Kata orang tua, setiap anak membawa rejekinya sendiri-sendiri, bahkan semenjak hamil. Dan masa hamil bagi saya adalah masa yang menyenangkan dan menggairahkan. Pasalnya, dua kali hamil, dua kali saya over pekerjaan. Ada saja tawaran pekerjaan yang saya terima. Alhamdulillah diberi kondisi fisik yang sehat dan sangat kuat.

Kehamilan:
Di kehamilan Destin saya bekerja di satu perusahaan dan selalu keluar kota untuk menemani buyer mencari produk atau peluang baru. Bahkan di usia kehamilan 9 bulan pun saya masih menerima satu buyer dan menjemputnya di bandara A Yani. Tentu saja dengan membawa semua perlengkapan kelahiran. Saya yakin sekali Destin akan tetap lahir di Jepara, bukan di tengah jalan. Waktu itu sih sambil kontraksi tapi tahan saja deh. Benar saja, usai mengembalikan buyer ke hotel saya pergi ke rumah sakit untuk melahirkan. berhubung H+5 lebaran, jadi agak lama menunggu dokternya. Gila ya... bahkan dokter non muslim juga ambil cuti di hari lebaran. Saya pindah 3 RS dan menemukan satu nama dokter yang sedang ditunggu, yaitu Dr Sugeng. Akhirnya saya ke bidan terdekat dari rumah dan melahirkan di sana. Hehe...

Di kehamilan Binbin lebih gila lagi. Saya bekerja di perusahaan yang sama, merintis CV Susindra, dan membuat koperasi bentukan menkop. Lokasi kerja berjauhan membuat saya lelah namun tetap excited. Karena kami selalu pergi pagi pulang malam, saya tetap tak mempekerjakan asisten rumah tangga. Makan juga meski seadanya namun sayur tak pernah ketinggalan. Saya memang tak pernah rewel tiap hamil. Dan anehnya, saya sering makan bakso dan minum es rumput laut setiap kali hamil. Tak lupa, air kelapa. Hmm...

Di kehamilan Binbin ini saya agak kerepotan dengan kengeyelan dan kekeraskepalaan saya. Kelihatannya dari bawaan janin ya. Kata teman-teman saya "menakutkan" dan sulit dilawan. Saya juga berani mempertahankan prinsip bahkan ketika diajak "duel" dengan ketua koperasi yang merasa diduakan. Ada kisah "duel dahsyat" pada H-5 kelahiran Binbin yang tak layak diceritakan namun saya menjadi 'aware' akan keistimewaan Binbin kelak. Dan pada saat itulah saya baru tahu bahwa ternyata saya berani duel dengan siapapun demi membela prinsip, organisasi, keluarga dan teman. Bahkan bogem mentah di wajah pun tak membuat nyali saya ciut hingga si pemukul terpaksa menyandang gelar BANCI selamanya. Bayangkan memukul wanita hamil 9 bulan. Memalukan. Semoga saja Binbin kelak tak "senekat" saya dalam mempertahankan prinsip dan organisasi.Cerita kelahiran Binbin pernah saya tulis di sini.

Sayang sekali "keberuntungan" saya hanya terjadi di masa kehamilan karena jika sudah melahirkan saya akan jatuh cinta pada pandangan pertama pada bayi yang saya lahirkan hingga saya memutuskan tidak aktif ngantor. Saya memutuskan tak lagi kembali ke koperasi meski berkali-kali diundang secara pribadi dan ditawari posisi sebagai ketua I. Saya hanya fokus di Susindra saja meski sebenarnya tetap jalan meski tanpa saya. 

Meski dimudahkan dan dilancarkan proses kehamilannya namun saya kesulitan kala melahirkan. Di kedua kelahiran saya mengalami kontraksi yang konstan selama 3 hari. Sungguh menganggu karena saya tak dapat tidur. Bayangkan jika kontraksi terjadi setiap 5 menit sekali selama 2 hari. Sakiiit... Mungkin karena saya tak pernah istirahat. Selalu mengalami wakidang atau keluar darah panas dan proses bukaan yang sangat lama. Lumayan trauma juga sih meski tak jarang saya merasa malu jika membaca cerita kelahiran teman yang lebih menakutkan dari saya. 

Kangen 
Saya sengaja menulis kata kangen bukan berarti saya kangen hamil lagi, namun saya kangen dengan aktivitas  blogging dan bekerja di depan komputer. Ternyata tak mudah menjauhi keduanya hingga saya tetap curi-curi waktu di depan komputer. Banyak kontes bertebaran yang harus saya lewatkan karena mata saya tak bisa dipakai untuk membaca di depan komputer. Saya rindu dengan celoteh para sahabat. Tak sabar rasanya mendapat kesempatan itu. Saya harap secepatnya karena mata saya sudah mulai mau kembali menjalin chemistry dengan monitor komputer meski tak bisa lama. 

Terima kasih

Terima kasih untuk mbak Dewi yang men-tag saya untuk cerita kehamilan ini. Terima kasih pada para sahabat yang selalu mensupport saya dan sering mengunjungi rumah Susindra. Dan saya memohon maaf jika belum membalas kunjungan sahabat. Saya tidak meneruskan cerita ini karena saya belum bisa blogwalking untuk mencari sahabat yang belum mendapat tugas ini. Maafkan saya.