9 Mei 2011 kemarin di Jepara ada Perang Obor di desa tegal Sambi Jepara. Ini tradisi asli orang Jepara loh. Tongkat api yang digunakan berasal dari daun blarak (daun kelapa kering) dan klaras (pelepah daun pisang kering) berapi dan saling dipukulkan ke tubuh lawan. Bentuknya disesuaikan dengan legenda Kyai Babadan dan Ki Gemblong. Dan Anehnya, semua peserta tidak terbakar. Luka melepuh yang didapat 50 "prajurit" perang segera disembuhkan dengan minyak Londoh.



Biasanya tradisi Perang Obor dilakukan di hari Selasa Pon bulan Zulhijjah. Sebelum acara dimulai akan diadakan selamatan di 7 tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Tegal sambi. Setelah itu seekor kerbau jantan muda yang belum pernah dipakai membajak sawah disembelih di rumah kepala desa. Pada pukul 17.30 WIB Pak Bayan meletakkan sesajen yang salah satunya darah kerbau yang disembelih tadi serta daging & jeroan yang sudah dimasak. Tepat pukul 8 malam, acara perang obor pun dimulai. Perang ini berlangsung sekitar 1 jam.

Pertama kali menyaksikan perang obor pastilah sangat menegangkan sekaligus menyenangkan. Api beterbangan di atas kepala kita yang terlalu dekat di bahu jalan yang dipakai untuk perang. Tapi jangan khawatir, tak pernah ada kecelakaan karena petugas selalu tanggap dan sebagai penonton, tentu saja kita memperhatikan keselamatan diri sendiri, kan?

Jika ingin tahu lebih bnyak tradisi ini, silahkan membuka di situs resmi Jepara. Foto pinjam dari koleksi mas Anis. Beliau selalu punya foto-foto yang super keren, loh.