Sudah seminggu ini, garempong atau serangga tenggoret tidak lagi bersuara. Mereka telah mengucapkan selamat tinggal hujan dan selamat datang musim kemarau. Hati saya sungguh sedih. Bukan karena jeritan garempong tak lagi menjadi back sound video, akan tapi karena saya belum puas bermain dengan air hujan. Sumur saya masih belum terisi banyak paska nyaris kering pada musim kemarau tahun lalu. Sungai di belakang rumah juga belum sempat meluap. 

Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan 2020 dari Rumah Tangga- - cakrawala susindra
Antisipasi ancaman bencana kekeringan 2020 dari rumah tangga. Foto dan olah dari Canva


Potensi kekeringan memang sudah diberitahukan oleh BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Musim kemarau tahun 2020 akan lebih kering daripada tahun 2019. Musim kering dimulai dari bulan April dan puncaknya bulan Agustus 2020. Kondisi ini bisa mengancam stabilitas pangan, terutama beras. Ancaman lainnya adalah kebakaran hutan seluas 16.000 kilometer persegi yang menyebabkan kabut asap selama beberapa pekan. 

Ancaman ganda tahun 2020

Saat ini kita sedang menghadapi pandemi corona yang memukul banyak sektor. Membuat kita semua selalu di rumah saja. Kabar baiknya adalah langit jadi lebih cerah dan udara jadi lebih bersih. Namun bagaimana kondisi kita jika menghadapi kemarau dan pagebluk ini sekaligus? 

Covid-19 cukup memukul pertanian dan ketersediaan pangan. Mungkin akan lebih dahsyat lagi jika siklon dan gelombang panas khas musim kemarau ikut meluluhlantakkan beberapa lahan pertanian. Kondisi ini, jujur saja membuat saya bergidik. 

tanah kering akibat kemarau
Tanah kering akibat kemarau. Gambar olah dari Canva


Tentu saja saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Saya memaparkan apa yang sudah dipaparkan pada publik melalui beberapa dinas/instansi. Alih-alih takut sendiri, lebih baik membaca sampai selesai. 

Saya akan memaparkan berdasarkan keadaan yang saya hadapi sehari-hari dan beberapa keadaan umum di Indonesia. Mari kita menjelajah bersama, melihat bagaimana kita dapat berperan mengantisipasi bencana kekeringan tahun 2020 dari rumah tangga. 

Kondisi air di rumah kami

Saya sudah waspada kekeringan sejak bulan April. Ketika suara garempong atau jangkrik raksasa jenis Cicadomorpha itu mulai bersuara. Saat hujan masih turun, saya sudah belajar penghematan air. Saya mengurangi penggunaan deterjen dan menggunakan air bekas cucian baju sebagai air penyiram tanaman. Tentu saja saya endapkan satu atau dua malam sebelumnya. 

Garempong atau Cicadomorpha


Anak-anak juga sudah saya latih untuk hemat menggunakan air. Penghematan paling terasa adalah pada penggunaan air untuk mandi dan mencuci. Oh iya, kami pakai sumur untuk semua keperluan rumah tangga, termasuk air minum.

Kebetulan kami tinggal di desa yang masih asri dan punya banyak pohon. Saya juga membuat kebun mini di depan rumah sebagai TOGA atau tanaman obat keluarga, selain menanam berjenis-jenis sayur untuk konsumsi harian. Lumayan, stok sayur hijau selalu tersedia dari kebun yang saya kelola sendiri setiap pagi dan sore. 

Kebun mini susindra


Saya sadar bahwa saat ini masih terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Sejak tahun lalu sampai 10 tahun mendatang, kita akan memiliki musim kemarau yang lebih panjang. Tapi itu bukanlah sebuah hal yang tak dapat disiasati. Kita bisa kok, melewati kemarau panjang tahun ini dan tahun selanjutnya dari rumah tangga.

Kalau mau memulai, bisa dari mengamati pemakaian atau konsumsi air kita setiap hari....

Perkiraan jumlah konsumsi air harian di setiap rumah

Mungkin Sobat Cakrawala Susindra tidak menyadari jumlah konsumsi air harian kita. Biasanya hanya memakai saja. Coba hitung secara kasar, berapa air yang dipakai setiap hari untuk mandi, mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Menurut survei Ditjen Cipta Karya tahun 2018, penggunaan air untuk setiap rumah sekitar 145 liter. Itu jumlah yang luar biasa, dan seharusnya bisa dikurangi lebih dari setengahnya. Untuk apa sih, air sebanyak itu? Saya kutip dari artikel Yuk Hitung Konsumsi Air di Rumah Plus Rincian Biayanya dari Swara Tunaiku.

  1. Kebutuhan kamar mandi menghabiskan sekitar 30-40%. Untuk mandi satu orang rata-rata 20 gayung atau 20 liter air. Itu belum keperluan lain di kamar mandi. Kita bisa menghemat 40% dengan teknik mandi yang tepat, yaitu menggunakan ember.
  2. Penggunaan shower air. Penggunaan air dari shower model lama sekitar 25 liter per menit. Shower model baru sekitar 9 liter per menit. Berapa menit kita mengguyur badan dapat dikalikan dengan jumlah tersebut.  Jangan lama-lama!
  3. Pemakaian kran untuk aktivitas cuci/siram. Setiap menit, air kran mengucurkan sekitar 10 liter. Makanya jangan heran untuk rumah dengan banyak kran, tagihan PDAM-nya ratusan ribu hingga sejutaan.
  4. Penggunaan mesin cuci. Setiap mencuci rata-rata membutuhkan 120 liter air. Bagaimana solusinya? Pisahkan baju berdasarkan tingkat kekotoran, dan gunakan kembali air bekas cucian untuk mencuci pertama kali. 

Itulah kisaran penggunaan air di kota besar....

Sungai di dekat rumah kami.


Saya tinggal di desa, di sebuah kota kecil bernama Jepara. Kebutuhan saya tidak sebanyak itu tapi saya menggunakan ember sebagai takaran penggunaan air.  Dan saya mengajarkan hal itu pada anak. Saat musim penghujan mereka boleh sesekali menggunakan air dengan agak boros.

Jika dicermati benar dan dihitung kembali kebutuhan kita, bisa dibuat sebuah cara penghematan sesuai kondisi rumah tangga masing-masing. Targetkan mengurangi hanya setengahnya. Lalu apa?

Ajak orang-orang di sekitar untuk melakukannya. 

Katakan pada mereka bahwa sampai 10 tahun mendatang, kita akan mengalami kekeringan yang lebih buruk dari tahun sebelumnya.

Berkebun: cara lain mengatasi kekeringan dari rumah

Saya sudah tak sabar menanti hujan sejak bulan November 2019. Saya berjanji musim hujan ini akan lebih fokus berkebun. Saya sudah menyiapkan kompos dari sampah rumah tangga plus dedaunan yang jatuh. Pohon durian, ganitri dan nangka di depan rumah, setiap hari, menghasilkan sampah daun kering sebanyak 1-2 karung. Saya juga sudah menyimpan berember-ember kulit buah durian dan rambutan juga. Kombinasi keduanya plus sekam menghasilkan kompos yang baik dan siap panen bulan Januari – Februari 2020 lalu. Lihat tanaman saya, hijau dan banyak bunga/buahnya.


kebun mini



Hujan perdana datang, saya tanam temu kunci, kunyit dan jahe. Juga bibit cabai yang sudah setinggi 20 cm. Sebuah bangunan sederhana dari bambu dan plastik berdiri 2 minggu kemudian, disusul satu per satu rak untuk menanam. Saat ini kami punya 3 rak besar buatan sendiri.

Di antara rak-rak berjajar ember tadah hujan. Kami baru punya 3 ember besar. Lumayan.

Tanaman kami bertambah. Pohon pepaya dan markisa sudah semakin besar. Pohon cabai juga sudah berjajar. Saya harap bisa menambah jumlah air yang terikat di tanah dan turun ke sungai. 

Kami juga mengolah semua sampah rumah tangga yang organik menjadi kompos, ditambah stok daun kering dan daun hijau yang melimpah. 

Berkebun adalah salah satu solusi kami dalam mengatasi kekeringan. Dengan berkebun rumah menjadi lebih adem, sehingga penguapan ke atas bisa berkurang. Pengolahan sampah rumah tangga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Emisi karbon yang terus meningkat akan memperbesar risiko konflik, kelaparan, banjir, gangguan ekonomi, dan migrasi massal penghuni bumi pada abad ini.

Percayakah kamu, jika setiap rumah mempunyai berkebun, membuat TOGA dan mengolah sampah, maka perubahan iklim global yang ekstrim ini dapat dikurangi secara signifikan?

Rumah susindra
Rumah saya di tengah, dilihat dari atas. Foto diambil tahun 2018, saya belum berkebun.


Saya percaya.

Saya berkebun dan selalu mengolah sampah rumah tangga dan sampah tanaman di sekitar rumah menjadi kompos.... meski lingkungan rumah saya masih asri.

Jadi, jangan hanya menyalahkan ketidaksiapan mitigasi bencana kekeringan air saja sebelum melakukan antisipasi dari rumah sendiri. Saya banyak menulis tentang cara saya berkebun.

Sustainable living

Sustainable living atau gaya hidup berkelanjutan menjadi trend saat ini. Banyak rumah tangga yang sudah memberlakukan zero waste. Mencoba hidup harmonis dengan bumi. Mereka yang telah menempuh jalan hidup ini tahu bahwa rumah adalah penyumbang sekitar 25% emisi gas rumah kaca dan ingin menguranginya secara signifikan. Intinya adalah efisiensi energi dan konservasi air.

rumah yang sustaibable living
Rumah yang sustaibable living


Sustainable living yang ekstrim atau level tinggi sudah mencakup desain rumah dan semua kebutuhannya. 

Bagi rumah tangga seperti saya tentu hanya bisa melakukan mulai dari yang sederhana, yaitu:
  1. Menghijaukan rumah dengan kebun organik
  2. Tidak lagi menggunakan plastik
  3. Mengurangi pemakaian air secara signifikan
  4. Mengurangi pemakaian listrik 
  5. Mengurangi pemakaian BBM
  6. Menggunakan energi terbarukan
  7. Mengganti detergen dengan alat pembersih dari bahan tanaman 
  8. Konservasi air dengan membuat tadah hujan dan mengelola penggunaan air dengan cara sehemat mungkin.
  9. (Berencana) membuat sabun cuci baju dan piring dari bahan alami seperti lerak, nanas, jeruk, dan lainnya.

Saya kagum dengan teman-teman yang sudah melakukan sustainable living sampai ke penggunaan sabun buatan sendiri dari rendaman kulit buah. Cara ini membuat air bekas cucian bisa langsung digunakan kembali sebagai air penyiraman tanaman. Saya mempelajarinya saat ikut kelas Sustainable Living di WhatsApp Group.

Saya akan coba beralih ke sabun alami ini. Oleh karena mengubah mindset mencuci = berbusa, saya akan coba bikin dan pakai sabun lerak buatan sendiri saja. Memang perlu perlahan-lahan kalau mau konsisten hidup sehat.

Oh iya, saya mendapatkan tips membuat sabun lerak dari blog Tembus Langitmu.

Cara membuat sabun dari lerak

Bahan:
12-15 buah lerak direndam selama minimal semalam
Kulit lemon atau jeruk (optional agar aromanya lebih segar, karena aroma lerak ini seperti buah asam Jawa)
Air 1,5 liter untuk merebus

Cara pembuatan:
1. Setelah direndam, pisahkan kulit buah lerak dari bijinya seperti cara di video. Akan muncul busa-busa.
2. Masak hingga mendidih, tidak perlu ditutup.
3. Jika sudah mendidih, kecilkan api lalu tetap rebus hingga kira-kira 20-30 menit kemudian.
4. Setelah selesai merebus, tunggu mendingin. Saring airnya dari ampas.
5. Tampung air sabun lerak di botol, jika busa sudah turun simpan di dalam kulkas. Bisa tahan hingga 2 bulan.
6. Ampas lerak bisa digunakan untuk mencuci peralatan dapur hingga habis busanya.

Penutup

Kiranya cukup sekian artikel saya tentang cara antisipasi bencana kekeringan tahun 2020 dari rumah tangga. Semoga artikel ini membuatmu segera membuat persiapan berupa bijak menggunakan air dan membuat rumah menjadi lebih hijau. Percaya deh, dua cara ini sangat signifikan mengatasi perubahan iklim yang ekstrim ini, dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang menjadi pemicunya. 

Berdasarkan Peraturan Presiden No 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, pada tahun 2025 ditargetkan pengurangan 20,9 juta ton sampah dari timbulan sampah sebanyak 70,8 juta ton atau sebanyak 30%. Sementara jumlah sampah yang tertanggani sebanyak 49,9 juta ton atau sekitar 70%.

Target di atas membutuhkan kerjasama kita semua, dimulai dari rumah kita sendiri.

Oh iya, kamu harus ikuti #RuangPublikKBR untuk update tentang lingkungan hidup di sekitarmu.
Tanggal 22 Mei lalu saya menonton program ini, bertema Antisipasi Bencana Kekeringan tahun 2020 sehingga saya mendapatkan ide menulis ini sesuai keadaan saya sendiri. Acara itu  menampilkan diskusi bersama antara Koordinator Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (Kruha Nasional), Muhammad Reza dan Kelompok masyarakat peduli air dari Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur, Cak Purwanto. 

Obrolan ini bisa didengarkan di radio jaringan KBR, di Jakarta via Power FM 89.2, streaming KBR.id atau live Youtube: Berita KBR.



Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN).

Daftar bacaan
https://www.dw.com/id/bencana-berganda-menanti-negara-asia-di-tengah-wabah-corona/a-53159122
https://swara.tunaiku.com/gayahidup/rumah/yuk-hitung-konsumsi-air-di-rumah-plus-rincian-biayanya
http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/pengelolaan-sampah-kurangi-emisi-gas-rumah-kaca
https://nationalgeographic.grid.id/read/13289449/dampak-emisi-gas-rumah-kaca-ancam-stabilitas-peradaban-kita
https://en.wikipedia.org/wiki/Sustainable_living
https://nisanonooto.wordpress.com/2018/08/29/detergen-alami-dari-lerak/