Seminar Nasional Kartini di Pendopo Kabupaten Jepara dan Perihal Lainnya

Sabtu tanggal 16 April 2016 menjadi hari istimewa bagi saya. Pada hari itu, untuk pertama kalinya saya mengikuti Seminar Nasional Kartini di Pendopo Kabupaten Jepara dan bertemu dengan dua sineas terkenal di Indonesia. Judul dan tema seminar adalah "Spirit Kartini dalam Membangun Bangsa yang Mandiri, Kreatif dan Berkarakter". Seminar ini merupakan salah satu dari tiga puluh satu rangkaian acara di perayaan Festival Kartini IV. Syukur alhamdulillah, saya diundang sebagai salah satu peserta seminar bersama 7 teman blogger perempuan Jepara lainnya. Terima kasih tak terhingga pada Pak Hadi dan Mbak Rida yang memberi kami surat undangan. Dan syukur alhamdulillah, tanpa sengaja, saya bisa berdialog langsung bersama Hanung Bramantyo dan Dian Sastrowardoyo di Rumah Kartini.

Narasumber Seminar yang paling ditunggu
Sabtu pagi, saya memasuki gerbang Pendopo Kabupaten Jepara sendirian. Tidak benar-benar sendirian, sebenarnya, karena saya datang bersama si bungsu. Saya bertemu Jiah, Titin dan Rifati kemudian. Binbin saya minta duduk di pinggir kanan pendopo berbekal HP dan powerbank karena memang semi terbuka. Sesekali dia menyusul ke kursi. Tak apalah, keberadaannya tidak mengganggu peserta maupun panitia, dan saya pantau terus agar tetap sopan. Di dalam tas saya masih ada enam undangan titipan teman-teman blogger. Karena kedatangan teman-teman tidak bersamaan, bisa dibayangkan saya bolak-balik ke meja registrasi seminar. 


Binbin asyik duduk di undakan pendopo sementara ibunya ikut seminar.
Seminar dibuka dengan sambutan Pak Marzuki, Bupati Jepara. Secara khusus Pak Marzuki mengucapkan terima kasih atas bantuan ibu Yohana sehingga Festival Kartini IV bersifat nasional. Keistimewaan ini didapat karena Jepara merupakan memiliki pejuang atau penggiat perempuan dalam hal pendidikan, keterampilan dan sosial. Sosok Kartini membuat Jepara layak membuat event Festival Kartini bersifat nasional. Bahkan, mengukir sejarah, pada tanggal 16 April 2016 ini, Jepara didatangi 4 Menteri dalam satu hari. Untuk apa? Lagi-lagi demi mengukir sejarah. Hari itu, di alun-alun, dicanangkan GP3M nasional, yaitu Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marjinal. Adapun menteri yang datang adalah Menteri Perindustrian Saleh Husein, Menteri Pemberdayaan Perempuan Yohana Yenbise, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono, serta Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Ini prestasi tersendiri bagi Jepara, demikian ungkap Pak Marzuki dengan bangga. 

Pidato ibu Atiqoh Ganjar Pranowo mewakili Gubernur Jawa tengah sekaligus menjadi pembuka seminar. Ibu Atiqoh membaca pidato suaminya dengan lancar lalu mengetuk mike sebagai tanda seminar dapat dimulai. Acara selanjutnya adalah Keynote speech dari ibu Yohana Yanbise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ibu Yohana mengungkap bahwa pada bulan September 2015 lalu, Indonesia menjadi bagian dari negara yang mencanangkan Sustainable Development Gold (SDGs). Indonesia bersiap melangkah menuju Planet 50-50 di tahun 2030. Kita harus bangga, Indonesia menjadi salah satu negara yang masuk dalam 50 besar negara yang memenuhi 5 indikator Gender Equality. Kemajuan perempuan Indonesia dan komitmen pemerintah dalam pemberdayaan serta memajukan perempuan dinilai serius. 


