Memaknai Kembali Habis Gelap Terbitlah Terang: Catatan Kecil dari Ujung Utara Pulau Jawa

Suasana tenang nan syahdu di salah satu sudut Kampung Bugis di Karimunjawa cukup melenakan. Meskipun tak mengurangi persiapan Hari Kartini sesuai kebiasaan masing-masing. Dua wanita datang berkebaya sederhana. Anak sekolah memakai baju Nusantara. Kontras dengan saya yang tetap berpakaian sehari-hari namun mengikuti perayaan tahunan ini dari jauh. Pagi pukul 7 sudah live di Radio Elshinta Jakarta.

Memaknai Kembali Habis Gelap Terbitlah Terang Catatan Kecil dari Ujung Utara Pulau Jawa


Indonesia kecil di tanggal 21 April, begitu pikir saya. Masing-masing punya cara beda memaknai, atau mungkin sekadar melakukan tupoksi pekerjaan. Tak ada yang salah atau bisa disalahkan. Bukankah kebebasan berpikir dan kebebasan memilih adalah salah satu perjuangan sengit R.A. Kartini kala itu? 

Baiklah, saya akan membuat catatan kecil dari ujung utara pulau Jawa, yaitu Jepara. Sebuah kota yang beberapa kali disebut sebagai sudut terlupakan, namun melahirkan tokoh-tokoh besar pengubah zaman. KalaDisebut demikian karena ketika zaman Maritim lengser, Jepara yang dulunya menjadi kota metropolitan, telah merosot jauh menjadi kota kecil. Padahal kota ini sejak lama sampai sekarang menjadi kota agraris, kota maritim, dan kota kriya. Ke mana semua keagungan Jepara era Ratu Kalinyamat bersembunyi? Mengapa hanya tersisa sebuah sudut kecil?

Catatan itu berusaha memaknai kembali Habis Gelap Terbitlah Terang, yang sudah dimaknai beda dari aslinya. 


Memaknai gelap yang sesungguhnya

Kartini memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan peran, bukankah sekarang ini sekolah ada di mana-mana, kesempatan terbuka lebar. Bukankah artinya perjuangan Kartini telah tercapai? Pertanyaan ini sesekali mampir pada saya.

Ketika Kartini memaparkan gagasan tentang pentingnya perempuan menjadi terdidik, dan itu hanya sebagian kecilnya, yang dimaksud oleh beliau bukan hanya menguasai calistung. Benar, bahwa pada zaman itu kesempatan sekolah sangat kecil. Namun yang beliau maksudnya bukan sesempit bisa membaca, menulis dan berhitung. 

Kita lihat ke masa sekarang dulu. Sejak lahir kita dikelilingi oleh orang yang dapat membaca dan menulis. Apakah yang kita dapatkan dari semua itu? Silakan direnungkan karena jawabannya akan menyesuaikan pandangan kita tentang mengapa harus bisa calistung dan seberapa besar peran keterampilan ini berguna dalam kehidupan sehari-hari kita. 

Kita hidup di zaman terang. Bukan hanya lampu di mana-mana, namun juga informasi sedemikian banyaknya. 


Kartini lahir di zaman gelap. Zaman ketika kesempatan sekolah nyaris nihil. Di kota kabupaten, hanya ada 1 sekolah dasar negeri, jika ada cukup banyak orang Eropa yang hidup di situ. Jika ada misionaris yang cukup besar akan ada tambahan satu sekolah dasar. 

Baru tahun 1892 ada peraturan pemerintah, bahwa di setiap kabupaten minimal ada 2 sekolah baru, yaitu sekolah Kelas Satu (Ongko Siji) dan sekolah Kelas Dua (Ongko Loro). Dari namanya sudah terlihat bahwa status membawa ke mana anak bisa bersekolah. Dan dapatkah dibayangkan bagaimana jika dalam satu kabupaten hanya ada 4 sekolah saja? 

Sebuah surat rahasia antara Direktur Pendidikan kepada Gubernur jendral mengungkap mengapa pemerintah perlu menambah jumlah sekolah. Pada tahun itu, tiap sekolah rata-rata menanggung 46 ribu calon murid. Betapa jauhnya dengan kemampuan sekolah menerima anak-anak yang masih dalam kegelapan ini. 

Itulah makna GELAP yang sesungguhnya. Bukan karena keadaan nir-listrik saja. Bukan hanya karena tak ada buku bacaan saja. Peluang anak laki-laki, yang di dunia patriarki & primordial kala itu sangat dimuliakan, untuk dapat sekolah amat sangat kecil. Orang sekarang akan sering bertanya "Siapa elo, siapa bapak lo, sanggup nggak bayar biayanya" untuk segala keinginan melangkah ke depan. menuju cahaya. 

