Alhamdulillah semua urusan sekolah Destin sudah selesai. Tinggal membeli alat sekolah dan membayar buku dan urusan teknis lainnya. 
Beberapa hari ini kami memang fokus di persiapan tes sekolah Destin. Tiap hari mengintensifkan belajar Destin karena untuk masuk sekolah SD sekarang ada tes macam-macam. Jika di masa Susi dulu sekolah mencari murid, sekarang sekolah menolak-nolak murid.
Ada catatan kecil dan menggelikan bagi Susi perihal tes masuk sekolah Destin kemarin. Kami mengintip dari balik pintu dan jendela sambil tersenyum-senyum. Tak nampak grogi kami berdua seperti halnya para orang tua yang lain. Karena Destin nomor urut 94, kami sempat melihat materi apa saja yang diteskan di SD tersebut. Dan kami langsung tahu peluang Destin masuk SD itu dibawah 5%, tak perduli bagaimana pun usaha kami. Mengapa demikian?
Kami mendapat bocoran di tempat dari guru bahwa murid yang diterima hanya 70 siswa, dan saat ini telah ada 45 siswa yang telah diterima. Jadi dari 119 calon murid yang di tes, hanya 25 yang akan diterima. Hmm... normal saja jika tes-nya tak sesuai nalar kami. Tapi kami tak mau menyerah dan mengundurkan diri. Kami ingin tahu sampai mana kemampuan keberanian Destin. 
Destin diminta membaca beberapa kalimat dan salah satunya "Aini menggosok gigi" lama sekali Destin membaca menggosok karena memang tak pernah kami ajarkan. Kemudian dia diminta menulis nama lengkap, alamat serta pekerjaan orang tua. Wah, meringankan beban orang tua mengisi formulir, ya? 
Aneka tes djalani dan kami pantau dengan senyum meski Destin tak bisa. Ketika di bagian menyanyi, kami lebih lebar lagi tersenyumnya karena tahu Destin pasti tak bisa (maaf jika kami aneh dan kurang normal). Disediakan aneka lintingan undian berisi judul lagu dan anak menyanyikan lagu sesuai lintingan yang dipilih. Hihi... karena tak bisa Destin meminta menyanyikan lagu pelangi-pelangi saja. Begitu selesai tes wajah Destin sudah merah semua seperti terbakar. Ah, kasihan sekali. Tapi ini bisa jadi pengalaman mengesankan bagi Destin dan kami karena jika banyak anak TK yang mampu mengapa Destin belum? Semoga Destin makin rajin belajar.
Hari ini tanpa melihat hasil tes kami mendaftarkan Destin ke SD Muhammadiyah terdekat dari rumah. Ternyata terakreditasi A? Wah, kok tidak tahu, ya? Ah, yang penting semua sudah selelsai dan moment kemarin jadi catatan penting keluarga Susindra.