Pujian Ala Papa Susindra

Sore ini, sepulang kerja, Susi mampir ke pasar krempyeng di sebelah kantor. Niatnya sih cuma mau membeli ikan untuk lauk makan malam, tetapi begitu melihat ikan tongkol berukuran besar, langsung terbayang menu favorit keluarga yang sederhana, murah meriah, tetapi rasanya bikin nagih. Ikan tongkol goreng dengan sambal kecap yang super pedas! Hmm... membayangkannya saja sudah bikin air liur menetes. Hehehe....
Pujian Ala Papa Susindra



Akhirnya, tanpa pikir panjang, Susi pun membeli ikan tongkol besar itu. Urusan nanti mengolahnya bagaimana, itu perkara belakangan. Yang penting ikan sudah di tangan dan keluarga di rumah bisa menikmati lauk kesukaan mereka.

Tentu saja, membawa ikan tongkol berukuran besar dari pasar ke rumah bukan perkara mudah. Jarak kantor ke rumah sekitar 10 kilometer. Kalau naik kendaraan sih sebenarnya tidak masalah, tetapi darah ikan tongkol yang menetes-netes sampai ke bagian knalpot membuat perjalanan pulang terasa sedikit berbeda. Belum lagi berat ikannya kalau harus dijinjing. Duh, lumayan juga, ya, perjuangan seorang ibu demi menyenangkan perut suami dan anak-anaknya. Xixi....

Tetapi, anehnya, Susi justru senang. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membawakan sesuatu yang disukai keluarga. Apalagi kalau sudah membayangkan mereka makan dengan lahap. Rasanya capek-capek sepulang kerja langsung terbayar. Hmm... begitulah emak-emak. Kadang yang membuat bahagia itu bukan barang mahal atau hadiah mewah, melainkan melihat orang-orang tersayang menikmati makanan yang kita siapkan.

Sesampainya di rumah, Susi langsung beraksi di dapur. Tentu saja tidak sendirian. Papa Susindra ikut membantu mengolah ikan tongkol. Nah, kalau sudah urusan dapur begini, kerja sama memang penting. Apalagi ikan tongkol yang dibeli ukurannya besar. Kalau dikerjakan berdua, pekerjaan terasa lebih ringan dan cepat selesai.

Masalahnya, ikan tongkol segar itu masih menyimpan banyak darah. Begitu mulai dibersihkan, area cuci piring langsung dipenuhi darah merah. Huaaa... pemandangannya memang kurang sedap dipandang, tetapi namanya juga mengolah ikan segar. Harus siap menghadapi segala tetek bengek urusan dapur.

Kami membersihkan ikan satu per satu, membuang bagian-bagian yang tidak diinginkan, termasuk cacing ikan yang kami temukan. Darah dibersihkan sampai ikan benar-benar siap diolah. Pokoknya, harus telaten. Kalau sudah bersih, barulah hati tenang dan ikan siap masuk penggorengan.

Sebenarnya, sejak awal Susi sudah membayangkan ikan tongkol goreng dengan sambal kecap. Aduh, ini salah satu menu sederhana yang rasanya susah ditolak. Ikan digoreng sampai bagian luarnya garing, lalu disantap dengan sambal kecap yang pedasnya nendang. Apalagi kalau sambalnya diberi irisan cabai rawit yang banyak, bawang merah, dan tomat. Hmm... nasi hangat pasti langsung ludes!

Sayangnya, ada satu bahan penting yang terlupakan. Tomat!

Hiks... ternyata Susi lupa membeli tomat. Padahal, kalau ingin membuat sambal kecap yang segar dan enak, tomat menjadi salah satu bahan andalan. Mau bagaimana lagi? Masa iya harus kembali ke pasar hanya demi membeli tomat? Rasanya kok terlalu repot, ya. Akhirnya, rencana membuat ikan tongkol goreng sambal kecap pun gagal.

Tetapi, namanya juga emak-emak, pantang menyerah hanya gara-gara satu bahan masakan tidak tersedia. Kalau satu menu gagal dibuat, masih banyak kemungkinan lain yang bisa dicoba. Dapur itu tempat berkreasi, bukan tempat untuk menyerah. Hehehe....

Akhirnya, Susi memutuskan untuk membuat pindang ikan tongkol terlebih dahulu. Sebagian ikan nantinya bisa diolah menjadi ikan bakar, sementara sebagian lainnya digoreng dengan tepung. Jadi, meskipun menu awal meleset dari rencana, tetap ada beberapa pilihan lauk yang bisa dinikmati keluarga.

Untuk sambalnya, tidak perlu repot-repot membuat sambal yang macam-macam. Cukup sambal terasi mentah, atau yang biasa disebut Ibu sebagai sambal plelek. Nah, kalau sudah ada sambal plelek, urusan makan bisa menjadi sangat serius. Xixi....

Sambal terasi mentah ini memang sederhana. Cabai, garam, terasi, dan bahan pelengkap secukupnya diulek sampai tercampur rata. Tidak perlu dimasak lama-lama, tidak perlu banyak peralatan, tetapi aromanya saja sudah mampu menggoda selera. Apalagi kalau cabainya banyak. Pedasnya bisa membuat keringat bercucuran, tetapi tangan tetap saja menyendok nasi lagi.

