Ada banyak cara untuk mengenal Karimunjawa. Kita bisa membaca sejarahnya, menyusuri pantainya, atau melihat perahu-perahu yang berangkat melaut. Namun, kali ini saya memilih cara yang lebih sederhana. Saya mengunjungi rumah-rumah warga dan mendengarkan cerita mereka. Salah satu bonus yang saya dapatkan adalah mengikuti pernikahan suku Mandar dengan adat Jawa yang oleh masyarakat sana disebut pernikahan adat Kartini atau pernikahan adat Karimun.
Tujuan saya adalah mengenal kehidupan suku-suku yang tinggal di Karimunjawa. Saya ingin melihat bagaimana mereka menjalani keseharian, mempertahankan kebiasaan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tiga rumah menjadi tempat saya belajar. Ada rumah orang Mandar, orang Bajo, dan orang Buton. Masing-masing membawa cerita yang berbeda.
Karimunjawa sering dikenal sebagai kepulauan dengan beragam suku. Orang Jawa, Bugis, Madura, Mandar, Bajo, dan Buton hidup berdampingan di dalamnya. Masing-masing memiliki cerita tentang asal-usul, kebiasaan, dan cara bertahan hidup. Namun, bagaimana kehidupan mereka sekarang? Apakah tradisi yang dibawa dari daerah asal masih dipertahankan? Atau, perlahan-lahan, kehidupan bersama telah mengubahnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya mengunjungi tiga rumah. Ada rumah orang Mandar yang berkembang menjadi toko kelontong. Ada rumah orang Bajo yang masih menyimpan cerita tentang kehidupan di laut. Ada pula rumah orang Buton yang menjadi tempat berbincang tentang tradisi dan kerukunan warga. Tiga rumah ini memperlihatkan bahwa mengenal suku di Karimunjawa tidak cukup hanya dengan mengetahui asal-usulnya. Kita juga perlu melihat bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
Bertamu ke Rumah Orang Mandar
Rumah pertama yang saya kunjungi adalah rumah Ibnu Sabil. Ia berasal dari suku Mandar dan tinggal di Desa Nyamplungan. Saat ini, ia mengelola toko kelontong yang cukup besar. Berbagai kebutuhan sehari-hari tersedia di sana. Toko itu menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga sekitar.
Namun, kehidupan Ibnu tidak selalu berada di balik etalase. Orangtuanya dahulu berkebun dan melaut. Dua kegiatan itu menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka. Ia sendiri memilih jalan yang berbeda. Ia menekuni perdagangan karena kegiatan bertani dan berkebun di sekitar rumahnya semakin sulit dilakukan.
Salah satu persoalannya adalah populasi monyet yang terlalu banyak. Menurut Ibnu, keberadaan monyet cukup meresahkan. Tanaman yang dirawat dapat rusak. Hasil kebun pun sulit diharapkan. Dalam keadaan seperti itu, berdagang menjadi pilihan yang lebih memungkinkan.
Di sini, saya melihat bahwa perubahan pekerjaan tidak selalu berarti meninggalkan identitas. Ibnu tetap menjadi bagian dari keluarga Mandar. Namun, ia juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya. Kehidupan di Karimunjawa membuat pilihan ekonomi seseorang tidak hanya ditentukan oleh tradisi keluarga. Kondisi alam dan kebutuhan sehari-hari turut memengaruhinya.
Orang Bajo dan Kehidupan yang Berubah
Rumah kedua berada di Kampung Bajo Karimunjawa. Saya bertemu Anton dan Siti Aminah, pasangan dari suku Bajo. Percakapan kami banyak membahas kehidupan sehari-hari orang Bajo. Bagaimana mereka menjalani kehidupan di Karimunjawa? Apa yang masih dipertahankan dari kebiasaan orang Bajo? Dan apa yang telah berubah?
Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan laut. Laut bukan hanya tempat mencari penghidupan. Laut juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan mereka. Namun, kehidupan orang Bajo di Karimunjawa tidak dapat dipisahkan dari lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Anton dan Siti Aminah menceritakan bahwa sebagian besar adat yang mereka jalankan kini telah mengadopsi adat Jawa. Hal ini terlihat dalam berbagai kebiasaan sehari-hari. Kehidupan mereka tidak lagi sepenuhnya mengikuti pola yang mungkin dikenal dari masyarakat Bajo di daerah asalnya.
Apakah perubahan itu berarti identitas Bajo telah hilang? Tentu tidak sesederhana itu. Identitas tidak selalu tampak dalam bentuk tradisi yang masih dijalankan. Ia juga dapat bertahan melalui ingatan keluarga, hubungan kekerabatan, dan kesadaran tentang asal-usul.
Kehidupan orang Bajo di Karimunjawa memperlihatkan bahwa kebudayaan selalu bergerak. Ketika seseorang tinggal di lingkungan baru, ia perlu menyesuaikan diri. Ia belajar kebiasaan masyarakat sekitar. Ia mengikuti aturan yang berlaku. Namun, pada saat yang sama, ia tetap membawa cerita tentang siapa dirinya.
Tradisi Buton yang Mulai Hilang
Rumah ketiga adalah rumah Mulyadi dan Wa Hasna. Mulyadi merupakan ketua RT dari suku Buton dan lahir di Karimunjawa. Sementara itu, Wa Hasna merupakan orang Buton asli. Percakapan kami membawa saya pada persoalan lain, yaitu tradisi-tradisi Buton yang mulai hilang.
Mulyadi dan Wa Hasna bercerita tentang kebiasaan yang dahulu masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Buton. Sebagian tradisi itu kini tidak lagi dijalankan seperti sebelumnya. Ada yang mulai jarang dilakukan. Ada pula yang hanya diketahui oleh generasi yang lebih tua.
Perubahan semacam ini tentu tidak hanya dialami oleh suku Buton. Banyak masyarakat di Karimunjawa menghadapi persoalan yang sama. Ketika generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, sebagian kebiasaan lama dapat kehilangan tempatnya. Tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perlahan berubah menjadi ingatan.
Namun, percakapan kami tidak berhenti pada persoalan hilangnya tradisi. Mulyadi juga bercerita tentang kerukunan warga. Sebagai ketua RT, ia melihat kehidupan masyarakat dari dekat. Warga dengan latar belakang berbeda dapat hidup berdampingan. Mereka saling mengenal dan saling membantu.
Di sinilah saya kembali pada pertanyaan awal. Apa yang membuat masyarakat Karimunjawa dapat hidup bersama? Jawabannya mungkin bukan karena mereka memiliki tradisi yang sama. Justru karena mereka belajar memahami perbedaan. Mereka membangun hubungan melalui kehidupan sehari-hari. Mereka bertemu di lingkungan yang sama. Mereka saling mengenal melalui pekerjaan, keluarga, dan kegiatan warga.





0 Komentar
Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)