Sewindu Pernikahan: Delapan Tahun Bersama, Tetap Seperti Masa Pacaran

Sewindu sudah kami bersama dalam ikatan pernikahan. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, meskipun entah mengapa rasanya baru kemarin kami memutuskan untuk berjalan beriringan dalam sebuah perjalanan bernama rumah tangga. Tak ada perayaan khusus untuk memperingati ulang tahun pernikahan kali ini. Tidak ada makan malam romantis yang direncanakan jauh-jauh hari, hadiah istimewa, atau kejutan yang sengaja disiapkan. Hanya sebuah ungkapan syukur, alhamdulillah, karena kami telah melewati delapan tahun bersama tanpa banyak aral yang berarti.




Tentu saja, bukan berarti perjalanan kami selalu mulus. Setiap rumah tangga pasti memiliki ceritanya sendiri. Ada hari-hari yang menyenangkan, ada pula saat-saat ketika kesibukan membuat kami harus pandai-pandai membagi waktu. Namun, sejauh ini, kami masih bisa menjaga sesuatu yang sejak awal terasa penting: rasa cinta, kebiasaan saling menghargai, dan keinginan untuk terus menyayangi satu sama lain.

Bagi saya, itulah fondasi utama dalam membangun rumah tangga. Bukan sekadar janji yang diucapkan pada hari pernikahan, melainkan kesediaan untuk terus merawatnya setelah hari-hari istimewa itu berlalu.


Delapan Tahun Pernikahan yang Terasa Singkat

Rasanya sulit percaya bahwa kami sudah sampai pada angka delapan. Sewindu. Sebuah kata yang terdengar begitu panjang, tetapi terasa begitu singkat ketika menoleh ke belakang. Mungkin karena hari-hari kami berjalan seperti biasa. Bangun pagi, menyelesaikan pekerjaan, mengurus berbagai keperluan, berbagi cerita, lalu kembali beristirahat untuk menyambut hari berikutnya. Tidak setiap hari dipenuhi kejadian besar yang layak dikenang. Justru sebagian besar kehidupan kami tersusun dari hal-hal kecil yang berulang. Namun, bukankah memang demikian kehidupan rumah tangga?

Kebersamaan tidak selalu hadir dalam bentuk perjalanan jauh, perayaan mewah, atau momen romantis yang layak diabadikan. Terkadang, kebersamaan sesederhana memiliki seseorang untuk diajak bercerita setelah hari yang melelahkan. Atau seseorang yang tetap bersedia mendengarkan ocehan kita, bahkan ketika ceritanya sebenarnya tidak terlalu penting.

Ada pula kenyamanan yang muncul dari kebiasaan. Kita mulai mengenali cara pasangan merespons sesuatu, memahami kebiasaannya, bahkan hafal hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari orang lain. Delapan tahun bersama membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Tetapi, anehnya, bukan berarti semua hal menjadi membosankan. Selalu ada saja sesuatu yang membuat kami tertawa, saling mengusili, atau kembali menemukan sisi menyenangkan dari hubungan ini.


Masih Saling Menggoda Seperti Masa Pacaran

Salah satu hal yang membuat saya sulit percaya bahwa usia pernikahan kami sudah mencapai delapan tahun adalah keisengan kami yang masih sulit ditahan. Kami masih suka saling menggoda. Saling meledek. Kadang, hal-hal kecil yang seharusnya bisa dilewati begitu saja justru menjadi bahan bercandaan yang panjang. Entah siapa yang memulai, tetapi biasanya salah satu dari kami akan melanjutkannya sampai tidak ada lagi yang bisa menahan tawa. Ah, rasanya kami masih seperti masa pacaran dulu.




Tentu saja, kehidupan setelah menikah tidak persis sama dengan masa pacaran. Ada tanggung jawab yang bertambah, pekerjaan yang harus diselesaikan, serta berbagai urusan yang menuntut perhatian. Kami tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menghabiskan waktu bersama, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan bersama. Meski begitu, saya senang karena di tengah semua perubahan tersebut, kami masih memiliki ruang untuk bercanda.

Bagi saya, kemampuan untuk tertawa bersama merupakan salah satu hal sederhana yang membuat hubungan terasa menyenangkan. Kami tidak harus selalu membicarakan hal-hal penting atau mengadakan percakapan mendalam untuk menikmati kebersamaan. Terkadang, sebuah ledekan receh saja sudah cukup untuk membuat suasana kembali hangat.

