Jika masih ada warga/pemuda Jepara yang mengira kotanya tertinggal, pemudanya apatis, tidak melakukan apa-apa, warganya masih nyebelin.... bisa dipastikan, dia pemuda apatis yang tidak mau gaul dengan pemuda lain. Saya berani berdebat tentang itu dengan siapa saja. Saya mengenal pemuda-pemudi hebat, warga-warga teladan yang berperan aktif mengembangkan kotanya. Nama-nama mereka bukan nama maya. Saya sering bertemu mereka di Perpusda Jepara, di kegiatan komunitas, bahkan kegiatan forum lintas komunitas atau FOLKOM Jepara. Kamu akan gelagapan menghafal nama-nama mereka seperti saya. Mereka berkomunitas, bertemu secara rutin, melakukan sharing, menjadi pembicara, memberikan pelatihan, atau sekedar berkumpul rame-rame untuk mengkampanyekan malu membuang sampah sembarangan di tempat umum. 
Pemuda-pemudi Jepara tidak apatis, lho
Serius! Bahkan kegiatan ngopi bareng sambil memegang HP pun, mereka bisa mengguncang dunia sekitar. Karena mereka netizen aktif yang memegang kendali sosial media di sekitar Jepara, kegiatan itu sangat mungkin terjadi. Mereka bisa menciptakan trending topic di twitter sambil menyecap kopi racikan barista lokal Jepara. Mereka pemuda-pemudi yang cinta Jepara. Masih menganggap pemuda-pemudi Jepara apatis, nyebelin dan kotanya tertinggal?

Berpikir ulang atau kita minum kopi bareng saja, nih? Atau... datang saja ke pernikahan pemuda-pemudi ini meski tidak mendapatkan undangan? Jangan risau, biasanya undangan pernikahan mereka bersifat terbuka. Temannya teman adalah teman mereka. Seperti saya nih, yang suatu sore datang ke undangan pernikahan Mas Syaiful Mustakim, pemilik portal lokal Jepara bertajuk Soeara Moeria, dan bertemu teman-teman komunitas lain. Kami langsung asyik membicarakan dunia di tengah pesta pernikahan. Bagaimana tidak... di sana kami bertemu dengan blogger dan netizen hebat dari sekitar Jepara, bahkan yang sudah berdomisili di Semarang. Kesempatan yang sangat baik, kan?
Diskusi gayeng bisa dilakukan di pesta pernikahan
Sore itu, kami membuat lingkaran meja menjadi lebih padat oleh kursi teman-teman yang ingin gabung dengan diskusi gayeng kami. Di lingkaran itu, saya pertama kali berkenalan dengan Den Hasan, seorang pendongeng tersohor dari Jepara yang datang bersama istrinya. Saya sudah begitu penasaran dengan sosoknya sejak tahun lalu. Saya juga bertemu dengan teman-teman netizen Semarang yang sebenarnya pemuda asli Jepara. Juga dengan Mbak Ella, penulis novel Jepara yang terkenal. Lalu ada Mas Catur, cerpenis yang karyanya sudah tembus angka 500 cerpen di tahun 2015 lalu. Mas Heru, yang sukses di startup, juga temannya mas Naufal. Sayang, motivator kondang Jepara dan teman-teman lainnya sudah pulang ketika saya dan suami tiba. Waktu pesta memang bebas dari pagi sampai tengah malam. Tak apa, yang ada saja sudah seru. Kami berbicara gayeng di pesta pernikahan Mas Syaiful tersebut.  

Waktu beranjak sedemikian cepat. Sudah hampir jam 5, dan kami belum salat Ashar. Kami juga merasa tidak enak dengan sohibul hajat serta tamu yang datang dan pergi sementara kami masih saja asyik di situ. Kami bahkan “menculik” pengantin pria yang juga asyik diskusi. Kami pun segera pamit dan berfoto bareng bergantian sebagai kenang-kenangan.

Berfoto bersama sebelum pulang
Ini foto kami bersama. Ehm... kami tampak serius ya. Berbaju batik atau berpakaian yang agak formil gitu... Ya iyalah... kami kan sedang ke pesta pernikahan, bukan sengaja bertemu di warung kopi. Hahahaha... 

Kalau mengingat hari itu, saya agak-agak sedih ih... saya tampak kurang esipp dengan baju warna ungu dan jilbab seperti itu. Kurang pas ya? Bagaimana lagi, motor yang menjadi alat transportasi ke sana. Lokasi agak jauh, musim hujan (dan ketika berangkat memang sedang gerimis). Padahal nih.... saat kondangan itu bisa jadi satu-satunya momen saya memakai busana muslim pesta. Iya... saya jarang banget memakai gamis bagus ala-ala busana muslim pesta kecuali di acara undangan semacam itu. Seandainya tidak hujan, saya bisa agak cantik dikit dengan baju seperti ini.

Ini saya lho... tidak percaya?
Halah.. itu kan karena saya sedang jadi pamong tamu pernikahan, otomatis gamis pesta-nya glamour dan di-make up oleh salon. Hehehe.... seperti ini lah, kurang lebih, baju pesta muslim ala Susindra. Meski sederhana, tetapi manis, kan?
Meski busana pesta sederhana, tapi lumayan anggun lah ya.. membuak sisi kewanitaan saya.. ;)

Eh ya... setelah baca posting ini, kamu masih merasa bahwa warga/pemuda itu apatis dan tidak melakukan apa-apa? Ngopi bareng FOLKOM alias Forum Lintas Komunitas yuk... Malu? Hmm... Sebulan sekali Folkom mengadakan piknik bareng. Kau bisa mulai dari situ, deh. Bisa datang sebagai pribadi maupun anggota komunitas. Psst... sudah ada 36 komunitas di Jepara yang gabung Folkom, Lho. Kegiatan para pemuda Jepara seru, bukan?