Sementara ikan diolah, aroma masakan mulai memenuhi dapur. Ada aroma ikan yang digoreng, ada bau khas sambal terasi, dan tentu saja aroma nasi hangat yang baru matang. Aduh, kalau sudah begini, siapa yang tahan menunggu? Akhirnya, makan malam pun tiba.

Kami duduk bersama dan mulai menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Ikan tongkol yang tadi sore masih utuh dan merepotkan ketika dibawa pulang, sekarang sudah berubah menjadi lauk yang menggugah selera. Ada ikan pindang, ikan goreng tepung, sambal plelek, dan nasi hangat. Menu sederhana, tetapi rasanya luar biasa ketika dinikmati bersama keluarga.

Kami makan dengan lahap. Sambal yang pedas membuat selera makan semakin bertambah. Ikan dicocol sambal, nasi disendok lagi, lalu begitu seterusnya. Rasanya ingin terus makan sampai tidak ada lagi yang tersisa di piring. Sampai akhirnya Papa Susindra melontarkan komentar sederhana.

"Untung masak nasinya pas banget, ya, Ma? Kalau tidak, mana muat perutku."

Hahaha....

Cuma begitu saja pujiannya!

Tidak ada kata-kata romantis seperti, "Masakan Mama enak sekali." Tidak ada juga rayuan manis seperti, "Mama memang jago masak." Papa Susindra cukup berkomentar bahwa jumlah nasi yang dimasak pas, sebab kalau nasinya lebih banyak, mungkin perutnya tidak akan sanggup menampung semuanya. Tetapi, buat Susi, komentar sederhana itu justru punya makna tersendiri.

Coba bayangkan kalau nasi yang dimasak tadi jumlahnya lebih banyak. Dengan lauk yang enak, sambal yang pedas, dan selera makan yang sedang bagus-bagusnya, kami mungkin akan terus makan sampai ikan, nasi, dan sambalnya habis. Tidak terasa, tahu-tahu perut sudah penuh, lalu semuanya berakhir dengan acara leyeh-leyeh di sofa karena kekenyangan.

Hmm... memang benar juga, sih. Kalau masakan tidak enak, biasanya orang makan secukupnya saja. Tetapi kalau sampai harus mengingatkan diri sendiri supaya berhenti makan, itu artinya ada sesuatu yang membuat makanan tersebut sulit ditolak. Dan itulah yang Susi tangkap dari komentar Papa Susindra.

Bagi sebagian orang, pujian kepada pasangan mungkin harus diucapkan secara langsung. Misalnya, "Sayang, masakanmu enak sekali," atau, "Terima kasih, ya, sudah memasak makanan kesukaanku." Kalimat seperti itu tentu menyenangkan. Siapa juga yang tidak suka dipuji? Apalagi setelah seharian bekerja, masih harus memikirkan menu, berbelanja, membersihkan bahan makanan, memasak, dan membereskan dapur.

Rasanya ingin juga sesekali mendengar pujian yang manis. Iya, kan? Tetapi, Papa Susindra memang punya cara sendiri dalam mengungkapkan rasa senangnya. Pujian ala Papa Susindra bukan berupa kata-kata romantis yang panjang. Kadang cukup dengan komentar sederhana yang kalau didengar sepintas mungkin tidak terdengar seperti pujian sama sekali.

Untung masak nasinya pas. Cuma itu!

Namun, Susi tahu bahwa di balik kalimat sederhana tersebut, ada rasa puas karena makan malamnya enak. Tidak perlu mengatakan bahwa masakannya luar biasa, tidak perlu merangkai kata-kata manis. Cara Papa menikmati masakan saja sudah cukup menjadi petunjuk. Buktinya, setelah makan malam selesai, cerita belum berakhir.

Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul 22.30. Susi sudah mulai santai dan menganggap urusan makan malam selesai. Eh, ternyata Papa Susindra beberapa kali mengajak makan lagi. Katanya ingin merasakan masakan Susi sekali lagi.

Lho, kok makan lagi? Bukankah tadi sudah makan sampai kenyang? Xixi....

Ternyata, masih ada saja alasan untuk menikmati masakan yang sama. Kalau sudah begini, Susi jadi bingung sendiri. Mau senang karena masakan disukai suami, atau justru khawatir karena kebiasaan makan malam kedua ini bisa membuat timbangan semakin susah diajak kompromi.

Bagaimana mau kurus kalau setiap malam ada saja godaan seperti ini? Apalagi kalau yang mengajak makan adalah suami sendiri. Menolak ajakan makan memang bisa dilakukan, tetapi kalau sudah terbayang ikan yang enak dan sambal yang pedas, iman pun kadang goyah. Hehehe....

Ah, sudahlah. Urusan berat badan bisa dipikirkan besok. Malam ini, Susi memilih menikmati kebahagiaan sederhana sebagai seorang istri dan ibu.

Toh, tidak setiap hari ada momen seperti ini. Ada kalanya masakan yang kita buat biasa saja, ada kalanya keluarga makan tanpa banyak komentar, dan ada kalanya kita sendiri merasa masakan hari itu kurang berhasil. Tetapi, ketika melihat suami dan anak-anak makan dengan lahap, rasanya semua kerepotan di dapur menjadi sepadan.

Susi jadi berpikir, ternyata setiap orang punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa suka dan terima kasih. Ada yang pandai mengucapkan pujian, ada yang suka memberi pelukan, ada pula yang cukup menunjukkan perasaannya melalui tindakan-tindakan kecil. Kalau Papa Susindra, rupanya salah satu caranya adalah makan dengan lahap, lalu mengajak makan lagi beberapa jam kemudian. Xixi....

Dan Susi? Tentu saja senang. Walaupun sesekali tetap berharap ada pujian yang lebih manis. Masa iya, sudah repot-repot memasak ikan tongkol, membersihkan darah ikan, mengolah beberapa macam lauk, dan membuat sambal pedas, hadiahnya cuma komentar tentang nasi? Hahaha....

Tetapi, begitulah kehidupan rumah tangga. Tidak semua rasa sayang harus diungkapkan dengan kata-kata indah. Kadang, rasa sayang hadir dalam bentuk yang sederhana: suami yang membantu di dapur, anak-anak yang menikmati masakan ibu, dan meja makan yang ramai karena semua orang ingin menambah lauk.

Hmm... kalau dipikir-pikir, mungkin pujian ala Papa Susindra memang seperti itu. Tidak pandai merayu, tetapi tahu cara membuat istrinya tersenyum.

Meski begitu, Papa, sesekali memuji masakan istri dengan kalimat yang manis tidak ada salahnya, lho. Biar yang memasak semakin semangat, dan yang makan tidak hanya kenyang perutnya, tetapi juga kenyang hatinya. Hehehe....

Nah, kalau suami Anda bagaimana? Apakah termasuk tipe yang pandai memuji dan merayu, atau justru seperti Papa Susindra yang cukup menunjukkan rasa suka lewat piring yang bersih dan permintaan makan malam kedua?

Xixi... kalau sampai minta tambah berkali-kali, mungkin itu juga sudah menjadi pujian tersendiri, ya? Asal jangan sampai setiap malam minta makan malam kedua. Kalau begitu, kapan kurusnya, hayo!

12 Komentar

  1. wah jadi ikut ngebayangin ikan tongkol ala mbak susi, pasti enak banget...sampe2 si papa mindo hehehe....

    BalasHapus
  2. Mbak Lely: Pujian yang aneh, ya? Sejak dulu Susi tahu suami Susi ga romantis, beda banget dgn Susi yang SOK Romantis.
    Mbak Nia: Memang enak, mbak Nia. Meski Susi ga pinter masak. Papa & anak2 ga ada yang peaky eater. Apapun masakan mama Susindra dilahap habis. Hehe

    BalasHapus
  3. kebiasaanku masak nasi juga tidak banyak mbak, alasannya mubazir kalau tidak habis. saya masak sesuai kebutuhan saja kalau kurang ya masak lagi. tapi jeleknya kalau lagi enak makan nasi habis,gantung deh tuh hehehe

    BalasHapus
  4. Hiks ... :(
    Repotnya gitu, mbak. Udah kalap makannya, nasi habis. Untung juga karena porsi makannya jadi agak terjaga. :))

    BalasHapus
  5. smaksudnya masakannya enakkkkkk bangettt mbakkkk....

    BalasHapus
  6. Wah, senengnya dipuji suami. Kalau sudah dipuji, kayaknya udh kenyang, gak perlu makan lagi kali mam hehehe :D

    BalasHapus
  7. Mbak Fitri: Kalo papa Susindra pemakan segala, mbak. Semua masakan istri tandas tak berbekas kecuali tulangnya. Hehe
    Bunda Dita: Jadi pengen lihat foto langsingnya bunda, nih. Kalo Susi gembrot, mbak. lah won sering makan malam kedua bareng suami.

    BalasHapus
  8. Mbak Desy: Gampang kok, mbak. Setelah dibersihkan, ikan direbus pake bumbu bawang putih, bawang merah, lombok merah, salam, daun jeruk (1 lbr saja), gula & garam secukupnya. Airnya dikit aja. Setelah matang pindang ikan tongkol bisa digoreng, dibakar, atau dibikin semur.
    Perebusan pertama sih untuk membuang amis & darahnya tongkol. Jadi masakan lebih bersih & lebih empuk.

    BalasHapus
  9. Pasti sambalnya mantap banget mbak Susi, sambal plus nasi hangat udah kombinasi yg pas banget deh, apalagi tambah ikan.

    BalasHapus
  10. Bener banget mbak Monda. Pokoknya paduan sempurna tiada tara tuk pecinta masakan pedas.

    BalasHapus
  11. aku kok belom bisa ya mbak ngolah ikan segar..ga' tahan bau amisnya pasti langsung mual2..hiks..:(

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)