Buku sejarah sering dianggap sebagai sesuatu yang membosankan. Bahkan bagi mereka yang tampaknya suka sejarah. Yang seperti ini sangat lahap menelan cuplikan sejarah, namun tak hendak mencari versi lengkapnya. Mungkin karena merasa bahwa buku sejarah itu membosankan. Untuk mereka dan semua yang masih malas membaca, saya sarankan untuk "membaca" sejarah di sebuah aplikasi bernama Storytel. Sejarah dari negeri sendiri yang tidak ditulis dari dalam geladak kapal. 

mendengarkan buku sejarah di storytel


Saya memang mengkhususkan pada sejarah karena kebetulan itulah yang saya "baca". Kata baca saya beri petikan karena saya tidak benar-benar membacanya. Saya hanya mendengarkan. Mengesankan sekali.


Sejarah yang bukan dari geladak kapal

Suka atau tidak suka, saat membaca sejarah tentang Pati Unus, Ratu Kalinyamat, atau bahkan Ratu Sima yang jauh sebelumnya, sejarawan Indonesia sangat mengandalkan berita-berita asing. Berita dari para pedagang, pelancong, agamawan, atau bahkan penjajah. 

Kita bisa menyebut mereka sebagai para peziarah. Dan perlu diketahui, bahwa mayoritas tulisan itu ditulis di atas geladak kapal. Meski ditulis di daratan pun, mereka adalah orang asing yang sebentar singgah. Hanya lapisan kulit ari pertama yang mereka temukan.



Sebelum kedatangan bangsa Eropa, sumber yang paling banyak dipakai adalah laporan kenegaraan para diplomat Cina. Bulan lalu saya menonton drama Cina berlatar Dinasti Ming yang memang mengirimkan utusan ke seluruh Dunia, termasuk ke Nusantara. Drama Royal Feast menceritakan tentang 3 kaisar yang memberi tugas pada Laksamana Cheng Ho menjelajah dunia, menyebarkan peradaban Tiongkok yang sedemikian majunya. 

Ini salah satu contoh yang kebetulan sudah saya tulis. Peziarah dari negeri lainnya juga memiliki motif serupa, sebagaimana yang saya kutip dari tuisan Iryan Ali dalam artikel "Memandang Negeri Jajaan di Geladak Kapal":

Sejarah ‘geladak kapal’ menulis apa yang dialami para penziarah sebagai suatu memoar bahwa mereka pernah singgah di tempat itu (Indonesia). Mereka mungkin menumpuk sejumlah manuskrip kenang-kenangan beserta barang antik, yang hendak dikurung dalam suatu tempat pameran untuk sekadar bukti, bahwa ada belahan dunia eksotik lain yang belum beradab, dan perlu diberadabkan. Oleh karena itu, narasi kenangan yang diceritakan adalah narasi soal keindahan, peluang keuntungan, kediaman, kemandekan, kebodohan, perpecahan, dan sebagainya. Sementara itu, para petualang menganggap bahwa yang beradab adalah mereka, dan kini tugas para pembaca yang ada di negeri nun jauh asal kapal berlayar di sana adalah, untuk melanjutkan pemberadaban atas nama dunia yang mengaku beradab.


Sejarah dari atas kapal yang diajarkan secara turun-temurun karena memang saat itu kita adalah negara terjajah. Baru tahun 1950an ada upaya untuk melepas belenggu penulisan sejarah secara kolonialsentris/neerlandosentris. Tepatnya pada seminar sejarah Indonesia I pada 1957 di Yogyakarta.

Kita menyebutnya dengan tradisi penulisan sejarah (historiografi) Indonesiasentris. Buku Buya Hamka yang berjudul "Dari Perbendaharaan Lama" merupakan salah satu buku historiografi Indonesiasentris yang sangat berharga, namun kelihatannya sudah banyak dilupakan. Sebuah buku yang ditulis oleh anak negeri yang kaya literasi sejarah Melayunya. Saya menemukannya di apikasi audiobook Storytel.


Asyiknya membaca buku sejarah

Kalau ditanya berapa jumlah buku sejarah yang saya baca dalam satu tahun, saya bisa bilang, ratusan. Ini bukan iklan wafer kesukaan Giandra si tiga tahun kami. Ini memang faktanya. 