Mungkin bagi orang lain, kebiasaan seperti ini terlihat sepele. Namun, setelah delapan tahun pernikahan, saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu dibangun melalui hal-hal besar. Ada banyak kebahagiaan kecil yang tumbuh dari kebiasaan sederhana, termasuk mempertahankan sisi jahil yang membuat kami tetap merasa dekat.

Benarkah Cinta Akan Berkurang Setelah Bertahun-tahun Bersama?

Ada anggapan bahwa semakin lama pasangan hidup bersama, semakin berkurang pula getaran cinta di antara mereka. Hubungan yang dahulu penuh debar-debar romantis perlahan berubah menjadi persahabatan. Pasangan tidak lagi terasa seperti kekasih, melainkan seperti dua orang sahabat lama yang sudah saling mengetahui kebiasaan masing-masing. Entahlah. Saya tidak tahu apakah anggapan itu berlaku untuk semua orang.

Setiap pasangan tentu memiliki perjalanan dan cara mencintai yang berbeda. Ada yang merasa cinta semakin tenang seiring bertambahnya usia pernikahan. Ada pula yang menemukan cara-cara baru untuk menjaga romantisme. Tidak ada satu ukuran yang bisa digunakan untuk menilai kebahagiaan semua rumah tangga. Kalau ditanya bagaimana dengan kami, saya justru merasa bahwa menjadi sahabat bagi pasangan bukanlah sesuatu yang buruk.

Bayangkan bisa menjalani kehidupan bersama seseorang yang tidak hanya menjadi pasangan, tetapi juga teman bercanda, teman berbagi cerita, dan teman menghadapi berbagai persoalan. Seseorang yang membuat kita nyaman menjadi diri sendiri, tanpa harus selalu tampil sempurna. Bukankah itu menyenangkan?

Barangkali cinta memang mengalami perubahan bentuk. Perasaan yang dahulu membuat jantung berdebar bisa tumbuh menjadi rasa nyaman. Keinginan untuk selalu bersama bisa berkembang menjadi keyakinan bahwa kita memiliki seseorang yang dapat diandalkan. Sementara itu, romantisme mungkin tidak lagi selalu hadir melalui kata-kata manis, tetapi juga melalui perhatian-perhatian kecil yang sering kali luput dari perhatian. Namun, saya tidak ingin terlalu jauh menyimpulkan bagaimana seharusnya cinta bekerja. Kami pun masih terus belajar. 

Delapan tahun bukan berarti kami sudah memahami seluruh rahasia kehidupan pernikahan. Semua punya masanya sendiri. Mungkin kami agak terlambat menyadari beberapa hal, atau mungkin memang tidak perlu terburu-buru memahami semuanya. Bagaimanapun, kami tetap bahagia dengan cara kami.

Rahasia Rumah Tangga Bahagia Versi Kami

Jika harus menyebutkan satu hal yang ingin terus kami pertahankan, mungkin jawabannya adalah kebiasaan saling menghargai dan menyayangi. Kedengarannya sederhana, bahkan mungkin terlalu biasa. Namun, saya percaya bahwa hubungan yang baik membutuhkan perhatian yang terus-menerus. Cinta bukan hanya tentang perasaan yang muncul pada awal hubungan, melainkan juga tentang bagaimana kita memperlakukan pasangan dalam keseharian.


Menghargai berarti memberi ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri. Menyayangi berarti berusaha memahami, bukan sekadar menuntut untuk dipahami. Sementara itu, menjaga hubungan berarti bersedia merawat kebersamaan, termasuk ketika hari-hari tidak berjalan sesuai harapan.

Tentu saja, kami tidak selalu melakukan semuanya dengan sempurna. Kami tetap manusia biasa yang memiliki kesibukan, kekurangan, dan cara berpikir masing-masing. Namun, mungkin justru itulah bagian dari perjalanan yang membuat pernikahan terus bertumbuh.

Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa ada rumus pasti untuk membangun rumah tangga bahagia. Apa yang cocok bagi kami belum tentu cocok bagi pasangan lain. Setiap orang memiliki kebutuhan, kebiasaan, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Yang jelas, bagi kami, kebahagiaan tidak harus selalu terlihat oleh orang lain. Tidak semua momen perlu dirayakan secara besar-besaran. Tidak semua ungkapan cinta harus diumumkan kepada dunia. Ada hal-hal yang cukup kami nikmati berdua. Dan sepertinya, itu sudah lebih dari cukup.