  
Salah satu pernyataan ibu Yohana yang paling banyak dikutip dan diamini adalah, Save one woman, save all over Indonesia. Save one woman in Jepara, save all people ini Jepara. Keynote Speech Ibu Yohanna Yanbise pun menghangatkan suasana di Pendopo Kabupaten, karena kami para perempuan merasa istimewa. 

Usai membuka garis besar materi seminar, Ibu Yohana mengundurkan diri. Acara seminar pun dimulai. Nadia Ardiwinata, penyiar Radio Idola Semarang, yang berpenampilan sangat cantik mengarahkan diskusi menjadi lebih ringan. Pembicara pertama adalah Ibu Dyah Anita Prihapsari, ketua umum DPP IWAPI yang akrab disapa Anita. Bu Anita dengan luwes menjelaskan alasan mengapa perempuan harus menjadi pengusaha. Juga, cara memulai usaha yaitu kenali diri sendiri sebelum memulai usaha, perluas jaringan, dan penambahan modal melalui pinjaman. Perempuan itu memiliki sifat yang disukai Bank, yaitu: loyal, ulet, dan yang jelas, pasti bayar hutang. Jika Bank meminjami modal pengusaha wanita, biasanya modal akan diputar agar mendapat keuntungan. Jikapun dipakai belanja, uang yang keluar tidak seberapa dibandingkan pengusaha pria. Seloroh yang menyatakan jika pengusaha laki-laki diberi modal, bisa jadi dipakai untuk mencari istri baru disambut tawa para peserta seminar. Saya tertarik ketika Bu Anita membeberkan adanya MoU dengan Facebook untuk membuat facebook khusus perempuan. Jadi para perempuan bisa nyaman menggunakan facebook karena berada di lingkup perempuan. Sayang sangat sedikit informasi mengenai itu dan ketika sesi bertanya dibuka, peserta lebih fokus ke Dian Sastro dan Hanung yang menjadi bintang di seminar tersebut. 



Hanung Bramantyo, sutradara jenius dari Indonesia dan Dian Sastrowardoyo melanjutan sesi diskusi bergantian. Dian Sastrowardoyo menceritakan rasa bahagianya menjadi seorang istri dan sekaligus ibu. Juga rasa berterima kasihnya pada suami yang memintanya bekerja kembali di film serta usaha katering dan mukena Dian Sastro untuk lebaran 2016. Dian mengutip pernyataan suaminya, Indra, yaitu: “Perempuan lebih menarik dan seksi jika punya usaha sendiri”. Dian Sastro pun menghimbau peserta seminar yang belum menikah agar belajar sampai tuntas dan memiliki penghasilan sendiri sebelum menikah. Dian memang menjadi salah satu artis yang konsern terhadap kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. 

Hanung Bramantyo membahas mengenai sosok pahlawan Jepara yang berbeda. Ia mengaku terinspirasi dan tertarik membuat sebuah film Kartini yang berbeda dari yang sudah ada. Hanung menjelaskan bahwa sosok Kartini sedemikian unik karena ternyata, pada usia 19 tahun, Kartini sudah berhasil mengenalkan seni kriya Jepara berupa ukir dan batik di Belanda. Ratu Wilhelmina jatuh hati pada seni ukir Macan Kurung dan batik dari Jepara. Secara pribadi Hanung menyatakan bahwa salah satu momen paling membuatnya merinding adalah ketika Kartini yang berusia 4 tahun dipaksa tidur di rumah utama dan memanggil ibunya dengan panggilan Yu (panggilan bagi abdi dalem) karena statusnya sebagai Raden Ajeng. Dan, sebagai wujud pengabdian Kartini pada biyung-nya adalah, dia setuju menikah dengan Bupati Rembang Adipati Joyodiningrat dengan syarat Ibunya harus tinggal di Griyo Utomo (rumah utama). Sepenggal kisah yang jarang diketahui. 

