Posting tentang pocong kemarin mau tak mau membawa saya pada sebuah kenangan tentang almarhum bapak. 

Bapak… mengingatnya selalu membawa saya pada kenangan masa lalu yang tak akan sanggup saya ingkari. Bapak… sosoknya begitu menakutkan bagi semua teman maupun tetangga, namun hatinya selembut kapas. Di balik wajah sangarnya, ada kepekaan luar biasa. Mungkin itulah cara bapak untuk mempertahankan diri pada dunia yang keras padanya.

Bapak yang pertama kali memperkenalkan saya pada dunia gaib. Bapak yang sering tirakat untuk mencari azimat. Bapak yang terkadang pulang membawa ‘teman’. Dan saya yang rapuh sering terganggu oleh visi tak nyata. Dan kemudian saya belajar untuk tegar, tak terpengaruh pada “mereka”. Semakin kuat saya menolak melihat keberadaan mereka, mereka semakin sulit membuat saya melihat. Hanya ketika saya sangat lelah seperti pengalaman kemarin mereka dapat mengganggu saya.

Bapak bukan dukun. Tetapi terkadang bapak dapat menyembuhkan orang hanya dengan bahan sederhana. Seorang lelaki A yang lumpuh selama 5 tahun tiba-tiba mendapat mimpi agar mencari seorang lelaki bernama Zali untuk meminta obat. Dan bapak pun mendapat mimpi agar mengobati seorang lelaki A yang lumpuh dengan bawang merah, garam dan minyak kelapa. Dan ajaibnya SEMBUH! Maka tak terkira rasa syukurnya hingga sampai kini hubungan kami seperti saudara. Wajar karena tulang punggung keluarga yang telah lumpuh selama 5 tahun tiba-tiba mampu bekerja kembali berkat Bapak. Pun beberapa pasien tak resmi bapak yang masih baik sampai sekarang meski tak sedekat lelaki A ini.

Pernah suatu hari ada suami-istri yang bertanya ke sana kemari, mencari dukun Zali, bahkan bertanya pada saya. Kala itu saya menjawab, setahu saya tidak ada dukun bernama Zali, hanya ada lelaki biasa bernama Zali. Menjelang sore, suami-istri tersebut sampai ke rumah saya. Bapak menemui keduanya dan dengan sopan mengatakan tak mampu mengobati mereka. Bahkan sampai ngeyel tak mau pulang, bapak tetap mengatakan tak sanggup karena tak tahu obat yang tepat. Karena dasar pengobatan bapak adalah melalui mimpi. 

Saya bersyukur sekali, menjelang meninggal bapak telah membersihkan diri dan mendekat pada fitrahnya sebagai muslim. Bapak sempat berkata, “Nduk, bapak sudah membagikan semua azimat pada orang-orang. Tapi kamu tidak bapak tinggali. Kamu anak perempuan, takkan sanggup.” Waktu itu saya  menjawab, “Nggih, pak. Saya tidak percaya pada kekuatan azimat.”

Bapak… ketika kematiannya… sosok yang sangar tersebut ternyata disholati banyak orang. Perjalanan menuju pemakaman diantarkan oleh ratusan pelayat. Kerandanya menjadi rebutan pemanggul yang merasa berhutang budi pada Bapak. Kami sekeluarga sedemikian takjub dengan keberuntungan yang bapak dapatkan pada hari pemakamannya. 
Gambar pinjam dari mbak Lidya

Bapak semoga semua amal ibadahmu diterima Allah SWT. Diringankan azabmu, dan dinaikkan derajatmu. Amin. 

Itulah bapak saya, H.M Zali yang meninggal pada tanggal 6 Juni 2003 pukul 21:15 di Rumah Sakit Graha Jepara karena serangan Jantung. Sebagian kecil dari ribuan episode kehidupan saya yang tak biasa. 

Seharusnya saya mereview sebuah buku yang sukses membuat saya menangis, yaitu Semiliar Cinta untuk Ayah. Namun buku hadiah dari pakde ini baru 80% selesai saya baca karena saya tak tahan mengingat rasa bersalah saya karena tak mengerti sosok bapak sebelum meninggalnya. Saya pun takkan mungkin berharap waktu terulang kembali.

#Mohon maaf jika tanpa foto bapak, karena ketika beliau meninggal, saya belum mengenal digicam. Dan ketika berniat pindah rumah kemarin semua buku dan koleksi foto sudah saya packing. Mungkin akan menyusul di kemudian hari.