Resiko Menjadi Guide


Sejak awal tahun 2000 saya menjadi guide berbahasa perancis sekaligus penerjemah. Dan selama itu banyak sekali susah sedih senang dan pengalaman yang saya dapatkan. Sebanding dengan resiko yang saya terima sebagai wanita, yaitu syak prasangka. Heran. Sungguh. Tapi juga menyesakkan. Terutama jika mendapat telpon di pagi hari dan diancam seperti barusan. Ih! Tapi itulah resikonya jika menjadi guide – wanita.

Saya tidak cantik. Jauh sekali dari kata itu. Kulit saya hitam, lusuh, wajah tak berbedak/bergincu. Tak ada yang menarik dari saya kecuali hanya perhatian pada detail yang terbiasa saya lakukan. Bahasa lainnya yang mungkin cocok adalah “kebaikan hati”. Saya memperhatikan mana yang disukai dan tidak karena berusaha memahami karakter klien saya. Bagi saya, klien bukan raja. Klien adalah sahabat. Bahkan saya rela tidak makan karena klien saya tidak doyan masakan Indonesia atau roti yang cocok. Saya tidak akan kembali ke hotel saya sebelum yakin klien telah aman di hotel yang dipilihnya.

Mungkin dengan bekal itu banyak klien yang suka pada jasa yang saya tawarkan. Apalagi saya berpengetahuan cukup luas hingga bisa diajak berdialog tentang apa saja. Meski bahasa perancis saya hanya sampai level cukup fasih, namun saya pede saja diajak berdialog tentang sosial budaya, film, musik, psikologi, bahkan politik di Indonesia atau dunia dengan bahasa Perancis. Jangan kagum dulu, tapi coba bayangkan apa yang bisa kita lakukan jika berada di atas mobil selama 5-8 jam/hari kecuali ngobrol tanpa arah?

Tapi lagi-lagi ada syak prasangka bahwa saya juga tidur dengan klien saya. Dan saya sering menerima ancaman dari orang yang takut rejekinya saya rebut. Hah! Capek! Bahkan banyak juga pak haji yang bersyak prasangka seperti itu hingga terfikir, “rasanya sayang uang yang dipakai untuk berhaji jika hati dipenuhi prasangka buruk pada orang lain, kan?" Tapi itulah manusia. Semakin tinggi “derajat”-nya, semakin dahsyat ujiannya. Saya hanya heran, betapa sulitnya kita berinstropeksi diri dan lebih suka menyalahkan orang lain. Apalagi  ketika sudah mengatakan “Allah tidak pernah tidur, mbak Susi. Becik ketitik Ala ketoro." dan saya akan tersenyum semanis mungkin sambil berkata, "Saya senang sekali panjenengan tahu itu."

Lalu apa salah saya jika banyak orang Eropa yang menyukai jasa saya sebagai guide karena saya memang mampu menjadi penerjemah yang baik sekaligus sahabat yang setia? Nah… bagi yang tak suka resiko jadi guide ini, jangan pernah terfikir, ya. Beneran capek, deh.

11 Comments

  1. Cuekin aja Mbak Susi, biasanya itu kerjaan orang iri... Tapi biar saja seperti kata pepatah, "biar ajing menggonggong kafilah tetap berlalu"

    Guide dengan hati, siapa yang tak suka, mau orang eropa kek, orang ndeso keke, orang timur, pokoknya siapapun pasti suka, termasuk aku. Ntar kalu ke Jepara aku hubungi Mbak Susi ya, tapi jangan pake bahasa Prancis ya, hehe...

    ReplyDelete
  2. Abaikan aja mbaaaa, itu tanda mba Susi sedang diperhatikan Dia Yang Tak Pernah Tidur itu, kalo orang biasa2 aja kan ga mgkn dapet ujian semacam itu mba. Chayoooo *eh..ini mah bukan bhs perancis ya hihihihi*

    ReplyDelete
  3. ga usah dengerin orang lain mb....
    memang orang itu iri sm panjenengan, yg penting keluarga mendukung & kita tidak berbuat apa yg di sangkakan orang lain itu....
    salam kenal dr semarang ....:)

    ReplyDelete
  4. dipikir jadi guide itu enak.. ternyata capeeek ya?

    ReplyDelete
  5. jaman gini masih sirik ...bilangin ke orangg2 itu ...ke laut aja gituuu ..... mbak

    ReplyDelete
  6. orang biasa kayak mbak susi aja jd bahan gunjingan apalagi kalo ayu kinyis2 ya?
    Xixi
    Egp aja mbak, itu tanda2 orang iri karna ga bs bhs prancis huehehe

    ReplyDelete
  7. ternyata masih banyak org yg nggak suka lihat orang lain sukses ya... kalau saya pribadi justru ingin berguru pada org sukses itu, kira2 harus gmn biar membahagiakan klien...

    ckckck... mudah2an rezekinya mbak susi makin bnyk yah mbak... amin.. :-)

    ReplyDelete
  8. setujuh sama semua komen diatas.
    go mbak susi gooo ^^

    ReplyDelete
  9. @Semua: terima kasih, ya...
    Kemarin waktu menulis saya memang sedang sedih sekali tapi tak ada penyaluran.

    Apalagi saya tidak mungkin bisa mengadukan hal seperti ini pada mereka2 yang berkepentingan "karena bukan urusan saya/mereka". Tapi tetap saja anyel jika ada yang mengatakan saya memberi kisikan buruk. Resiko penerjemah adalah menerjemahkan apa adanya. Dengan bantuan penerjemah, apa saja yang dibutuhkan jadi lebih jelas. Dan mereka mau membayar penerjemah agar mendapat mebel yang sesuai keinginan, dan terutama dengan harga yang lebih masuk akal. dan resiko saya dibenci banyak pengrajin (yang biasa menjual terlalu mahal) gara2 ini.

    ReplyDelete
  10. Saya membacanya, dan.. empati saya untuk Mbak. Sabar ya Mbak. Terus saja melangkah, itu pekerjaan yang mulia.

    ReplyDelete
  11. Saya juga penerjemah, meskipun bukan guide. Tapi dalam melakukan pekerjaan memang tidak jauh juga dari job descriptionnya guide. Dan terus terang orang Indonesia memang "IRI-AN" tidka suka melihat orang lain sukses. Jarang sekali saya bisa berteman dengan orang seprofesi (org Indonesia) karena mereka tidak bisa menyampingkan emosi dari profesionalisme. Belum lagi caplok-mencaplok pekerjaan. Tapi asal kita punya pendirian dan dedikasi, saya yakin Rejeki itu tidak kemana-mana.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)