Tak terasa, sudah tanggal 21 April. Ah ya, bagaimana saya lupa, tadi malam saya menerbangan lentera do’a Kartini. Tadi malam pun saya diundang wasilahan Kartini. Tentu saja saya tidak lupa. Saya hanya terkejut, ternyata saya belum menyiapkan bahan apapun tentang Kartini padahal sejak 2 hari lalu saya belajar tentang Kartini bersama peneliti berdedikasi dari Australia. Joost Coté, 20 tahun dia meneliti tentang Kartini dan menyimpulkan persona Kartini yang luar biasa. Hidup saya sedemikian gempita dengan kegiatan peringatan Kartini dari Kabupaten Jepara dan Komunitas independen Nirlaba. Saya agak kepayahan mengatur-menjadwal kehidupan pribadi-komunitas-sosial-ekonomi agar semua muat, berjalan seimbang. 

1001-fakta-kartini-susindra
1001 fakta kartini, saya memberi judul demikian untuk posting pemanasan ini, yang saya tulis dengan buru-buru sebelum berangkat ke Kantor Kabupaten. Saya tak hendak menipu teman-teman, para sahabat, dan Bapak-Ibu yang membaca ini. Tidak... saya sungguh-sungguh. Saya mengajak semua menulis bersama 1001 fakta Kartini di linimasa media sosial dengan tagar #FaktaKartini dann atau #Kartini137. Mari kita mengenang Kartini dengan cara lain yang lebih edukatif. 

Panggil aku Kartini saja. Saya tidak merujuk pada judul buku Pramoedya Ananta Noer. Saya merujuk pada keinginan Kartini yang sejak kecil menolak gelar Raden Ajeng yang disematkan sejak memiliki Ibu Padmi. Kartini kecil yang bertahan ingin tetap menjadi Kartini saja, anak seorang perempuan sholehah bernama Ngasirah. Kehidupan mengkhianatinya sehingga dia sedemikian marah. 4 tahun dia menjadi anak Ngasirah. Hari ketika ayahnya menikah kembali, Biyung yang dia sayangi tiba-tiba menjadi Yu (panggilan untuk abdi dalem). Bahkan sambil berbisik pun Sang Ibu tidak berani lagi menerima panggilan Biyung. Apakah hanya itu saja? Jika fakta paling essential berubah, tak yakinkah kamu jika kehidupan lain dari Si Trinil ini juga berada di penjara? Panggil aku Kartini saja, pintanya.

Senang sekali bisa berbicara pribadi dengan penulis buku Kartini:  The Complete Writings 1898-1904
Masa Kecil Kartini, dia dipanggil Trinil karena dia sangat aktif. Kehidupan feodal yang diterapkan sejak seratus sekian tahun sebelum kelahirannya yang harus serba sembah dan hati-hati meletakkan pandangan membuatnya dijuluki demikian. Dia melakukan kewajibannya sebagai bangsawan, tentu saja, namun ketika lepas dari pandangan Bopo dan Ibu (istri utama Ayahnya), dia akan kembali menjadi trinil yang berjalan menandak dan berbicara dengan cepat berkejaran antara kata dan ide. 

Bagi lingkup keluarga bangsawan, she’s a rebel. Dia anak bangsawan yang terlalu banyak berharap. Saat itu, kehidupan bangsawan memang mewah dan dihormati, tetapi mereka menggadaikan keinginan mereka. Baca surat Kartini yang sedemikian sering memulai paragraf dengan kata “Aku harap”, “Aku ingin”, “Andai aku bisa”. Dia pemberontak, harus dibungkam keinginannya. Ketika ibu dan pakde (Bupati Demak – saudara sulung ayahnya – saat saudara lebih tua bisa mengatur adiknya) melarang Kartini sekolah, ia bisa mendebatnya. Itu adalah prestasi yang hebat karena di saat itu, menunjukkan rasa tidak setuju pada yang sedikit lebih tua pun sudah menjadi kesalahan fatal.

Ah.. saya ingin menulis banyak, sungguh.. saya sanggup menulis lebih dari 5000 kata setelah otak saya dipenuhi cerita kehidupan sehari-hari Kartini lengkap dengan analisis persona para pakar yang bergantian membahas tentang sisi lain Kartini, bahkan dari segi seni. Ikut seminar internasional Kartini di Jepara dan bertemu narasumber hebat sungguh membuka cakrawala saya. Sungguh saya ingin menuliskannya, menjadi oase baru agar melengkapi semua buku tentang Kartini yang sudah ada. Otak saya sedemikian penuh dengan informasi baru dan saya harus memilahnya di antara percikan-percikan bangga karena hari ini saya bertemu orang-orang hebat karena Hari Kartini.


Hari Kartini. Ah, ya. Saya tak boleh tertinggal acara puncak perayaan Kartini hari ini di Kantor Kabupaten Jepara. Saya usahakan menyicil menulis 1001 Fakta Kartini di antara waktu saya. Mari gabung dengan saya, mengisi linimasa media sosial – terutama twitter – dengan tagar #FaktaKartini dan atau #Kartini137. Oh ya, ada tagar #festkartini4 untuk perayaan seru Kartini, kita juga bisa ikut dan disarankan ikut. Peringatan kartini yang kreatif dan edukatif. Yang jelas sangat kekinian. Selamat Hari Kartini, Kawan. Dan hei, saya tidak hanya mengucapkan untuk wanita saja, tetapi juga untuk laki-laki. Tanpanya, mungkin kalian enak, menjadi pancering bumi. Akan tetapi, apa kita yakin, tanpa perubahan hak dan status kaum wanita, kita bisa memegang ponsel pintar atau bahkan kemerdekaan negara kita? Serius?? Coba renungkan perubahan positif dunia, yang terkecil saja, tak adakah wanita di prosesnya?