut UU SISDIKNAS, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Bahasa ringannya, pendidikan adalah proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien sebagai manusia. 



Masalahnya adalah, pandemi Covid-19 ini datang di saat pendidikan di Indonesia belum siap dengan sistem pendidikan jarak jauh. Pemerintah sudah mempunyai undang-undang tentang pendidikan jarak jauh atau PJJ namun ditujukan untuk perguruan tinggi, yaitu Undang-Undang Perguruan Tinggi nomer 12 tahun 2012, pasal 31 dan Permendikbud No. 109/2013 (Pasal 2). 

Bagaimana jika PJJ yang dipersiapkan untuk pelajar dewasa diterapkan pada semua level, dari mulai PAUD sampai perguruan tinggi? Tentunya bisa dimaklumi jika pelaksanaannya berdinamika. Guru tidak siap masih bisa ditatar secara berkala. Bagaimana dengan orangtua yang menjadi ujung tombak pendidikan jarak jauh dan tidak mendapatkan penataran apapun? Juga bagaimana siswa yang tiba-tiba merasa dikurung di rumah?

Mari kita lihat kondisi umum siswa, orangtua, dan pendidik di Indonesia, yang saya kutip dari materi Paradigma Pembelajaran Jarak Jauh: Antara Harapan dan Kenyataan


B. Masalah siswa dan peran idealnya

Masalah siswa memang beragam, bergantung pada kondisinya, lingkungannya, dan bagaimana ia memandang pendidikan yang sedang ia tempuh. Apakah sebagai beban, hak, atau kewajiban? Jawabannya akan sangat beragam. Namun kita bisa menemukan beragam masalah yang menjadikan PJJ tidak berjalan dengan mulus, yaitu:

  1. Lemahnya motivasi belajar, apalagi menganggap pemberian tugas dirasakan berat. 
  2. Kemampuan anak menggunakan perangkat pembelajaran minim. 
  3. Distorsi  dengan permainan online ketika belajar menggunakan gadget . 
  4. Paradigma tidak pergi sekolah adalah libur masih tertanam pada siswa. 
  5. Kurangnya sosialisasi sehingga membuat  pembelajaran terasa berat. 
  6. Monotonnya pemberian tugas .

Permasalahan siswa di atas, bukan hanya terjadi karena faktor si anak itu sendiri, yaitu lemahnya motivasi belajar, akan tetapi juga karena ada kesenjangan tujuan dan harapan antara orangtuanya dengan pihak sekolah tempatnya belajar. Sedikit sekali sekolah yang memaparkan ke orangtua murid tentang apa yang menjadi tujuan dan harapan sekolah serta memberikan bimbingan cara mencapai bersama-sama.

Di balik segala permasalahan di atas, sebenarnya kunci jawabannya ada pada peran siswa itu sendiri. Peran yang diharapkan mampu ditanggung oleh siswa. Apakah itu?

  1. Sebagai siswa yang bertanggung jawab, yaitu pribadi yang memiliki kesadaran dan keberanian menanggung semua kewajibannya;
  2. Sebagai siswa yang inovatif, yaitu mampu menambah pengetahuannya secara mandiri dengan cara bervariasi;
  3. Sebagai siswa yang inquiry, yaitu siswa yang tahu kebutuhannya, mampu mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya secara sistematis.
  4. Sebagai siswa yang baik berkomunikasi, yaitu kemampuan menyampaikan berbagai tanda komunikasi baik verbal maupun nonverbal dengan baik dan sesuai norma yang ada.

Sudahkah 4 peran ideal di atas tercipta? Mari merenungkan ke dalam diri kita sendiri untuk mencari jawabannya.



C. Masalah orangtua dan peran sentral mereka

Orangtua murid dengan segala kondisi dan permasalahannya juga tak luput menjadi salah satu penentu dinamika pendidikan jarak jauh. Secara umum, orangtua di Indonesia masih gagap teknologi pendidikan, dan belum siap menjadi guru bagi anak. 

