Persaingan suami istri yang positif ternyata mampu mengembangkan bakat dan minat. Hasilnya adalah perkembangan pengetahuan Susi dan suami cukup signifikan. 

Sudah lama budaya bersaing ini kami terapkan. Sejak tahun pertama pernikahan kami. Awalnya mas Indra yang menasehatiku agar mengembangkan apa saja yang menjadi minatku. Dan dia akan mensuport penuh, bahkan untuk urusan domestik jika aku kewalahan. Dengan cara ini, karierku cepat sekali meroket, dan meski kami sekantor, aku akhirnya menjadi bos suami. Wajar juga sih mengingat kemampuan 2 bahasa asing serta kemampuan surat-menyurat yang lebih kukuasai. Itu dulu. Karena lama-lama risih juga, akhirnya aku mengundurkan diri dan mengubur diri menjadi ibu rumah tangga. Suatu profesi yang dari dulu kuimpikan. Meski demikian, aku tetaplah tidak termasuk ibu rumah tangga ideal karena obsesiku untuk belajar. Ketika tengah berkonsentrasi aku sering melupakan anak, rumah yang kotor, bahkan masakan gosong. *Ada yang pernah jadi arang! Ada yang pernah terbakar!*

Kebiasaan bersaing ini masih jalan sampai sekarang. Kami berlomba belajar autodidak cara membuat blog, website, membuat design dengan corel & photoshop, dan yang terbaru, berlomba siapa yang lebih cepat dan lebih baik mempelajari Visual Basic akan mendapat hak bekerja keliling Indonesia! Yah, itulah fokus kami sekarang. Kami ingin menjadi programer, dan siapa pun yang lebih ahli yang akan ikut ke tim teman, dan yang kalah harus mau tinggal di rumah mengurus urusan domestik serta membantu pengisian database dari rumah. Pertanyaannya .... Siapa yang akan menang? Haruskah aku mengalah? Yang jelas, dicoba dulu sekaligus ingin tahu, apakah otak tuaku mampu menerima limpahan ilmu baru? Wallahualam. yang penting menuntaskan rasa penasaran terlebih dahulu hingga bisa, sisanya kuanggap bonus.