Izin narsis berdua ya
Sampai di sini, saya jadi ingat ungkapan pak Marzuki sebelumnya, yang membeberkan syarat Kartini sebelum menerima lamaran. Beliau menyebutnya “Dari Marjinal Menuju Keseimbangan” karena peristiwa pernikahan Kartini juga menandai masuknya Ngasirah (kawulo alit, garwo ampil), ke dalam rumah utama. Saran saya, bagi teman-teman yang ingin lebih paham maksud Pak Marzuki ini, bacalah literatur feodalisme yang diatur para penjajah sehingga garis keturunan dan trah menjadi sangat penting. Bertahun-tahun para ningrat dibutakan permainan politik feodalisme ini sehingga lupa diri. Bertahun-tahun Kartini memberontak pada kewajibannya sebagai Ndoro Ayu yang harus memanggil ibunya dengan sebutan Yu seperti layaknya pembantu. Juga rasa amarah Kartini karena ibu kandungnya harus menyembah dirinya jika bertemu serta aturan feodal lainnya. Silakan dicari ya, saya akan lanjut ke acara seminar kembali.

Sesi berikutnya adalah sesi tanya jawab. Salah seorang peserta bertanya mengenai pendapat Dian terhadap aksi semen kaki para perempuan Rembang yang menyebut dirinya “Kartini Kendeng”. Jika teman-teman jeli, tentu tahu asal muasal hebohnya Dian Sastro dan urusan domestik berawal dari sini. Jawaban Dian dikutip koran Kompas seakan Dian Sastro meminta para wanita Kendeng kembali ke urusan domestik. Membaca berita tersebut tentu saja Disas sangat menyesalkannya. Dian mengirimkan surat berisi permintaan klarifikasi dan hak jawab atas pemberitaan di kompas tersebut. Sebagai salah satu peserta yang mendengar jawaban Dian Sastrowardoyo dan kesalahan kutipan di berita tersebut, tentu saja saya ikut prihatin. Juga pelajaran bagi saya agar berhati-hati dalam mengutip agar tidak membuat persepsi baru yang merugikan orang lain.

Kenang-kenangan Jblog - sandal ukir wajah - simbol kaum marjinal
Usai menjawab pertanyaan peserta seminar, peserta bergantian meminta foto bersama. Saya dan teman-teman Jepara Blogger Community sudah menyiapkan kenang-kenangan kecil untuk para pembicara, yaitu sandal ukir Jepara. Kami menyiapkan 4 sandal ukir berpigura. Ukiran wajah Dian, ukiran wajah Hanung dan dua ukiran wajah Kartini untuk dua pembicara lain karena khawatir pembicara tidak sesuai dengan undangan. Benar saja Pak Anies tidak dapat hadir dan diwakili Bu Anita. Hanya tiga yang dapat dibarikan. Sayang sekali, Bu Yohana sudah berada di ruang belakang tak dapat diganggu untuk memberikan kenang-kenangan. Maka saya menyimpannya dulu di belakang sound system. Setelah itu acara ditutup dan kami semua pun makan siang bersama.

Ada sebuah insiden kecil ketika kami makan siang. Saya baru menyadari jika Binbin, anak saya menghilang dari Pendopo Kabupaten. Saya sempat panik dan mencari di sekitar area Pendopo. Berkali-kali saya menelpon suami untuk bertanya apakah dia ada bersamanya. Bungsu saya ini agak sulit mengenali orang dan beberapa kali kejadian salah menggandeng orang di kerumunan. Bayangan dia hilang sudah di pelupuk mata dan saya semakin gelisah. Area pendopo dan alun-alun sangat padat pengunjung. Sambil tetap berusaha tenang saya menelpon suami lagi dan lagi. Suami yang saat itu menjadi penunjuk jalan tercepat bagi rombongan Dian Sastro dan Hanung menuju Rumah Kartini mengabaikan telpon saya. Maka mencari anak ke Rumah Kartini menjadi solusi saya saat itu. Saya meminta tolong teman-teman Blogger menunggu saya di Pendopo sebentar karena masih ada 1 bingkisan yang belum diberikan. Kemudian, saya meminta tolong pada Piko untuk mengantar. Syukur alhamdulillah dia benar ada di sana. Saya mengajak Binbin ke Perpusda (FYI, Perpusda Jepara jadi salah satu tempat penitipan anak bagi saya, hahaha... lain waktu saya jelaskan alasannya). 