Saya seperti selalu kehausan, mencari tahu suatu peristiwa sejarah. Sebagai contoh saja, hanya ingin tahu siapa perempuan literate sebelum R.A. Kartini yang memiliki karya, saya tidak tidur dalam waktu 48 jam, guna mencari literatur dan membaca puluhan hasil temuan. Saya memang banyak baca buku online karena bahannya melimpah. 

baca buku online


48 jam itu hanya waktu saya tidak tidur sama sekali, karena di antara riset, saya adalah ibu yang bisa diandalkan oleh anak dan suami. Saya tetap melakukan kewajiban sebagai anak, istri dan ibu sebelum mengambil hak pribadi melakukan riset sejarah. 

Sebenarnya, saya lebih senang membaca sejarah sejarah perempuan. Cita-cita saya yang paling utama saat ini adalah menerbtkan buku sejarah R.A. Kartini yang "memendek dalam waktu, memanjang dalam soal". Kedudukan perempuan di Nusantara pada masa lalu mengalami naik turun. 

Saya perlu tahu kapan dan mengapanya. Saya butuh mengetahui bagaimana cara hidup perempuan sebelum dan sesudah beliau, tradisi, kontruksi sosial, revolusi agama, bahkan buku sejarah yang beliau baca. Dan saya berkelana ke mana-mana demi sebuah buku yang "memendek dalam waktu, memanjang dalam soal". Terbatas kronologi waktunya tapi komprehensif menjawab ratusan fakta yang terjadi saat itu. 

Dan saya pun membaca 2 karya Buya Hamka di Storytel berjudul: 
1. Dari Perbendaharaan Lama
2. Pribadi Hebat

Masih ada buku berjudul "Ayah" tentang beliau yang wajib baca karena membahas tentang banyak hal termasuk nasihat pasangan suami istri. Akhir-akhir ini viral tentang tragedi istri/suami, di medsos, kan? Donlot Storytel dan dengarkan deh, adem bener... mendengarnya. 

Setelah 2 buku di atas, lalu saya melanjutkan membaca buku ketiga belum ada di Storytel, yaitu "Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan". 

Audiobook Indonesia


Sungguh minggu yang berarti, dengan diawali menemukan koleksi Buya Hamka di aplikasi audiobook bernama Storytel. Seandainya saya bisa menemukan semua literatur di aplikasi membaca buku dengan cara mendengarkan....


Kenalan dengan Storytel

Unik sekali bagaimana perkembangan literasi di zaman sekarang ini. Bagaimana kita bisa membaca dengan cara mendengarkan saja. Inilah tren terbaru di masa sekarang, yaitu mendengarkan buku melalui Storytel audiobook.

Saat menggunakan pertama kalinya, saya hampir seperti anak yang ingin meloncat kegirangan. Masa membaca buku selama 8-10 jam bisa dilakukan sembari memasak, mencuci, menyetrika, bahkan menemani anak-anak di rumah. 

Storytel cocok banget jika disebut sebagai platform audiobook yang memudahkan perluasan pengetahuan dan wawasan, dengan cara yang lebih menyenangkan. Saya membuktikannya sendiri.


Aplikasi Audiobook


Bagi yang lebih suka buku novel fiksi, aplikasi ini pas banget. Saya sudah menyelesaikan Le Petit Prince yang luar biasa itu. Saya juga baru menyentuh bab pertama Hunger Games. 

Saya menyetel Storytel dengan loud speaker agar semua anak mendengarkan juga. Saya berencana membeli banyak buku fiksi yang melegenda seperti Harry Potter. Sudah pernah punya satu set lengkap bahasa Indonesia dan Inggris, tapi hilang saat pindah rumah. Satu kardus hilang. Di sini ada Harry Potter audiobook. Bisa sedikit menghapus rasa sesal.

Sebagai penyuka Game of Thrones, asyik juga jika mendengarkan dalam bentuk audiobook. Semuanya ada di sini, dan dibacain. Bisa didengarkan sambil melakukan apa saja. 

Ketika scroll rekomendasi buku, banyak buku bagus. Kebetulan ada Negeri Lima Menara yang saya suka. Asyik! Ada juga novel Dilan yang kisahnya dekat dengan masa putih-abu saya. Ini bisa jadi target koleksi keluarga. 

Oh ya, ada Mariposa yang bulan lalu harus ditulis anak sebagai tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Ada juga Selamat Tinggal. Banyak sekali koleksinya. Btw, Divortiare bagus ga sih? Termasuk buku rekomendasi.

Kalau lebih suka dengan buku nonfiksi seperti saya, ada banyak juga koleksi buku best seller. Ada Sapiens, Change Your Habits, dan Investing is Easy, yang semuanya sudah dalam bahasa Indonesia. 

Di etalase saya ada Mr. Crack dari Pare-Pare, yang merupakan biografi terlengkap B.J. Habibi. Bicara biografi, selain Ayah untuk Buya Hamka, ada juga biografi berbentuk fiksi berjudul Kartini. Teruslah menggali harta karun di aplikasi ini...


