Kemarin dengan berapi-api karena capek tanpa sadar Susi membuat posting negatif tentang anak jaman sekarang. Meski sulit dimengerti tapi jauh di dalam hati sahabat pasti pernah mendapati anak kita atau tetangga berkata kotor atau bertingkah seperti itu. Terkejut? Susi yakin jika direnungkan benar-benar pasti terjadi, bukan? Anak yang ikut-ikutan bicara kotor seperti teman (yang meniru di TV), anak yang tidak tahu dan tidak diberitahu telah mencemooh orang lain atau kita orang tuanya. Semua cerita di renungan orang tua adalah hal wajar yang terjadi sehari-hari. Susi sendiri juga sering membenarkan ucapan tidak sopan Destin yang terbawa dari sekolah atau pergaulan dengan teman-temannya. Solusi utamanya adalah segera memberitahu anak bahwa ucapannya tadi akan membuat orang yang mendengar tersinggung, marah, malu, atau sakit hati hingga tidak akan diulang lagi. Jangan sampai itu menjadi kebiasaan. 

Bisa dikatakan usaha Susi untuk mengisolasi Destin dari tayangan TV remaja seperti sinetron, acara musik maupun tayangan yang bukan untuk anak seusianya berhasil. Namun tidak mampu benar-benar mengisolasi dari perbuatan maupun ucapan tidak sopan yang meniru karena anak seusianya akan merasa keren jika meniru ucapan dan perbuatan temannya yang berasal dari televisi.  Yang bisa Susi lakukan selama ini adalah merevisi ucapan atau perbuatan Destin segera. Susi sangat mengutamakan kesantunan untuk anak-anak.

Destin dan Binbin bukanlah anak yang serba bisa dan serba sempurna. Selama ini Susi memiliki keyakinan akan masa depan anak hingga selama masa kecil mereka, kami menekankan pada kesantunan yang harus dimengerti dengan menjejalkan dan mengharuskan anak-anak mempraktekkan 4 kata ajaib yaitu maaf, permisi, terima kasih,  dan tolong. 4 kata yang tak banyak dimengerti anak-anak jika tidak diprioritaskan orang tua. Teringat pujian guru Destin di kelas A maupun B. Intinya seperti ini:
G: “Bu, Destin anak yang teratur dan selalu taat peraturan.
S: "Benar, bu. Saya mengharuskan mereka mengenal, mengerti dan mempraktekkan peraturan. Contoh kongkretnya Destin dan Binbin sudah kami ajarkan memakai helm sejak usia 18 bulan. Mengenalkan pada aturan-aturan standar dan keharusan mematuhinya."(Bukan hal yang mudah dan tanpa konflik, ya!)
G: "Dia (Destin) anak yang sopan. Pernah, bu, lucu sekali. Dia didorong temannya sampai jatuh. Setelah bangun dia berkata “kamu sudah menjatuhkanku. Ayo minta maaf. Sekarang.” Sambil mengulurkan tangan menunggu kata maaf temannya."

Ibu Ani dari kelas A1 dan Ibu Evi dari kelas B1 sekarang memang memuji Destin seperti itu, tapi mereka juga mengeluhkan Destin yang sering berlambat-lambat dalam mengerjakan tugas, tak pernah mau memimpin do’a di kelas maupun tak juga bisa membaca. Susi tersenyum sambil bertanya,
S: "Bu, bukankah anak TK seharusnya tidak diajarkan membaca?"
G: "Benar, bu. Namun sekolah SD hanya menerima anak yang sudah bisa membaca, jadi kami para guru terpaksa mengajarkan anak membaca dan menulis."
Apa pendapat Susi dan suami? Sederhana saja. Kami akan memasukkan Destin ke SD yang tidak malas mengajarkan membaca dan menulis pada anak didik mereka karena hanya menerima anak didik yang sudah bisa membaca-menulis adalah salah satu pelanggaran hak anak untuk bermain dan menjadikan TK sebagai taman bermain kanak-kanak sebagaimana tujuan kurikulum TK. Masuk ke SD favorit bukanlah tujuan kami yang utama. Mengapa? Banyak anak yang cemerlang di usia TK tiba-tiba meredup di usia SD maupun SMP karena kita sebagai orang tua terlalu memaksa dengan mendril anak demi prestasi yang bisa kita banggakan. Mungkin bagi guru, Destin bukan anak pandai dan termasuk yang terlambat. Namun bagi kami, papa-mamanya, Destin adalah anak yang harus kami banggakan karena emotional dan spiritual quotien yang kami kedepankan diusia kanaknya. Tentang membaca dan yang lainnya akan dikuasai setelah SD, sesuai usianya. Jadi, buat apa memaksakan prestasi anak di usia dini? Lebih baik menyiapkan dan membiasakan anak menjadi pribadi yang santun, tangguh dan berakhlak mulia. Ini hanya pendapat kami, ya. Mohon jangan tersinggung jika ternyata berbeda.