Simple Woman in complicated heart sudah berganti dengan un voyage du coeur. FYI, un voyage du coeur berarti perjalanan hati. Yap, itulah tema blogsusindra sekarang. Sengaja saya buat tematik sesuai apa yang saya rasakan. Gaya tulisannya pun berubah lagi. ketahuan kalau masih jadi wanita labil, ya? Haha...


22-12-2012. Hari ini adalah hari ibu, dan saya sedang rindu pada ibu di Jepara. Ibu yang sangat mencintai dan mempercayaiku. Ada rasa haru saat mendapat sms dari adek bahwa kemarin ibu bangun tidur dan mencari cucu kesayangannya, Destin. Diam-diam air mata ibu mengalir menyadari keabsenan anak dan cucu kesayangannya. Cucu yang saat ini sedang terpisah jarak ratusan kilometer. Jepara-Purwokerto. Rasanya seperti mencuri kebahagiaan ibu. 5 tahun saya berkelana menjadi kontraktor rumah dan meninggalkan ibu di rumah tua sendiri. Ketika usia sudah terlalu senja dan ibu kesulitan berjalan, saya memutuskan kembali ke rumah tua ibu dan mengabdi. Daaan... sudah 10 hari ini saya pergi. Bisa dibayangkan betapa rasa kehilangan ibu. Padahal ibu memiliki banyak anak kandung, tetapi ibu mengakui, sayalah penyempurna hidupnya.

Saya memiliki banyak ibu. Ibu kandung (emak), ibu angkat (ibu yang saya rindukan), ibu sepersusuan (karena saya diadopsi sejak usia 36 hari), ibu tiri (Mak) serta ibu mertua. Semua adalah wanita istimewa dengan cara mereka sendiri. Seperti riak ombak yang memberi warna pada laut. Berbicara tentang ibu akan sangat rumit dan membahagiakan. Ini adalah salah satu bagian spesial saya. Dan ibu yang saya bicarakan adalah ibu angkat saya. Beliau sangat dan sangat menyayangi saya. Rasanya tak ada anak yang lebih disayang daripada saya - meski ada rasa tak berdaya mengingat status saya sebagai anak angkat. Saya satu-satunya anak yang berpendidikan sarjana, saya satu-satunya yang semasa melahirkan selalu didekap ibu (karena ibu selalu ketakutan melihat orang melahirkan) dan banyak kasih spesial buat saya. bahkan untuk cucu pun, Destin mendapat prioritas utama. Cucu yang paling disayang, paling dikangeni. Ibu....

Untuk ibu kandung saya, saya mempunyai cinta yang dalam meski tak sedalam ibu angkat. Rasa hormat dan pengabdian saya tetap ada sedikit beda meski saya mengenal beliau sejak usia SD kelas 5. dan di usia 12 tahun saya sudah berani keluar kota untuk menemui ibu kandung saya. Tetapi, entah, pengabdian utama saya tetap pada ibu angkat. Mungkin karena kondisi fisik, atau keterikatan hati. Posisi pengabdian saya pada ibu kandung hampir setara dengan rasa hormat dan kasih pada ibu tiri saya yang baik.

Kembali pada konsep un voyage du coeur, ibu lah yang pertama kali mengenalkan pada perjalanan hatI seorang wanita yang tabah. Saya pernah menuliskan tentang ibu dan dedikasi kesetian serta kesabaran di sini. Tak ada kata yang bisa saya jabarkan saat ini tentang ketulusan seorang ibu dan istri, kecuali di posting itu. Yah, semoga sahabat Susindra berkenan membaca kembali edisi lalu ini. SELAMAT HARI IBU, UNTUK SELURUH IBU DI DUNIA.