Di dunia yang jauh berbeda dengan sekarang itu, kesempatan anak laki-laki bersekolah teramat sangat kecil. Padahal ia disiapkan sebagai kepala rumah tangga. Kontras dengan anak perempuan yang sejak lahir dipersiapkan sebagai kanca wingking. Yang nasibnya sudah didesain untuk kegiatan sumur, dapur, kasur. 

Gelap. Segalanya serasa gelap dan menghimpit bagi orang peka yang telah melihat cahaya ilmu seperti Kartini. Ia diangkat dari gelapnya dunia perempuan namun kakinya masih diikat kuat di jurang kegelapan itu. Meskipun kakinya sudah melayang di atas jurang namun tak dapat melangkah ke daratan. Tak dapat pula terbang dari sana.

Bagi perempuan yang sama-sama bersekolah, namun menerima nasibnya sebagai bendoro dan calon gusti ayu, sekolah adalah bagian dari persiapan untuk masa depannya. Ia nyaman berada di jurang yang punya sisi terbaik: melihat cahaya. Setidaknya tidak berada di kegelapan seperti perempuan lainnya. Itulah sebagian besar gadis atau raden ajeng yang pernah ditemui oleh Kartini dan beliau kritik sebagai berilmu namun hanya untuk kepentingan dirinya

Psst... bukankah saat ini orang-orang seperti ini bertebaran di sekitar kita? Berilmu hanya untuk dirinya dan keluarganya? Apakah keadaan gelap itu telah sobat Susindra pahami konteksnya? 


Terbitnya Cahaya

Setelah gelapnya malam, fajar menyibak pekatnya malam. Fajar menyingsing dari ufuk timur, dengan cahaya yang masih samar namun telah memberi sedikit terang. Tak ada proses instan. Terang tak seketika menghapus gelap. Begitu juga cahaya bernama nasionalisme bangsa Indonesia.

RA Kartini dianggap sebagai penyibak "fajar nasionalisme Indonesia" melalui pemikiran modern, pendidikan perempuan, dan kritik sosialnya terhadap adat serta kolonialisme yang dituangkan dalam surat-suratnya. perjuangannya untuk kesetaraan dan keterdidikan tak hanya untuk perempuan saja, melainkan untuk seluruh bangsanya.

Tatkala para ahli kolonial dan oriental sibuk mencari tahu penyebab kemerosotan kehidupan di Jawa. Para penopang pajak pendapatan negara semakin menyisakan kering kerontang. Mereka yang ahli itu menyimpulkan sekolah perlu diperbanyak. Sekolah anak laki-laki, karena adat Jawa tak mereka campuri. Adat yang memasung kesempatan anak perempuan untuk keluar rumah tak menjadi kepedulian mereka... Kartini hadir membawa perspektif baru bahwa pembangunan membutuhkan perempuan.

Seperti tamparan yang menyakitkan. Mayoritas laki-laki yang memiliki suara dan kuasa merasa tersinggung bahkan sangat marah. Sedikit sekali yang mengamini pendapat itu. Namun yang sedikit itu toh menjadi sebuah cahaya atau transformasi berpikir.

Pelan namun pasti, banyak yang terpengaruh dengan ide, gagasan, serta contoh sekolah kecil yang dibuat oleh Kartini. Cahaya kecil seperti uplik muncul di mana-mana. Sekolah-sekolah kecil didirikan di kabupaten atau di rumah tinggal kaum priyayi. Mereka yang merasa bahwa status kelahiran membawa tanggung jawab untuk menjadi pengayom bagi rakyat jelata yang telah sedemikian miskin papa karena dijajah dan diperas oleh pajak yang berlapis-lapis.

Surat-surat pribadi yang ditulis oleh Kartini dibukukan. Diberi judul Door duisternis tot licht, yang diambil dari salah satu cuplikan puisi di sana. Terbit pertama kali bulan April 1912 dan sebelum berganti tahun telah mengalami cetak ulang 3x. Sedemikian meledaknya. Agaknya sulit melampaui capaian buku ini, yang dalam 1 tahun mengalami cetak ulang 3x.

Itulah sekelumit tentang gelap terangnya sejarah Indonesia. Bukan hanya sejarah perempuan namun juga sejarah kemerdekaan negara kita. Ide, gagasan, pemikiran, dan sekolah yang didirikan oleh Kartini pada tahun 1903 adalah pondasi untuk mewujudkan cita-cita beliau: kemerdekaan bagi semua orang untuk menjadi dirinya sendiri dan berperan nyata untuk sesamanya.

Selamat Hari Kartini! Ingatlah selalu untuk mencintai diri sendiri, bumi dan negeri kita berpijak. Tetap tanamkan benih kesadaran bangsa, kesetaraan, dan kemajuan, karena meskipun kita telah merdeka, namun penjajahan masih terjadi di mana-mana dan sedikit yang menyadarinya. 

Dibuat dengan sederhana di sebuah pulau nan indah di Kepulauan Karimunjawa. 

0 Komentar