Berbeda dengan konsep Islam yang menyatakan bahwa rumah adalah madrasah, ibu adalah guru utama dan pertama, dan ayah adalah kepala sekolah yang memiliki tanggung jawab terbesar dalam proses pendidikan di rumah. 

Orangtua di Indonesia secara mayoritas “buru-buru” menyekolahkan anaknya, di jenjang pendidikan paling awal yang ada di kotanya. Peluang ini ditangkap dengan sangat baik sehingga muncul tempat penitipan anak dan PAUD yang menjadi institusi pendidikan anak paling awal.

Tentu saja, hal ini adalah salah satu solusi bagi para orangtua yang bekerja. Saya paham sekali tentang hal itu.

Sekarang, jika kita lihat kembali, sebenarnya apa sih permasalan para orangtua?

  1. Kendala dalam penyiapan fasilitas, 
  2. Belum mengetahui secara rinci platform dan troubleshooting
  3. Kendala prilaku anak,
  4. perbedaan pola target pembelajaran antara guru dan orang tua, 
  5. Belum dapat menjadi motivator, 
  6. Beratnya menerapkan displin pada anak,
  7. Waktu yang terbatas. 

Dengan saratnya permasalahan di atas, PJJ bisa menjadi tidak efektif. Dalam sebuah kegiatan tatap muka sebuah sekolah unggulan, menurut cerita rekan saya, para orangtua murid meringis berjamaah ketika kepala sekolah mengatakan, “Anak-anak sekarang sangat pintar ya, Pak, Bu, nilai mereka sembilan-sepuluh semua.”

Mengapa demikian? Pastilah tahu jawabannya.

Sebenarnya, apa sih peran orangtua dalam pendidikan anaknya, terkhusus peran yang diharapkan dilakukan oleh orangtua pada pembelajaran jarak jauh? Mari kita urai bersama.

  1. Sebagai pembimbing, artinya, orangtua harus bisa mendampingi dan membimbing anaknya dalam belajar, serta memberikan bantuan kepada anak ketika mengalami kesulitan. Hanya sebatas itu, bukan membantu mengerjakan tugas. 
  2. Sebagai fasilitator, artinya, orangtua membantu anak memfasilitasi kegiatan belajarnya, termasuk membantu membuat rencana belajar atau mengenalkan metode belajar tanpa mengambil posisi sebagai pembelajar seperti anaknya. Jadi fungsinya sebagai pendamping teknis belajar. Jadi tugas orangtua sebagai fasilitator tidak berhenti dengan memberikan gawai atau kebutuhan belajar saja.
  3. Sebagai pengawas, yaitu pemantau pelaksanaan belajar anak serta tindakan pengawasan lainnya, termasuk di antaranya adalah evaluasi pasca belajar.
  4. Sebagai motivator, yaitu memberi motivasi belajar kepada anak dalam bentuk penjelasan tujuan belajar, jika perlu reward apa yang akan diberikan jika tugas selesai.




D. Masalah guru dan peran barunya

Guru mungkin menjadi komponen sekolah yang paling banyak mendapatkan penataran dan aneka penambahan kompetensi mengajar. Namun pemberian tambahan kompetensi ini juga terjadi secara bertahap, sehingga aneka dinamika PJJ juga terjadi. Misalnya:

  1. Pemberian materi dengan berbagai platform, namun guru belum memahami trouble shooting
  2. Pembelajaran masih belum bisa menciptakan bonding walau pembelajaran jarak jauh, 
  3. Kreativitas guru beragam, 
  4. Pembelajaran belum menarik dan menyenangkan. 

Meskipun peran guru tidak menjadi sentral dalam pembelajaran jarak jauh, karena sudah digantikan oleh orangtua, namun 5 peran orangtua di atas sudah seharusnya diambil pula oleh para guru. Karena pendidikan anak adalah tugas kita semua, dan profesi guru sebagai salah satu ujung tombak pendidikan takkan pernah tergantikan. 