Usai mengantar Binbin, saya bergegas kembali ke Pendopo bersama Piko. Semua teman blogger sudah pulang. Masih ada satu bingkisan dan saya tidak mungkin menanti sendirian sampai Ibu Yohana kembali keluar dari tempat beristirahat. Saya mendapat informasi dari Mbak Rida, jam 2 siang (100 menit lagi) para menteri akan menghadiri pencanangan GP3M di alun-alun Jepara. 1 kado untuk 4 Menteri? Seorang diri? Sempat termangu sejenak, akhirnya saya menelpon suami, bolehkan saya kembali ke Rumah Kartini untuk memberikan Kenang-kenangan keempat tersebut pada Rumah Kartini. Saya janji hanya mengantar kenangan kecil itu dan anteng di sana. Saya sudah puas berfoto dengan kedua tamu yang asyik berbincang. 

Tanpa sengaja berfoto lagi di sini
Rupanya kedatangan kedua saya diperhatikan Mas Rumail. Saya pun diminta bergabung dalam diskusi dengan Hanung dan Dian Sastro. Saya yang sebenarnya sangat tidak enak hati akhirnya berhadapan dengan pembicaraan privat mereka. Syukur alhamdulillah saya mengingat wejangan Pak Muhammad Zen, seorang jurnalis dari Malang sekaligus Putra Jepara yang pernah membagi ilmunya di kelas Akademi Menulis Jepara. Pak Zen mengatakan bahwa salah satu rahasia menjadi penulis hebat adalah menganggap semua orang sama. Dengan tukang becak tidak mendongak, dengan orang penting tidak membungkuk. Mengamini nasihat ini, maka saya mensejajarkan diri sebagai jurnalis yang mencari informasi namun tidak mengejar narasumber. Saya paparkan teori yang saya pahami dan bertanya apakah teori saya tentang Kartini tersebut benar adanya. 

Saya memaparkan tentang #FaktaKartini sebagai remaja berusia 19 tahun yang berhasil membuat kagum Ratu Wilhelmina dengan seni ukir Macan Kurung dan batik Jepara. Kartini berperan aktif dalam pameran Karya Perempuan Pertama di Den Hag dengan mengirimkan detail pembuatan batik dan foto dirinya yang sedang membatik. Juga, seni ukir yang sangat dikagumi sehingga dengan menggunakan nama Oost en West, Kartini dan saudara-saudarinya mengekspor batik dan mebel ke Eropa. Baca Jasa Kartini pada Industri Mebel Ukir di Jepara

Senang dapat kesempatan bicara secara pribadi dengan mereka
“Jadi bisa dikatakan Kartini (dan saudara-saudarinya) adalah pengekspor mebel pertama dan pelaku online shop pertama di Indonesia?” tanya saya pada Mas Hanung dan dijawab bisa jadi. Kemudian kami terlibat pembicaraan yang maaf, off the record. Saya menghargai proses rahasia membuat film dan enggan membeberkannya. Bukan berarti saya tahu jalan cerita film tersebut. Tidak. Bukan demikian maksud saya. Hanya saja ada beberapa detail yang tak perlu diungkap sebelum film jadi dan ditayangkan. Apalagi, saya menyadari, belum tentu apa yang kami bicarakan terjadi di film karena skenario masih proses menanti feedback para Budayawan dan Sejarawan Kartini yang berkompeten. Kalau saya masih jauh dari mereka. Saya hanya suka membaca sejarah Kartini maupun the untold story about Kartini seperti hubungan Kartini dengan seni kriya Jepara, KH. Agus Salim, Kyai Soleh Darat, Al Qur’an pertama berbahasa Jawa, sosok misteri JH Abendon dan rumor-rumor yang berkembang. Mungkin hanya kebiasaan saya yang melahap apapun informasi kemudian memilah apa yang saya suka saja. Mengapa saya sebutkan subyek ketertarikan saya di atas? Agar teman-teman mendapatkan keyword untuk mencari di google jika mau belajar tentang #FaktaKartini yang disembunyikan. 

Merasa sudah waktunya saya mundur, saya memilih kursi yang agak di belakang. Pada saat itulah Jiah, Si Blogger Imut masuk ke lingkaran pembicaraan. Dengan alasan memberikan coretan seminar di atas, dia mencari saya. Ehm... iya sih, jika catatan tersebut tidak diberikan, saya tak bisa menulis poin-poin seminar di atas. Hahahaha.... Yang jelas, mungkin foto kami di sana cukup mengagetkan ya. Jangan tanya materi yang dibicarakan pada Jiah karena kami memiliki pendapat yang sama. Ehm... sudah panjang ya cerita saya. 2 artikel sengaja saya gabung jadi satu karena terlalu banyak bahan blog yang menanti di belakang.



Sebelum menutup artikel tentang Seminar Nasional Kartini di Perdopo Kabupaten Jepara dan Perihal Lainnya ini, siapa tahu teman-teman berminat, ada acara seru dari teman-teman di Jepara. Pada hari Kamis, 21 April 2016, kami mengajak teman-teman meramaikan linimasa dengan meng-update status disertai tagar #faktakartini dan atau #kartini137. Jangan lupa ya... dukung aksi teman-teman netizen dari Jepara. Perayaan Hari Kartini jangan diasumsikan berkebaya dan lomba bertema perempuan saja. Saatnya mencari alternatif merayakan Hari Kartini yang kekinian. Setuju?


Share:

23 comments:

  1. Kartini, satu dari sekian banyak inspirator bagi para perempuan hebat di Indonesia. Selamat Hari Kartini (21 April)! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Irham. Saya bangga jadi wanita Jepara

      Delete
  2. Kutipan ini mantap :“Perempuan lebih menarik dan seksi jika punya usaha sendiri”.

    Lebih mantap lagi kalau perempuan bisa menginspirasi orang-orang disekitarnya. Salahnya satu seperti yang Mbak Susindra lakukan sekarang, yakni menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mas, terima kasih pujiannya ya

      Delete
  3. Pendapatku bkn hal penting, hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah.. sekecil apapun pendapat itu penting

      Delete
  4. Luwarrr biyasaakkk mbak, lengkap bangettttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. latiha menulis panjang kali lebar kali tinggi

      Delete
  5. Luwarrr biyasaakkk mbak, lengkap bangettttt

    ReplyDelete
  6. Wah, Jepara benar-benar lagi semarak ya.
    Btw, Si Cinta apa kabar?

    ReplyDelete
  7. 14 tahun aku menunggumu kak dian :D

    ReplyDelete
  8. Sy baca klarifikasi Dian di instagramnya. Benar mbak. Harus hati2 kalau mengutip agar tidak merugikan orang lain. Btw... Liputannya lengkap banget...

    ReplyDelete
  9. Gak terasa besok tgl 20 April..saatnya merayakan hari Kartini.. sebuah mom,entum bagi kebangkitan eksistensi para wanita.. Senang banget ya Mba bisa ikutan seminar menambah wawasan dan pergaulan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, senang sekali sampai grogi banget. hehehehe

      Delete
  10. Selamat hari Kartini buat teman2 yang mampir baca. Juga buat mba Susi yg selalu concern dg menulis pemberdayaan perempuan.
    Makasih, sharingnya komplit sampai bingung mau koment yg mana, hihii. Oh iya, Binbin alhamdulillah ketemu ya mbak, kan ramai banget suasananya kalo ada acara gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... iya Mbak Wati, kalau baca tulisan komplit banget malah bingung mau komentar apa.

      Delete
  11. Baru tau soal panggilan Kartini pada ibunya. :(

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra