Lampion dan Harapan

Tanggal 20 April 2016 pukul 18:30, saya dan keluarga sudah siap melaju di jalan menuju pantai Bandengan Jepara. Kami akan menerbangkan lampion doa di malam wasilahan lahirnya Kartini bersama-sama. Di tangan saya sudah ada 5 buah lampion berwarna merah muda yang terbungkus rapi. Tangan saya yang satunya menggenggam HP Samsung putih karena harus berkoordinasi dengan teman-teman rombongan. Malam ini, akan sangat seru. Demikian pikiran kami. Tempat berkumpul sudah semakin dekat, wajah kami semakin ceria.

lampion-dan-doa-di-festival-kartini-jepara
Menerbangkan lampion harus bersama-sama

Menunggu, kadang bisa jadi menyenangkan jika bersama teman-teman yang asyik. Kami sampai pertama kali, disusul teman-teman lain. Beberapa teman komunitas memang berangkat bersama. Kami biasa ikut kegiatan lintas komunitas sehingga santai saja gabung di acara teman. Makanya, jangan heran jika jumlah rombongan kami cukup banyak.

Baca juga: Saya dan komunitas

Usai memarkirkan motor dan agak berpayah menembus kerumunan, kami sampai juga di pusat keramaian. Kami agak melipir di timur panggung karena ingin seru-seruan bersama. Di atas kami, sebuah lampion terbang ngawe-awe minta ditemani. Akhirnya, satu persatu lampion diterbangkan. Pihak panitia mulai mengingatkan agar peserta berhenti menerbangkan lampion karena banyak lampion yang mulai terbang menghias angkasa, sementara acara saja belum dimulai. Dan mulailah deramah itu terjadi.

Deramah... ah, sebaiknya saya sebut dengan benar saja: perbedaan pendapat kecil. 


"Titip nama di situ, Pa," pinta DnB Susindra
Malam bergulir tanpa bisa dicegah. Ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, angin mulai menambah kecepatan. Beberapa dari kami mulai kesulitan menerbangkan layangan sementara di panggung utama panitia masih meneruskan acara sambutan, pengumuman pemenang, dan hiburan musik. Rinai mulai berjatuhan seperti wanita yang sedang bersedih. Di sela-sela acara, panitia meminta pemegang lampion jangan menerbangkan dulu. Hasilnya akan lebih spektakuler jika lampion terbang bersamaan. Penonton memiliki kehendak lain. Sebagian besar adalah murid-murid SMP dan SMA serta umum. Malam akan terus bergerak menuju larut, dan angin semakin kencang. Maka terbanglah satu per satu lampion yang dipegang, tanpa mengindahkan permintaan panitia. Pengalaman mirip acara Wilujengan Nagari terjadi lagi dan lagi

Banyak lampion yang gagal terbang. Banyak lampion yang berhasil terbang. Beberapa menyangkut di atas. Akan tetapi, lebih banyak lagi lampion yang dibawa pulang masih terbungkus rapi. Angin kencang sudah berteman dengan hujan. Sebagian besar peserta bubar. 
Ada yang menulis, ada yang mengabadikan, dan ada yang menerbangkan
Pengalaman pahit untuk penyelenggara, tentu saja. Saya sebagai peserta pun menyayangkan perbedaan jauh antara harapan dan kenyataan. Jika ditarik siapa yang salah... entahlah. Sudah pasti pendapat akan beragam. Kajian yang dipakai pun akan berbeda-beda. Saya pribadi tidak terlalu mempersoalkan pro kontra. Hal-hal semacam  ini sangat biasa terjadi. Baik atau benar, jika menyangkut banyak kepala, hasilnya akan benar bagi sebagian, salah bagi sebagian. Yang pasti, dari proses menerbangkan lampion itu saya belajar tentang arti kerjasama tim.
Lampion  yang diterbangkan
Mungkin terlihat sepele. Teman-teman yang tidak terlibat langsung dalam aksi menerbangkan lampu akan sulit membayangkan betapa sulitnya menerbangkan lampion made in Taiwan itu. Sekilas, lampion tampak seperti kertas rapuh yang mudah rusak. Tidak, lampion ini akan rusak jika terkena air, tetapi alot dan tahan panas. Aneh memang. Tetapi kami membuktikannya selama berupaya menerbangkannya. Meski terjilat api, lampion hanya gosong sedikit tetapi tidak bolong. Ukuran parafin didesain akan habis setelah sekian waktu terbakar. Manual menerbangkannya juga jelas. Yang sulit adalah kapan memutuskan kita siap menerbangkannya. Seperti insting kapan kita siap menyambut cita-cita dan kesempatan. #eh?

Harus kompak, ya
Menerbangkan lampion, butuh kerja kelompok. Seluruh sudut lampion harus dipegang agar tidak mengumpul di tengah ketika api dinyalakan. Uap api akan mengisi seluruh bagian lampion dan menggembungkannya. selama proses itu, kita tak boleh lengah dan melepas sudut lampion hingga mengempis di tengah dan terbakar. Harus kompak. Menurut pengalaman saya, diprosesnya, minimal membutuhkan 1 orang leader di tengah untuk menjaga api, dan 4 orang untuk menjaga dinding lentera mengembang selama uap panas belum menggelembungkannya. Minimal 3 orang karena ada 6 sudut yang harus dijaga agar lampion sempurna. Tugas tim, terutama ketua, adalah yakin bahwa uap yang akan membuat lampion terbang sudah penuh dan sanggup terbang. Ketika terbang... luar biasa. Seperti org***e, kami berteriak girang. Cita-cita dan doa kami terbang bersama awan.

Apakah teman-teman memiliki pengalaman serupa?


Share:

14 comments:

  1. paling nyesek pas pulang, kehujanan gak bs maju/mundur, hwaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehhehe... iya. baju basah sampai kering lagi

      Delete
  2. Wahh keren festifal lampoonnya Mbakk
    Dan ada yang pake baju WB Hihihi

    ReplyDelete
  3. Sayang banget ya gak bisa diterbangkan semua lampionnya, kalo bisa kaya di film-film itu *ya ampun daku korban film* :D

    ReplyDelete
  4. Wah keren. Lihat lampion ingat film tangled mba susi.

    ReplyDelete
  5. Alhasil dari kejadian kurang mengenakkan itu, ada kecerian yang terbalaskan ya mba... kalau saya sih pas taun baru itu, bukan lampion sih, kembang api. Nyalain pas ujan ya ga nyala2, maklum yg ngerengek si kecil :D

    ReplyDelete
  6. widiihh... pasti bagus tuh ya kalau banyak yang diterbangi

    ReplyDelete
  7. Wah seru bu...tp memang andai semua org bisa berpikir seperti itu. Sesuatu itu ada positif n negatifny tinggal siapa dan bagaimana cara memandangny

    ReplyDelete
  8. Wah...lampionnya berwarna pink..cantik sekali.. Pastinya makin cantik lampion2 itu ketika sudah beterbangan di udara ya Mba..

    ReplyDelete
  9. wah, negerinya Kartini ni


    Mba Susi, salah satu penerus Kartini yang keren

    ReplyDelete
  10. pengalaman pribadi, seru. kecewa ada sih. ya,, 60-40 lah

    ReplyDelete
  11. belum pernah lho mba...pasti seru ya menerbangkan lampionnya

    ReplyDelete
  12. Seru acaranya, harapannya jadi terbang bersama lampion ya Mak.. :)

    ReplyDelete
  13. Aaaaakh, nerbangin lampion :' terakhir liat beginian itu waktu aku masih SD kelas 1 Mbak :' aku kegirangan banget waktu liat lampion-lampionnya terbang :'

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra