Hari Senin kemarin Susi dan suami pergi ke Semarang untuk silaturrahmi ke seorang teman yang akan menikah pada tanggal 8 Oktober ini. Kami sengaja datang lebih awal karena pada hari yang sama Susi harus kembali menjadi guide furniture selama 3 hari. 
Kebetulan sahabat kami tinggal dekat dengan kampus UNNES tempat Susi dan suami kuliah dulu. Kami meyusuri jalan-jalan yang biasa kami lewati kala berpacaran dulu dan mengingat gedung-gedung lama yang telah banyak berubah. Yah, kampung Banaran, Sekaran dan Patemon sudah banyak berubah. Modernitas terlihat di banyak sudut.
Kami mengingat kala kami pertama kali kuliah pada bulan September 1997. Kost pertama Susi seharga Rp 45.000,- untuk 2 orang (total Rp 90.000,-). Uang gedung, spp, dana pendidikan de el el hanya Rp 475.000,-. Semua serba murah meriah. Bahkan dari uang saku Rp 50.000,-/bulan Susi bisa menabung 15-18 ribuan. Namun 2 tahun kemudian semua berubah. Inflasi dan penurunan presiden Suharto membuat banyak cost naik drastis hingga angka-angka di atas menjadi tidak relevan. Yang jelas ketika kami meninggalkan UNNES, uang kost Susi di rumah yang bisa dikatakan layak dan bagus, Susi membayar Rp 35.000,-/bulan dan spp-dana pendidikan masih 370 ribuan. Melihat perubahan sekarang, Susi tidak terkejut ketika sewa kamar kost pertahun menjadi sekian juta untuk 1 kamar 2 orang. 
Sedikit bernostalgia, dulu jaman kami kuliah, lawan jenis dianggap keren jika memiliki motor meskipun astrea merah. Sekarang kelihatannya mahasiswa butuh usaha yang sangat ekstra untuk terlihat keren. Tongkrongan dan bawaan harus okeh. Betul tidak, sih? *mengingat-ingat daftar kenalan yang dibuat bingung anaknya karena request hape blacberry, laptop, motor metik, atau tablet atau tidak mau lagi kuliah. Yah, itu mereka... semoga duo D&B kelak tidak seperti itu. AMIN.
Dari kampus kami menuju Java Super Mall. Katanya ada pameran laptop sekalian mo beli buku panduan Vb. Lihat-lihat-lihat, bandingin sama daftar laptop yang kami siapkan sebelumnya dari internet. Ternyata harganya sama! Ckckck... buat apa capek2 pameran kalo ga bisa menurunkan harga? Kami pulang sambil menenteng 2 buku yaitu:
1. 'Panduan Lengkap Pemrograman Visual Basic 6,5
2. 'CSS untuk Awam'

Sampai d Simpang Lima Susi request mampir ke Gramedia Pandanaran karena ada satu buku lagi yang tak kami temukan. Ternyata di sana tidak ditemukan juga. Tapi kami tetap pulang membawa 5 buku, yaitu:
1. 'Kolaborasi Flash, Dreamwaever dan PHP'
2. Dijual Murah! Surga dan Seisinya' (Buku religi dengan gaya bahasa ringan)
3. 'Avatar Keadilan' (novel histori tentang ratu Kalinyamat dan asal usul kota Jepara)
4. 'Black Beauty' karya Anna Sewell (Novel klasik dengan sudut pandang kuda - pernah difilmkartunkan)
5. 'Berbagi Suami' (buku yang berisi skenario film dengan judul yang sama serta behind the scene-nya - Hasrat menjadi penulis skenario tetap menyala meski tak ada pelampiasan)
Buku-buku yang dibeli tanggal 3 oktober 2011

Lumayan puaslah hari itu. Lumayan menguras kocek juga, sih. Sekali-kali. Orang udik kalo mampir ke ibukota pasti tergoda membelanjakan uang. Anehnya saya masih tetap eman jika belanja baju. Lebih suka buat buku. Kapan ya kebiasaan 'jelek' ini berakhir?