Gap dan adaptasi “kurikulum darurat”

Jika antara siswa, orangtua dan guru ada peran dan masalah mereka masing-masing, di dunia pendidikan juga muncul gap atau jurang pemisah yang bisa membuat PJJ mendapatkan hasil beragam. Salah satu peyebab gap yang paling besar adalah ketimpangan infrastruktur pembelajaran di sekolah.

Kondisi sekolah di Indonesia sangat beragam. Antar daerah juga memiliki infrastruktur yang berbeda. Padahal, sifat dari kurikulum pendidikan Indonesia selama ini yang sering terpusat pada pendekatan, buku ajar, dan silabus. Masih pula ditambah perbedaan sosial budaya antar daerah. Bahkan pelaksanaan “kurikulum darurat” juga menjadi bias di tahun ajaran 2020/2021.

Kurikulum darurat menetapkan 3 opsi yaitu opsi pertama, satuan pendidikan tetap menggunakan kurikulum nasional. Opsi kedua adalah menggunakan kurikulum darurat bagi satuan pendidikan yang membutuhkan kurikulum dengan standar dan kompetensi dasar yang lebih sederhana. Opsi ketiga adalah satuan pendidikan melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

Untuk menjembatani gap ini, sebenarnya Mendikbudristek Nadiem Makarim kembali memberikan 3 skema adaptasi kurikulum darurat, yaitu:

  1. Sekolah dapat tetap melaksanakan Kurikulum 2013 (K13) tanpa pengurangan materi
  2. Sekolah mengurangi Kompetensi Dasar di mata pelajaran tertentu hingga 30% di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
  3. Sekolah menyederhanakan kurikulum secara mandiri - yang memberi keleluasaan penuh untuk mengadaptasi kurikulum sesuai kondisi lokal mereka.

Dengan tidak adanya kewajiban standar nasional tentang capaian tertentu untuk kenaikan kelas dan kelulusan, sekolah dapat mendesain kurikulumnya sendiri sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kebutuhan daerahnya.




PTM di masa pandemi 2021?

Kita sudah samppai pada sumber antusiasme sekaligus keresahan berjamaah para orangtua di tahun ajaran baru. PJJ dengan evaluasi ajaran sebelumnya atau PTM dengan adaptasi kembali?

Kembali mengutip pernyataan Mendikbudristek Nadiem Makarim yang mewajibkan setiap sekolah memberikan opsi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas paling lambat Tahun Ajaran 2021/2022, apabila guru dan tenaga kependidikannya sudah divaksinasi. Pernyataan ini tentulah didasarkan pada evaluasi belajar tahun sebelumnya dan untuk menjawab banyaknya jeritan para siswa, orangtua dan guru yang menginginkan pendidikan tatap muka.

Teriakan kebosanan membahana di media sosial. Anak merasa dirinya terbelenggu dengan adanya pembelajaran jarak jauh. Para orangtua tak kalah seru menyuarakan keinginannya untuk kembali “bebas” dari peran mereka sebagai guru utama anak. 

Sebagian guru juga mengeluhkan capaian belajar anak yang mayoritas termasuk rendah, termasuk kecemasan semua pihak akan adanya lost generation. Kekhawatiran ini terjadi karena:

  1. Banyak murid yang mengalami stres karena harus belajar daring. 
  2. Banyak murid yang terbebani secara mental karena kondisi belajar mengajar tidak dinamis, tidak bertemu teman, dan kebosanan selalu di dalam rumah. 
  3. Banyak a murid nak-anak yang juga tertinggal dalam pembelajaran.


"Penundaan pembukaan sekolah bisa berdampak panjang."

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kesehatan murid. Sudah 1,5 tahun ajaran dan itu artinya sudah 1,5 tahun anak sekolah tidak bisa melakukan kegiatan sekolahnya secara normal. Mereka butuh guru yang menjadi sumber informasi paling dipercaya oleh anak. Mereka butuh berjalan-jalan atau berlarian di sekolah. Mereka butuh bersosialisasi dengan teman sebagaimana fitrah mereka. Dan terlebih, mereka butuh jam biologis yang benar dengan adanya aktivitas berangkat sekolah.

