Jepara, 10 November 2011

Yang tercinta Kartini,
Mentari menyambut pagi di Jepara dengan segala sumringah. Tak seperti kemarin, ketika hujan terus saja mengguyur bumi kita Jepara, pagi ini cuaca cerah. Saya pun dapat dengan ringan hati mengerjakan tugas rumah tangga. Rumah telah bersih. Masakan telah tersaji hangat di meja sementara Suami dan anak-anak bersiap memulai hari. Dan saya pun siap napak tilas di serambi belakang pendopo kabupaten Jepara. Tempatmu memperkenalkan konsep belajar Krida pertama kali di Indonesia meski saat itu negeri Indonesia belum lahir. Bersama murid-murid pertamamu yang meski bergelar priyayi Bumi Putera,  kamu mengajarkan baca tulis sebagai pondasi utama pendidikan. Tentunya tak mudah menghadapi tentangan banyak orang yang kala itu masih berfikir bahwa wanita tak seharusnya pintar. Wanita seharusnya menerima dirinya sebagai konco wingking. Wanita seharusnya menerima dirinya dipingit dan dinikahkan dengan pasangan yang cocok setelah berusia 12 tahun.
Saya dapat menghayati keresahanmu. Sebagai puteri cerdas dan kritis, kamu tak meyetujui perbedaan perlakuan yang berlaku saat itu. Bahwa perempuan dengan segala kewajiban yang diembankan seharusnya tetap harus membekali diri dengan kemampuan baca tulis, kemampuan ketrampilan, dan berwawasan luas. Wanita adalah calon ibu yang harus menjadi guru pertama anaknya sekaligus dokter utama anaknya. Sebuah kewajiban yang takkan terpenuhi jika wanita tetap dalam kebodohan dan tak diperbolehkan bersekolah.  

Kartini, membaca surat-surat yang kamu kirimkan, saya dapat mengerti gejolak di hatimu. Keinginanmu untuk membangun negara melalui jalur pendidikan wanita. Memahami rasa bersyukurmu telah dilahirkan di keluarga yang berfikiran maju meski tetap memegang erat budaya Jawa yang agung. Dan saya meneladani engkau yang tak perduli seberapa besar keinginanmu untuk mengubah dunia, namun cinta keluarga serta “panggilan wanita Jawa” kau biarkan menjadi belenggu penahanmu. Tentunya tak mudah melepas beasiswa ke negeri Eropa untuk menjadi guru yang selalu kau angan-inginkan demi pernikahan.  Tak terbayangkan gejolak batin yang kamu redam – Sekolah untuk mengubah dunia, atau menikah namun tetap berkarya meski lingkupnya lebih kecil. Dan kau, wanita berfikiran maju mengambil keputusan menerima panggilan utamamu sebagai muslimah Jawa kala itu. Menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang berfikiran maju. Karena engkau yakin, lelaki inilah yang selanjutnya akan mendukung cita-citamu mendirikan sekolah wanita di tanah Jawa. Karena engkau tahu, bahwa tak selamanya ayahanda Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat mampu membantumu menghadapi tentangan usaha sekolah rintisanmu. Sungguh pengorbanan yang besar sekali. Si TRINIL dari Jepara yang terkenal gesit, cerdas, dan berani, telah menyerah pada kewajiban yang melekat sebagai wanita kala itu. 
Trinil-ku yang cantik, Saya bangga menjadi wanita Jepara. Bangga memiliki sedikit darahmu, semangat dan keuletanmu. Kami, wanita Jepara di masa kini telah menikmati kemerdekaan yang kau idamkan. Kami memiliki kebebasan sekolah, berpendapat, dan bekerja. Dan wanita Jepara terkenal berani di garis depan perekonomian Jepara. Konsep konco wingking telah jauh ditinggalkan. Seorang klien dari kota lain pernah bertanya, “Mengapa setiap berbisnis di Jepara pasti harus menghadapi wanita?” Karena para lelaki-lah yang berkonsentrasi menyediakan permintaan mebel Anda agar selalu berkualitas, dan kami perempuan bertugas di depan sebagai komunikator. Pembagian tugas yang adil sehingga Jepara terkenal sebagai pusat mebel di dunia. Kombinasi harmonis pria-wanita yang tetap terjaga hingga sekarang

Pahlawanku yang elok, berbahagialah engkau di sisi-Nya. Perjuanganmu tak sia-sia. Kami semua berterima kasih untuk perjuangan beratmu untuk mendirikan sekolah wanita pertama di tanah Jawa. Meski tak memegang senjata tajam, namun penamu dengan tajam menancap di hati dunia. Mendengungkan kata emansipasi wanita pertama di Hindia Belanda kala itu. Ketika seluruh Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda masih terpecah-pecah di antara suku dan kerajaan. Engkau sungguh wanita yang berani. Engkau sungguh wanita teladan. Dan saya bangga mengenalmu sebagai pahlawan nasional Indonesia dari Jepara. Kota yang engkau cintai. Dan saya meneladani engkau di setiap langkah hingga tak perduli setinggi apapun pendidikan dan jabatan saya, saya memilih mundur kembali untuk menjadi ibu rumah tangga bagi keluarga saya. Menjadi guru utama anak-anak saya. Menyempurnakan tugas saya sebagai wanita di rumah namun tetap mencoba berkarya melalui tulisan. Saya mencoba mengubah dunia dengan karya dan pena saya. Mungkin tak banyak, namun semoga tetap berarti. 

Salam takzim dari 
Wanita Jepara yang mencoba berkarya,
Susi Ernawati Susindra
*******

“Surat ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteri”


Favorit quote Kartini selain "AKU BISA!!!" dan "Panggil Aku KARTINI"
'Aku tahu, jalan yang hendakku tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang; jalan itu berbatu-batu, tak rata, licin...belum dirintis! Dan walaupun aku sudah akan patah di tengah jalan; aku akan mati dengan bahagia.'

Foto-foto untuk memahami RA Kartini : 

Belakang pendopo kabupaten Jepara, tempat RA Kartini mengajar.
Foto pinjam dari museumindonesia.com
Foto RA Kartini lengkap dengan tanda tangannya
Foto RA Kartini dan keluarganya. 
RA Kartini dengan dua Adiknya, RA Kardinah dan RA Roekmini
Kartini dan muridnya yang dikenal dengan nama BUMI PUTERA
RA Kartini dengan suaminya,  RMAA Dojodiningrat
Semoga bermanfaat untuk lebih memahami sosok RA Kartini yang terkenal vokal melalui tulisannya.