Mengapa Kyai Sholeh Darat Menerjemahkan Al Qur'an dalam Huruf Arab Pegon?

Suatu hari yang lumayan sibuk sampai lembur, ada seorang gadis cantik yang bertanya, "Mengapa Kyai Sholeh Darat menerjemahkan Al Qur'an dalam huruf pegon? Apakah dilarang oleh pemerintah Belanda?" Saya balas bertanya mengapa kamu mengira begitu? Dan ia menjawab sesuai buku/teks yang diyakini dan ditulis saat ini. Saya tersenyum simpul. 

Mengapa Kyai Sholeh Darat Menerjemahkan Al Qur'an dalam Huruf Arab Pegon



Sebelum menjawab saya membuat 1 pernyataan dan 1 pertanyaan:
"Saya belum menemukan kebijakan yang melarang itu. Malahan saya yakin Al Quran sudah diterjemahkan oleh orang Belanda sejak lama. Tradisi keilmuan Belanda sangat maju dan mereka ingin jadi negara yang paling literate di dunia saat itu." Lalu saya balik bertanya.... 
"Kamu yakin kalau diterjemahkan ke huruf latin, semua orang bisa yang bisa baca?"

Daan.... perbincangan kami jadi cukup panjang. Lebih tepatnya saya yang banyak berbicara, karena ditugasi demikian. Intinya mengapa Kyai Sholeh Darat menerjemahkan Al Qur'an dalam huruf Arab pegon. 

Saya akan menambahkan sebuah pertanyaan yang sangat lancang, "Kamu yakin mbah kyai bisa menulis huruf latin?" 

Ampun.. beribu ampun. Ini cara saya mengolah pikir saat jadi orang yang ditanyai mahasiswa untuk skripsi/tesis. Saya berikan sebuah pertanyaan yang menohok namun jadi landasan berpikir dan berlogika. Menurut pemahaman saya lho ya....

Kebetulan saat itu ada 3 mahasiswa yang ndilalah skripsi dan tesisnya tentang spiritualitas 2 tokoh legend dari Jepara: Kartini dan Kartono.  Mereka beda kampus, dan bahkan beda kota. Topiknya sangat mengerucut dan tak perlu saya sebutkan untuk merahasiakan identitas mereka. Sebagai kurator museum, meski saat itu sudah lembur, masih nambah jam lembur karena tamu harus dibantu.

Kejadiannya agak lama, sebenarnya, yah, kira-kira 2 minggu lalu. Oleh karena sudah 2 bulan saya tidak menulis di blog, maka ini jadi artikel perdana tahun 2026 di Cakrawala Susindra. Setelah ini insyaAllah akan rajin kembali, tetapi bahannya tak jauh dari sejarah, ya.

Literasi awal abad ke-21

Saya sudah berkali-kali ditugasi Rumah Kartini Japara untuk menemani mahasiswa yang minta data di sana. Spesialisasi saya perempuan dan pendidikan. Jika periset topik lain sedang tidak available, atau tamu dadakan ke museum yang ternyata sudah menunggu seharian, ya wes gabres saja. Eh maksud saya, yo wes, ditemani saja semampunya. 

Oleh karena minim ilmu spiritualitas, saya gabres dengan pertanyaan yang menusuk logika saja, 
"Kamu yakin semua orang bisa baca terjemahan itu, kalau ditulis dengan huruf latin, huruf ABC yang sekarang jadi standar wajib sekolah?"
Nona cantik menjadi gamang. 

Saya jelaskan....
Kalau pakai kacamata sekarang, sejak masih new born baby dan unyu-unyu dengan bau wangi yang nagih pun... kita sudah dikelilingi oleh orang yang tahu cara membaca dan menulis. Minimal mbah pernah sekolah SR, sementara orangtua tamat sekolah cukup tinggi. Zaman dahulu... TIDAK. 
Kata tidak saya ucapkan dengan penekanan kecil untuk memberikan efek.

Kalau mengingat seluruh percakapan, spek otak saya tak sampai. Saya juga bukan Kartini yang dalam surat-suratnya bisa mengutip percakapan secara verbatim. Saya mudah lupa tapi ingat rasa. hahahai

Ya wes lanjut dengan gaya menulis saya saja, ya.

Tarohlah kita pakai pengumuman pada peringatan Hari Aksara Internasional 2025, yang menyatakan angka buta aksara di Indonesia pada tahun 2025 tercatat hanya 0,92 persen. Agar walid eh valid. 




Bagaimana jika dikomparasi dengan masa Kyai Sholeh Darat menerjemahkan Al Qur'an? Bahkan angkanya dibalik pun masih kurang, karena angka orang yang tidak buta aksara alias kenal huruf ABC tak sampai 0.9%. 

Kalau jumlah orang Belanda, Eropa, dan Eurasia diambil, jumlah orang bumiputera yang bisa kenal ABC mungkin akan agak jauh dari 0.9%. Artinya.... siapa yang akan baca kecuali kaum priyayi?

Jumlah sekolah di kala itu

Kita pakai start tahun 1892, ya, saat pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan, setiap kabupaten harus punya Sekolah kelas Satu (Eerste School atau Sekolah Ongko Siji) dan Sekolah Kelas Dua (Tweede school, atau Sekolah Ongko Loro). Pasalnya.... pemerintah tak lagi menerima murid bumiputera di sekolah dasar negeri. 

Sebelum 2 sekolah ini diundang-undangkan, tak setiap kabupaten memiliki 1 sekolah negeri (Sekolah Dasar Eropa). Kota yang semacam ini kalau di kabupaten tersebut ada aktivitas zending, maka sekolahnya hanya ada itu. 

Maka, implikasinya ada 3:
1. Orangtua yang ingin dekat pemerintah atau ingin mengubah nasib, anaknya disekolahkan
2. Orangtua dari kalangan santri mengharamkan belajar huruf latin
3. Orangtua yang menerima nasib sebagai kaum terjajah hanya menjalani hidup saja. Pajak setinggi leher tak terbayar.

Jadi memang benar-benar orang zaman itu dalam kegelapan. Bahkan di kalangan santri dan yang mengawulo pada santri, bukan hanya tak didapat, bahkan diharamkan. Sebagai bentuk tawakal mereka yang menganggap bahwa londo adalah ujian dari Allah yang kelak akan dicabut oleh Allah. 

Jepara sebagai kota yang literasinya sangat tinggi, pada masa hidup Kartini, memang punya sekolah dasar Eropa, punya sekolah zending, punya sekolah ongko siji dan ongko loro. Bahkan ada sekolah rumahan yang dibuka oleh ibu-ibu Belanda yang entah altruist atau menambah pundi, namun namanya disebut. 

Beberapa pegawai negerinya pun sudah lebih maju, dalam artian karena meniru Bupati Sosroningrat, mereka memberikan pendidikan ke anak perempuannya. Bukan di sekolah melainkan di rumah seorang janda Belanda di Kampung Satusan yang membuka kelas berasrama. 

Pendidikan di masa itu hanya berkutat seperti itu saja. Bahkan, di kota yang termasuk pedalaman, angka keterdidikan lebih rendah daripada di Jepara. Angka orang yang bisa membaca amat sangat kecil.

Mengapa huruf pegon?

Jadi, apakah kamu yakin, Mbah Kyai Sholeh Darat tahun 1902 sudah bisa membaca huruf latin? Kalau jawabannya yakin bisa, maka pertanyaannya, dengan karomah beliau, yang tahu hanya segelintir kecil orang yang bisa menulis huruf latin, apakah beliau akan tetap menerjemahkan ke huruf asing yang diharamkan mayoritas kyai di zamannya?

Mengapa Kyai Sholeh Darat Menerjemahkan Al Qur'an dalam Huruf Arab Pegon



Pertanyaan untuk ngopi alias ngolah pikir, yaitu:
Mengapa huruf pegon? 

Pada masa itu pemerintah Belanda memberlakukan aturan setiap golongan memakai adat mereka sendiri, tidak boleh menggunakan adat dari suku atau bangsa lain. Cara menulis pun demikian. Kaum santri membaca dan menulis dalam huruf pegon, sementara orang Jawa menulis dalam huruf honocoroko. Namun sebagai orang Islam, meski tak banyak, huruf pegon dimengerti dan dapat dibaca.

Itulah sebab, banyak buku religi lawas yang ditulis dalam huruf pegon. Itu memang karakteristik keilmuan kaum santri.


Ok, segini dulu karena mood menulis saya belum balik. Saya cuma mau mengeluarkan pemikiran simpel saja. Anggap latihan menulis kembali. Semoga menjawab pertanyaan mengapa 

0 Komentar