Suka atau tidak, ada fakta baru yang terjadi yaitu jam tidur anak berubah menjadi lebih malam karena perasaan “libur” menahun. Jam biologis menjadi terganggu. Depresi menjadi ancaman nyata.

Berikut ini adalah 2 infografis untuk pelaksanaan PTM yang ditetapkan di Indonesia dan disampaikan oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim:







PTM 2021/2022 masih menggunakan SKB 4 Menteri yang diterbitkan pada 30 Maret 2021 terkait Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

Kebijakan ini mendapatkan kritik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan meminta agar dipertimbangkan kembali. Alasannya karena data nasional saat ini menunjukkan kasus Covid-19 pada anak usia 0-18 tahun, yakni 12,5 persen. Artinya 1 dari 8 kasus [Covid-19 Indonesia] ini adalah anak, dan jumlah anak yang meninggal adalah 3-5% dari jumlah tersebut. 

Hal ini terjadi karena kondisi penanganan Covid-19 pada anak di Indonesia masih belum maksimal. Aman menyebut sejauh ini masih banyak ruangan Intensive Care Unit (ICU) untuk merawat anak tidak tersedia di berbagai rumah sakit. Pun obat-obatan khusus untuk anak banyak yang tidak tersedia.

Demikian ringkasan alasan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan pada sebuah acara daring yang saya kutip dari artikel “IDAI Minta Pembukaan Sekolah Juli Nanti Dipertimbangkan Lagi” di CNN. 

Tanpa bermaksud menakut-nakuti jika saya sebutkan di sini, akan tetapi inilah kenyataan dan risiko yang ditanggung jika PTM atau pembelajaran tatap muka diberlakukan di tahun ajaran 2021/2022. Saya sendiri sebagai orangtua murid menyatakan, “PJJ atau PTM, saya siap!” karena saya memandang pendidikan sebagai hak anak dan usaha bersama untuk menghasilkan manusia dan berdaya guna dan tahu perannya di dunia ini.

Manajemen risiko untuk PTM masih seperti sebelumnya, yaitu 3M+3T. 3 M adalah memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, sedangkan 3T adalah testing, tracing dan treatment. Terkhusus untuk guru, harus sudah mendapatkan vaksinasi. 

Belajar dari pelaksanaan PTM di Singapura yang saat ini menjalankan circuit break atau lockdown parsial fase 2 sejak Mei hingga Juni ini. Pemerintah Singapura menyimpulkan bahwa Home Base Learning (HBL) yang di Indonesia disebut Belajar dari Rumah (BDR) tidak efektif, sehingga HBL adalah alteratif terakhir. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Singapura dalam siaran diskusi publik berjudul “Kelayakan PTM Terbatas di Tahun Ajaran Baru 2021” pada hari Senin 7 Juni 2021 lalu. 



Dalam diskusi tersebut diperkenalkan manajemen risiko untuk PTM, yaitu:

  1. Ketat menerapkan cuci tangan, jaga jarak, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan.
  2. Setiap satu mata pelajaran usia, siswa mengelap permukaan meja dan peralatan yang ia gunakan, lalu mencuci tangan, sebelum meninggalkan ruangan kelas. 
  3. Saat bermain, anak-anak menggunakan ruang kelas dan dianjurkan mencuci tangan dengan sabun dan air setelah bermain.
  4. Saat olahraga, siswa tidak mengenakan masker. Adapun olahraga yang diizinkan yakni olahraga dengan jarak berjauhan, seperti bulu tangkis dan tenis.
  5. Saat istirahat makan di kantin, siswa menerapkan jaga jarak sesuai markah yang diberikan di area lantai kantin. Anak-anak didorong juga untuk menggunakan face shield di kantin selama makan dan minum. 
  6. Permukaan area umum sekolah seperti kantin dan area lainnya juga rutin dibersihkan sebagai pencegahan risiko.



Solusi (belajar online) Faber-Castell 

Pembelajaran tatap muka mungkin tidak dilaksanakan 100% mengingat kondisi saat ini. Pembelajaran jarak jauh masih akan menjadi opsi yang dipilih. Apapun pilihan sekolah terdekat kita, Faber Castell punya solusinya, yaitu paket belajar online. Apa itu? 

Bermula dari evaluasi hasil pembelajaran sebelumnya, ditemukan beberapa masalah yang berasal dari gawai para siswa yang menjadi hambatan. Masalahnya bukan pada kecanggihan gawai, ya.

Saat melakukan tes apalagi PAT atau penilaian akhir tahun, ada saja kendala murid berupa susah sentuh layar ponsel pintar karena:

  1. Tangan licin 
  2. Layar ponsel terlalu kecil

Dua hal di atas bisa menjadi masalah jika sistem evaluasi pembelajaran masih dilakukan secara daring. Product Manager PT Faber-Castell International Indonesia, Christian Herawan menjelaskan bahwa Paket Belajar Online Faber-castell memang di ciptakan berdasarkan hasil survei yang ada di masyakat, khususnya terkait proses pembelajaran jarak jauh, dan gawai yang di perangkat utama Pembelajaran Jarak Jauh, yang dinilai kurang optimal dalam mendukung kegiatan pembelajaran.

Faber Castell membuat paket belajar terlengkap saat ini, berupa pensil, rautan, penghapus, ballpoint dan stylus. Stylus Faber Castell memiliki banyak fungsi dan keunggulan yaitu sangat cocok untuk segala jenis ujian. Jawaban pilihan maupun essay bisa dikerjakan dengan menggunakan stylus, karena berfungsi untuk menggeser layar dan menulis. 

Tes memakai stylus untuk menggambar



Jadi, Paket belajar online Faber-Castell ini merupakan solusi lengkap untuk dari tingkat Sekolah Dasar hingga mahasiswa.

Detail Produk:

  1. Paket belajar online paling lengkap di masa pandemi
  2. Stylus bisa dipakai untuk menulis, tanda tangan, scroll halaman dan memilih jawaban pilihan ganda.
  3. Stylus bisa dipakai di semua merk ponsel pintar.
  4. Tersedia alat tulis lain (pensil, pen, penghapus, rautan) sebagai pendukung pembelajaran online.
  5. Sudah termasuk pencase.


Kelebihan stylus yang ada di paket Belajar Online milik Faber Castell adalah karet stylus yang bertekstur lembut sehingga tidak akan merusak layar ponsel pintar dan dapat digunakan di semua jenis atau merek. Semua jenis merk, ya. Dan paket ini bisa dibeli di semua official store Faber-Castell di Tokopedia, Blibli, Bukalapak, dan Lazada. Wow lengkap! 

Apakah bisa dibeli langsung di toko terdekat? Tentu saja! Toko tradisional dan modern terdekat juga menjualnya. Silakan cek di toko sebelahmu, ya…


Sumber data pendukung:

  1. https://pjj.pens.ac.id/
  2. https://theconversation.com/sekolah-perlu-terapkan-kurikulum-mandiri-saat-pandemi-bukan-kurikulum-darurat-anjuran-mendikbud-nadiem-144742
  3. https://edukasi.kompas.com/read/2020/08/12/074906871/kemendikbud-kurikulum-darurat-untuk-kurangi-beban-guru-dan-siswa?page=all
  4. https://nasional.tempo.co/read/1381272/tiga-opsi-kurikulum-darurat-di-masa-pandemi
  5. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210618133607-284-656193/idai-minta-pembukaan-sekolah-juli-nanti-dipertimbangkan-lagi
  6. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210505135149-20-638876/khawatir-kesehatan-mental-murid-nadiem-ngotot-buka-sekolah
  7. https://www.detik.com/edu/sekolah/d-5596753/sekolah-tatap-muka-singapura-sekolah-dari-rumah-jadi-alternatif-terakhir
  8. https://www.liputan6.com/health/read/4482031/rumus-3m3t-kunci-pengendalian-pandemi-covid-19-di-indonesia