Pengalaman menggunakan Storytel

Selama seminggu ini rumah saya selalu terdengar "dongeng" tentang sejarah Indonesia, terutama dari Buya Hamka, yang judulnya sudah saya sebutkan di atas. Sesekali diselingi cerita tentang pangeran kecil yang memberi banyak pelajaran berharga melalui perjalanan seorang pilot. Buku karya Antoine de Saint-Exupéry yang menjadi Buku Terbaik Abad ke-20 di Prancis dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 300 bahasa.

Maksud hati saya, selain bisa tetap melakukan riset sejarah, juga bisa membuat anak-anak mendengarkan apa yang menjadi kecintaan ibunya. Storytel membuat saya bisa membaca kapan saja, di mana saja, dan dengan cara yang praktis. 

pengalaman mendengarkan buku di storytel


Untuk orang yang sering mengalami mata lelah, ini juga sebuah solusi membaca yang menyenangkan. Saya tidak perlu terlalu sering melihat layar HP/laptop. Bisa sesekali mengistirahatkan tangan dari memegang buku sejarah saya yang baru dibaca separuhnya. 

Setahun ini saya selalu membeli 1-3 buku setiap bulan untuk melengkapi data. Seperti saya nyatakan di atas, saya ingin membuat buku sejarah perempuan yang memendek dalam waktu tapi memanjang dalam soal (pembahasan).  

Saya sangat berharap koleksi buku sejarah dan biografi di Storytel terus bertambah dan bertambah. Saat ini sudah ada ratusan buku best seller, yang bisa dihabiskan dalam waktu beberapa bulan. Sudah ada pula buku-buku yang akan datang, salah satunya yang saya tunggu adalah Rumah Lebah. Saya masih mengubek-ubek koleksi buku sejarahnya. Ini akan sangat menyenangkan dan saya akan dengan senang hati terus berlangganan. 

Storytel memang aplikasi audiobook Indonesia yang berbayar. Per bulan Rp39.000 saja. Jumlah ini mengambil langganan untuk buku berbahasa Indonesia dan Inggris. Lebih murah daripada biaya berlangganan aplikasi video on demand, ya. 

Kalau mau kenalan dulu dengan Storytel, bisa ambil "uji coba gratis" dulu. Memang harus menautkan ke salah satu aplikasi e-money, tapi bisa dibatalkan kapan saja alias 100% gratis. Ayok ikuti tren baik membaca buku dengan cara yang mendengarkan ini. 



Buku yang dibacakan bisa didonlot dahulu, agar bisa didengarkan saat harus mematikan data. 

Untuk lebih jelas, berikut fiturnya:

  1. Dengar dan baca secara offline. Caranya dengan mendonlot buku yang ingin didengarkan. Buku bisa diakses profil lalu klik Buku offline.
  2. Mode Anak. Aplikasi ini bisa diinstal di HP anak, lalu masuk dengan email yang sama dengan yang ada di HP kita. Dengan mengaktifkan mode anak maka yang muncul hanya buku-buku anak.
  3. Menulis ulasan atau komentar. Ini cara yang bagus untuk di-notice seseorang yang satu frekuensi. Bisa saling membalas komentar sesama pengguna, lho.
  4. Membuat target mendengarkan. User bebas membuat target dengan jangka waktu yang bisa ditentukan sendiri.
  5. Mengundang teman untuk mencoba Storytel selama 7 hari secara gratis. Ada yang mau?



Bagi saya, pengalaman mendengarkan sejarah negeri sendiri dari Buya Hamka di Storytel selama seminggu ini menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Saya bahkan meneruskannya ke literatur yang lain. Saya menanti buku Pendidikan Etik(a)et dalam Keluarga ini masuk ke dalam aplikasi audiobook ini. 
Meski suka sejarah, namun fokus saya adalah sejarah perempuan. Sesekali membaca sejarah lokal dan sejarah penyebaran agama Islam yang memang mendapatkan intervensi dari pemerintah kolonial. 
Benar kata Buya Hamka, bahwa sebagai negeri terjajah kita pernah dipecah-belah menggunakan sejarah kita sendiri serta diintervensi secara massif dengan penulisan sejarah dari atas geladak kapal. Apakah mau, pengetahuan sejarah selamanya hanya sampai pelajaran SD - SMU, sementara historiografi sejarah kita selalu mengalami perubahan dengan temuan-temuan baru.
Cobalah cara saya mendengarkan sejarah negeri sendiri di aplikasi Storytel. Silakan pilih: