Drama Cina Ren Yu membetot perhatian saya. Menarik sekali melihat kehidupan tahun 1994 dari POV anak remaja kelahiran 1978. Kisahnya tentang Su Lin yang hilang di terowongan air bawah tanah dan bagaimana keluarga serta kenalannya menyikapi hilangnya itu. Semua itu diawali dari persiapan pentas drama Putri Duyung di sekolahnya, dan ia pun menjadi putri duyung itu sendiri: hidup di antara air, dalam gelap terowongan air yang berliuk-liuk tanpa seorang pun memperhatikan keberadaan tempat itu. Ren Yu atau arti harfiahnya putri duyung berkembang di sana menjadi pribadi baru yang lebih kuat.
Itulah sinopsis pendek dalam 90 kata yang mungkin membawa minat sobat Susindra menontonnya di WeTV setiap hari 2 episode berdurasi 42 menit.
Saya akan membedahnya pelan-pelan sebelum menuju ke beberapa penjelasan mengenai latar belakang ceritanya untuk gen y dan gen x yang tidak pernah mengalami masa-masa tahun 1994 sebagai remaja. Juga ada beberapa hal yang tak terjadi di Indonesia sehingga terasa janggal. Contohnya mengapa adik Su Lin tidak pernah bisa keluar rumah dan tidak bisa sekolah serta harus membayar denda yang sangat tinggi. Kita mulai.
Sinopsis Ren Yu
Su Lin seorang siswi SMA yang cerdas. Ia sama sekali tidak menonjol. Pulang sekolah langsung membantu ibunya yang mengambil jasa pinatu di rumah. Malamnya ia menemani adiknya belajar.
Su Lin ingin masuk ke universitas. Satu-satunya cara adalah menambah poin melalui ikut lomba pentas drama berskala provinsi yang sedang disiapkan di sekolahnya. Ia berhasil mendapatkan peran menjadi putri duyung utama. Peran yang sebelumnya menjadi milik Ma Na, anak pengusaha terkaya di sekolah itu sekaligus donatur utama sekolah.
Ma Na anak yang senang merundung temannya tanpa sebab. Ia tanpa sengaja membuat Su Lin terjatuh ke dalam terowongan air. Ayahnya segera mengambil langkah pencegahan, yaitu memberikan banyak uang dan bantuan kepada keluarga Su Lin. Ia juga memantau keluarga ini agar tidak melakukan pencarian. Bagaimanapun masa depan Ma Na dipertaruhkan.
![]() |
| Ma Na dan ayahnya. Orang terkaya di kota |
Su Lin menghilang berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sesekali ayahnya mencari tahu. Kakek Gu Hao, tetangganya juga. Mantan polisi ini cukup gigih mencari Su Lin. Teman Su Lin, yaitu Tai Wei dan Jiang Ting juga. Sayangnya Su Lin tidak tahu hal ini. Ia hanya tahu dirinya tidak dicari keluarganya bahkan sudah dijual. Ia melihat sendiri ayahnya menerima uang dan keluarganya pindah rumah. selama ini ia dirawat oleh orang gila yang tinggal di terowongan air. Namanya Vincent.
Setelah merasakan hati hancur lebur, Su Lin kembali bangkit. Ia bertekad akan hidup layak dan keluar dari terowongan. Mula-mula ia membuat bungker tempatnya tinggal menjadi seperti rumah. Sesekali ia ikut keluar untuk memungut sampah dan merasakan kejamnya dunia pada para pemulung. Hal itu hanya memperbesar tekadnya untuk bisa masuk universitas.
Masalah terbesarnya adalah ia sudah dianggap mati. Catatannya sudah dihapus. Keluarga sudah menyerahkan surat kematiannya pada Dinas Penduduk dan Catatan Sipil. Bagaimana caranya ia kembali? Sementara memang harus menunggu karena drama ini baru melewati setengah jalan.
Di antara persimpangan terowongan air yang sedemikian banyaknya. Su Lin mendapati sebuah misteri yang sangat menakutkan bagi Vincent. Ia menghubungkan berita penemuan 3 mayat perempuan di ujung terowongan dengan ketakutan Vincent ini.
Sebenarnya cukup mudah ditebak bahwa Su Lin akan dapat memecahkan kasus psikopat yang membunuh perempuan dan membuangnya di terowongan. Dan sejak awal kasus ini muncul cukup mudah menebak psikopatnya adalah Guru Zhao. Ia bisa jeli melihat potensi perempuan (tampak di episode 1). Secara teori ciri psikopat pun ia memiliki semua kriteria: lajang atau sudah menikah tetapi tidak akur dengan istri, punya pesona, punya mobil dan fasilitas, serta punya rumah pribadi.
Memang akan mudah menebak ayahnya Jiang Ting yang juga punya semua kriteria di atas. Apalagi ia punya alat pengintai terpasang di jendela. Namun ia hanya decoy atau pengalih perhatian saja. Saya tetap yakin 100% kalau guru Zhao-lah orangnya.
Meskipun sudah mendapatkan spoiler semacam ini, yang masih bisa ada potensi tidak tepat, namun menonton drama ini sangat seru, menegangkan, membuat penonton menelan ludah getir berkali-kali serta memberikan simpati besar pada Su Lin. Apalagi aksi kejar-kejaran polisi menambah seru.
Kalau polisi masih belum punya clue sejelas penonton, itu bisa dimaklumi karena mereka tidak sejelas penonton drama. Dan benang merah antara hilangnya Su Lin dengan ditemukannya 3 mayat perempuan belum tersambung. Yang tahu Su Lin jatuh hanya Jiang Ting dan Ma Na beserta geng. Hanya 4 remaja ini, yang tak bersentuhan dengan dunia polisi.
Yang sangat menyentuh adalah aksi Vincent yang menyelamatkan Su Lin. Vincent menjadi gila setelah kematian ayahnya. Ia hidup sendirian di terowongan air dan hidup dari memulung sampah. Ternyata ODGJ bisa memiliki kasih sayang tulus dan merawat makhluk hidup. Vincent memiliki 2 perilaku khas, yaitu membunyikan peluit setiap kali memipihkan botol dan menyalakan kalung teratai setiap kali keluar dari terowongan. Jika ia tidak melakukannya, maka kita dapat melihat sesuatu yang mengganggunya ada di sekitar.
Jadi, apakah layak tonton? Banget! Drama ini cukup pendek, hanya 22 episode saja. Dimulai tanggal 4 Agustus dan tamat sebelum bulan ini berakhir. Lagi pula tayang setiap hari 2 episode kecuali Minggu dan Senin hanya 1 episode.
Drama Ren Yu berjenis triler misteri. Hilangnya Su Lin, monster terowongan yang menakuti Vincent, aksi perundungan SMA dan kerja polisi detektif menambah keseruan saat menonton. Lebih-lebih, bagi yang berusia 30 tahun ke bawah, teknologi di drama ini mungkin tidak pernah dikenal. Telepon rumah tanpa layar no pemanggil, pajer, proyektor film yang digunakan polisi, dan beberapa lagi. Dan satu hal lagi, culture shock di negeri Cina yang sedikit dari kita tahu.
Bukan orangtua kejam yang tak punya hati
Dari uang sakunya yang tidak banyak, Su Lin bisa menabung. Namun uang itu diambil ayahnya untuk membelikan jaket adiknya, Su Zhe. Sekilas tampaknya perbuatan si ayah ini murni jahat, namun sebenarnya itu caranya menebus rasa bersalah kepada Su Zhe.
Ini bukan pembenaran atas pencurian uang anak. Su Zhe memang punya kasus khusus. Ia lahir ketika pemerintah Cina memberlakukan hanya 1 anak di 1 keluarga. Jadi Su Zhe tidak bisa keluar rumah dan tidak masuk ke catatan sipil atau lebih tepatnya aparat keluarga berencana.
Tahun 1980-2015, pemerintah Cina memberlakukan Kebijakan Satu Anak. Anak kedua akan diberlakukan denda yang membuat orangtua jera. Dendanya setara 3 tahun gaji, untuk keluarga biasa. Keluarga kaya akan mendapatkan denda lebih banyak lagi. Sanksi lainnya adalah kehilangan tunjangan, penurunan jabatan, atau tekanan administratif lainnya. Aparat lokal memiliki target kependudukan yang harus dipenuhi, sehingga pencatatan keluarga menjadi sangat rinci.
Ini pula yang membuat mereka tak berdaya ketika mendapatkan uang semenjak Su Lin menghilang. Ibarat kata, bekerja seumur hidup pun tak bisa mengembalikan uang yang telanjur mereka terima.
Susah amat jadi Su Lin (anak perempuan)
Kalau memperhatikan gaya pengasuhan keluarga Su Lin, terlihat kontras sekali ya dengan keluarga Ma Na dan Jiang Ting? Masih nyambung di atas, keluarga miskin memiliki pandangan sempit tentang melanjutkan nama keluarga. Anak perempuan yang menikah akan jadi milik keluarga suaminya. Investasi buntung kalau istilah beberapa tahun lalu. Istrinya pun tak punya kuasa untuk membantah atau sekadar memberi saran. Tampak bahwa sang ayah punya kekesalan memiliki anak perempuan. Hanya satu kesempatan punya anak, ternyata perempuan. Punya anak laki-laki, tidak boleh diakui.
Lepas dari itu, mereka sangat kehilangan Su Lin. Itu sudah pasti. Bahkan ayahnya sudah tidak menyentuh miras lagi meskipun di tangannya ada uang banyak yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Meski mengakui tak punya hati tetapi mereka memiliki sesal dan ketidakberdayaan.
Berbeda dengan ayahnya Ma Na yang sangat mencintai anaknya, melindunginya dengan segala daya. Tapi kita bisa melihat sifat tamaknya ketika mulai episode 11 ia mulai memanggil Su Zhe sebagai anakku. Ia yang membayar denda kelahiran Su Zhe dan menyekolahkannya ke sekolah terbaik. Usia 10 tahun baru kelas 1 SD, di sekolah terbaik. Uang bisa membungkam suara. Pak Ma juga terus-menerus memberi Su Zhe hadiah mahal dan berencana membiayai sampai lulus kuliah. Bisa dilihat akal culasnya pelan-pelan akan merebut Su Zhe dari keluarga.
Keluarja Jiang Ting memiliki kasih sayang yang overprotektif. Ketika melihat anaknya menjadi saksi perundungan, ibunya Jiang Ting malah membersihkan TKP, membuat simpul hilangnya Su Lin tak terlihat. Ia tidak tahu kalau Su Lin terjatuh di terowongan. Ia hanya ingin membersihkan tempat yang meresahkan hatinua. Ia juga tidak memberikan kesempatan anaknya bercerita karena menggunakan sistem parenting helikopter; menghujani dengan kasih sayang tanpa memberi kesempatan imbal balik.
Ketatnya administrasi di Cina
Kebijakan Satu Anak
Tahun 1994 yang menjadi setting drama ini, kita dapat melihatnya dari kartu pinjam buku perpustakaan Su Lin. Tahun ini di Cina jauh berbeda dengan di Indonesia dan negara lainnya. Banyak pengamat yang datang ke Tiongkok pada pertengahan 1990-an menggambarkan situasi di sana sebagai “ekonomi yang semakin kapitalistis, tetapi birokrasi yang masih sosialis.” Pelaksanaannya sangat administratif.
Pemerintah memberlakukan Kebijakan Satu Anak, di atas sudah saya jelaskan sebagai contoh kasus Su Zhe dan ketidakberdayaan keluarga Su Lin. Saya akan menambahkan keterangan lainnya. Setiap keluarga harus melaporkan:
- Pernikahan,
- Kehamilan,
- Kelahiran,
- Penggunaan kontrasepsi,
- Jumlah anak.
Pasangan yang menikah harus mendaftarkan pernikahan secara resmi. Mereka memerlukan izin kelahiran (birth permit) sebelum memiliki anak. Kehamilan dan kelahiran dicatat juga wajib dicatat oleh aparat keluarga berencana.
Kebijakan Satu Anak diberlakukan awal 1980 dan secara resmi berakhir pada 29 Oktober 2015, ketika Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok mengumumkan bahwa semua pasangan menikah diperbolehkan memiliki dua anak. Kebijakan baru ini mulai diterapkan secara nasional pada 1 Januari 2016 melalui Revisi Undang-Undang Kependudukan dan Keluarga Berencana.
Sistem Hukou dan Danwei
Sistem hukou sebagai inti kontrol administratif masih berlaku di tahun 1994 yang menjadi latar drama Cina Ren Yu. Sistem registrasi rumah tangga masih membedakan orang kota (urban) dengan orang desa (rural) dengan layanan publik berbeda. Tidak ada kesempatan pindah status sama sekali.
Bekerja di kota sebelah pun memerlukan izin dari pemerintah lokal dan pemerintah kota tujuan. Tanpa perubahan hukou, ia tidak berhak memperoleh jatah pangan, perumahan, sekolah bagi anak, layanan kesehatan, atau pekerjaan resmi di kota.
Orang desa yang ingin ke kota harus memiliki dokumen perjalanan atau surat pengantar. Pada tahun 1994 yang menjadi setting drama Cina Ren Yu, sistem hukou sudah agak melunak untuk keperluan mengisi tenaga kerja di kota pesisir seperti Shenzhen, Guangzhou, dan Shanghai. Namun mereka hanya sebagai pekerja sementara dengan surat izin tinggal sementara (temporary residence permit) dan dapat diperiksa oleh polisi setempat. Tanpa dokumen tersebut, seseorang bisa dikenai denda atau dipulangkan ke daerah asal. Jadi, jutaan orang memang sudah dapat bekerja di kota, tetapi hak sosial mereka tetap dibatasi.
Sistem Danwei membatasi pekerjaan karena sistem bekerja masih diatur pemerintah. Danwei adalah unit kerja milik negara atau kolektif. Ini juga berlaku sebagai lembaga administratif yang mengatur:
- Penempatan kerja,
- Gaji,
- Perumahan,
- Layanan kesehatan,
- Pensiun,
- Rekomendasi untuk menikah atau pindah tempat tinggal.
Jadi bisa membayangkan ya sekarang, mengapa di drama Ren Yu ada yang terasa janggal dan berlebihan. Itu hanya karena zamannya saja. Btw, saya jadi ingin menulis sinopsis dan review Overdo yang maksa dan banyak janggalnya. Ya kalau menontonnya dengan kacamata sekarang. Coba menontonnya dengan kacamata tahun 1947-1948, maka kisah mereka akan terasa lebih heroik dan nyata. Ada yang kecewa dengan ending terbukanya? Beri saya judul drama Cina lain yang ingin saya bedah faktanya di kolom komentar, ya.





2 Komentar
Anda sangat mirip dengan guru TK saya.
BalasHapusIseng buka google penelusuran ketik "blogger jepara" muncul punya mu dan blog anda keren. Saya juga dari jepara. Saya juga punya blog dengan topik game. Terimakasih.
BalasHapusTerima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)