Ada satu tambahan rahasia kami, yaitu saling memberikan kado. Tak harus kado istimewa. Mau tahu kado apa yang sering diberikan suami dan saya sangat suka? Coklat batangan yang didiskon di konter depan kasir. Tentu saja saya tahu kalau itu barang diskon. So what, kan tetap hadiah manis dari suami.

Sewindu Pernikahan, Syukur yang Tak Perlu Banyak Kata

Hari ini, seharusnya saya menulis banyak kata indah. Saya ingin merangkai kalimat-kalimat manis tentang perjalanan delapan tahun pernikahan kami. Mungkin tentang cinta yang bertahan, tentang kebersamaan yang semakin matang, atau tentang harapan-harapan yang ingin kami wujudkan pada tahun-tahun berikutnya. Ah, entahlah.

Saya terlalu sibuk hari ini sehingga sulit merangkai semuanya menjadi tulisan yang indah. Ada banyak hal yang harus dikerjakan, sementara waktu terasa berjalan begitu cepat. Tahu-tahu, hari istimewa ini hampir berlalu. Namun, bukankah rasa syukur tidak selalu membutuhkan banyak kata?

Yang terpenting, sebuah pujian dan ungkapan syukur sudah saya sampaikan kepada suami. Saya sudah mengatakan hal-hal yang ingin saya katakan, dengan cara yang mungkin tidak akan sepenuhnya bisa saya ceritakan di sini. Biarlah ungkapan itu tetap menjadi rahasia kami.

Ada percakapan yang memang lebih nyaman disimpan di antara dua orang yang saling mencintai. Ada kalimat yang tidak perlu diketahui siapa pun, karena maknanya sudah sampai kepada orang yang dituju. Dan ada kebahagiaan yang tidak harus dibuktikan melalui foto, hadiah, atau perayaan yang meriah. Hari ini, kami bahagia sekali.

Bukan karena semuanya sempurna, melainkan karena setelah delapan tahun, kami masih bisa tertawa bersama, saling menggoda, dan menikmati kebersamaan dengan cara kami sendiri. Wonderful wife ala Susindra yang sederhana. 

Alhamdulillah, sewindu pernikahan telah kami lewati. Semoga tahun-tahun berikutnya membawa lebih banyak kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan saling menyayangi. Semoga kami tetap bisa menemukan alasan untuk tertawa di tengah kesibukan, tetap saling menghargai di tengah perbedaan, dan tetap memilih untuk berjalan bersama dalam berbagai keadaan.

Saya tidak tahu seperti apa cerita kami pada tahun kesembilan, kesepuluh, atau tahun-tahun setelahnya. Terlalu jauh untuk menebak semuanya sekarang. Untuk hari ini, saya hanya ingin menikmati rasa syukur ini.

Delapan tahun sudah berlalu. Rasa cinta tetap terjaga. Kebiasaan saling menghargai dan menyayangi masih menjadi fondasi rumah tangga kami. Dan yang paling menyenangkan, kami masih seperti masa pacaran dulu. Setidaknya, dalam urusan saling menggoda dan meledek satu sama lain. Selamat sewindu untuk kami. Alhamdulillah, masih bersama, masih bahagia, dan masih punya banyak alasan untuk tertawa.

6 Komentar

  1. Selamat ulang tahun pernikahan ya mbak ^^

    BalasHapus
  2. Selamat anniversary yang ke-8,mbak Susi.Kata-kata romantis itu hanya memperindah, tapi essensialnya kan tetap yang dirasakan di hati. Semoga terus langgeng sampai akhir hayat ya,Mbak

    BalasHapus
  3. angka keberuntunganku tuh 8...
    selamat ya... Kalau di Jepang setelah lewat 7 tahun, perkawinan lebih mapan dan mantap!

    BalasHapus
  4. Met Ultah perkawinan mbak Susi.... Semoga makin cinta meskipun usia perkawinan bertambah 1 sehingga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah. AMiiiin :)

    BalasHapus
  5. Ahhh...terlambat. happy (belated) anniversary ya mba Sus, semoga bahagia selalu. Aamiin

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)